
Elsa masih diam memikirkan cara supaya mereka bertiga pergi dari kantin, karena Elsa tak mau menanggung malu lagi gara gara ulah Devia dan Rahma.
Sementara Rahma dan Devia masih saling menatap dengan tatapan membunuh antara satu sama lain.
Devia emosi dan kesal dengan Rahma, bahkan Devia mengira kalau Rahma itu syirik dan iri dengan kecantikan Devia dan suara merdu Devia.
Begitu juga sebaliknya dengan apa yang Rahma rasakan, karena Rahma juga emosi dan kesal kepada Devia, sungguh Rahma kesal karena Devia suka dan hobi berteriak itu menyebabkan atensi semua orang akan mengarah kepada Devia dan teman temannya.
Setelah Elsa berpikir selama beberapa menit, kini Elsa mengembangkan senyum lebar di wajahnya, kini Elsa telah menemukan ide briliant supaya mereka bertiga bisa secepatnya pergi dari kantin.
"Gue punya cara supaya Devia dan Rahma mau gue ajak pergi dari kantin ini, gue yakin pasti mereka berdua akan mau gue ajak seandainya gue beri penawaran nonton Drakor, soalnya mereka berdua itu suka banget sama Drakor, dan gue yakin kalau gue ajak mereka berdua nonton Drakor di kelas kampus pasti mereka berdua akan dengan senang hati mau" batin Elsa manggut manggut sambil menatap ke arah Elsa dan Devia secara bergantian.
"Rahma lo ngapain dari tadi menatap gue terus, gue tahu kalau gue punya wajah yang cantik jelita, dan gue punya suara yang merdu sampai sampai lo terkesima dan terpesona sama gue" ucap Devia menatap Rahma dengan tatapan mengejek, sementara Rahma memutar bola matanya malas.
Sungguh menurut Rahma Devia itu terlalu percaya diri kalau dia cantik, padahal bukan hanya Devia yang akan di bilang cantik, karena kambing wanita dan ayam wanita juga akan di bilang cantik.
"Devia gue dari tadi menatap lo itu cuma heran kenapa lo bisa lahir ke dunia ini dengan tingkat percaya diri yang tinggi sekali, masih cantik wajah kambing di banding wajah lo, suara lo itu seperti kaleng rombeng, gue ngga terkesima dan terpesona sama lo sama sekali, karena gue ngga suka yang berlubang kayak lo, gue lebih suka terong" ketus Rahma sambil mendelik ke arah Devia.
__ADS_1
Devia mengerutkan keningnya heran mendengar jawaban dari Rahma, sehingga kini Devia hanya memikirkan dengan jawaban Rahma yang terakhir tentang berlubang dan terong.
"Rahma lo bicara apa sih jangan ambigu gitu dong, masa jadi bahas berlubang sama terong" jawab Devia dengan ketus sambil kedua matanya menatap tajam ke arah Rahma.
Rahma juga ikutan membalas dengan tatapan tak kalah tajam ke arah Devia, sungguh Rahma heran Devia itu memang polos atau oon sehingga tak paham dengan kata kata Rahma tadi.
"Devia gue itu ngga ambigu bicaranya, lo saja yang bego atau oon kata kata berlubang dan terong saja lo ngga paham, maksudnya gue itu" perkataan Rahma belum selesai sudah di potong oleh Devia.
"Rahma menurut gue lo bicaranya ambigu, gue itu wanita yang cerdas dan pintar, bukan wanita yang bego atau oon, jadi jangan sembarangan menuduh, justru lo yang bego atau oon pakai bahas berlubang segala di kira jalan berlubang, lo juga bahas terong di kira mau buat makanan terong di cabein" tanpa sadar Devia berteriak dengan sangat keras dan sangat kencang.
Rahma langsung terlonjak kaget mendengar suara teriakan Devia yang tiba tiba, bahkan Elsa yang tadi bergelung dengan lamunannya buru buru menghapus semua lamunannya begitu mendengar suara teriakan Devia yang menggema di telinganya Elsa.
Betapa kagetnya Elsa karena semua orang yang ada di kantin kampus, kini menatap ke arah Elsa dan teman temannya, Elsa menduga pasti semua orang yang ada di kantin kampus melihat ke arah Elsa dan teman temannya akibat suara teriakan Devia.
Elsa menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sungguh Elsa malu sekali dengan kelakuan kedua sahabatnya, kelakuan Rahma dan Devia sangat membuat Elsa malu.
__ADS_1
"Devia gue bicara dengan jelas dan bicara gue ngga ambigu lo nya saja yang terlalu bodoh ngga paham dengan maksud perkataan gue, kalau lo wanita yang cerdas dan pintar lo ngga bakalan teriak di tempat umum, gue ngga sembarangan menuduh bahkan gue juga ngga buang sembarangan, gue itu pintar dan cerdas berlubang maksudnya gue bukan jalan yang berlubang tapi kalau buah yang habis di makan pasti berlubang tuh buah, terserah gue dong mau bahas terong, mau bahas jeruk, mau bahas manggis, mau bahas apapun bebas ngga ada larangan juga" jawab Rahma dengan suara teriakan yang tak kalah keras dan tak kalah kencang dari Devia.
Devia langsung membelalakkan kedua matanya dengan sangat lebar sambil menutup mulutnya dengan satu tangannya, sedangkan Elsa kini langsung menatap nyalang ke arah Rahma lalu berganti menatap ke arah Devia dengan tatapan nyalang juga.
"Rahma Devia kalian berdua bisa diam ngga sih dari tadi ribut terus, gara gara kalian berdua ribut dan teriak teriak semua orang yang ada di kantin menatap ke arah kita bertiga" bentak Elsa karena geram sehingga dia mengutarakan apa yang di rasakan di hatinya dari tadi.
Bukannya diam Devia karena perintah dari Elsa, malah Devia menjawab dengan santainya.
"Elsa harusnya lo menyuruh diam hanya ke Rahma doang, gara gara Rahma gue mengeluarkan teriakan yang sangat merdu milik gue, lagian Elsa ngapain pakai bahas berlubang dan terong, gue kira Elsa lagi bahas kepunyaan bawah wanita yang berlubang dan lagi bahas kepunyaan bawah pria yang seperti terong" jelas Devia vulgar tanpa di saring terlebih dahulu, mungkin Devia ngga mau repot repot mencari saringan buat menyaring kata kata sehingga dia langsung berbicara vulgar.
Rahma dan Elsa kompak menatap tajam ke arah Devia, sementara Devia tersenyum manis melebihi manisnya gula lalu berkata.
"Rahma Elsa gue tahu kenapa semua orang yang ada di kantin kampus ini menatap ke arah kita bertiga, karena gue punya wajah yang cantik, imut, dan lucu makanya mereka semua terpesona sama gue, termasuk kalian berdua juga terpesona sama gue kan buktinya kalian berdua juga menatap ke arah gue" sahut Devia dengan bangganya membanggakan wajah cantiknya.
Sementara Elsa dan Rahma membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga.
"Devia gue sama Elsa menatap lo gara gara
kalimat yang lo lontarkan tadi kenapa jadi bahas berlubang kepunyaan bawahnya milik wanita dan terong kepunyaaan bawah milik pria mesum banget otaknya lo" jelas Rahma menatap mengejek ke arah Devia.
Elsa hanya memijat pelipisnya, sedangkan Devia mendelik ke arah Rahma.
__ADS_1