
Sambil menunggu Devia datang membawa makanan dan minuman pesanannya Rahma mengambil handphone yang di simpan di saku celananya lalu Rahma langsung mengambil handphone itu dengan jari lentiknya menuntun dirinya berselancar di sosial media untuk membuka aplikasi facebook yang terpasang di handphone miliknya karena tadi sempat mengintip aplikasi whatsapp namun dirinya belum menemukan telpon masuk atau chat whatsapp masuk dari Odin sehingga dirinya menyimpulkan bahwa Odin sedang sibuk dan belum sempat memberi kabar ke dirinya memang sikapnya Rahma sangat dewasa sehingga membuat Odin nyaman dengan Rahma selain itu Rahma juga cantik dan pintar
"Odin belum menelpon dan belum chat ke gue pasti Odin sibuk makanya dia belum sempat beri kabar ke gue maklum dia CEO di suatu perusahaan makanya dia sangat super super sibuk tapi gue wanita yang beruntung mendapatkan Odin karena Odin itu paket komplit dan sempurna sudah ganteng baik hati dewasa kaya raya lagi di usianya yang masih sangat muda Tuhan baik banget sama gue makasih Tuhan karena sudah menjadikan Odin sebagai kandidat calon suami gue" batin Rahma sambil masih tetap berselancar di sosial media aplikasi facebook
Devia telah sampai menghentak hentakkan kakinya maksudnya Devia telah sampai di depan penjaga kantin kampus lalu Devia menengok ke Rahma sebentar yang sedang sibuk senyam senyum sendiri entah apa yang terpampang di layar handphone miliknya Rahma sehingga dia persis orang gila yang ketawa ketawa dan senyum senyum sendiri di jalan melihat Rahma yang senyum senyum sendiri cuma di temani handphone miliknya Rahma doang membuat Devia bergidik ngeri dan menelan air liurnya sendiri mungkinkah Rahma gila ? saking sibuknya otak Devia bekerja menuduh Rahma gila sehingga tidak sadar bahwa penjaga kantin kampus dari tadi sudah memanggil manggil dirinya namun tidak di dengarkan oleh Devia padahal kedua telinga Devia terpasang rapi di tempatnya sehingga penjaga kantin kampus menepuk pundak Devia yang ada di depannya membuat Devia terlonjak kaget dan mengeluarkan teriakan yang sangat menggema di seluruh ruangan tersebut
"Ahhhhhh" teriak Devia menggema di seluruh isi kantin sehingga membuat semua kywn yang berada di kantin kampus menatapnya termasuk Rahma yang tadinya sibuk dan asyik berselancar dengan sosial media langsung mengarahkan kedua matanya ke arah sumber suara dan pemilik suara yang berteriak tadi siapa lagi kalau bukan Devia sementara Devia yang sadar dirinya di tatap oleh banyaknya pasang mata semut lebih tepatnya semut yang sedang berjalan jalan sementara Devia di tatap oleh banyaknya pasang mata manusia
__ADS_1
"Mba melihat apa koq teriak teriak ?" tanya penjaga kantin kampus dengan raut wajah heran sementara Devia tersenyum kikuk
"Saya melihat ibu tiba tiba ada di sini mendadak ada di depan mata saya makanya saya agak syok" jelas Devia sejujur jujurnya membuat penjaga kantin kampus merasa tidak enak karena tadi menepuk pundak Devia yang menyebabkan Devia terlonjak kaget beruntung Devia walaupun syok tidak sampai mencium wanginya lantai dan tidak sampai terlempar ke atas genteng atau ke atas pohon
"Maaf mba kalau saya bikin kaget mba" ucap penjaga kantin kampus sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah membuat Devia terenyuh meminta tingkah penjaga kantin kampus
"Ibu ngga bikin saya kaget karena ibu ngga meletuskan balon di telinga saya dan ngga meletuskan bom di tempat banyak orang" jelas Devia di sertai candaannya sambil tersenyum ke arah penjaga kantin kampus sementara penjaga kantin kampus mendongakkan kepalanya untuk menatap ke arah Devia
__ADS_1
"Masa ibu manggil manggil saya berkali kali tapi saya ngga dengar ? apa saya budeg ? atau saya tuli ?" cerca Devia sembari menatap ke arah penjaga kantin kampus dengan raut wajah serius sedangkan penjaga kantin kampus hanya tersenyum lebar dirinya berusaha menyembunyikan tawanya yang akan keluar
"Iya mba tadi saya tapi mba ngga dengar kalau menurut saya mba ngga budeg dan ngga tuli buktinya sekarang mba menyambung berkomunikasi dengan saya kalau ciri ciri orang budeg dan orang tuli itu kalau di ajak mengobrol dan berbicara ngga nyambung berkomunikasi dan ngga dengar mungkin mba tadi sedang melamun makanya mba ngga dengar saya panggil panggil" jelas penjaga kantin kampus supaya Devia bisa membedakan antara orang budeg dan orang tuli maksudnya bisa membedakan antara orang yang budeg dan orang yang budeg lalu orang yang tuli dan orang yang ngga tuli membuat Devia menghembuskan nafas lega karena dirinya ngga budeg dan ngga tuli sehingga menyebabkan Devia belum dengar di panggil berkali kali
"Aku senang bu ternyata aku ngga tuli dan ngga budeg lalu siapa yang budeg dong ? benar juga kenapa aku belum ingat ciri ciri orang budeg dan orang tuli iya saya tadi melamun punya teman kayak orang gila karena senyum senyum sendirian padahal ngga ada teman di sampingnya" adu Devia kepada penjaga kantin kampus membuat penjaga kantin kampus melebarkan kadar senyum yang di tampilkan
"Saya saya yakin mba ngga budeg dan ngga tuli saya ngga tahu mba yang budeg dan tuli bisa saja teman yang mba bilang gila itu senyum senyum sendirian ngga ada teman di sampingnya karena teman mba sedang membaca novel lucu membaca cerita lucu menonton video lucu atau berbagai hal lucu lainnya" ungkap penjaga kantin kampus sambil menatap Devia sementara Devia menganggukkan kepalanya lalu menatap ke arah penjaga kantin kampus sebentar lalu melihat ke arah Rahma yang sibuk dengan benda pipih di tangannya sambil tetap betah dan setia senyum senyum sendiri membuat kepala Devia merinding maksudnya membuat bulu kuduk Devia merinding
__ADS_1
"Ternyata telinga aku masih tajam lebih tajam dari silet yah bu bisa juga bu sampai sekarang teman saya sibuk tersenyum senyum sendiri dengan handphone yang ada di tangannya bu saya mau pesan nasi goreng spesial dua porsi sama dua gelas jus nangka" jelas Devia mengungkapkan tujuannya datang menemui penjaga kantin kampus sementara penjaga kantin kampus tersenyum ramah sambil menganggukkan kepalanya mantap
"Mba bisa saja becandanya teman mba tersenyum pasti gara gara hal yang lucu ngga selalu senyum senyum sendiri mengarah ke orang gila tunggu sebentar mba saya mau buatkan dulu" jelas penjaga kantin kampus nnenatap ke arah Devia sementara Devia hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon membuat penjaga kantin kampus tanpa ragu melangkah untuk mengambil semua pesanan Devia