
Satu bulan kemudian
Tipka sudah berada dirumah sakit, untuk melepaskan perban dikepalanya. Ia pergi kerumah sakit sesudah pulang sekolah.
Setelah semua urusan Tipka selesai dirumah sakit, ia langsung pergi kesebuah pantai yang menyimpan banyak kenangan indah baginya.
Setelah sampai dipantai, Tipka segera menyuruh Pak Dirga untuk bersantai selagi ia berjalan jalan dibibir pantai.
'Minggu depan aku akan kembali menampakkan wajah cantikku didepan umum. Apakah setelah itu, hidupku akan berubah? Apa penyamaranku akan terbongkar? Semuanya akan kembali seperti dulu lagi. Aku tidak ingin kejadian dulu terulang. Tapi aku tidak ingin Ayah kecewa. Aku tidak bisa egois. Aku tidak boleh mengacuhkan permintaan Ayah. Pokoknya aku harus siap apapun yang akan terjadi setelahnya' Batin Tipka dengan mata fokus kepantai.
" Ahhh " Tipka teriak sekencang kencangnya melepaskan semua beban hatinya.
Tipka duduk dipasir seraya menatap kepantai.
'Pantai, dari dulu sampai sekarang kau masih sama. Aku juga sama sepertimu. Aku masih Tipka yang dulu. Hanya saja beda saat berhadapan dengan hubungan pertemanan dan penampilan disekolah. Aku masih mementingkan keluargaku dari pada egoku. Kau bisa melihat sendiri, bukan. Aku mengorbankan penyamaranku demi Ayah. Dan aku masih menerima semua perilaku menyakitkan dari Tapki. Walau aku dihina hampir satu sekolah. Tapi aku tetap diam. Aku tahu Tapki marah kepadaku, karena saat aku hilang dan terluka dia yang disalahkan. Aku terima semuanya, seperti air mengalir. Dan aku tidak akan menolak apapun yang terjadi setelah aku menampakkan wajah asliku' Batin Tipka.
Tipka berada dipantai sampai matahari terbenam. Menikmati sunset yang indah walau hanya sesaat.
Tipka berjalan kearah mobil. Ia melihat Pak Dirga yang sedang bersantai sambil meminum kopi didalam mobil.
" Pak, ayo kita pulang sekarang " Ajak Tipka.
" Eh, non udah selesai? " Tanya Pak Dirga.
" Sudah, Pak " Jawab Tipka.
Mobil putih milik Tipka berjalan menyusuri ibu kota dengan kecepatan sedang. Dan dalam beberapa menit, mobil putih itu sudah memasuki pekarangan rumah keluarga Anjana.
Tipka masuk kedalam rumah. Ia ingin langsung masuk kedalam kamar, membersihkan diri, dan istirahat sebentar sebelum makan.
Tapi yang terjadi tidak sesuai keinginan. Saat Tipka sudah selesai mandi dan ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Pintu kamarnya diketuk oleh seorang pelayan.
Tok tok tok
" Siapa? " Tanya Tipka.
" Saya non " Ucap pelayan itu.
" Masuk aja Bi " Ucap Tipka.
" Maaf, non. Tuan besar dan Nyonya besar memanggil non Tipka keruang keluarga " Ucap pelayan itu setelah membuka pintu kamar Tipka tetapi tidak masuk.
__ADS_1
" Mau ngapain, Bi? " Tanya Tipka kepada pelayan itu yang bernama Bi Suni.
" Saya tidak tahu non. Tuan hanya suruh saya manggil non Tipka " Jawab Bi Suni.
" Baiklah, Bibi turun aja diluan. Saya akan turun 5 menit lagi " Ucap Tipka.
" Kalau begitu saya pamit, non " Ucap Bi Suni yang mendapat anggukan oleh Tipka.
Setelah Bi Suni pergi, Tipka pergi kewastafel yang ada dikamar. Tipka mencuci mukanya agar kantuknya hilang. Setelah itu dia mengeringkan wajahnya dengan tisu.
" Ayah mau bicara apa lagi? " Tanya Tipka pada dirinya sendiri sambil menatap bayangannya dari pantulan cermin.
" Ah sudahlah, lebih baik aku turun sekarang " Ucap Tipka lagi.
Tipka berjalan menuruni anak tangga menuju ruang keluarga. Sesampainya diruang keluarga, Tipka sudah ditunggu kehadirannya oleh keluarganya.
" Ada apa Ayah memanggilku? " Tanya Tipka saat sudah duduk disofa.
