
"kau yakin akan melalukannya bersamaku? aku tidak akan bisa berhenti jika aku sudah mulai" ucap Azka dengan pandangan sayu
"lakukan pelan pelan, dia didalam" ucap Alexa seraya menunjuk perut buncitnya. Azka terkekeh "tentu sayang aku akan pelan" Azkapun menyerang mereka saling menyesap satu sama lain, rasa Azka yang sudah lama tidak melakukannya benar benar seperti kehausan, Alexa sendiri merasa kasihan pada Azka karena biar bagaimanapun ia pria normal pasti dimalam pertama ia pasti menginginkannya
...----------------...
"emhh" desah Alexa kemudian Azka mulai menggerakkan milknya yang saat ini sudah terbenam sempurna di milik Alexa. Setelah Alexa dirasa sudah siap Azka mulai menggerakkan perlahan seperti keinginan karena tidak ingin menyakiti Istri dan anaknya.
"do it faster" ucap Alexa yang sudah tidak tahan.
"As you wish" jawab Azka memacu gerakan tubuhnya dengan lebih cepat. Suara tumbukan dua kulit mendominasi disertai de****n memenuhi ruangan sepasang pengantin itu.
"arghh" erang Azka ketika sampai puncaknya kini Alexa sudah terkapar lemas jangan lupakan perut buncitnya yang membuatnya harus berada dalam posisi miring. Azka mengelus perut buncitnya sembari masih memeluknya dari belakang
"Cabut dulu itunya" pinta Alexa dengan lemah
"Gamau, biarkan seperti ini saja" goda Azka
"ck cabut, rasanya sakit" ucap Alexa yang kini mulai me cabuf sendiri, Azkapun terkekeh dan membantunya.
"Apa perutmu sakit? aku mengeluarkannya didalam tadi" tanya Azka yang khawatir dengan istrinya karena dia tidak tahu bolehkah melakukannya saat hamil seperti ini
"Masih aman kok" ucap Alexa yang memang tidak merasakan apapun.
"Yaudah yuk bobo" ucap Azka mengecup pelan bibir Alexa kemudian mendekap Alexa demgan perlahan.
Pagi harinya masih dikeadaan yang sama sepasang suami istri itu terbangun bersama
"Morning my wife" ucap Azka dengan full senyuman diwajahnya.
"Morning my husband" ucap Alexa seraya membalas senyum Azka. Azka yang gemas mulai menci uM bibir Alexa dan mdlumatnya pelan, Alexa membuka mulutnya dan membalas setiap sesapan Azka. Hot kissing itu lama lama berubah juga, mereka yang sama sama tidak mengenakan apapun mulai kesana kemari dan terjadilah peluh membasahi tubuh mereka. Pagi ini mereka berhasil menyelesaikan 3 ronde.
...----------------...
dorrr
Ailsa terjengkit merasakan kaget yang teramat "Kak Rendhyyy....." Teriak Ailsa yang sangat kesal pada kakaknya itu.
"Apaaa hahaha, lagian salah sendiri ngalamun" ledek Rendhy pada adiknya.
"Kak Rendhy tu gatau aja nikmatnya minum coffe sambil ngalamun gini tu enak bgtt" ucap Ailsa.
"Jangan nanti kesambet, kamu masih mikirin sahabatmu itu ya?" tanya Rendhy seraya duduk disebelah adiknya dan membuka buku yang ia bawa.
__ADS_1
"Bohong kalau aku bilang engga mikirin, nyatanya beberapa hari disini aku masih merasakan sakit yang luar biasa ketika mengingat keduanya" ucap Ailsa seraya tersenyum.
"Memang terkadang kita akan sulit percaya tapi saran kakak kamu dengarkan alasan mereka. toh menurut kakak bagusnya kamu cari pria lain, kamu ini cantik stock cowo dibumi juga masih berlimpah jangan kaya orang susah dong Ailsa" ucap Rendhy
"Gasemudah itu tau" Alexa mengerucutkan bibirnya.
"Kak aku mau beli alat lukis lagi dimana ya? kakak ada tau toko yang lengkap?" tanya Ailsa
"Mau beli kapan? kalau jam segini kayaknya udah tutup. Kalau besok kakak gabisa nganter kakak harus kekantor kerjaan kakak nambah terus soalnya mau ada kerjasama dengan perusahaan Wilson" jawab Rendhy jujur pada Adiknya.
"Ih gapapa kakak sebutin aja nama sama alamatnya, Ailsa mau beli sendiri kan sekalian jalan jalan" ucap Ailsa
"Jangan lah kakak khawatir kalau kamu jalan sendiri, atau besok aja weekend kakak anterin" ucap Rendhy pada Adiknya
"Gamau Ailsa gapapa kok, Ailsa udah gede gini masa kemana mana harus dianterin" protes Ailsa.
"No" tolak Rendhy
"Ck pokokknya Ailsa mau sendiri kak Rendhy" Ailsa mulai marah.
"Iya iya" pasrah ketika adiknya sudah mode cemberut.
"Nah gitu terimakasih kak Rendhy" peluk Ailsa.
