
Satria memegang pinggangnya yang habis jadi sasaran tikus maksudnya semut lebih tepatnya pinggang Satria habis jadi sasaran tangannya Nia sang istri yang sekarang sedang mendelik ke Satria sementara Satria sibuk mengusap pinggangnya dengan tangannya
"Papa mau berangkat sekarang ?" tanya Nia dengan ketus sementara Satria hanya diam
"Papa hati hati di jalan jangan menabrak semut yang sedang terbang" nasehat Nia lagi dan lagi Satria hanya diam dan tak menjawab membuat Nia menoleh ke Satria
"Papa ngga tuli dan ngga budeg kan ?" tanya Nia menaikkan suaranya sampai ratusan juta oktaf karena takut Satria tuli dan budeg dengan cepat Satria menggeleng gelengkan kepalanya
"Kenapa mama bicara dari tadi papa hanya diam saja papa ngga menghormati mama" teriak Nia menatap tajam ke arah Satria sementara Satria menunjukkan ke mulutnya
"Papa sedang sariawan ?" tanya Nia menurunkan ratusan juta oktaf suaranya melihat Satria yang menunjuk ke arah mulutnya Satria sementara Satria menggelengkan kepalanya mantap
"Papa ngomong atau mama ngga beri jatah selama dua bulan" ancam Nia menatap nyalang ke Satria sedangkan Satria seperti buah simalakama tadi di ancam supaya jangan bicara kalau bicara ngga dapat jatah dari Nia sekarang di ancam supaya bicara kalau ngga bicara ngga dapat jatah dari Nia
"Papa dari tadi diam karena di suruh sama mama bahkan mama mengancam papa supaya jangan bicara terus atau ngga dapat jatah dari mama makanya papa ambil keputusan diam dan ngga bicara supaya papa tetap dapat jatah dari mama" jelas Satria setelah beberapa detik memikirkan harus apa sedangkan Nia mengangguk anggukkan kepalanya dirinya juga sadar bahwa tadi mengancam Satria kalau ngga diam ngga di beri jatah oleh dirinya
__ADS_1
"Maksudnya mama itu papa diam ngga usah nyerocos terus yang ngga penting bukan malah setiap di tanya dan di ajak mengobrol oleh mama papa selalu diam jadi papa melakukan tadi supaya dapat jatah dari mama" ocehan Nia sambil tertawa dalam hati sedangkan Satria menganggukkan kepalanya satu kali
"Kirain papa di suruh diam terus walaupun di ajak mengobrol dan di ajak bicara oleh mama iya mah supaya papa ngga tersiksa gara gara ngga dapat jatah ranjang dari mama selama beberapa bulan ke depan papa juga ingat umur mah makanya setiap tahun merayakan ulang tahun mesum sama mama itu ngga di larang oleh siapapun otak papa sudah bersih sekali mah bahkan senjata papa juga sudah di cuci kalau mama mau minta jatah ke papa pasti papa beri ke perusahaan biar nanti di undur saja dua jam ke depan kirain mama menuduh papa bawa anak anak secara langsung dalam wujud manusia terus papa bicara apa dong kalau ngga boleh bicara bergoyang ? atau kata lainnya berolahraga dan mandi keringat ?" jelas Satria sambil masih memegang pinggangnya yang jadi korban bahan amukan Nia sementara Nia mendelik ke Satria tanpa di sadari oleh Satria karena dirinya sibuk mengusap dan memegang pinggangnya sendiri
"akalau papa diam terus di ajak mengobrol oleh mama malah kesannya papa kayak orang budeg dan orang tuli dasar otaknya papa mesum maksudnya mama itu bukan ingat umur untuk merayakan ulang tahun alias tanggal lahir ingat umur bahwa papa umurnya sudah lebih dari lima puluh tahun bukan usia remaja lagi otak papa belum bersih soalnya di bersihin sama kemoceng doang tambah berdebu harusnya di siram pakai air plus sampo dan detergen bubuk kenapa bahas senjata papa ? lebih baik papa berangkat ke kantor sekarang sebelum pikiran papa berkelana kemana mana mama ngga minta jatah ranjang sama papa tapi mama minta jatah uang bulanan di tambah kalau papa sudah minta jatah ranjang papa ngga bakalan selesai selesai karena baru selesai minta lagi minta lagi mama ngga buta pah jadi mama tahu kalau papa ngga membawa dan ngga menuntun anak anak lebih baik papa bahas mau pergi bekerja saja dari pada bahas ranjang bergoyang terus belum berhenti henti berolahraga dan mandi keringat itu sama artinya dengan ranjang bergoyang kalau papa ngga berangkat ke perusahaan sekarang selama empat bulan ke depan papa ngga dapat jatah dari mama" cerocos Nia sembari menaikkan suaranya lima oktaf di sertai ancaman di dalam kalimatnya sementara Satria tersenyum kikuk sambil menggaruk garuk tengkuknya yang tidak gatal salah tingkah
"Ya sudah mah papa berangkat ke perusahaan sekarang" ucap Satria meminta izin akan berangkat ke kantor lebih baik dari pada menjawab lagi perkataan Nia nanti yang jadi korban senjatanya ngga dapat jatah selama empat bulan ke depan padahal yang salah itu mulut karena nyerocos terus dan menggoda Nia terus sementara yang jadi korban adalah senjatanya sementara Nia menyembunyikan senyum lebar yang akan terpancar di wajahnya
