
"Mau apa kemari" ucap Ayah dengan nada Datarnya. Rasanya aku ingin sekali menangis, salah satu orang yang aku kecewakan kini begitu dingin padaku.
Kulihat Ayah sudah duduk dikursi, Aku menundukkan kepalaku sedari tadi. Entahlah aku tidak berani mengatakan apapun bahkan melihat wajahnyapun aku tidak berani.
"Jika tidak ada hal yang penting sebaiknya silahkan pergi dari sini" Ucap Ayah seperti tidak sabaran.
"Aya... ehm maksutku Tuan Prastio, Saya ingin minta maaf atas semua kesalahan saya dimasa lalu" ucapku terbata bata. Aku beranikan diri untuk menatap wajah ayah yang selalu aku rindukan. Aku berfikir sudah saatnya meminta maaf secara baik baik meskipun nantinya aku akan diusir dari sini, setidaknya aku sudah mencoba memperbaiki hubunganku dengan ayah kandungku.
"huft, Mungkin Tuan malu bahkan tidak sudi menganggap saya putrimu lagi tapi saya ingin meminta maaf atas semua kesalahan saya. Saya sadar akan kesalahan saya, tidak ada satu haripun hidup saya tanpa penyesalan. Tolong maafkan saya, rasanya sangat sesak menjalani kehidupan dengan penuh penyesalan. Saya mohon maafkan saya" ucapku bersimpuh, air mata? jangan tanyakan lagi sudah dari tadi air mataku tumpah.
Akh melihat ayah yang tidak bergerak bahkan tidak berbicara sedikitpun. Sudah kuduga mungkin saja apa yang dikatakan Rara itu adalah bohong dimana ayah selalu mengawasi dan menjagaku itu hanya kata agar membuatku bahagia. Sungguh rasanya begitu sakit, Bahkan ayah kandungku tidak mau memberikan maafnya.
"Saya mohon maafkan saya, saya hanya ingin melanjutkan hidup bersama anak saya kelak tanpa penyesalan yang sesakit dan sedalam ini. Tolong maafkan saya" ucapku tak tertahan lagi, aku merasakan Rara mengusap bahuku.
Aku rasa ini sudah cukup perutku sudah sangat sakit akibat posisi bersimpuh yang membuat kakiku kebas. Mungkin ayah memang tidak mau memaafkanku, aku tertawa pada diriku sendiri. mana mungkin atas kesalahan yang sudah aku perbuat begitu besarnya masih mengharapkan kata maaf dari ayah. Aku mencoba berdiri, Rara membantuku dan akupun bersiap pergi dari sana.
"Maaf mungkin saya terlalu kotor untuk mendapatkan maaf dari anda, saya tidak akan mengganggu hidup Tuan lagi, saya janji kali ini saya akan pergi sejauh mungkin dan saya pastikan anda tidak akan menemukan saya" ucapku sebelum mengajak Rara untuk pulang.
Tiba tiba tanganku ditarik hingga menabrak dada bidang yang selalu kurasakan. Ayah memelukku, tangis ku makin pecah aku mengeratkan pelukanku.
"Mana mungkin ayah tega seperti itu Alexa, kamu putri ayah satu satunya. 3 bulan adalah waktu yang cukup bagi ayah menyesali semua kata kata kasar ayah waktu itu. maaf membuatmu sakit hati, Aku lah yang salah disini aku ayah yang gagal melindungi putri satu satunya yang kumiliki." Ucapan Ayah begitu membuatku terharu.
"Alexa yang salah ayah, Ale yang ga bisa jaga diri Ale" ucapku dengan tangisan yang menggebu gebu.
"No, maafkan ayah yang jarang memperhatikanmu hingga terjadi hal seperti ini maafkan ayah" ucap Ayah dengan suara bergetar. Baru kali ini aku melihat orang sedatar dan sedingin ayah menangis.
"Ayah maafkan Alexa, maaf" ucapku lagi
"Iya sayang, maafkan ayah juga atas perlakuan ayah"
__ADS_1
Aku melihat kearah Rara yang kini tersenyum melihat kami berpelukan, sungguh rasanya benar benar lega. Ayah melepaskan pelukanku dan mengusap air mata yang membasahi pipiku dia tersenyum kearahku
"Istirahatlah, ayah tau kamu lelah. Ajak Rara sekalian" ucap Ayah yang kujawabi anggukan. Aku dan Rarapun naik keatas, "waw ini kamar mbak Alexa" tanya Rara begitu masuk kedalam kamarku.
"Iya Ra, aku rindu dengan kamar ini." ucapku
"Selamat ya mbak akhirnya kamu berdamai dengan ayahmu" ucap Rara
"Makasih ya Ra, kamu udah nemenin aku" ucapku yang dijawabi anggukan.
