
Dikhianati oleh kedua sahabatku apa yang harus aku lakukan? menangis? kecewa? benci?
Ah rasanya aku sudah tidak mampu lagi merasakan apa apa. Semua terasa sakit dan kian sakit, entahlah aku sampai bingung harus bersikap seperti apa.
Setelah tahu dan mendengar fakta bahwa sahabatku Alexa hamil dengan pacar sekaligus sahabatku dari kecil aku sudah kehilangan arah tanpa kata saat itu juga. Ternyata selama ini kekhawatiranku benar adanya, semenjak Alexa bekerja dengan Azka saat itu juga Azka jarang ada waktu untukku, ternyata jawabannya ialah karena hatinya sudah berpaling dengan yang baru.
*heuu Ailsa kamu yang sabar ya cobaan dari Author masih akan berlanjut tapi tenang author sudah siapin jodohmu 1000x lebih gtg dari Azka🥺 lanjut.
Aku pulang kerumah dengan wajah yang kusut, saat itu juga mamaku langsung menghampiriku
"Sayang, kamu kenapa?" ucapnya dengan khawatir. Tak lama papaku juga datang dan turun mendekatiku. Air mata yang sudah kutahan tahan dari tadi akhirnya jatuh juga, rasanya sakit tak tertahan.
"Ailsa sayang ada apa?" tanya mamaku yang kini memelukku erat. Aku masih bungkam karena tangisanku yang masih tersedu sedu. Kemudian papaku berbicara dengan suara yabg lembut
"Siapa yang bikin anak papa nangis seperti ini? coba bilang sama papa" ucap papa seraya ikut memelukku.
__ADS_1
Aku menghentikan tangisanku dan meraup oksigen sebanyak banyaknya karena sudah kehabisan udara akibat hidungku yang tersumbat ingus. Aku tersenyum melihat kasih sayang dan kekhawatiran kedua orang tuaku, lalu aku menjelaskan apa yang terjadi padaku dan Azka. Tiba tiba
bruggg
Mamaku sampai pingsan mendengar semua kebenaran yang aku ceritakan.
"Mama mama kenapaa ma" ucapku yang mulai khawatir. Papaku kemudian memindahkan dan menidurkan mama disofa. Sepertinya papa benar benar merasa murka dan tidak terima bahkan ia diam seraya mengepalkan tangannya saat aku menceritakan segalanya. Tak lama mama bangun dan menangis seraya memelukku erat.
"Sabarlah sayang, mama yakin kamu akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dibandingkan Azka." ucap mama seraya menangkup kedua pipiku.
"Ailsa baik baik saja ma meskipun hatiku sudah hancur, luka yang mereka torehkan terlalu dalam" ucapku seraya memegangi tangan mama yang masih berada di pipiku.
"Ailsa mohon sama papa dan mama kalau nanti Azka ataupun Alexa kemari bilang Ailsa tidak ada. Ailsa belum siap ketemu mereka" ucapku yang memang sudah tidak sanggup lagi bertemu kedua sahabat yang sudah menyakitiku itu.
Setelah semua drama dan tangisan aku memilih pamit kepada kedua orang tuaku untuk menyendiri. Aku butuh waktu untuk menyembuhkan luka yang tidak terlihat ini. Dengan mendengarkan lagu kesukaanku dan ditemani matcha latte hangat yang menenangkan itu perasaanku sedikit reda.
__ADS_1
Aku ungkapkan segala kekecewaan dan kebencian dalam diriku dalam sebuah lukisan yang saat ini aku buat. Menangis? tentu saja aku bukan manusia yang tahan dengan segala kekecewaan dan penghianatan, air mataku entah sudah aku peringatkan agar tidak menangis tapi tetap jatuh juga. Aku masih berharap kalau ini adalah mimpi belaka, namun saat itu juga aku sadar bahwa semua tak lagi sama.
hiks hiks hiks
Tangisanku malah kian membuncah saat lagu yang kuputar sangat mewakili dirinya saat ini.
"Tuhan semua ini terasa sangat sakit, aku tidak kuat lagi hiks hiks" ucapku lirih.
Siang hari menjelang sore aku terbangun setelah lelah menangis tadi, dibawah terdengar suara papa yang marah marah. Sepertinya Azka datang kemari, aku mengintip dari korden pintu kamarku dari lantai dua.
Benar adanya Azka memang datang kesana papaku dengan tegas mengusirnya, Entahlah aku jadi sayang sekali dengan papaku itu. Aku kembali kedalam dan membuka ponselku yang sedari tadi kuanggurkan. banyak panggilan terlewat itu dari Azka.
dua hari berlalu...
Bersambung
__ADS_1
...----------------...
ini nih yang nanyain dimana Ailsaa. Maaf aku gantung biar makin kepo