"Iya pah hati hati di jalan tengok kanan, kiri, depan, belakang, atas, bawah" balas Nia sambil tersenyum tipis sedangkan Satria hanya menganggukkan kepalanya mantap
"Haha haha memang faktor usia ngga bisa berbohong pah" sahut Nia di tengah tengah tawanya membuat Satria mengerutkan keningnya heran
"Maksudnya mama faktor usia ngga bisa di bohongi itu apa ? papa belum paham" tanya Satria dengan banyak pertanyaan yang meliputi di otaknya sementara Nia langsung menghentikan tawanya setelah mendengar perkataan Satria lalu dirinya menatap Satria dan berkata
"Faktor usia menurutnya mama itu umurnya papa sudah lebih dari lima puluh tahun dan kayaknya papa mulai pelupa dan pikun makanya papa pakai google map segala buat ke kantor" jelas Nia sejujur jujurnya mendengar jawaban Nia membuat hati Satria hancur berkeping keping lebih tepatnya hatinya tidak terima di katakan pikun dan pelupa ingin sekali rasanya Satria menceburkan Nia ke tempat ikan hiu kalau bukan istrinya namun yang mengatakan itu adalah istri tercinta Satria membuat Satria cuma tersenyum masam
__ADS_1
"Mah papa itu ngga pelupa dan ngga pikun buktinya papa masih ingat jadwal meeting sama rekan kerja dan rekan bisnis papa dan papa juga masih ingat bahwa mama adalah istri papa yang tercantik tanpa google map papa juga bisa ke kantor dan ngga akan nyasar tadi papa cuma bercanda doang mah papa masih hafal semua jalan termasuk jalan yang masih tertutup busana ke lembah mama supaya menghasilkan anak juga papa hafal" ungkap Satria sembari menatap wajah istrinya sementara Nia membulatkan kedua matanya
"Masa papa ngga pelupa dan ngga pikun ? papa ingat semua jadwal meeting sama rekan bisnis papa atau rekan kerja papa karena sekertaris papa membuatkan jadwal dan mengingatkan papa tentang meeting modus banget papa pakai bilang mama cantik bilang saja supaya mama memberi jatah ke papa setiap hati tapi kalau papa lupa belum bawa laptop atau berkas penting pasti papa nyasar balik ke rumah lagi ngga langsung berangkat ke kantor apaan sih pah kenapa jadi bahas lembah punya mama" celoteh Nia sembari menatap tajam ke arah Satria sedangkan Satria hanya tersenyum tipis malas berdebat dengan istrinya dan malas berantem dengan istrinya soalnya takut bakal jadi tontonan semut dan tikus yang lewat kalau berantem di ranjang dengan istrinya pasti Satria mau dan tidak akan menolak pasti akan minta nambah terus tapi ini berantemnya adu mulut walaupun ngga sampai adu jotos namun Satria tetap tidak mau berantem dengan Nia bukan karena dirinya takut dengan Nia namun lebih tepatnya Satria takut Nia ngambek dan Satria ngga di beri jatah oleh Nia selama beberapa bulan ke depan
"Mah papa berangkat ke kantor sekarang" pamit Satria kepada Nia sementara Nia menganggukkan kepalanya mantap
"Iya pah hati hati di jalan jangan lupa gunakan google map biar ngga nyasar" canda Nia sambil mengukur senyum tipis sementara Satria merespon hanya dengan anggukan kepala dan tersenyum masam
Satria melangkah menuju mobilnya dengan kecepatan sedang sementara Nia hanya menatap punggung suaminya dari belakang setelah sampai di samping mobil tanpa ragu Satria membuka pintu mobilnya lalu masuk ke dalam kolong meja maksudnya ke dalam kolong ranjang lebih tepatnya Satria masuk ke dalam mobilnya lalu dirinya menutup pintu sementara Nia melambaikan tangannya ke Satria
"Hati hati pah" ucap Nia sambil tersenyum ke arah suaminya sambil melambaikan tangannya yang sudah duduk di mobil dengan kaca mobil yang di turunkan sehingga kaca mobilnya agak terbuka sedangkan Satria tersenyum lebar mendengar perhatian sang istri
"Iya mah nanti mama juga hati hati di jalan" perintah Satria sambil tersenyum ke arah Nia dan ikut membalas melambaikan tangan ke arah Nia sementara Nia mengangguk anggukkan kepalanya mantap sambil mengeluarkan senyuman lebar
"Iya pah pasti nanti mama bakalan hati hati di jalan mama ngga bakalan nabrak semut yang ada di atas genteng dan mama juga ngga bakalan menabrak burung yang terbang" jelas Nia tanpa melunturkan senyuman lebar di wajahnya membuat hati Satria terasa bahagia lalu Satria mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sementara Nia masih betah berdiri dan menatap ke arah mobil yang di kemudi Satria sang suami yang sedang berjalan ke luar halaman rumahnya
__ADS_1