Ketemu Jodoh Lewat Dunia Maya

Ketemu Jodoh Lewat Dunia Maya
Gue Sudah Menemukan Ide Briliant


__ADS_3

Rahma kini menatap tajam ke arah Devia dan Elsa secara bergantian, sungguh Rahma kesal dengan kelakuan mereka berdua, karena Rahma tak mendapat jawaban dari Devia maupun Elsa, hal itu membuat Rahma tersulut emosi.



Sedangkan Devia dan Elsa kompak masih menutup telinga mereka berdua rapat rapat, bahkan semut dan kutu juga tak bisa masuk ke telinga mereka berdua gara gara terlalu rapat menutup kedua telinganya mereka dengan kedua tangannya mereka berdua.



Rahma yang sudah tak tahan dengan keadaan membuat Rahma mengeluarkan suara teriakan dia yang sangat keras dan sangat kencang, sungguh Rahma sangat emosi kepada Elsa dan Devia.


"Elsa Devia kenapa kalian ngga jawab perkataan gue, oh jangan jangan kalian berdua terserang budeg dan tuli mendadak, makanya ngga jawab omongan gue" teriak Rahma dengan sekencang kencangnya dan sekeras kerasnya, sementara Elsa dan Devia serentak tak mendengar suara teriakan Rahma.


Mungkin karena efek Elsa dan Devia yang kompak menutup kedua telinganya mereka berdua dengan kedua tangannya, sehingga Elsa dan Devia kompak tak mendengar suara teriakan Rahma, walaupun Rahma sudah berteriak dengan sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya.



Setelah Rahma menunggu selama beberapa puluh jam, kelamaan dong maksudnya setelah Rahma menunggu selama beberapa puluh menit, namun Rahma tak mendengar jawaban yang keluar dari kedua sahabatnya yaitu Elsa dan Devia.


__ADS_1


Hal itu semakin membuat Rahma geram dan tersulut emosi dengan kelakuan kedua sahabatnya, sungguh Rahma ingin sekali menjambak rambut kedua sahabatnya, namun Rahma takut di cap jelek oleh orang.



Rahma takut di tuduh melakukan kekerasan dalam rumah tangga kalau menjambak rambut kedua sahabatnya, koq jadi bahas kekerasan dalam rumah tangga, kenyataannya kan Rahma bukan suami Devia dan Elsa, mungkin lebih tepatnya Rahma tidak mau di tuduh melakukan kekerasan fisik.



Rahma tidak mau di cap dan di tuduh seperti itu makanya dia mengurungkan niatnya untuk menjambak rambut kedua sahabatnya, sehingga yang di lakukan Rahma saat ini adalah menatap nyalang ke arah Elsa dan Devia secara bergantian, seakan akan Rahma hendak menelan hidup hidup Elsa dan Devia.



"Elsa Devia kalian benar benar ngga jawab omongan gue, berarti sudah jelas kalau kalian berdua itu budeg dan tuli mendadak, makanya kalian berdua jangan bikin emosi gue supaya ngga kuwalat dan kena karmanya, gara gara kalian berdua bikin emosi ke gue jadi kalian kuwalat dan dapat karmanya berupa budeg dan tuli dadakan" teriak Rahma lebih keras dan lebih kencang dari teriakan sebelumnya, sementara Devia dan Elsa kompak masih tak mendengar suara Rahma.


Devia dan Elsa serentak masih sibuk dengan dunianya sendiri, lebih tepatnya Devia dan Elsa sibuk menutup kedua telinganya mereka berdua dengan tangannya, sehingga mereka berdua tak mendengar suara apapun, termasuk suara teriakan Rahma yang sangat merusak gendang telinga orang yang mendengarnya.



Setelah Rahma menunggu selama beberapa menit, namun jawaban tak kunjung datang dan tak kunjung keluar dari mulutnya Elsa dan Devia, membuat Rahma semakin yakin Devia dan Elsa terkena penyakit budeg dan tuli, sehingga tak terasa Rahma menerbitkan senyuman lebar di wajahnya.

