
"Ada tamu ya? siapa yah?" tanya Alexa yang baru saja turun dan tidak menemukan ayahnya dimeja makan langsung bertanya saat Sekretaris prastio mulai duduk dimeja makan.
Sekretaris prastio menarik nafas dalam lalu menjawab pertanyaan putrinya.
"Tuan Baron"
"oh" jawab Alexa seraya hanya mengangguk kemudian melanjutkan makannya.
"Kamu tidak mau bertanya kenapa tuan Baron kemari?" tanya Sekretaris Tio kemudian Alexa menggeleng.
"Tuan Baron kemari karena ingin melamarmu untuk Azka" sambung sekretaris Tio. Alexapun menghentikan gerakannya untuk menyendokkan makanan.
"Bagaimana?" tanya Sekretaris Tio saat putrinya hanya diam saja.
"Alexa tidak tahu yah" ucap Alexa seraya menuduk
"huft, ayah dukung apapun yang akan kamu lakukan. Coba tanyakan pada hati kecilmu apa kamu masih mencintainya? dan coba tanyakan pada dirimu apa kau akan menerimanya? Jujurlah pada dirimu sendiri, apapun keputusanmu nantinya ayah akan dukung sepenuhnya." ucap Sekretaris Tio.
"Terima kasih ayah"
"Tentu, berfikirlah dulu dan berikan jawabanmu pada ayah sehingga ayah mampu menyampaikan hal ini pada Tuan Baron. Kamu taukan beliau sangat berjasa dihidup ayah" tanya Sekretaris Tio yang dijawabi anggukan.
__ADS_1
...----------------...
Disisi lain saat ini Baron sudah tiba di Dirgantara group, seperti biasa semuanya menyambut beliau dengan berjajar rapi disepanjang jalan yang dilalui. Begitu tiba diruangan CEO Baron dikejutkan oleh putranya yang saat ini tengah fokus mengerjakan setumpuk berkas disamping kiri mejanya.
"ehm, saya kira saya salah ruangan ternyata tidak. Tapi kok ada yang beda ya" tanya Baron kepada Sekretarisnya sengaja menyindir putranya. Seketika Azka menghentikan pekerjaannya dan dalam beberapa detik iapun bangun dari tempat duduknya.
"Maaf pa, aku hanya ingin memperbaiki semua yang sudah aku hancurkan termasuk perusahaan papa" ucap Azka kini berada didepan papanya.
"Azka tidak akan menjadi pengecut lagi, mulai saat ini Azka akan perbaiki semuanya dari awal." ucap Azka lagi. Dalam hati Baron benar benar tersentuh pada sikap putranya ini dia benar benar mau berusaha untuk mengembalikan semuanya, semalam Baron sangat mengkhawatirkan putranya kalau akan down lagi tapi berbanding terbalik ternyata Azka mau bangkit dengan sendirinya.
"Percaya diri sekali, memangnya kamu mampu?" sindir Baron ingin melihat betapa sungguhnya sang putra.
"Baiklah kembalilah bekerja dan laporkan setiap profit padaku nanti malam" ucap Baron yang dijawabi oleh Azka
"Maaf waktu pulang kerja adalah waktu keluarga, selain perusahaan masih ada lagi yang harus saya perjuangkan." ucap Azka
"Baiklah kirimkan apapun itu via email" ucap Baron yang hendak meninggalkan ruang. Ketika sudah sampai diluar ruangan, Baron berkata pada sekretarisnya "Awasi setiap perkembangannya, dan laporkan apapun itu padaku. Aku akan pulang dan menghabiskan waktu bersama istriku" ucap Baron yang sudah melpaskan jaketnya dengan wajah sumringah.
Flashback malam
Azka yang masih menangis tersedu sedu ditaman tanpa sengaja sang adik melihatnya. Emilie yang waktu itu ingin mencari udara untuk mengerjakan tugasnya malah melihat sang kakak yang terpuruk lagi. Emilie sudah berjanji untuk tidak ikut campur dalam masalah kakaknya tapi kali ini dia tidak ingin abangnya terpuruk seperti kemarin kemarin.
__ADS_1
Emilie mendekati abangnya yang masih menangis sambil melipat tangannya, Sebelum bicara Emilie menghembuskan nafas dalam dalam. Ia memegang bahu abangnya perlahan kemudian Azka mendongakkan kepalanya, "Bang Azka are you ok?" tanya Emilie yang dijawabi gelengan. Emilie menangkup wajah sang kakak seraya menghapus air mata yang terus keluar dari mata Azka. "ada apa lagi sekarang? bukannya abang mau mengembalikan semua kesedia kala? bukannya abang mau memperjuangkan kak Alexa? lalu apa ini yang aku lihat? abang mau down lagi kaya kemarin dan membuat semua orang makin benci pada sosok lelaki yang lemah?" ucap Emilie seraya melepaskan tangkupan tangannya diwajah Azka.
"Apa aku masih pantas memperjuangkannya? semua orang bahkan papaku sendiri bahkan tidak mempercayaiku lagi. Apa aku masih boleh mendapatkan kebahagiaan?" ucap Azka pada adiknya.
"Memangnya hanya karena begitu kamu sudah mau pasrah dan tidak mau berusaha lagi? memangnya apa yang kau sebut usaha itu sih?!" bentak Emilie.
"Nih ya, yang mesti abang lakuin adalah membuktikan kesemua orang bahwa abang menyesal dan berubah, abang juga harus memperbaiki apa yang sudah abang rusak setelah semua ini terjadi dan bukan cuman omongan belaka, malah menyerah lagi. abang ini kaya masih bocil tau ngga baru digituin udah menyerah." ucap Emilie dengan tegasnya.
"Faktanya aku susah melakukannya, tidak ada seorangpun yang mendukung usahaku selama ini" ucap Azka menatap adiknya.
"Ck, sebenarnya aku malas ikut campur urusanmu tapi karna aku lihat abangku yang gaberkembang kaya gini kasian juga. Nih ya abang itu ga sendirian ada aku sama mama yang akan membantumu. abang itu engga sendiri! udah cukup cukup dengerin Emilie sekarang" ucap Emilie seraya menangkup wajah Azka kembali.
"Abang sekarang tidur terus besok pagi pagi abang harus kekantor dan kerjakan semua pekerjaan yang sudah kakak rusak selama ini aku rasa dengan begitu hati papa akan sedikit melunak melihat perjuanganmu, setelah itu waktu pulang kerja adalah waktu normal untuk pergi kerumah kak Alexa dan memperjuangkan cinta kakak!" ucap Emilie yang dijawabi anggukan kemudian Azka memeluk adiknya itu dengan erat.
"Terimakasih adikku" ucap Azka dengan semangat
"Sama sama bang, udah sana pergi tidur jangan pikirkan apapun lagi cukup dengarkan saranku tadi. batu yang ditetesi air terus menerus akan pecah juga begitupun denganmu kamu harus berusaha sampai batu itu pecah dengan sendirinya. semangat ya bang" ucap Emilie mengelus punggung Azka.
Azka berlalu dan pergi kekamarnya sesuai dengan instruksi adiknya. Emilie menatap semangat timbul lagi dimata abangnya,
"kalo gini berasa gue yang jadi kakaknya deh" ucap Emilie menggelengkan kepalanya
__ADS_1