
Tipka terdiam mendengar ucapan Tapki. Semua ucapan Tapki, bagaikan pisau yang menusuk tepat dihati Tipka.
Jika saja yang mengatakn itu bukan Tapki mungkin Tipka tidak akan merasa sesak seperti ini. Tapi ini, yang mengatakan adalah Tapki, keluarganya sendiri.
" Is dasar anak pembantu, gak sadar diri "
" Miskin, sok sok kaya "
" Kalau miskin, sadar diri "
" Pembantu harus hormat sama majikan "
Berbagi hinaan dari orang orang dilontarkan untuk Tipka.
Tipka yang sudah tak tahan membendung air matanya segera pergi meninggalkan kantin. Tujuannya sekarang adalah tempat sepi, yaitu taman.
Tipka berlari pergi ketaman. Luka kaki, tangan, dan kepalanya tidak terlalu sakit daripada hatinya. Tipka sudah biasa menerima hal hal yang sangat menyakitkan. Tapi itu dari orang lain bukan dari keluarga.
Kalian bisa membayangkan bukan, keluarga kalian mengatakan kalian pembantu didepan umum. Sakit tidak?
Tipka berhenti disebuah pohon besar yang ada ditaman. Ia duduk dibawah pohon.
'Nenek, kenapa kau meninggalkanku. Aku merindukanmu. Apakah kau tahu, disini aku tersiksa. Tapki jahat kepadaku. dia mengatakan kepada semua orang bahwa aku pembantunya. Apa aku seburuk itu?' Batin Tipka.
Tipka menangis sambil memeluk lututnya. Ingin rasanya dia berteriak sekencang kencangnya.
'Sebenarnya apa salahku? Aku cantik hanya dimanfaatkan dan aku jelek dicaci maki. Kenapa hidupku serumit ini? Kenapa takdirku sangat jahat kepadaku? Apa salahku? Apa?' Batin Tipka.
Tipka semakin terisak. Sekarang dia membutuhkan seorang teman. Sudah lama Tipka memendam kesedihannya sendiri. Sekarang dia tidak bisa menahannya lagi. Dia butuh seorang teman.
" Jangan menangis sendiri. Jangan memendam semuanya sendiri. Bagilah kesedihanmu dengan seseorang " Ucap Andra yang entah sejak kapan berada disamping Tipka.
Tipka mendongakkan kepalanya menatap keaarah Andra. Tipka reflek memeluk Andra. Ia menangis dipelukan Andra.
Setelah Tipka merasa lebih tenang. Ia memilih pergi kekelas. Tapi sebelumnya Tipka memeberikan senyuman terbaiknya kepada Andra sebagai ucapan terima kasih.
Dikelas ternyata pelajaran sudah dimulai. Tipka mengatakan kepada guru yang mengajar bahwa ia datang terlambat karena sakit perut. Dan guru pun percaya. Tipka ingin duduk dilantai tapi ditahan oleh Sion. Sion menyuruh Tipka untuk duduk sikursinya. Tipka sudah menolak, tapi Sion tetap memaksa. Alhasil Tipka pasrah dan duduk dikusi Sion.
Pelajaran telah usai dan diganti dengan jam istirahat. Tipka ingin pergi keluar kelas bersama dengan Sion. Tapi masih beberapa langkah, Tapki sudah bersuara dan membuat langkah Tipka maupun Sion terhenti.
" Hey anak pembantu. Lo mau kemana? Sini bersihin sepatu gue " Ucap Tapki memerintah Tipka.
Tipka hanya bisa pasrah dan melakukan apa yang diperintahkan Tapki.
__ADS_1
" Ini, lap sampai bersih " Ucap Tapki seraya melempar tisu kepada Tipka.
Tipka membersihkan sepatu milik Tapki dengan hati, kaki, dan tangan yang sakit. Bagaimana tidak sakit? Hatinya sakit karena perkataan dan kaki maupun tangannya sakit memang karena terluka. Sudah sakit malah tambah sakit.
Tipka masih membendung air matanya agar tidak keluar.
Setelah selesai, Tipka segera pergi dari kelas bersama Sion.
" Tipka kamu yang sabar ya " Ucap Sion.
Tipka tersenyum mencoba menyembunyikan kesedihannya.
" Oh ya, tadi kamu mau bilang apa dikantin? " Tanya Sion yang masih penasaran.
" Emm, itu. Aku, aku mau nanyak sesuatu sama kamu " Ucap Tipka.
