Ketemu Jodoh Lewat Dunia Maya

Ketemu Jodoh Lewat Dunia Maya
Jangan Menikah Dengan Panda


__ADS_3

Nia - mamanya Safa dari arah dapur sambil tangannya membawa nampan berisi hidangan makanan dan minuman hangat yang di buat di dapur Nia melangkah menuju ruang makan setelah sampai di ruang makan dirinya hanya melihat suaminya yang sedang memegang rambutnya frustasi lalu langkah kakinya Nia mendekat ke arah suaminya lalu Nia meletakkan nampan yang berisi makanan dan minuman hangat di atas meja


''Pah apa Safa di kamar ?" tanya Nia sambil menghempaskan bobotnya di samping Satria sementara Satria menggelengkan kepalanya samar


"Pergi" jawab Satria singkat membuat Nia menengok ke arah kanan, kiri, depan, belakang, atas, dan bawah tapi di situ cuma ada dirinya dan suaminya membuat dia tersadar dan langsung menatap tajam ke Satria


"Papa nyuruh mama pergi ? jangan bilang papa mau telepon sama simpanan papa ? ingat umur pah sudah punya dua anak yang besar semuanya" bentak Nia membuat Satria yang sedang melamun langsung menoleh ke arah Nia yang sedang menatap nyalang ke arah dirinya


"Papa ngga nyuruh mama pergi ngapain papa telponan sama simpanan papa karena pada kenyataannya papa ngga punya simpanan papa juga ingat umur makanya setiap tahun merayakan ulang tahunnya papa ingat koq mah kalau papa punya anak dua yang sudah besar karena papa ngga amnesia" jelas Satria sambil tersenyum tipis ke arah Nia sedangkan Nia mendelik ke Satria


"Kenapa tadi saat mama nanya ke papa tentang Safa malah papa cuma jawab pergi artinya papa menyuruh mama pergi benar juga muka papa jelek banget makanya semua wanita ngga ada yang mau jadi simpanan papa bukan ingat umur buat ulang tahun pah kalau ngga amnesia tahu dong kalau mama itu istrinya papa kenapa menyuruh mama pergi ?" cerca Nia menatap tajam ke Satria sementara Satria melongo di bilang jelek harusnya istrinya jangan bilang kalau dirinya jelek lebih baik istrinya bilangnya ngga ganteng atau ngga tampan


"Maksudnya papa itu" perkataan Satria belum selesai sudah di potong oleh Nia


"Iya mama paham maksudnya papa itu menyuruh mama pergi oke mama bakalan pergi tapi jangan di habiskan kue yang mama buat soalnya mama baru makan sedikit dan perlu di ingat juga mama ngga akan beri jatah ke papa selama empat bulan ke depan" titah Nia lalu bersiap meluncur ke tempat lain saat dirinya akan berdiri dan siap melangkah tangan Nia di pegang oleh Satria membuat Nia berusaha menepis tangan Satria yang tanpa permisi bertengger di tangannya


"Papa ngga menyuruh mama pergi maksudnya Safa sudah pergi ke kantornya mama ngga usah pergi lebih baik temani papa sarapan kirain mama mau menyuruh papa supaya kue nya di habiskan oleh papa kalau papa jadi mama papa bakalan makan kue yang sangat banyak kalau perlu di habiskan kue nya" cerocos Satria sembari tetap memegang tangan Nia sedangkan Nia membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut menganga

__ADS_1


"Kirain papa menyuruh mama pergi memangnya kenapa Safa sudah pergi ke kantornya pah dia kan belum sarapan dan ini juga masih pagi kalau menemani doang tikus dan semut juga bisa di suruh menemani papa makan kecuali kalau mama di suruh ikut makan ngga perlu di suruh juga papa pasti menghabiskan makanan dan kue yang mama buat kalau terlalu banyak makan kue dan menghabiskan kue yang di bikin mama kenyang juga perutnya" celoteh Nia sembari tersenyum kikuk sementara Satria hanya terkekeh kecil menatap ke arah istrinya yang menurutnya begitu sangat menggemaskan


"Tadi papa menasehati Safa supaya berhenti mengejar ngejar Pram karena masih banyak laki laki lain yang mau dengan Safa dan sebaiknya Safa menerima laki laki yang tulus mencintai Safa karena papa sudah menduga kalau Pram oranngnya keras kepala padahal kita berdua dan orang tua Pram juga sudah berusaha menjodohkan Safa dengan Pram tapi Pram menolaknya tadi Safa marah dengan papa lalu pergi ke kantor walaupun dirinya belum sarapan" jelas Satria panjang lebar sambil memeluk bahu Nia lalu tangannya terulur untuk mengusap punggung Nia karena Nia sekarang sedang terisak tangis karena sedang menangis lalu Satria menarik kepala Nia untuk bersandar di dada bidang milik suaminya


"Pah mama merasa Safa berubah seperti ini semenjak mengejar ngejar Pram biasanya Safa pasti akan tetap sarapan di rumah Safa juga pasti akan berpamitan jika akan berangkat ke kantor dan Safa juga ngga gampang marah tapi semenjak Safa mencintai Pram dan Safa mengejar Pram sikap Safa berubah seperti ini sampai kapan Safa akan bersikap seperti ini pah mama ngga mau anak kita berdua jadi kayak begini" ucap Nia sembari mengusap air matanya sendiri yang menetes ke pipi sementara Satria masih sibuk mengusap punggung Nia berharap bisa memberikan ketenangan pada Nia


