
Keesokan harinya
Tipka masih berada didalam kamar. Padahal sudah jam 11.00. Hari ini sekolah diliburkan, karena ini hari sabtu.
Saat waktunya sarapan, Tipka memilih sarapan didalam kamar. Ia malas untuk turun dan bertemu Ayah Hendra. Karena ia yakin yang akan dibahas Ayah Hendra adalah perjodohannya.
Diluar kamar, Bunda Tasya sudah sangat khawatir dengan Tipka. Ia takut nanti Tipka berbuat yang aneh aneh. Karena sedari tadi Tipka mengunci kamarnya dan hanya membukanya saat menerima sarapan.
Tok tok tok
" Siapa? " Teriak Tipka dari dalam.
" Tipka ini Bunda " Ucap Bunda Tasya.
" Bunda mau ngapain ngetuk pintu? " Tanya Tipka.
" Tipka, Bunda mau bicara sama kamu sebentar aja " Jawab Bunda Tasya.
Tipka beranjak dari kasur membuka pintu kamar.
" Silahkan masuk, Bunda sayang " Ucap Tipka mempersilahkan Bunda Tasya masuk disertai senyum palsunya.
Bunda Tasya masuk dan duduk disofa yang ada dikamar Tipka.
" Bunda mau bicara apa? " Tanya Tipka.
" Bunda mau minta maaf soal perkataan Ayah kamu kemarin " Jawab Bunda Tasya.
" Kenapa Bunda harus minta maaf? Bunda kan gak salah apa apa. Lagian Tipka akan coba untuk menerima perjodohan ini. Bunda tenang aja, Tipka hanya butuh waktu untuk menenangkan diri dan mencoba untuk menerima takdir Tipka " Ucap Tipka.
" Kalau kamu memang tidak menginginkan perjodohan ini, kamu tolak saja. Karena kebahagian kamu adalah yang terpenting " Ujar Bunda Tasya.
" Bunda tenang saja. Tipka cuman kepikiran satu hal " Ucap Tipka.
" Apa? " Tanya Bunda Tasya.
" Orang yang dijodohin sama Tipka nanti gimana bentuknya. Apa masih muda atau sudah tua. Badannya ok atau gendut. Kulitnya putih atau hitam. Wajahnya tampan atau jelek. Pintar at " Ucap Tipka terpotong oleh Bunda Tasya.
" Sudah, sudah. Kamu ngomongnya kepanjangan. Bunda kasih tahu satu bocoran sama kamu. Kamu mau gak? " Tanya Bunda Tasya.
" Kayak soal aja dikasih bocoran " Celetuk Tipka.
" Mau gak? " Tanya Bunda Tasya lagi.
__ADS_1
" Iya, iya mau. Emang apa sih? " Tanya Tipka balik.
" Orang yang dijodohin sama kamu itu anak dari dokter Sindy " Jawab Bunda Tasya.
" Itu doang " Ucap Tipka.
" Kamu aneh deh. Kok mukanya biasa biasa aja. Gak senang gitu " Ucap Bunda Tasya.
" Gimana mau senang, Bunda hanya bilang orang itu anak dokter Sindy. Jawaban Bunda gak memuaskan " Ucap Tipka.
" Kamu ni ya. Bunda udah kasih bocoran, senang dikit ngapa? Kamu tengok aja minggu depan. Kamu pasti senang dengan perjodohan ini " Ujar Bunda Tasya.
" Terserah " Balas Tipka.
***
Satu minggu kemudian
Tipka sudah berada didalam kamar disalah satu hotel terbesar dikota ini.
Jangtungnya berdegup sangat kencang. Tipka sangat gugup. Dia gugup karena dua alasan. Yang pertama, karena dia akan menunjukkan wajah aslinya didepan publik setelah bertahun tahun lamanya. Dan yang kedua karena dia akan bertemu dengan orang yang akan menjadi pendamping hidupnya suatu saat nanti.
Tipka didandan oleh dua orang. Ia menyuruh dua orang itu untuk memberinya make up yang tipis atau natural.
" Wah, nona sangat cantik " Puji orang itu yang bernama Ririn.
" Ah, kakak bisa aja. Dan kakak jangan panggil aku nona. Kakak lebih tua dari aku, jadi panggil aku Tipka saja " Ucap Tipka.
