
Tidak berapa lama kemudian, dokter Sindy keluar dari ruang operasi diikuti dengan timnya.
" Bagaimana keadaan Tipka? " Tanya Ayah Hendra.
" Nona Tipka baik baik saja. Operasi berjalan dengan lancar " Jawab dokter Sindy.
" Saya hanya menyarankan, agar nona Tipka menjaga kesehatannya. Jika dalam enam bulan nona Tipka mengalami kecelakaan atau luka dikepalanya. Itu bisa mengganggu memorinya. Kenapa enam bulan? Itu karena dalam enam bulan adalah masa pemulihan. Jika masalah pemulihannya terganggu, itu akan berdampak fatal " Jelas dokter Sindy.
" Baik, dok " Ucap Ayah Hendra.
Setelah itu, dokter Sindy membawa Tipka kedalam ruangan VVIP. Tempat Tipka sebelumnya.
Ayah Hendra, Bunda Tasya, dan Tapki berjalan memasuki lift menuju ruang VVIP.
Sesampainya diruang VVIP, Ayah Hendra langsung memberi perintah kepada Tapki.
" Tapki, kamu dengar yang dikatakan dokter Sindy tadi? " Tanya Ayah Hendra.
Tapki menggeleng.
" Ya ampun, kalau kamu gak dengar. Jadi dari tadi kamu ngapain aja? " Tanya Ayah Hendra
" Ni " Ucap Tapki seraya mengangkat paperbag yang diberikan Ayah Hendra tadi.
" Astaga Tipka. Kamu kayak anak kecil aja " Gerutu Ayah Hendra.
" Sabar, Yah. Mending Ayah langsung kasih tau aja. Dari pada nanti Ayah tambah pusing " Usul Bunda Tasya.
" Baiklah. Tapki kamu dengar baik baik apa yang Ayah katakan " Ucap Ayah Hendra kepada Tapki.
" Hmmm " Balas Tapki.
" Dengar baik baik. Jangan asal Hmm, pasang telingamu " Ucap Ayah Hendra lagi.
" Iya, Ayah " Balas Tapki malas.
" Kalau nanti disekolah, kamu harus jagain Tipka. Jangan sampai ada yang menyakitinya. Terutama kepalanya. Jika itu terjadi, Ayah akan hukum kamu " Ancam Ayah Hendra.
" Hukum? " Tanya Tapki dengan mulut menganga.
Pasalnya, Ayah Hendra tidak pernah menghukum Tapki maupun Tipka. Ia hanya akan memberi hadiah kepada anak anaknya. Kalau pun Tapki atau Tipka salah, pasti hanya akan ditegur jika dalam batas normal. Dan yang menegur adalah Bunda mereka.
" Iya, hukum. Ayah akan mengambil semua fasilitas yang kamu gunakan sampai Tipka sembuh. Itu akan terjadi jika Tipka terluka. Kamu mengerti? " Tanya Ayah Hendra.
" Mengerti, Yah " Jawab Tapki.
'Ayah serem, masak iya fasilitas gue semua mau diambil. Tidak tidak, gue gak mau. Nanti kalau misalnya mobil diambil sama Ayah, aku jadinya harus jalan kaki atau naik angkot kemana mana. Aku gak mau, enggak' Batin Tapki sambil geleng geleng kepala.
__ADS_1
" Tapki " Panggil Bunda Tasya.
" Ah... Apa? " Tanya Tapki setelah dia sadar dari lamunannya.
" Kenapa kamu geleng geleng kepala? " Tanya Bunda Tasya.
" I-itu, ehm... Tapki cuman mau nanyak " Jawab Tapki.
" Tanya apa? " Tanya Bunda Tasya.
" Supir Tapki dan Tipka sudah sampai atau belum? " Tanya Tapki mengalihkan pembicaraan.
" Sudah sampai belum, Yah? " Tanya Bunda Tasya kepapa Ayah Hendra.
" Sudah. Mulai besok kamu sudah boleh pakai supir " Jawab Ayah Hendra.
" Tapki pakai supir, pas sudah masuk sekolah seperti biasa aja " Ucap Tapki.
" Terserah kamu ajalah " Ucap Ayah Hendra pasrah.
***
Matahari telah tenggelam, tapi Tipka masih saja memejamkan matanya. Ayah Hendra dan Bunda Tasya masih setia menemani Tipka. Sedangkan Tapki, dia sudah pulang beberapa jam yang lalu. Tapki ingin membersihkan diri, karena dia kerumah sakit setelah dari sekolah. Dan Tapki juga ingin beristhirahat, karena besok adalah hari terakhir mos.
" A... ai... air " Ucap seseorang dengan suara lirih yang tidak lain adalah Tipka.