__ADS_1



Namun sedetik kemudian senyum lebar di wajahnya Rahma luntur seketika, entah apa yang di pikirkan oleh Rahma, di satu sisi Rahma bahagia karena Elsa dan Devia kompak mendapatkan karmanya dan kuwalat gara gara bikin emosi Rahma, namun di sisi lain Rahma juga bingung sendiri menghadapi kalau Elsa dan Devia benar benar terkena penyakit budeg dan tuli.



Memikirkan itu membuat Rahma pusing ratusan milyar keliling, sehingga kini Rahma memutar otaknya supaya Devia dan Elsa yang di kira tuli dan budeg oleh Rahma, bisa mendengar suara dari Rahma, supaya Rahma tidak kecapekan teriak teriak terus.


"Gue jadi semakin yakin kalau Devia dan Elsa benar benar kena penyakit tuli dan budeg dadakan, rasakan kalian berdua itu akibat kalau bikin emosi ke gue, jadi Devia dan Elsa kuwalat dan dapat karmanya satu Tuhan, tapi masalahnya gue capek juga kalau harus berbicara dengan orang tuli dan budeg seperti Elsa dan Devia, terus gue harus melakukan apa dong supaya Elsa dan Devia dengar suara gue, lagian suara gue itu merdu mubazir kalau ngga di dengarkan" batin Rahma sambil memutar otaknya berkali kali untuk memikirkan cara supaya Devia dan Elsa mendengar suara Rahma.


Setelah Rahma memutar otaknya beberapa menit, kini Rahma telah menemukan ide briliant supaya Elsa dan Devia mendengar suara Rahma, sehingga kini Rahma mengeluarkan senyum lebar di wajahnya, lalu Rahma menatap ke arah Elsa dan Devia secara bergantian dengan tatapan licik.


"Otak gue ternyata pintar juga, baru beberapa menit berpikir gue sudah menemukan ide briliant supaya Elsa dan Devia dengar suara merdu gue, caranya gue jewer telinga Elsa dan Devia, atau gue cubit lengannya Elsa dan Devia, atau gue jambak rambut Devia dan Elsa, dengan begitu gue yakin mereka berdua akan kesakitan lalu mendengar suara gue" batin Rahma sambil tetap mengeluarkan senyum lebar di wajahnya.


Kini Rahma berjalan mendekat ke arah Elsa dan Devia, dengan tetap menaburkan senyum lebar di wajahnya, mungkin Rahma merasa bahagia karena bisa mendapatkan ide briliant seperti itu.


Rahma berjalan ke arah Devia dan Elsa dengan langkah pelan, karena Devia dan Elsa yang kompak fokus dengan telinga mereka berdua yang tak mau mendengar suara teriakan Rahma, membuat Elsa dan Devia tak menyadari kehadiran Rahma yang sudah ada di depan mereka berdua.


"Lebih baik gue lakukan misi gue sekarang juga, supaya Elsa dan Devia mendengar suara gue, lagian kalau gue menghandalkan Elsa dan Devia mendengar tanpa gue main fisik terlebih dahulu, kayaknya ngga mungkin banget, jadi lebih baik gue main fisik supaya Elsa dan Devia mendengar suara gue, kira kira gue mending jewer telinga Elsa dan Devia, atau gue cubit lengan Elsa dan Devia, atau gue jambak rambut mereka berdua, masih bingung deh, tapi tetap nantinya gue bakal lakukan salah satu dari ketiga cara itu, supaya Elsa dan Devia mendengar omongan gue, jadi ngga sabar pengin nunggu teriakan Elsa dan Devia, bukan hanya teriakan doang tapi gue yakin Devia dan Elsa juga akan kesakitan gara gara apa yang gue lakukan, cuma dengan cara itu gue jamin Devia dan Elsa mendengar suara teriakan gue" batin Rahma sambil mengeluarkan senyum licik menatap ke arah Devia dan Elsa secara bergantian.

__ADS_1


__ADS_2