
Safa berjalan mondar mandir setelah sambungan telepon darinya langsung di matikan oleh Pram tanpa di angkat oleh Pram dia sangat mencintai Pram karena Safa sudah mengenal Pram sejak kecil bahkan kedua orang tuanya Pram dan kedua orang tuanya Safa itu saling kenal mengenal bahkan mereka juga dulunya teman bisnis atau tekan bisnis
"Pram kenapa matikan sambungan telpon gue padahal gue pengin dengar suara Pram yang merdu dan gue juga pengin mengobrol sama dia gue harus melakukan cara apalagi supaya Pram supaya gue bisa mendapatkan Pram karena gue sudah bilang ke orang tua gue supaya menikahkan gue sama Pram dan orang tua gue juga sudah bilang ke orang tua Pram bahkan malah orang tua Pram setuju kalau gue menikah sama Pram bahkan gue juga menyuruh orang tua gue supaya bilang ke orang tua Pram untuk menjodohkan gue sama Pram tapi masalahnya Pram masih menolak gue" monolog Safa masih berjalan mondar mandir seperti setrika baju atau seperti ayam yang akan bertelur
Hendra sedang berada di perusahaan miliknya dia sedang berpikir bagaimana cara mendapatkan Safa karena Hendra sudah sangat jatuh cinta ke Safa dari awal jumpa pertama dan setiap Hendra mengatakan kalau Hendra suka dan cinta ke Safa dirinya dengan santainya malah cuma menjawab supaya jangan becanda walaupun Hendra baru mengenal Safa namun Hendra sudah sangat jatuh cinta ke Safa ingin sekali dirinya menikah dengan Safa
"Gue harus lakuin apalagi supaya Safa mau menikah sama gue soalnya gue cinta banget sama Safa walaupun gue baru mengenal Safa namun gue sudah sangat jatuh cinta sama Safa dan gue ingin menikah dengan Safa namun setiap gue bilang perasaan gue ke Safa kalau gue cinta ke dia Safa malah mengira gue becanda dan sama gue cuma bilang jangan becanda gue harus melakukan apa supaya Safa percaya sama gue bahwa gue sangat mencintai Safa dan gue serius mencintai Safa" gumam Hendra sembari duduk di kursi kerjan miliknya memegang rambutnya frustasi
Pram beringsut dari tidurnya dan langsung duduk di atas ranjang empuk miliknya saat dirinya akan ke kamar mandi tiba tiba handphone miliknya yang tergeletak di atas meja berbunyi lalu Pram melirik sekilas siapa yang menelpon tertera nama Vano - adiknya Pram termpampang dengan jelas di layar handphone miliknya Pram lalu Pram mengambil handphone miliknya dari atas meja masih dalam keadaan di atas ranjang lalu Pram tanpa ragu langsung mengangkat panggilan telpon tersebut
Pram
"Vano ngapain lo telpon gue ?" kata Pram pertama kali saat baru mengangkat telpon dari Vano terdengar suara gelak tawa kecil dari sebrang sana
Vano
"Haha haha mau ngobrol dong kak Pram masa mau mencuci piring dan aku juga mau ngobrolnya sama kakak bukan sama katak" jawab Vano di sertai dengan tawa kecil yang masih keluar dari bibirnya sementara Pram hanya memutar bola matanya dengan malas
Pram
"Lo lagi dimana Vano ?" tanya Pram sambil merebahkan tubuhnya lagi ke atas ranjang bukan ke atas pohon atau ke atas genteng sedangkan Vano mengeluarkan senyuman tipis
Vano
"Kak Pram gue lagi ngelihatin ikan pada renang di halaman kantor" canda Vano setelah mengatakan itu tanpa dosa Vano langsung tertawa terbahak bahak membuat Pram ingin sekali meninju muka Vano kalau dia bukan adik kandungnya pasti bakalan dapat masakan mentah maksudnya bogeman mentah dari Pram
__ADS_1
Pram
"Vano gue serius ngga lagi becanda kalau lo ngga serius jawab pertanyaan dari gue siap siap lo bakalan dapat serangan dari gue" bentak Pram sembari melototkan kedua matanya kepada Vano seperti Vano ada di hadapannya sementara Vano mengehentikan tawa yang keluar dalam sekejap setelah mendapat ancaman seperti itu memang dia paham kalau Pram hanya mengancam dan ngga bakalan menyerang dan memberi bogeman ke dirinya namun dirinya juga tidak mau membuat kakaknya sangat marah gara gara ulahnya
Vano
"Maaf kak Pram jangan marah dong nanti gue belikan permen buat kakak supaya ngga marah lagi" goda Vano sambil menahan tawanya sedangkan Pram melongo mendengar penuturan Vano
Pram
"Vano lo belikan permen buat gue sekalian sama beberapa ratus perusahaannya sekalian biar gue bisa jual kembali tuh permen pemberian lo" jelas Pram sembari mengukir senyum tipis sementara Vano hanya memutar bola matanya jengah
Vano