" Tanya apa? " Tanya Sion.
" Emm. Kamu, kamu mau gak jadi temanku " Tanya Tipka.
" Aku, kamu serius mau temanan samaku. Aku ini bukan orang kaya, aku hanya orang miskin yang beruntung bisa sekolah disini " Ucap Sion tidak percaya.
" Tidak ada orang yang miskin maupun kaya. Semuanya sama saja. Sama sama manusia.Dan ya kalau kamu bilang kamu miskin, maka aku juga miskin. Kamu tidak dengar tadi apa yang dikatakan Tapki. Aku ini hanya anak pembantu " Ucap Tipka.
" Kamu gak takut apa, nanti kalau berteman sama aku. Kamu jadi tambah dibully " Ucap Sion.
" Ngapain takut, aku mau berteman bukan mencuri " Ucap Tipka.
" Emm, baiklah. Aku mau berteman sama kamu " Ucap Sion akhirnya.
" Teman " Ucap Tipka seraya menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
" Teman " Balas Sion seraya menjabat tangan Tipka.
Saat mereka sedang berjabatan, tiba tiba Mira datang.
" Hai, Tipka " Sapa Mira.
" Hmmm " Balas Tipka setelah melepaskan tangannya.
" Apa kau mau menjadi temanku? " Tanya Mira mengulangi ucapannya seminggu yang lalu.
" Apa kau serius mau berteman denganku? " Tanya Tipka memastikan.
__ADS_1
" Iya, aku mau " Ucap Mira yakin.
" Setelah semua yang terjadi, kamu masih mau berteman denganku. Anak dari seorang pembantu? " Tanya Tipka lagi.
" Iya, aku mau. Aku ingin berteman denganmu secara tulus. Aku tidak peduli jika kau anak pembantu atau anak apapun. Aku hanya ingin berteman denganmu " Jawab Mira meyakinkan.
" Kau tahu Mira, sejujurnya pertemanan itu adalah suatu hubungan yang sangat kubenci. Tapi aku berpikir, kenapa aku harus membenci hubungan itu. Padahalkan hubungannya tidak salah apa apa. Dan setelah aku berpikir panjang, aku merasa bukan hubungannya yang salah tapi aku. Aku yang salah " Ucap Tipka dengan nada benci.
" Jadi, aku harus pintar memilih teman. Aku cuman mau bilang, kalau kau mau berteman denganku. Jagalah kepercayaanku. Jangan sia siakan apa yang telah kuberikan kepadamu. Terutama kepercayaan " Ucap Tipka.
Mira terdiam sejenak. Ia kembali memikirkan tindakannya. Apa ini sudah benar atau salah.
" Kepercayaan itu seperti sebuah benang. Benang jika sudah putus, akan susah untuk disambungkan lagi. Kalau pun tersambung, tidak akan seperti dulu. Sama dengan kepercayaan. Setelah kepercayaan itu hancur, maka akan sulit untuk dibangun lagi. Kalau pun bisa dibangun. Tidak akan seperti dulu " Jelas Tipka.
Lagi lagi Mira terdiam. Sejenak suasana menjadi hening. Tapi keheningan itu terganggu, karena bunyi ponsel Mira.
" Aku jawab telepon dulu " Pamit Mira, lalu pergi menjauh dari Tipka dan Sion.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Mira kembali. Dia kembali dengan wajahnya yang tegang.
" Ti-tipka, aku mau jadi temanmu " Ucap Mira sedikit gugup.
" Kamu serius kan? " Tanya Tipka.
" Ya Tipka, aku serius " Jawab Mira.
" Teman " Ucap Tipka mengulurkan tangannya.
" Teman " Ujar Mira membalas uluran tangan Tipka.
" Mira, perkenalkan ini Sion. Dia adalah temanku " Ucap Tipka memperkenalkan Sion.
" Mira " Ucap Mira menyodorkan tangannya.
" Sudahlah, kitakan sudah saling kenal. Lagiankan waktu itu kita satu kelompok " Ucap Sion sambil menjabat tangan Mira.
" Iya ya. Kok aku lupa " Ucap Mira yang baru sadar.
" Udah, sekarang jangan pikirkan yang lain. Sekarang, kita bertiga adalah teman, ok " Ucap Tipka senang.
"Ok " Balas Mira dan Sion kompak.
Hari ini, Tipka mendapatkan kebahagiannya yang selama bertahun tahun ini tidak ia dapatkan.
__ADS_1