
Awan masih menatap punggung Fendi yang sedang melangkah menuju ke kelas di kampusnya memang kalau Awan ada meeting di kantor atau tidak bisa menjemput Fendi dan Devia pasti mereka berdua akan pesan grab atau taksi untuk mengantar mereka berdua pulang ke rumah sebenarnya Berlian juga ingin menjemput anak anaknya kalau suaminya tidak sempat menjemput namun Awan melarang Berlian dia tidak mau istrinya kecapekan gara gara sudah sibuk mengurus dan membereskan semua isi rumah sebenarnya Awan juga bisa membayar supir dan asisten rumah tangga untuk bekerja di rumahnya namun keinginan tersebut di tolak oleh Berlian dengan alasan dirinya tidak berkerja jadi lebih baik semua pekerjaan membereskan semua isi rumah itu dia yang mengerjakan dari pada dia dia hanya leha leha dan duduk manis di rumah sehingga suaminya mengabulkan keinginan istrinya tersebut dengan satu syarat Awan yang mengantar dan menjemput Devia dan Fendi ke kampus kalau ada meeting dan tidak bisa menjemput mereka berdua Awan melarang istrinya untuk tidak menjemput Fendi dan Devia karena mereka berdua di suruh untuk pesan grab atau taksi untuk pulang ke rumah mendengar itu Berlian mau tak mau menyetujui syarat yang di ajukan oleh Awan karena supaya dirinya mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa bantuan asisten rumah tangga sehingga kalau Awan tidak menjemput anak anaknya pasti dirinya tidak menjemput Fendi dan Devia karena mereka berdua akan memesan grab atau taksi untuk pulang ke rumah setelah Fendi tidak kelihatan lagi di mata Awan dirinya langsung membubarkan diri menuju ke mobil membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam mobilnya setelah itu menjatuhkan bokongnya ke dalam kursi kemudi tak lupa dirinya menutup pintu mobilnya lalu dirinya sibuk memasang sabuk pengaman setelah semuanya siap dirinya mulai melajukan mobilnya menuju ke perusahaan
"Aku senang banget soalnya nanti aku bisa menjemput anak anaknya aku setelah selama seminggu aku belum bisa menjemput mereka berdua karena aku sibuk meeting sebenarnya istri aku juga ada niat buat menjemput Fendi dan Devia namun aku melarangnya soalnya aktivitas sebagai ibu rumah tangga membersihkan semua isi rumah juga sudah capek dari mulai mencuci baju, mencuci piring, mengepel lantai, memasak, melipat pakaian, dan masih banyak lagi pekerjaan di ibu rumah tangga" gumam Awan sembari menyetir mobilnya menuju ke perusahaan miliknya
Dana mendekati Pram terdengar dengkuran halus yang keluar dari mulut Pram tandanya Pram masih tertidur pulas sehingga membuat Dana tak enak hati untuk membangunkannya sehingga Dana punya inisiatif untuk mengirim chat ke nomor Pram buru buru Dana mengambil handphone miliknya yang tersimpan di saku celananya lalu membuka aplikasi whatsapp setelah itu Dana mencari kontak Pram di handphone miliknya lalu jemari lentiknya Dana memulai mengetikkan sesuatu di handphone miliknya Dana
Mom Dana
"Pram mama berangkat ke kantor duluan karena ada meeting penting papa juga sudah berangkat ke kantor ada meeting pagi juga sampai papa tadi di telpon oleh Joni asisten pribadi papa kalau kamu mau makan kamu ambil sendiri di dapur" begitu isi chat Dana ke Pram
Setelah Dana mengetik chat itu Dana langsung mengirimkan ke nomor Pram setelah pesan chat terkirim Dana menatap
Pram yang masih memejamkan kedua matanya dalam hatinya dia ingin sekali mencium Pram namun Dana takut Pram terbangun sehingga Dana langsung melangkah keluar dari kamar Pram lalu melangkah keluar untuk menuju ke mobilnya yang terparkir di halaman rumah
"Pram Pram mama sama papa sering menyuruh kamu menikah malah kamu belum mau padahal mama sama papa sudah sering mengenalkan dengan anak sahabat mama dan anak sahabat papa tapi tetap belum ada yang nyantol dan nangkring di hati kamu memangnya wanita seperti apa yang kamu inginkan Pram" monolog Dana sambil melangkah menuju ke halaman rumah untuk menuju mobil yang terparkir beberapa meter lagi
Devia melangkahkan kakinya menuju ke dalam kelas dengan perasaan penuh suka cita sampai di kelas Devia melihat Rahma sahabatnya yang sedang sibuk memegang benda pipih di tangannya lalu Devia duduk di sampingnya Rahma namun Rahma masih sibuk memandang benda pipih di tangannya sepertinya Rahma belum menyadari kehadiran Devia yang ada di sebelahnya karena saking asyiknya menatap benda pipih di tangannya lalu Devia tersenyum licik dan terbersit ide brilian mengerjai Rahma
"Woy" teriak Devia di telinga Rahma sambil menepuk pundak Rahma sementara Rahma langsung terlonjak kaget mendengar suara menggelegar yang ada di telinganya
__ADS_1
"Apaan sih lo Devia ngagetin saja" bentak Rahma sambil meletakkan kedua tangannya di dadanya sementara tangan yang satunya sibuk memegang benda pipih yang ada di tangannya tapi Devia beruntung karena tidak melemparkan benda pipih itu ke muka Devia kalau itu terjadi di jamin bukannya bikin kaget Rahma malah Devia yang kaget mendapat handphone yang mendarat di mukanya karena kaget dan Rahma sekarang menatap tajam ke arah Devia sementara Devia tertawa kecil