"Mah kita berdua hanya bisa berharap Tuhan mau menyadarkan Safa dan Safa benar benar menemukan laki laki yang tulus sangat mencintai Safa" usul Satria sambil menepuk nepuk punggung Nia sedangkan Nia masih menangis dan masih mengusap air matanya sendiri yang menggenang di kedua pelupuk matanya bahkan tetesan air mata Nia juga di rasakan oleh Satria karena membasahi pakaian yang di pakai Satria


"Iya pah mama juga berharap semoga Tuhan secepatnya menjodohkan Safa dengan cara apapun dan semoga dalam waktu dekat Safa menemukan laki laki yang tulus sangat mencintai Safa supaya Safa seperti dahulu lagi selalu ceria, ngga gampang marah, sopan sama kita berdua dan kakaknya, baik hati, ngga keras kepala, wataknya lembut ngga kayak sekarang gampang marah, ngga sopan sama kita berdua dan kakaknya, keras kepala" harapan Nia sambil berusaha menghentikan tangisnya tapi tangisnya belum juga reda membuat Satria merasa iba dengan istrinya


"Iya mah papa berharap juga kayak gitu" balas Satria lalu melepaskan pelukannya dan dirinya langsung menghapus air mata yang ada di kedua pipi Nia dengan kedua ibu jari tangannya


"Mama ikut sarapan juga" pinta Satria sambil menatap wajah istrinya lalu Satria mengambil sendok yang sudah berada di piringnya sedangkan Nia hanya menganggukkan kepalanya sembari memaksakan diri untuk tersenyum ke arah Satria


"Iya pah biar badan mama tetap montok" jawab Nia setelah itu terkekeh sebentar lalu Nia mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya


"Tapi papa tetap mencintai mama entah badan mama montok atau gimana papa tetap mencintai mama selamanya dan menerima mama apa adanya" jelas Satria sembari menangkup wajah istrinya sementara Nia tersenyum lebar mendengar perkataan suaminya

__ADS_1


"Papa bisa saja bikin mama bahagia memangnya papa belajar gombal dari mana" kata Nia sambil menoel hidung Satria dan kedua tangannya Satria masih setia menangkup wajah istrinya


"Bukan gombal mah tapi sudah memberikan bukti bahwa papa sangat mencintai mama" jawab Satria serius dengan suara yang sangat lantang sembari menatap Nia lalu Satria mencium pipi Nia


"Buktinya apa pah kalau papa sangat mencintai mama ?" tanya Nia sambil menatap wajah Satria dengan tatapan serius membuat Satria akan meledakkan tawanya yang akan di ledakkan oleh dirinya


"Buktinya Safa lahir ke dunia mah itu bukti bahwa papa sangat mencintai mama sampai papa menanam benih di rahim mama" jelas Satria panjang kali lebar lalu dirinya tertawa terbahak bahak membuat Nia mengambil sendok yang ada di piring Satria lalu menyendokkan makanan dan menyumpal mulutnya Satria dengan sendok yang berisi makanan di piringnya dalam sekejap tawa yang keluar dari Satria lenyap berganti mengunyah makanan


"Papa ngga usah bahas caranya Safa lahir ke dunia" sahut Nia manja sementara Satria mengambil sendok yang ada di piring istrinya lalu menyendokkan makanan ke sendok tersebut lalu Satria menyodorkan sebuah sendok ke depan mulut Nia tanpa komentar apapun Nia langsung melahap sendok yang berisi makanan yang di sodorkan oleh Satria


"Memang kenyataannya Safa lahir ke dunia mah" batin Satria lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sementara Nia asyik mengunyah makanan ke dalam mulutnya


"Mama tahu kalau Safa lahir ke dunia jadi papa ngga perlu jelaskan ke mama lagi" celetuk Nia menatap tajam ke arah Satria sedangkan Satria tersenyum kikuk mendapatkan tatapan tajam dari istrinya


"Iya benar juga kata mama tanpa di jelaskan juga mama sudah tahu kalau Safa lahir ke dunia tapi papa bangga sama mama karena bisa melahirkan dua orang anak buat papa makasih mama" ungkap Satria sambil menatap lekat wajah Nia mendapatkan pujian dan tatapan kagum dari Satria membuat Nia salah tingkah dan memalingkan wajahnya


"Sama sama pah" balas Nia sambil masih memalingkan wajahnya membuat Satria menahan tawa yang hampir meledak melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan

__ADS_1


Setelah mengantarkan kedua anaknya yaitu Devia dan Fendi ke kampus mereka Awan langsung mengendarai mobil dengan kecepatan sedang di dalam perjalanan Awan selalu berpikir bagaimana caranya supaya Devia cepat menikah soalnya Awan ingin sekali menimang cucu dari rahim Devia


"Devia papa harap kamu cepat menikah supaya papa bisa menggendong cucu dari rahim kamu soalnya papa ingin sekali mengendong cucu dari rahim kamu sebenarnya selera kamu seperti apa kenapa setiap papa dan mama kenalkan kamu sama anak teman mama atau anak teman papa pasti kamu menolak dengan alasan belum ada yang cocok papa inginnya kamu menikah dengan manusia jangan menikah dengan panda karena bentuknya lucu, kamu juga jangan menikah dengan barbie karena bisa menghibur kamu, kamu juga jangan menikah dengan sapi karena harga sapi mahal, kamu jangan menikah dengan semut karena bisa di injak" gumam Awan sembari tetap mengendarai mobilnya menuju ke kantor perusahaan miliknya


__ADS_2