
" Lili " Teriak Hendra.
Kini air matanya mengalir deras.
Sedangkan didepan pintu, pak Sidal menjadi saksi bisu percakapan antara abang dan adek untuk yang terakhir kalinya.
Flashback off*
Hari itu, hari yang tidak akan pernah Ayah lupakan. Dihari itu semua kebahagian Ayah dan separuh hidup Ayah hilang bersamaan dengan nafas yang terakhir kali dihembuskan Lili. Ayah sudah mengatakan semua kelakuan Henly kepada Mama. Tapi Mama malah membelanya. Mama mengatakan kematian Lili hanya rekayasaku. Mama malah menuduhku. Dia bilang aku yang membunuh Lili. Mama juga mengancam jika aku memberitahu kepada Papa. Maka beliau akan bunuh diri. Mama memang selalu pilih kasih. Ia menganggap hanya Henly dan Lalalah anaknya. Sedangkan aku dan Lili ia telantarkan. Dia tidak pernah menanyakan kabar dan keadaan kami. Dia tidak pernah mengerti perasaan kami. Kami seperti orang asing dibuatnya. Papa juga dirumah hanya sekali dalam dua minggu. Dan dengan meninggalkannya Lili, Ayah menjadi sendiri Ucap Ayah Hendra yang sudah menangis dengan terisak.
Paman, jangan berkata seperti itu. Bibi Lili pasti tidak akan suka melihat paman menangis seperti ini. Bibi akan sedih diatas sana Ucap Skandy.
Benar itu Yah Timpal Tapki.
Sedangkan Tipka, pelupuk matanya sudah terisi air yang siap meluncur kapan saja. Dan untuk menyembunyikannya, ia memalingkan wajahnya. Tapi secara tidak sengaja, matanya menangkap benda seperti kertas dibalik bingkai foto.
__ADS_1
Tipka mengambil kertas itu yang ternyata adalah amplop. Ia membukanya dan menemukan sebuah kalung yang memiliki tulisan Hendra Lili. Dikalung itu terselip sebuah kertas yang bertuliskan Selamat ulang tahun abangku.
Ayah Ucap Tipka seraya menyodorkan kalung dan kertas itu.
Ayah Hendra menerima kalung itu. Setelah membaca tulisan ditengah kalung, Ayah Hendra memakai kalung itu. Lalu ia mengambil dan membaca kertas itu.
Ini pasti kado yang seharusnya dia berikan waktu ulang tahun Ayah. Seminggu setelah meninggal Lili, adalah hari ulang tahun Ayah. Dan Lili selalu menyiapkan kadonya sebulan sebelum harinya Ucap Ayah Hendra yang kembali menangis.
Ayah, jangan menangis Pinta Tipka seraya menghapus air mata Ayah Hendra.
Paman jangan sedih lagi ya. Maafkan semua kesalahan Papaku dimasa lalu Ucap Skandy.
Jangan minta maaf, nak. Itu bukan salahmu Ucap Ayah Hendra.
Jangan melihat kebelakang. Melangkahlah kedepan. Jangan mengungkit ngungkit masa lalu lagi. Ciptakanlah masa depan yang bahagia Nasehat Tipka.
__ADS_1
Mendengar perkataanmu, Ayah merasa bukan Tipka yang bicara melainkan Lili Ucap Ayah Hendra.
Ayah boleh menganggapku sebagai Bibi Lili. Jika memang Ayah merasa nyaman, aku akan bersedia Ucap Tipka.
Ayah jangan bersedih lagi. Ayah masih punya aku, Bunda, Tapki, dan Skandy. Kita ini keluarga. Dan keluarga selalu mendukung disaat suka maupun duka. Kami tidak akan meninggalkan Ayah, disaat duka. Tapi kami akan selalu menemani Ayah Ucap Tipka dengan yakin.
Kalian memang kebanggaan Ayah Ucap Ayah Hendra seraya merentangkan tangannya.
Tapki, Tipka, dan Skandy memeluk Ayah Hendra, diikuti dengan Bunda Tasya.
***
Keluarga bukan hanya sebuah kata. Tapi keluarga memiliki arti yang besar. Keluarga adalah dimana orang orang yang berada didalamnya selalu bersama, dalam suka maupun duka. Keluarga adalah orang orang yang selalu memaafkan kesalahan keluarganya sebelum diminta. Menjadi tempat untuk mencurahkan keluh kesahnya.
Dan ingatlah, seberapa jauh dirimu dengan keluargamu. Kalian pasti akan bersatu, menjadi sebuah keluarga yang utuh.
__ADS_1
Sekian dari ceritanya, END🌹🌹🌹