Kesalahan Terbesarku

Kesalahan Terbesarku
Sisi Azka


__ADS_3

sejak kemarin Azka tidak memakan apapun, tubuhnya lemas dan tak berdaya. Rasa menyesal sangat menghujam dirinya, ia merasakan dunianya runtuh. Ia telah merusak kepercayaan, persahabatan, dan cinta dari sang kekasih Ailsa. Ia juga merusak kehormatan dan fisik wanita yang kini mulai ia cintai yaitu Alexa.


Ia sangat menyesal, hari itu Azka memberanikan diri untuk menghubungi nomor Alexa.


"Alexa kumohon angkat" ucap Azka berkali kali namun meskipun begitu Alexa tidak mau menjawab hingga Azkapun frustasi karena sudah berkali kali ia menelfon ke nomor yang sama. ponsel yang ia genggam ia bantingkan ke dinding seketika ponsel itu pecah begitu saja.


"Akhhhh bodoh bodoh, Azka lo bodoh huhu" ucap Azka yang menangis tersedu sedu. Azka langsung mengambil kunci mobilnya dan berlalu keluar tujuannya adalah satu bertemu dengan wanita yang kini ia cintai sekaligus ibu dari anaknya ya dia adalah Alexa. Menjadi lemah tidak akan menyelesaikan masalah membuatnya sadar akan kesalahannya. Azka berjalan menuju rumah Alexa dengan kecepatan yang tinggi. Banyak sekali kendaraan yang mengklakson mobilnya yang hampir tertabrak, setelah sampai dirumah Alexa. Ia mengetuk pintu, rumahnya terlihat sepi seperti biasanya.


Azka tidak menyerah ia mengetuk berkali kali hingga pintu terbuka menampilkan wajah berantakan dari pria paruh baya yang masih terlihat sangat tampan itu.


"Ada perlu apa tuan muda" suara bariton itu menggema dengan tegasnya.


"saya-Saya ingin menemui Sekertaris Alexa" ucap Azka gugup.


"anda salah alamat, saya tidak mengenal orang yang anda sebutkan jadi silahkan pergisaya tidak menerima tamu" ucap Sekertaris Tio seraya meraih gagang pintu hendak menutup pintu itu.


"tunggu saya mohon maafkan aku, ini kesalahanku bukan salah Sekertaris Alexa. aku mohon ijinkan aku bertemu Sekertaris Alexa saat ini juga" ucap Azka memohon.


"Saya tidak perduli lagi dengan urusan orang itu, dia sudah aku usir dari sini dia bukan putriku lagi silahkan pergi" ucap Sekertaris Tio dengan tegas dan menutup pintu dengan kerasnya.


deggg


Azka yang mendengar itu tubuhnya langsung menegang, fikirannya kacau ia berdiri dengan kecewanya. Azka kemudian masuk kemobil dan menangis tersedu sedu, ia meminta Sekertaris Arez untuk mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Sekertaris Alexa. Azka menatap kedua tangannya yang ia buka


"Apa yang telah kamu lakukan Azka, betapa hancur dan kecewanya wanita yang kamu sakiti itu. Sekarang dia pergi meninggalkanku" ucap Azka seraya menampar pipinya dan menangis tersedu dlsedu.

__ADS_1


Baru kali ini dia sekacau ini, bahkan ini kali pertamanya ia menangisi seorang perempuan. Rasanya sakit dan sangat sakit melihat apa yang telah ia ucapkan. Setelah itu Azka berdiam diri sangat lama merenungi apa yang akan ia lakukan lagi. Setelah itu Azka memutuskan untuk kembali dan pulang kerumah besar dimana orangtuanya tinggal ia ingin dimasa terpuruknya setidaknya ada kedua orang tuanya yang mendampingi.


Saat tiba dirumah besar rasanya Sepi tidak ada siapapun yang menyambutnya. Sang ibu yang melihat kedatangannya hanya lewat tak menyapanya. Sakit sekali diacuhkan oleh wanita pertama yang ia sayangi dan cintai. Namun Azka sadar apa yang telah ia lakukan memang sangat salah. Wajar bila ia diperlakukan demikian oleh orang tuanya.


Pagi menyapa, Azka yang tidak tidur dan tidak makan sama sekali itupun kian melemah. Tak ada gerakan yang ia timbulkan ia hanya terbaring diatas karpet lantai. Azka tidak berangkat kekantor, ia juga tidak keluar kamar. ia hanya menangis dengan tampilan yang kacau.


"Bi bang Azka udah makan bi?" tanya Emilie yang khawatir dengan kesehatan sang kakak.