"Haha haha Rahma sebenarnya bukan gue yang mengagetkan lo tapi lo yang terlalu fokus menatap ke arah handphone" jawab Devia sambil meneruskan tawanya yang belum habis sementara Rahma mendengus kesal melihat tingkah Devia yang tak merasa salah secuilpun
"Devia mending gue ngelihatin handphone gue dari pada ngelihatin muka lo yang bikin kesal" cibir Rahma sambil menyentil kening Devia lalu dirinya melanjutkan sibuk dengan benda pipih yang ada di tangannya
"Awwww Rahma" teriak Devia di telinga Rahma sambil tangannya Devia memegang kening yang jadi korban tangan Rahma sedangkan Rahma menatap nyalang ke Devia
"Gue ngga budeg Devia jadi ngga usah teriak teriak di telinga gue" dengus kesal Rahma sambil melangkah meninggalkan Devia melangkah keluar untuk menuju kantin
"Rahma lo mau kemana ?" teriak Devia dengan nada tinggi lebih tinggi dari tingginya pohon kelapa sambil mengikuti langkah kaki Rahma sementara Rahma yang mengetahui jejak kakinya di ikuti oleh Devia tetap melanjutkan perjalanannya menuju ke kantin kampus
''Oke Rahma tapi ada syaratnya" jawab Devia singkat membuat Rahma menghentikan langkah kakinya sementara Devia ikut berhenti
"Devia lo ada ada saja pakai syarat segala memangnya lo kira mau daftar sekolah" cibir Rahma sambil menatap Devia dengan tatapan tajam lalu Rahma melanjutkan langkahnya lagi tanpa menunggu jawaban Devia
"Gue serius Rahma" imbuh Devia sambil memegang tangan Rahma dengan cepat Rahma menepis tangan Devia yang bertengger di tangannya
"Lepasin tangan gue Devia" ucap Rahma sambil celingak celinguk menatap ke arah depan, belakang, atas, bawah, kanan, dan kiri dengan perasaan cemas
__ADS_1
"Devia kalau lo pegang tangan gue nanti di kira gue suka sama sesama jenis ingat gue masih normal dan masih suka lawan jenis" imbuhnya dengan suara meninggi naik satu oktaf membuat Devia terkekeh mendengar jawaban Rahma
"Rahma gue juga masih suka sama lawan jenis jadi lo tenang saja" terang Devia dengan suara lantang membuat Rahma menghembuskan nafas lega lalu dirinya menatap ke Devia
"Devia memang syarat di traktir lo apaan ?" tanya Rahma masih menatap ke arah Devia dengan di penuhi tanda tanya di kepala sedangkan Devia tersenyum menyeringai
"Rahma syaratnya lo harus bantuin gue supaya gue dapat pacar sekaligus calon suami yang sesuai dengan selera gue please lo bantuin gue" jelas Devia sambil memasang wajah memelas ke arah Rahma membuat Rahma iba dengan keadaan Devia
"Haha haha Rahma lo nyuruh gue lo dapetin pacar dan calon suami ?" tanya Rahma dengan tertawa yang sangat keras seakan mengira bahwa Devia sedang becanda sementara Devia memajukan bibirnya lima centi ke depan
"Iya Rahma tapi lo jangan keras keras ngomongnya gue malu" perintah Devia sambil meletakkan jari lentiknya di depan bibirnya seolah memberi tanda volume bicara Rahma di kecilkan sedangkan Rahma tersenyum licik di sertai tawa yang keluar dari bibirnya
"Haha haha Devia gue kira lo sudah ngga punya rasa malu lagi karena urat malu lo sudah putus" Rahma menjawab dengan tawa yang masih tersisa di bibirnya sedangkan Devia menepuk jidatnya sendiri
"Rahma gue juga masih punya malu kecuali kalau masalah makan gue ngga punya rasa malu memakan makanan banyak soalnya nanti kalau malu nanti perut gue yang menanggung kelaparan jadi lebih baik gue ngga punya rasa malu buat makan banyak supaya perut gue menanggung kekenyangan urat malu gue masih tersambung dan ngga pernah putus memangnya kabel lampu atau kabel pln yang bisa putus" ketus Devia sembari menatap nyalang ke Rahma sementara Rahma hanya menggelengkan kepalanya mendengar ocehan Devia
"Gampang banget caranya Devia lo gunakan handphone lo dan lo masuk ke group terserah lo mau masuk ke group apa group orang gila juga boleh lalu lo balas chat dari pria atau lo chat laki laki yang lo cintai yang menurut lo selera lo setelah itu lo pacaran lewat dunia maya sama laki laki yang lo tuju supaya kalau ketemu kalian ngga canggung setelah itu lo buat kopi darat sama laki laki itu" jelas Rahma menelan ludahnya dulu "Setelah Lo cocok sama pacar lo yang lo kenal lewat dunia maya lo tinggal ngelanjutin hubungan pertunangan lo dan pernikahan lo sama laki laki yang lo kenal lewat dunia maya atau sosial media" imbuh Rahma menatap Devia dengan tatapan intens membuat Devia melongo
"Tunggu Rahma koq lo bilang kopi darat kan lo tahu sendiri kalau gue suka sama laki laki yang tanggung jawab dan laki laki setia gue ngga suka laki laki playboy" bentak Devia sambil memberikan jitakan ke kepala Rahma membuat Rahma meringis sembari menatap nyalang ke Devia
__ADS_1
''Awwww Devia maksudnya kopi darat itu ketemu langsung kalau laki laki playboy nama lainnya buaya darat temannya pakaya darat" dengus kesal Rahma sambil memegang kepala yang habis di jitak Devia sedangkan Devia mengeluarkan cengirannya