
Sesampainya dirumah sakit, Bunda Tasya menghubungi ponsel Tipka. Tapi tidak ada yang menjawab. Bunda Tasya semakin khawatir karena Tipka tidak mengangkat telponnya. Tiba tiba Bunda Tasya ingat kalau tadi Tipka menghubunginya lewat ponsel dokter Sindy.
Bunda Tasya segera pergi menuju keruangan dokter Sindy. Sesampainnya didepan pintu, Bunda Tasya langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
Doktet Sindy langsung menatap kesumber suara. Dia menatap bosnya itu yang seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.
" Ada apa, nyonya? " Tanya dokter Sindy.
" Dimana Tipka? " Tanya Bunda Tasya tanpa basa basi.
" Nona Tipka sudah pergi dari tadi. Mungkin saja nona Tipka ada dilantai atas " Ucap Dokter Sindy.
Bunda Tasya segera menutup pintu dan lari masuk kedalam lift. Ia menekan lantai paling atas. Sesampainya dilantai 8, Bunda Tasya segera masuk kedalam ruanganan khusus keluarga Anjana. Bunda Tasya melihat ada tas dan juga ponsel Tipka diruangan itu. Tapi pemilik barang barang tersebut tidak ada.
Bunda Tasya langsung pergi dari ruangan itu menuju keruangan CCTV. Ia menyuruh seseorang yang berada didalam ruangan itu untuk memutar rekaman CCTV setengah jam yang lalu dilantai 8.
Direkaman, tampak Tipka keluar dari ruangan keluarga Anjana masuk kedalam lift. Lift yang dimasuki Tipka menuju keatap gedung.
Tanpa menunggu lama, Bunda Tasya segera berlari menuju lift, lalu menekan tombol rooftop.
Setelah Bunda Tasya sampai diatap gedung, ia merasa sangat lega. Karena yang dicemaskannya baik baik saja. Bunda Tasya melihat Tipka yang sedang memperhatikan jalanan kota dari atap gedung. Tipka selalu melakukan itu saat dia sedang memiliki beban.
" Tipka " Panggil Bunda Tasya yang membuat Tipka tersadar dari lamunannya.
Tipka memutar badannya kebelakang. Tampaklah Bunda Tasya yang sedang berjalan mendekatinya.
" Kamu ngapain disini, nak? " Tanya Bunda Tasya.
" Melihat bulan " Jawab Tipka.
" Kamu punya masalah? " Tanya Bunda Tasya.
" Tidak " Jawab Tipka bohong.
__ADS_1
" Jangan berbohong kepada Bunda " Ucap Bunda Tasya.
" Mau bilang apa lagi. Bunda memang tahu segalanya. Dan aku tahu pasti Bunda sudah mengetahui kejadian dikantin sekolah tadi " Ucap Tipka.
" Ya, Bunda tahu. Bunda tahu semua dari Tapki " Balas Bunda Tasya.
" Dan sekarang kamu punya masalah apa? Apa lukamu sakit? " Tanya Bunda Tasya sedikit cemas.
" Enggak, Bun " Jawab Tipka seraya menggelengkan kepalanya.
" Lalu? " Tanya Bunda Tasya.
" Tipka masih ragu untuk berteman dengan Mira " Jawab Tipka jujur.
" Kenapa? " Tanya Bunda Tasya penasaran.
" Waktu aku jatuh dikantin tadi, Mira ada disana. Dia gak bantu aku sama sekali. Dia hanya menjadi penonton. Saat aku sedang menahan sakit. Dia hanya diam. Saat aku dalam masalah. Dia juga diam. Apa karena dia berubah pikiran? Apa dia pikir aku sangat jelek sehingga tidak pantas dianggap sebagai teman? Apa semua orang memandang kita dari kecantikan? Apa orang jelek atau miskin gak pantas untuk dapat teman? Mereka semua memang munafik. Mereka hanya berteman karena ingin terkenal " Tipka berbicara dengan penuh kebencian. Sesekali air matanya jatuh.
" Kamu jangan berpikiran macam macam. Mungkin saja dia hanya shock " Ucap Bunda Tasya memberi semangat.
" Kamu jangan pesimis gitu dong, harus optimis. Tuhan itu maha adil. Ia juga akan menguji setiap anaknya. Tetapi Ia akan memberikan ujian sesuai dengan kemampuan masing masing. Ia tidak akan pernah menguji seseorang diluar kemampuan orang tersebut " Nasehat Bunda Tasya.
