Kesalahan Terbesarku

Kesalahan Terbesarku
Saran Bu Ratri


__ADS_3

Aku yang kesal setengah mati berlalu menuju dapur, moodku benar benar sudah hancur pagi pagi ini. Rasa yang makin lama aku pendam nyatanya makin mengusik, rasa egois ingin memiliki selalu hadir didalam jiwaku.


Itulah kenapa aku bahkan membenci diriku sendiri, aku sudah mengecewakan orang banyak setidaknya aku ingin menebus dosaku dengan semua derita yang mungkin tidak seberapa dibandingkan melihat seberapa kecewanya sahabatku saat itu.


Aku hirup nafas dalam dalam bahkan kejadian sudah berbulan bulan berlalu tapi rasa sakit dan penyesalan selalu datang memenuhi hidupku. Aku menyiapkan beberapa menu untuk caffe hari ini, entahlah aku tidak perduli dengan kedatangan presdir aku sudah capek semakin aku mengusirnya semakin dia selalu datang.


Tak terasa semua menu sudah ku selesai kan, aku mengambil kursi dan mendudukinya. usia kandungan ketujuh bulan ini membuatku selalu mudah terasa capek, aku pijat kakiku yang sedikit membengkak akibat efek kehamilan dan mungkin juga karena aku terlalu lama berdiri.


Disaat seperti ini aku tau betapa susahnya mencari uang, padahal dulu aku hanya bergulat dengan beberapa berkas dan jadwal jadwal presdir saja mampu membuat uangku sangat melimpah. Aku tersenyum kecut andai semua hal dimasa lalu tidak terjadi mungkin aku tidak akan merasakan penyesalan yang terlalu dalam seperti ini. Namun aku percaya pada takdir, apapun yang sudah tuhan gariskan tidak mungkin membuatku makin susah, tuhan tau mana yang terbaik untuk hambanya.


Setelah selesai dengan renungan hari hariku, aku mulai keluar dapur untuk membuka caffe dan mencari rezeki untuk menafkahi diriku sendiri. Aku melihat presdir sudah tidak ada, biarlah dia pulang dengan sendirinya. Aku mulai membuka caffe tatapan pertama yang aku tuju yaitu jalanan. Aku merindukan ayahku


Aku terkejut kala Bu Ratri menepuk pundakku,


"Mikirin apa bumil" ucap bu Ratri


" ibu ngagetin aja" ucapku seraya mengusap dadaku


"lagian pagi pagi malah ngelamun, nyariin mas ganteng tadi ya?" ucap Bu Ratri yang membuatku sedikit eneg.


"Engga, biarin aja dia pergi Alexa selama ini baik baik sajakan tanpa dia? justru Alexa seneng akhirnya dia mau pulang tanpa Alexa usir" ucapku yang dijawabi gelengan.


"Ibu tau bagaimana perasaanmu, wanita mana yang hidupnya baik baik saja kalau kamu saja sampai mengalami morningsick sangat parah diawal kehamilanmu." ucap bu Ratri.


"huft, Ibu tau bagaimana perjuanganmu dan masa masa tersulitmu sekalipun saat kamu hamil ini. Alexa ibu tau mungkin kamu kecewa padanya, tapi yang ibu lihat dia seperti orang yang bertanggung jawab. mau sampai kapan Alexa mau menghindar dan tidak mau mengusut kebenarannya?" ucap Bu ratri


"Ada alasan kenapa Alexa bertindak demikian dan tentunya Alexa yakin ini yang terbaik untukku dan anakku" ucapku tersenyum.


"Ibu tau tidak hanya kamu yang terluka tapi pria tadi juga merasakan demikian, Alexa cobalah untuk berbicara dari hati kehati dan temukan titik kesalahpahamanmu. Jika nantinya tetap tidak akan bersama setidaknya berdamai dengan salah satu masa lalu akan meringankan beban fikirmu." Ucap Bu Ratri seraya berpamitan denganku.

__ADS_1


ucapan bu Ratri tadi sukses membuatku berfikir, apa iya apa yang dikatakan Bu Ratri mampu menyelesaikan masalahku meskipun hanya satu?


"Bumil... Nona Alexaa yuhuu.." ucap Rara seraya melambaikan tangannya didepanku.


"ish apa Raa" ucapku lemah seraya mengambil segelas susu yang disodorkan Rara padaku.