Akibat kelelahan begitu rebahan aku langsung terlelap. Tak menyangka aku dibangunkan oleh bibi, kalau sudah ditunggu untuk makan malam. Aku mandi dan bersiap untuk turun kebawah aku lihat Rara yang tidak ada dikamar bisa dipastikan bahwa dia sejak tadi dibawah. Setelah selesai mandi aku mulai turun, dimeja makan ayah sudah menungguku dengan berbagai hidangan disajikan.
"Ayah maaf membuat ayah menunggu, seharusnya ayah bisa makan duluan. Alexa semenjak hamil suka tidur tidak tau waktu jadi maaf membuat ayah menunggu." ucapku pada Ayah yang kini memasukkan nasi kedalam piring dan menyodorkannya didepanku.
"Tenanglah, sudah lama ayah tidak makan bersama putri ayah. Ini makan yang banyak biar cucuku makin gendut" ucap Ayah yang membuatku tersenyum. Aku masih tidak percaya, semua ini terasa seperti mimpi. Aku tiba tiba teringat kemana perginya Rara, aku menoleh kesamping kanan dan kiri
"Rara yah" ucapku
"Dia didapur bersama Bibiu sedari tadi dia tidak mau diajak makan bersama." ucap Ayah yang kujawabi anggukan.
Makan malam selesai, Aku menyusul ayah yang kini berada diruang baca sekaligus ruang kerjanya.
"Alexa boleh masuk yah?" ucapku
"Masuklah" setelah itu aku memasuki ruangan ayah berada.
"Ada apa? kenapa tidak beristirahat, kamu sedang hamil sebaiknya perbanyak istirahat" ucap ayah seraya menutup bukunya.
"Alexa pengen ngomong banyak sama ayah, Alexa em.." jedaku
__ADS_1
"Baiklah ada apa putri ayah" ucap ayah seraya menyelusupkan rambutku di telinga.
"Ayah terima kasih ya udah maafin Alexa, sebenarnya selama ini Alexa merasa sangat berdosa pada semua orang dan itu berhasil membuat Ale sesak. Rasanya sakit dan capek, hidup didalam bayang bayang penyesalan dan kekecewaan semua orang. Disaat semua orang begitu membenciku aku bersusah payah membangun kebahagiaanku sendiri."
"Alexa ingin akhiri ini semua yah, berdamai dengan masa lalu dan hidup baru bersama anak Alexa kelak"
"Sst.. sudah nak, jangan fikirkan semua hal yang belum tentu itu salahmu. Ayah tau mungkin kamu bisa merasa menyesal tapi ingatlah ayah disini. fikirkan anak didalam kandunganmu sayang, dia juga dapat terpengaruh jika kamu banyak fikiran."
"Iya ayah" Ucapku
"Cucu ayah lagi apa? dia udah berapa bulan nak?" tanya Ayah.
"Udah 7 bulan ayah, ga kerasa kurang lebih 2 bulan lagi Alexa jadi ibu. Alexa tidak sabar bertemu dengannya, menggenggam erat tangan mungilnya dan menimang setiap tumbuh kembangnya" ucapku antusias.
"Ayah juga gasabar bertemu cucu ayah, kamu sudah tau jenis kelaminnya?" tanya Ayah padaku.
"Aku gamau tau sebenernya tapi Alexa sendiri sepertinya udah tau dia cewe apa cowo" ucapku yang dijawabi anggukan.
"Dulu waktu ibumu hamil kamu dia begitu manja, apapun semuanya ayah yang kerjakan. Fase nyidam pun ayah rasa ibumu begitu mengerjaiku, ayah yakin jika ibumu masih ada dia akan begitu senang kini putrinya akan segera menjadi ibu" ucap Ayah seraya memelukku dari samping.
"Apa dulu mama sering mual juga?" tanya ku yang dijawabi anggukan
"iya dan sangat parah sampai selalu keluar masuk rumah sakit" ucap Ayah.
"Ayah, dulu kenapa tidak selamatkan mama saja? kenapa mama malah mempertaruhkan nyawanya hanya untuk melahirkan Alexa?" tanyaku membuat ayah menarik nafas dalam.
"Iya, karena mamamu dulu memang punya riwayat penyakit, jadi meskipun tidak melahirkanmu pun dia juga tetap tidak ada. makanya dulu dia selalu meminta ayah untuk berjanji agar selalu merawatmu meskipun nanti ayah menikah lagi. Sejak saat ibumu meninggalkan ayah dan kamu yang bahkan saat itu belum merasakan dekapan seorang ibu, ayah tidak punya semangat hidup bahkan tidak ada pikiran sama sekali untuk menikah lagi."
"Sampai saat inilah ayahmu menjomblo" kudengar gelak tawa ayah pecah. Oke baiklah sudah cukup saatnya mamu istirahat lagi" ucap Ayah yang kujawabi anggukan.
__ADS_1