
"Dia selalu mengawasimu dimanapun kamu berada mbak, beliau selalu didekatmu." ucap Rara dengan penuh keyakinan.
"Lalu kenapa dia tidak menemuiku Ra? apa segitu kotornya aku dimatanya hingga tidak mau bertemu denganku?" ucapku dengan menangis tersedu sedu.
"Saya yakin tuan prastio punya alasannya sendiri terkait hal ini jadi kumohon sebaiknya mbak fokus kehamilan mbak saja."
"Ra, aku bener bener seneng kalau hal itu benar terjadi. Aku berfikir kalau selamanya aku akan sendiri, aku merasa sangat berdosa pada papaku Ra" tangisku pecah kala mengingat soal papa.
"Mbak jangan menangis, saya yakin kok tuan prastio juga sangat menyayangimu. mana mungkin seorang ayah membuang putrinya sendiri bahkan dialah satu satunya putri yang dimiliki. sebaiknya mbak istirahat saja inget dede bayinya juga butuh istirahat" ucap Rara yang setia mengusap pundakku.
Akupun mengikuti Rara yang mengantarku kekamar, kepalaku terasa berdenyut semuanya terasa sangat berat. Kejujuran yang Emilie ucapkan membuatku berfikir kembali, Tapi bagaimanapun yang menjadi pikiranku saat ini adalah papaku. Apa benar papa selalu datang dan menjagaku?
Aku ingin sekali bertemu papa dan meminta maaf atas semua yang aku perbuat, meskipun kata maaf tidak mampu membuat semuanya kembali. Air mataku menetes bebarengan dengan Rara yang kembali masuk kedalam kamarku.
"Tuh kan mbak nangis lagi, yaudah deh mending aku temani mbak disini aja biar ga nangis terus. Ini Rara buatkan susu jangan lupa diminum"
__ADS_1
"Makasih Ra, oiya Ra aku pengen banget ketemu papaku bisakah kamu katakan ini padanya?" ucapku seraya memberikan kertas yang sudah kutulis.
"Em, akan saya sampaikan pada Tuan Prastio." ucap Rara yang kujawabi dengan senyuman.
Pagi harinya, Presdir kembali datang membawa satu ikat bunga dan satu kotak coklat ditangannya. Pagi pagi sekali dia sudah berdiri didepan rukoku, Kulihat wajahnya yang sangat kurindukan. Jujur aku sangat ingin memeluknya entah kenapa semenjak hamil rasanya aku tidak ingin jauh jauh darinya. Awalnya aku ingin mengusirnya namun sayang sekali Bu Ratri datang membawa makanan yang aku pesan dan malah mempersilahkan Presdir masuk kedalam.
"Lho kamu ini gimana Alexa, ini ada cowo ganteng berdiri didepan gak kamu suruh masuk?" ucap Bu Ratri seraya membuka pintu ruko.
"iya saya alergi"ucapku
"Gaada gini alergi apa? sudah sudah Mas ganteng mau apa kesini? rukonya belum buka." ucap Bu ratri kepada Presdir dengan memegang pundaknya membuatku memutarkan kedua mataku.
"Saya cuman mau ngasih ini kepada Bidadariku" ucap Presdir yang ingin aku gampar mulutnya.
"Walah so sweetnya, mau ketemu Rara?" tanya Bu ratri menebak
__ADS_1
"Bukan, saya ingin ketemu dengan Alexa" ucapnya
"Loh apa kamu galihat dia lagi hamil gede gini mau kamu embat?" ucap bu Ratri menunjukku
"Apaan sih buk, dia bapaknya" ucapku kesal seraya meninggalkan mereka menuju dapur.
"Loh? Alexa? kesini dulu"
"Bocah gendeng!, haisst anak jaman sekarang bikin kepala kliyengan saja. Jadi kamu lelaki yang tidak bertanggung jawab itu?" tanya Bu ratri pada Presdir
"Maaf, bukan maksut tidak ingin tanggung jawab melainkan baru bisa bertanggung jawab" ucap presdir.
"Terserah kamu ajalah, berusahalah buat dia menerimamu selama ini dia sudah menyimpan kesedihannya seorang diri. tidak mengeluh sama sekali meskipun dia jatuh bangun seorang diri" Ucap bu Ratri sambil menepuk bahu presdir.
Bersambung
__ADS_1