" Tipka, kamu sadar nak " Ucap Bunda Tasya bahagia.
Bunda Tasya memberikan Tipka air dengan penuh perhatian.
" Apakah disini masih sakit? " Tanya Bunda Tasya seraya menunjuk kepala Tipka yang diperban.
" Gak sakit, Bun " Jawab Tipka.
" Ah, Bunda gak percaya sama kamu " Kata Bunda Tasya.
" Kalau gak percaya, ngapain nanyak "Celetuk Tipka.
Bunda Tasya tersenyum mendengar ucapan putrinya.
Tiba tiba pintu ruangan Tipka terbuka, tampak lah orang yang sangat dirindukan oleh Tipka.
" Ayah " Ucap Tipka tidak percaya.
Tipka mengucek ucek matanya berulang ulang kali. Ia tidak percaya bahwa ayahnya sekarang berada dihadapannya.
" Ini, benaran Ayahkan? " Tanya Tipka.
__ADS_1
" Iya, ini Ayah " Jawab Ayah Hendra.
" Gak, aku gak percaya. Kalau ini memang Ayah. Mana hadiahku? " Tanya Tipka seraya mengadahkan tangannya, seperti meminta sesuatu.
Ayah Hendra berjalan menuju sofa dan mengambil paperbag kecil, yang sama seperti punya Tapki.
" Ni " Ucap Ayah Hendra memberikan paperbag kecil kepada Tipka.
" Teima kasih Ayahku sayang " Ucap Tipka tersenyum senang.
Tipka membuka paperbag itu, dan isinya adalah alat alat kosmetik seperti punya Tapki. Seketika senyum diwajah Tipka hilang. Senyumnya berganti dengan cemberut.
" Ih, Ayah " Teriak Tipka.
" Kenapa sayang? " Tanya Ayah Hendra seperti orang yang tidak ada dosa.
" Isinya kok kayak gini sih. Ayah kan tau, Tipka gak suka dandan. Ngapain dikasih kayak ginian. Ayah nyebelin " Teriak Tipka.
" Hey, kamu jangan salah dulu sayang. Ayah ngasih itu, karena Ayah ingin kamu seperti anak remaja lainnya. Ayah ingin kamu seperti dulu. Memiliki banyak teman, ceria, selalu tersenyum. Bukan kayak sekarang, kamu nyamar jadi jelek, cuek. Ayah gak mau kamu terus terusan dihina. Karena penampilanmu " Ucap Ayah Hendra panjang lebar.
Seketika Tipka terdiam, ia tahu suatu saat ini akan terjadi, tapi dia tidak berpikir itu akan terjadi hari ini. Tipka belum pernah berpikiran mengubah penampilannya seperti semula. Ia masih trauma jika memiliki banyak teman hanya karena kecantikan.
" Sudah lah, Yah. Tipka belum kepikiran sampai kesana. Tipka mau memiliki teman yang tulus sama Tipka. Bukan karena kecantikan dan kekayaan " Ucap Tipka.
" Tapi Ayah berharap, kamu mau menggunakan itu saat ulang tahun perusahaan Ayah " Ucap Ayah Hendra seraya menunjuk paperbag yang dipegang Tipka.
" Aman tuh, Yah " Balas Tipka seraya memberikan jempolnya kepada Ayahnya.
" Sekarang kamu istirahat, biar cepat sembuh. Jangan pikirkan apapun " Ucap Ayah Hendra
" Tunggu, Tipka mau nanyak satu hal sama Ayah " Ucap Tipka.
" Tanya apa? " Tanya Ayah Hendra.
" Hari senin, Tipka boleh masuk sekolah ya. Tipka udah bosan tidur tidur mulu " Jawab Tipka.
" Terserah kamu, kalau pun Ayah bilang gak. Kamu akan tetap sekolah. Tapi ada syaratnya " Ucap Ayah Hendra.
" Apa, Yah? " Tanya Tipka antusias.
" Kamu harus pergi dan pulang sekolah diantar sama supir. Dan jika disekolah, kamu harus ada didekat Tapki " Jawab Ayah Hendra.
" Mana mau dia " Ucap Tipka.
" Tenang, itu sudah aman " Ucap Ayah Hendra.
" Sudah, sekarang Ayah mau mandi dulu. Dari sampai disini Ayah belum mandi " Lanjut Ayah Hendra.
__ADS_1
" Ok, Yah " Ucap Tipka dengan jari telunjuk dan jempol yang menyatu membentuk👌.
Ayah Hendra pergi menuju kamar mandi yang ada diruang itu, sedangkan Bunda Tasya dari tadi menyuapi Tipka dengan apel yang sudah ia kupas.