" Ayah ingin kamu menemui salah satu anak rekan bisnis Ayah " Jawab Ayah Hendra.
" Untuk Apa? " Tanya Tipka bingung.
" Ayah mau menjodohkanmu dengan salah satu rekan bisnis Ayah " Jawab Ayah Hendra.
Tipka terkejut. Ingin rasanya dia membantah ucapan Ayahnya. Tapi dia harus tau alasannya dulu, bukan.
" Kenapa harus aku? Kenapa tidak Tapki saja? Kenapa Ayah ingin menjodohkanku? Apa alasannya? Apa, Yah? " Tanya Tipka.
" Lagian aku masih SMA " Ucap Tipka.
" Ayah tidak akan menikahkanmu langsung. Ayah akan menikahkanmu setelah kau lulus. Ayah memilihmu karena mereka menyukaimu. Dan alasannya, kau akan tahu sendiri suatu hari nanti " Jawab Ayah Hendra.
" Tapi, Yah " Tipka belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Ayah Hendra sudah memotong diluan.
" Ayah mohon Tipka. Ayah akan memberimu waktu untuk mengenal lebih dekat, siapa yang akan menjadi suamimu nanti " Ucap Ayah Hendra.
Karena tidak sanggup melihat Ayahnya memohon seperti itu kepadanya. Tipka memilih mengiyakan ucapan Ayahnya.
" Baiklah, Tipka akan mencoba. Tapi jika seandainya orang itu tidak cocok bagi Tipka. Maka tidak ada satupun yang boleh memaksa Tipka " Ucap Tipka mengatakan keputusannya.
" Baiklah " Ucap Ayah Hendra.
__ADS_1
" Kapan Tipka akan bertemu dengannya? " Tanya Tipka.
" Dihari ulang tahun perusahaan Papa " Jawab Ayah Hendra.
" Ayah masih ingatkan, kalau Ayah harus menyiapkan dres yang tidak terlalu terbuka untuk Tipka" Ucap Tipka.
" Iya sayang, Ayah ingat " Ucap Ayah Hendra.
" Kalau aku? " Tanya Tapki.
" Ayah juga sudah menyiapkan dres untukmu dan itu adalah seleramu " Jawab Ayah Hendra.
" Udah, bicarain pestanya jangan sekarang. Sekarang kita makan malam dulu " Ucap Bunda Tasya.
Mereka berempat makan dengan hening. Setelah selesai makan, Tipka langsung pamit untuk kekamar. Sedangkan Bunda Tasya, Ayah Hendra, dan Tapki berada diruang keluarga.
" Ayah beneran mau jodohin Tipka? " Tanya Bunda Tasya.
" Iya Bun, Ayahkan udah pernah cerita sama Bunda " Jawab Ayah Hendra.
" Tapi bukankah ini terlalu cepat, Yah. Ayahkan tahu Tipka masih harus belajar " Ucap Ayah Hendra.
" Ayahkan sudah bilang, Ayah akan menikahkan Tipka setelah lulus. Dan pertunangan akan dilakukan saat Tipka masih sekolah. Tapi disembunyikan dari publik " Ucap Ayah Hendra masih kekeh dengan keputusannya.
" Terserah Ayah ajalah. Yang penting Tipka bahagia " Ucap Bunda Tasya pasrah.
" Dan kamu Tapki, apa kamu juga mau dijodohkan? " Tanya Bunda Tasya.
" Gak usah, aku akan pilih pasangan sendiri " Jawab Tapki ketus.
" Serius? " Tanya Bunda Tasya.
" Ya seriuslah, masak main main " Ucap Tapki lagi.
***
Sedangkan disisi lain, Tipka sedang berguling guling ditempat tidur. Dia tidak bisa tidur, kala mengingat ucapan Ayahnya. Walau badannya letih, tapi pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan ucapan Ayahnya.
'Apa benar, Ayah mau menjodohkanku diusiaku yang mau menginjak umur 16 tahun. Itu terlalu muda. Aku tidak mau menikah diumur yang masih terlalu muda. Aku masih ingin hidup bebas. Aku nyesel nerima ajakan Ayah keulang tahun perusahaannya. Kalau aku tahu akan gini jadinya. Mana mau aku terima. Mending aku tidur nyenyak dikamar dari pada harus mengotori wajahku dengan semua warna warna. Ahhh, aku nyesel' Batin Tipka.
Tipka menutup matanya, berusaha untuk tidur. Ia ingin melupakan masalahnya, walau hanya beberapa jam. Yang penting dia bisa tenang. Dan itu bisa terjadi hanya jika dia tidur.
__ADS_1