"saya sudah mengirimkan makananya keatas nona kecil namun tuan muda tidak menyentuh makanan itu sama sekali." ucap pembantu yang ada disana.


"Em yaudah bi siapin ya nanti Emilie yang anterin" ucap Emilie lembut


"Ada apa sayang?" ucap Raras seraya mengelus rambut putrinya.


"ee anu ma, Emilie khawatir sama kesehatan bang Azka soalnya dari kemarin kata bibi makanannya sama sekali tidak tersentuh," ucap Emilie menunduk takut sang ibu akan ikut mendiamkannya karena ia mengkhawatirkan abangnya.


"Ini nyonya makannya" pembantu itu menyodorkan makanan yang sudah siap.


"Terima kasih bi" ucap Raras.


Sang ibulah yang dengan kecewanya masih mau membujuk Azka untuk makan. Meski kekecewaan itu sangat nyata namun ia juga tidak bisa abai mungkin Azka benar benar menyesali perbuatannya. Dengan langkah pasti Raras memasuki kamar sang putra yang mirip kapal pecah itu.


Raras merasa tercubit melihat kondisi putranya yang berantakan. Raras mendekati sang putra dan di usapnya pipi putranya yang masih mengeluarkan air mata itu.


"Apa kamu akan berdiam diri seperti ini? apa yang akan kamu lakukan? mana tanggung jawabmu?" ucap Raras yang melihat putranya yang kacau dan lemah. Azka masih diam saja hingga sang ibu mengulangi perkataannya seraya mencengkeram baju Azka.

__ADS_1


"Jawab mama setelah apa yang kamu lakukan apa yang kamu lakukan!!! berhenti berdiam diri seperti gelandangan seperti ini!" maki Raras yang berubah sedih. Baru kali ini ia sangat marah, putranya tidak hanya menghancurkan kedua wanita yang bersahabat tapi juga hatinya sebagai seorang ibu.


"Maafkan Azka maafkan Azka" ucap Azka lirih.


"Apa yang kamu lakukan ini benar benar bodoh tau nggak sekarang jawab mama apa mau mu" ucap sang mama. Azka diam seraya menekuk kakinya seperti orang ketakutan dan hanya mengatakan kata "Maafkan Azka maafkan Azka" Raras yang tidak dijawabi putranya kini mulai khawatir tentang psikis sang anak. Ia mencoba berkomunikasi tapi yang Azka respons hanya kata yang sama.


Raras menangis tersedu sedu melihat putranya seperti sudah gila, Raras kemudian berjalan keluar menuju kamar dimana sang suami disana.


"Pah Azka pah" ucap Raras langsung memeluk Baron.


"Kenapa orang itu" ucap Baron biasa saja namun ia membalas pelukan sang istri yang menangis kencang itu.


"Sepertinya psikisnya terganggu pah" ucap Raras seraya nenangis lebih kencang


"Apa?!" Baron sangat terkejut bagaimana bisa putranya yang cerdas itu terganggu. Baron mengajak Raras untuk melihat keadaan sang putra.


Sesampainya dikamar sang putra ia melihat keadaan anaknya dengan prihatin, Baron yang saat ini kecewa dengan kelakuan anaknya juga miris melihatnya hancur dan terpuruk seperti ini. Tidak disangka sang putra malah terganggu kejiwaannya, Baron memerintahkan kepada sang maid untuk menjaga Azka. sebelum itu Baron menghubungi saudaranya yang berprofesi sebagai psikolog. Baron menjelaskan kondisi Azka dan memerintahkan agar ia menyembuhkan Azka.


Emilie dengan telaten ikut membantu dalam penyembuhan Azka. Saat dihipnotis perasaan dan jawaban Azka sangatlah jujur, bahwa ia sudah mulai mencintai sekretarisnya yang bernama Alexa. Ia senang mempunyai anak namun ia menyesal mengatakan kalau ia ingin menggugurkan kandungan Alexa saja. Emilie melihat semua perkataan sang kakak, sejujurnya ia sudah tau segalanya tentang mereka berdua jadi hal ini sudah menjadi endingnya. Namun Emilie tidak menceritakan kepada siapapun bahkan kedua orang tuanya sekalipun.


Emilie yakin jika sang kakak dapat sembuh, dan mampu melewati ini dengan baik. 


Bersambung


...----------------...

__ADS_1


hayo like komennya jangan lupa.


oh iya kasih Hadiah dong buat author kasih bunga atau kopi dong biar semangat nih


__ADS_2