" Tapi, non " Ucap Ririn tertahan oleh Tipka.
" Kak, aku tahu kakak pasti takut kena marah sama Ayah. Jadi kakak manggil aku nona kalau didepan Ayah atau Bunda, oke " Ucap Tipka.
" Baiklah Tipka " Ucap Ririn.
" Kamu bukan hanya cantik, tapi kamu juga baik. Kamu tidak sombong seperti orang kaya biasanya. Kakak salut sama kamu " Ucap Ririn.
" Kakak ada ada aja. Kekayaan itu tidak membedakan seseorang. Sama sama manusia dan sama sama makan nasi, bukan? " Tanya Tipka.
" Memang sama, tapi kebanyakan orang kaya sering membeda bedakan. Mereka sering memandang kami sebelah mata " Ucap Ririn.
" Maaf, jika kakak jadi curhat sama kamu " Ucap Ririn.
" Tidak apa apa, kak. Oh ya kak, kakak berdua mau gak, jadi teman sekaligus saudara aku. Aku dari dulu pengen punya kakak yang bisa diajak mengobrol kayak gini. Tapi kakak aku gak suka mendengar semua yang aki katakan " Ucap Tipka.
__ADS_1
" Kakak akan sangat bahagia menjadi teman sekaligus saudaramu " Ucap Ririn.
" Kalau kakak? " Tanya Tipka kepada wanita yang sedang membereskan alat alat make up.
" Kalau kakak sih, iya " Jawab wanita itu yang bernama Zily.
" Yes, aku dapat teman dan saudara. Aku akan berusaha lebih kuat lagi melupakan semua masa lalu kelamku " Ucap Tipka girang.
Mereka beritiga mengobrol dan bertukar nomor ponsel. Sesekali mereka bercanda dan tertawa.
Dikamar lain, dua perias sedang dimarahi oleh seorang gadis yang tidak lain adalah Tapki.
" Kalian bisa bekerja gak sih. Ini namanya gak dimake up. Tengok ni wajah gue gak ada riasannya. Lo buatnya tipis banget. Ini sama aja gak dimake up. Kalau lo gak perbaiki riasan gue, gue bakalan lapor sama Ayah, mau? " Bentak Tapki.
" Maaf, nona. Jangan laporkan kami " Ucap salah satu perias dengan menunduk.
" Kalau gak mau dilaporin, perbaiki make up gue. Dasar orang miskin, punya seleranya rendah banget. Sama kayak derajatnya, rendah " Ucap Tapki yang kembali duduk dikursi.
Dua perias tadi hanya bisa diam dan menerima semua perkataan Tapki, tanpa bisa melawannya. Karena kalau dilawan, sudah tentu mereka akan dipecat dan bagaimana nasib keluarga mereka jika dipecat.
Perias satu adalah janda yang memiliki tiga anak yang masih bersekolah. Dan perias kedua adalah anak dari seorang wanita yang sudah sangat tua.
Setelah selesai, perias itu langsung keluar setelah berpamitan.
" Maaf, non. Sekarang kami harus kembali. Dan tolong jangan laporkan kami kepada Tuan besar " Ucap perias satu.
" Kalian berdua keluar " Titah Tapki.
Mereka berdua keluar dengan menunduk, karena air mata mereka sudah tidak bisa dibendung lagi.
Saat mereka keluar, mereka berpapasan dengan Tipka, yang juga mau keluar bersama dua periasnya.
Tipka memperhatikan wajah kedua perias itu. Dia merasa kasihan dengan dua perias itu. Karena dia tahu itu semua pasti ulah Tapki.
" Permisi, kak " Ucap Tipka yang menghentikan langkah kaki kedua perias itu.
" I-iya non " Ucap mereka masih dengan menunduk.
" Ada masalah apa? " Tanya Tipka.
" Ti-tidak ada, non. Hanya kesalahan kecil saja " Jawab perias satu.
" Kakak, jangan bohong. Aku tau bagaimana sifat kembaranku " Ucap Tipka tak percaya.
__ADS_1
" Ma-maaf non, jika saya lancang. Tapi kembaran non berbeda dengan non Tipka. Non Tipka suka hal yang sederhana, tapi kembaran non sangat mengikuti tren " Ucap perias kedua saat melihat dandanan Tipka yang natural.