Tipka terdiam. Memang yang dikatakan Bundanya itu ada benarnya. Tetapi ia sudah menyerah untuk berteman.
" Jangan menyerah sebelum berusaha. Itu sama saja dengan pengecut " Imbuh Bunda Tasya.
Tipka terdiam sejenak. Ia mencoba mencerna ucapan Bunda. 'Pengecut' satu kata yang dikeluarkan Bunda Tasya, yang membuat Tipka kesal dan tidak terima.
" Aku bukan pengecut Bunda. Aku bukan pengecut " Ucap Tapki dengan kesal.
" Jika kamu memang bukan pengecut. Buktikan kepada Bunda. Buktikan ucapanmu,kalau memang kamu bukan pengecut " Tantang Bunda Tasya.
" Aku akan buktikan kepada Bunda, kalau aku bukan pengecut. Aku tidak akan lari lagi dari masalah. Aku akan selalu menghadapi masalah, walaupun sulit tapi aku akan buktikan. Aku berjanji. Aku berjanji sebagai bulan saksinya " Ucap Tipka lantang.
__ADS_1
Entah kenapa tapi Tipka merasa sangat kesal dikatakan pengecut. Itupun yang mengatakan Bundanya.
" Baiklah, Bunda pegang janji kamu " Balas Bunda Tasya.
" Ayo, sekarang kita pulang. Kamu juga harus banyak istirahat " Ajak Bunda Tasya.
Tipka hanya mengangguk, ia masih merasa sangat kesal dengan Bunda Tasya.
Bunda Tasya dan Tipka berjalan memasuki lift menuju kelantai 8.
Setelah sampai dilantai 8, Tipka segera berjalan memasuki ruangan keluarga Anjana mengambil tas dan baju kotornya yang masih berada dikamar mandi.
Tipka keluar dari ruangan menuju lift. Ia memasuki lift sendirian, karena Bunda Tasya sudah lebih dulu turun.
Sesampainya dilantai dasar, Tipka segera berjalan keluar gedung. Ia melihat mobil Andra masih terparkir diparkiran rumah sakit.
'Gawat, mobil situkang paksa masih ada disini. Kalau begitu, artinya dia juga ada disini. Kalau dia melihat aku seperti ini. Oh, tidak tidak. Tapi kalau iya, habislah riwayatmu Tipka. Kau akan ketahuan' Batin Tipka seraya menggeleng gelengkan kepala.
'Oh Tuhan, selamatkan lah aku hari ini. Jangan buat semua kerja kerasku menjadi sia sia. Aku ini masih belum siap, jika seandainya penyamarannya ku terbongkar. Aku ini masih ingin jadi orang jelek. Masih ingin merasakan hidup dengan damai tanpa ada orang munafik. Kalau misalnya aku jadi cantik. Pasti akan banyak yang langsung datang mendekati aku ini. Dan pastinya yang mendekati adalah orang munafik. Tuhan, tolong jangan siksa aku seperti ini. Kalau aku memang memiliki banyak dosa, Tuhan boleh hukum aku, tapi jangan seperti ini. Aku mohon' Tipka berdoa sekaligus curhat dalam hati.
" Tipka " Panggil seseorang yang berhasil membuat Tipka terkejut setengah mati, apalagi sekarang orang itu memegang bahu Tipka.
" Maaf, jangan bocorkan rahasia penyamaranku kepada anak anak sekolah atau siapapun itu. Aku gak bermaksud membohongi siapa siapa. Aku mohon jangan bongkar penyamaranku disekolah. Aku mohon " Mohon Tipka dengan mengatupkan kedua tangannya.
Tipka tidak membalikkan badannya. Dia berpikir orang itu adalah Andra.
" Tipka " Panggilnya sekali lagi.
" Bunda " Gumam Tipka, reflek dia membalikkan badannya.
" Huft... " Tipka bernafas lega karena ternyata orang yang memanggilnya adalah Bunda Tasya.
" Ayo pulang " Ajak Bunda Tasya yang langsung diangguki Tipka cepat.
__ADS_1
Entah kenapa Tipka tidak bisa membedakan suara Bundanya dan Andra. Yang ada dipikirannya tadi hanya Andra. Mungkin itu sebabnya Tipka mengira tadi adalah Andra Bukan Bundanya.
Setelah itu mereka masuk kedalam mobil yang sudah berada didepan pintu lobby.