"Kak Pram itu namanya pemerasan kalau yang namanya di beri sesuatu sama orang jangan minta sama yang ngasih dong gue sudah ada di kantor soalnya ada meeting pagi ini kak" jelas Vano sembari melangkah menuju ke arah jendela beberapa detik kemudian mata Vano menangkap Ana - sekertaris Vano yang baru turun dari mobil
Pram
"Vano pagi banget lo berangkatnya apa lo belum sarapan berangkatnya ?" tanya Pram sambil memeluk guling yang berada di samping tubuhnya tapi beberapa puluh detik menunggu dirinya belum mendengar jawaban Vano di telinganya sehingga dirinya menyimpulkan bahwa Vano sedang melamun
Pram
"Vano" teriak Pram sangat keras melebihi kerasnya suara toa membuat Vano terlonjak kaget dan berhenti melamun tanpa di minta juga dirinya menghentikan langkahnya sebagai refleks kekagetan yang menyerangnya tadi
Vano
__ADS_1
"Kak Pram gue ngga budeg jadi ngga usah teriak teriak di telinga gue kalau mau teriak teriak di perpustakaan sana" bentak Vano sambil membulatkan kedua matanya sementara Pram memutar bola matanya jengah
Pram
"Vano lo ngga budeg tapi tadi gue bicara sama lo malah lo ngga dengar itu sama saja lo budeg istilah lainya tuli tapi lo kayak orang budeg percaya sama gue soalnya gue dari tadi ajak mengobrol lo ngga dengar dengar" tegas Pram lalu mendudukkan dirinya di atas ranjang miliknya sedangkan Vano matanya terbelalak lebar dengan mulut menganga
Vano
"Kak Pram kalau yang namanya orang budeg itu kalau di ajak mengobrol ngga nyambung bahkan orang mau teriak teriak juga orang budeg ngga bakalan dengar kalau aku mengobrol sama kakak itu menyambung dan dengar omongan kakak" jelas Vano panjang lebar sambil melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan Ana sementara Pram tersenyum masam mendengar penjelasan Vano
Pram
"Vano lo budeg karena lo dengarnya kalau teriak di telinga sementara gue dari tadi ngomong panjang lebar kali luas malah ngga di dengerin" ocehan Pram menguar di telinga Vano sedangkan Vano memegang pelipisnya karena di tuduh budeg padahal tadi dirinya ngga mendengar bukan karena budeg tapi karena sedang melamun apakah lamunan itu di ceritakan ke Pram ? Vano tidak akan menceritakan penyebab dirinya tidak mendengar gara gara melamun karena takut di tertawakan doang oleh Pram
Vano
"Terserah kakak Pram mau menuduh gue seperti apa intinya telinga gue masih tajam melebihi tajamnya cangkul" ketus Vano dengan kepala yang mengeluarkan kobaran api yang mengepul sementara Pram mengulas senyum masam karena dirinya tahu sesuai dugaannya bahwa Vano tidak mendengar karena sedang melamun entah apa yang di lamunkan oleh Vano tapi dugaannya pasti benar buktinya setelah dirinya menegur Vano dirinya lancar berkomunikasi dan Vano juga mendengar semua ocehan yang keluar dari mulutnya
Pram
"Vano gue ngga asal menuduh gue juga menuduh lo budeg karena lo ngga dengar omongan gue dan di ajak bicara sama gue juga lo ngga jawab cangkul yang sudah rusak juga tidak tajam dong" ucap Pram sembari menahan tawanya sedangkan Vano yang tersulut emosi langsung mengepalkan tangannya lalu meninju di udara tapi kayaknya udaranya ngga sakit di tinju oleh Vano tadi
Vano
"Terserah lo kak Pram mau bilang apa gue mau melanjutkan misi gue dulu" tegas Vano lalu mematikan sambungan telponnya tanpa izin terlebih dahulu dan mulai melanjutkan perjalanannya ke ruangan Ana sementara Pram melototkan matanya karena melihat Vano telah mematikan sambungan telponnya
__ADS_1
Vano masih melangkah menuju ke ruangan Ana namun otaknya sedang berpikir sangat keras kata apa yang pas untuk mengajak Ana sarapan bersama dengan dia di kantin perusahaan dan jantungnya juga berdebar sangat kencang seolah jantungnya mau loncat keluar saking cepatnya detak jantungnya saat ini tapi dirinya tiba tiba mengulas senyum tipis karena telah mematikan pengganggu dirinya maksudnya Vano sudah mematikan sambungan telpon dengan Pram
"Gue ke ruangan Ana buat mengajak dia sarapan bareng tapi kata apa untuk memulai percakapan mengajak pujaan hati dan gebetan lagian kalau gue bertanya ke kakak Pram juga kayaknya ngga bakalan bisa memberi solusinya soalnya dia juga belum pernah pacaran sampai sekarang saja dia masih jomblo tapi gue senang sudah mematikan sambungan telpon dengan kak Pram sehingga gue bisa meneruskan misi gue ke ruangan Ana tanpa gangguan apapun semut juga ngga lewat di depan gue sekarang mungkin karena mereka semua ngga mau ganggu gue" batin Vano sembari tetap melangkah dan mencoba menormalkan detak jantungnya