Pagi harinya Ailsa terbangun dilihatnya pukul 8 pagi, "kok aku kesiangan sih pasti kak Rendhyy udah berangkat deh ni" Ailsa mengambil ponselnya dan segera menelfon kakaknya itu. "Halo kak, mana alamatnya? aku bangun kesiangan lupa ga tanya alamat tokonya" ucap Ailsa
Ailsa bergegas mandi dan sarapan kemudian ia berjalan menuju toko alat lukis, hari ini dia berencana melukis disebuah bukit terkenal di sana meskipun tempat itu hiden tapi Ailsa sudah jauh jauh hari datang kesana bersama kakaknya Rendhy jadi ia sudah tidak asing lagi dengan tempat itu. Kini ia menemukan toko alat tulis yang super lengkap dengan harga yang sedikit miring. tanpa berlama lama Ailsapun masuk kedalam. Ia memilih dan membeli cat yang ia butuhkan.
Disisi lain Gerald yang suntuk dengan pekerjaan seperti biasa ia meminta waktu 30 menit untuk istirahat dan melukis.
"Bim antar aku beli perlengkapan lukis di tempat biasa" ucap gerald dengan wajah dinginnya.
"Tentu tuan muda" ucap bimo seraya menuju basement.
Kini gerald dan Bimo sudah sampai di toko ia segera mengambil perlengkapan lukis yang ia butuhkan. "aku sudah selesai bim tolong bayar aku ketoilet sebentar, berapa sisa waktuku?" ucap Gerald
"17 menit lagi tuan muda" ucap bimo
"Oke, segera bayar dan tunggu aku dimobil" ucap gerald yang dijawabi anggukan oleh bimo.
Toko itu agak ramai hari ini, terbukti antran kkasir yang mengular panjangnya. Disinilah Ailsa diurutan kelima dari 5 antrean yang tersisa. Tiba tiba laki laki berjas menyerobot antrian dan menunjukkan sebuah kartu di meja kasir. Ailsa yang saat itu melihat ketidaksopanan itu langsung menarik jas laki laki tersebut kebelakang
dalam bahasa inggris :
__ADS_1
"Permisi tuan apakah anda tau apa itu antre?" tanya Ailsa yang langsung dijawabi laki laki yang bernama Bimo itu dengan ketus.
"Jangan ganggu saya bekerja nona, saya tidak butuh kata Antre" ucap bimo seraya membetulkan jasnya yang Ailsa tarik tadi.
"Sombong sekali, saya tidak peduli anda berkuasa atau pemilik toko ini sekalipun tapi bisakah anda sedikit sopan apa anda tidak malu dengan nenek dibelakangmu ini? dia sudah lebih dulu mengantri disini" cecar Ailsa.
"Menyingkirlah nona, dan kau segera hitung belanjaan ini" ucap bimo tidak menggubris Ailsa dan malah menyuruh kasir agar menghitung belanjaannya. Ailsa yang sudah marah itupun akhirnya mengambil barang sang nenek dan menyerahkan kekasir untuk dibayar
"Dahulukan nenek ini dia sudah lama berdiri disini" ucap Ailsa pada petugas kasir
"Nona tidak apa apa" ucap sang nenek pada Ailsa seraya memegangi lututnya yang mungkin agak lelah.
"Tidak nek, kini giliranmu biarkan orang ini mengantri. Aku tau nenek sudah berdiri lama disini silahkan nek akan dihitung belanjaan nenek" ucap Ailsa ramah.
"Terima kasih nona cantik" ucap nenek tadi
"Tidak bisa hitung punyaku dulu kau taukan bosku siapa" ucapnya pada kasir yang langsung dijawabi anggukan.
"Tidak bisa, nenek ini duluan dasar gatau sopan santun" ucap Ailsa
"Memangnya anda siapa kenapa sok berkuasa disini" ucap Bimo yang sudah tersulut emosinya.
"Anda yang siapa bisakah anda menghormati nenek ini" ucap Ailsa
"diamlah nona jangan mengganggu pekerjaanku" ucap Bimo
"Bim ada apa kenapa kamu malah berdebat" ucap Gerald yang datang saat melihat Bimo berdebat di depan kasir.
"Maaf tuan muda nona ini mengajakku ribut" jawab Bimo pelan
"Hei kamu dulu yang menyerobot antrian apa ini salahku jika menegurmu? jelas jelas kau yang salah masih menyalahkanku lagi" ucap Ailsa. Gerald langsung memandangi Ailsa tak berkedip, dia terpesona dengan Ailsa yang saat ini cemberut marah. Sesaat kemudian Gerald tersadar
"Biim aku memang menanyakan waktu padamu tapi aku tidak menyuruhmu untuk menyerobot antrian orang kan?" ucap Gerald kepada asisten sekaligus sekretarisnya itu.
"Maaf tuan muda" ucap Bimo
"Aku tahu kau tidam pernah antri tapi lihatlah dibelakangmu ada nenek nenek yang sudah lama berdiri mengantri" ucap gerald
"Baik tuan muda" ucap Bimo seraya berada di belakang antrian Ailsa.
"Nah gitu dong dahulukan adab" ketus Ailsa kepada bimo.
"Bim biar aku saja kau kembalilah kemobil" ucap Gerald yang diprotes bimo
__ADS_1
"Tidak tuan muda saya saja yang mengantri tuan muda kembalilah kemobil" ucap Bimo
"Sudahlah lagian waktuku tidak banyak untuk melukis jadi kau redakan emosimu dimobil" ucap Gerald yang mengerti situasi Bimo. selain pengertian dan baik Bimo sangat menyukai Gerald karena dia tidak pernah dianggap pesuruh oleg Gerald. meskipun ia hanya sekretaris Gerald selalu mengerti dan tidak pernah membuat batasan tuan dan pembantu dengannya.