"Mbak Ale kenapa lagi? badmood ya gara gara tuan Azka kemari? yaudah Rara janji bakalan langsung ngusir beliau begitu menginjakkan kaki disini" ucap Rara


"Apaan sih ra, Ra aku capek gini terus. Bu Ratri dia memintaku untuk bicara empat mata dengan presdir supaya semua selesai. Apa menurutmu itu ide yang tepat?" ucapku pada Rara, kudengar dia menghela nafas berkali kali


"huft gini ya mbak Alexa aku sangat tau kamu berada didalam jurang penyesalan yang seharusnya itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Dann menurutku itu ide yang sangat bagusss dengan begitu kamu tahu masalahmu dan kamu bisa membicarakan seluruh isi hatimu termasuk langkah apa yang akan kamu ambil nantinya."ucap Rara seraya memelukku.


"Tapi balik lagi ke mba Alexa, jika mbak Alexa belum siap sebaiknya tidak usah dipaksakan saya yakin dengan kemampuan mba Alexa kalau mba Alexa itu kuat" ucap Rara lagi


"Makasih ya Ra, jujur aku sangat ingin bertemu dengan Ayahku. Tapi aku terlalu malu untuk menemuinya" ucapku mulai menitikkan air mata.


"Bagaimana jika ayah mengusirku? aku terlalu malu Ra untuk menyatakan semuanya" ucapku


"Kenapa pesimis sekali sih ini bumil segala sesuatu tidak mungkin seperti yang kita fikirkan. Pasti ada dong satu atau dua hal yang belum tentu sama seperti itu." ucap Rara seraya memegang kedua tanganku.


"Percaya deh mbak, Tuhan aja maha pengampun. Tuan prastio tidak mungkin akan melukaimu, jika hal itu terjadi aku yang akan pertama kali melindungimu" ucap Rara seraya tersenyum.


"Baiklah aku mau, Tolong temani aku ya Ra." ucapku pada gadis didepanku.


"Siapp"


...----------------...


Pagi hari aku bersiap akan kembali ke kota, Aku sengaja membawakan makanan kesukaan ayah dan beberapa cendera mata yang kubawa. Perjalanan yang akan kutempuh kurang lebih 3 jam,sebenarnya bisa naik pesawat namun aku menolak karena jujur saja aku tidak mampu membayar tiket pesawat disaat caffe sedang sepi. Aku memutuskan untuk naik kendaraan umum dan hal itu membuat Rara sedikit cerewet selama di perjalanan. Dia begitu mengkhawatirkanku dapat ku lihat betapa dia ingin membuatku nyaman selama diperjalanan.

__ADS_1


Beberapa jam sudah berlalu, kini tibalah aku dirumah, rumah dimana aku besar dan aku habiskan bersama ayahku. Saat tiba didepan gerbang jangan ditanya bagaimana perasaanku, Rasa takut dan takut begitu mendominasi hingga membuat nyaliku menciut.


Rara melihatku demikian memegang tanganku


"Ra, ayo kita pulang aja. Aku takut Ra" ucapku seraya mulai menitikkan air mata, entahlah aku menjadi cengeng selama kehamilanku.


"Gaada waktu, beberapa langkah lagi jangan kamu sia siakan mbak. Tenanglah aku selalu ada disampingmu. Aku tidak akan meninggalkanmu" ucap Rara kepadaku


kamipun melangkah setelah dibukakan oleh satpam yang bertugas lalu aku masuk dan mengetuk pintu rumah. Ketukan pertama tidak ada jawaban hingga ketukan kedua aku melihat Bibi yang sama membukakan pintu.


"Non Alexa, Non kemana saja bibi kangen Non Alexa" ucap Bibi langsung memelukku erat.


"ehem Bi, Ayah ada?" ucapku pelan pelan


"Tuan Prastio ada, dia didalam mari masuk Nona saya panggilkan" Ucap Bibi seraya menarikku memasuki rumah.


Entah kenapa meskipun ini rumahku kini terasa asing bagiku, rumah yang dahulu selalu memberikan kenyamanan kini berubah menjadi suasana yang mencekam.


"Ra, aku makin takut. Apa kita pulang saja ya Ra" ucapku pada Rara.


"ssti.... duduk diamlah mbak" ucap Rara tidak memggubrisku.


drap drap drapp


suara sepatu menuruni tangga, sudah kupastikan itu Ayah. Aku melihat kearah tangga dan benar adanya lelaki yang selama ini kurindukan, lelaki yang satu satunya kumiliki sekaligus cinta pertamaku. Kini dengan wajah dingin dan datarnya mulai mendekat kearah ruang tamu di tempat aku dan Rara duduk.


"Mau apa kemari" ucap Ayah dengan nada Datarnya. Rasanya aku ingin sekali menangis, salah satu orang yang aku kecewakan kini begitu dingin padaku.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2