
Devia menatap ke arah Rahma dan Elsa secara bergantian, entah mengapa Devia sangat yakin kalau rencananya akan berhasil, rencana supaya Rahma dan Elsa mendengar suara merdunya Devia dan suara mahalnya Devia.
Kini tangannya Devia sudah bertengger di pundaknya Elsa dan Rahma lalu dengan gerakan cepat Devia mendorong tubuhnya Elsa dan Rahma secara kencang membuat Elsa dan Rahma yang tidak siap menerima serangan mendadak dari Devia langsung tersungkur ke lantai alhasil Rahma dan Elsa serentak duduk santai di lantai.
Elsa dan Rahma kompak memegang pantatnya masing masing karena merasakan sakit gara gara mendapatkan serangan dari Devia, kini Elsa dan Rahma kompak menatap ke arah Devia dengan tatapan nyalang.
"Haha haha ternyata gue bisa bikin Rahma dan Elsa jatuh tersungkur ke lantai gara gara kelalaian mereka berdua sendiri seandainya mereka berdua ngga melamun, koq melamun sih maksudnya seandainya mereka berdua ngga sibuk tertawa terbahak bahak dan menerbitkan senyuman lebar di wajah mereka pasti Rahma dan Elsa ngga akan jatuh tersungkur ke lantai dan mereka berdua ngga akan merasakan wanginya lantai" batin Devia sambil tertawa terbahak bahak dengan sangat kencang di dalam hati.
Elsa dan Rahma kompak masih menatap ke arah Devia dengan tatapan nyalang namun Devia tidak mengetahui tatapan nyalang dan tatapan menusuk yang di keluarkan oleh Elsa dan Rahma karena Devia sedang sibuk dengan dunianya sendiri lebih tepatnya Devia sedang sibuk dan asyik dengan lamunannya.
__ADS_1
Setelah Rahma dan Elsa menunggu selama beberapa puluh jam kelamaan dong maksudnya setelah Elsa dan Rahma menunggu selama beberapa puluh menit, namun Devia masih sibuk dengan dunianya sendiri karena Rahma geram membuat Rahma tak tahan untuk mengeluarkan suara teriakannya yang katanya Rahma sangat merdu dan sangat mahal tapi entah kata orang lain.
"Devia lo kenapa dorong tubuhnya gue ingat gue bukan gerobak dorong" teriak Rahma dengan sangat keras dan sangat kencang sambil Rahma melototkan kedua matanya ke arah Devia sedangkan Elsa yang mendengar teriakannya Rahma langsung terlonjak kaget bahkan Elsa sampai bergeser dari posisi duduknya, sementara Devia masih tak bergeming karena Devia masih sibuk dengan lamunannya.
"Rahma lo ngga usah teriak teriak dong gue ngga budeg dan ngga tuli" teriak Elsa tak kalah keras dan tak kalah kencang dari teriakan Rahma tadi, sementara Rahma yang sedang fokus melototkan kedua matanya ke arah Devia langsung menoleh ke arah Elsa dengan tatapan nyalang, sedangkan Devia yang sedang merasa sangat bahagia sampai tidak mendengar suara teriakan Elsa padahal suara teriakan Elsa berkali kali lebih keras dan kencang dari suara teriakan Rahma.
Elsa yang mendengar omongan lebih tepatnya teriakan dari Rahma bahwa ada orang yang budeg dan tuli dadakan di sekitar sini alias di sekitar kantin kampus membuat Elsa celingak celinguk menatap ke arah kanan, kiri, depan, belakang, atas, dan bawah, namun Elsa belum menemukan orang budeg dan tuli dadakan yang di sebutkan oleh Rahma.
Rahma menatap ke arah Elsa dengan tatapan bingung dalam hatinya Rahma dirinya berpikir ngapain Elsa celingak celinguk seperti orang yang mau menjadi maling, yang sedang melihat keadaan kalau sepi baru Elsa beraksi.
__ADS_1
"Rahma walaupun lo ngga berteriak ke gue tapi lo berteriak ke Devia, tapi gue dengar teriakan lo sementara Devia malah ngga dengar teriakannya lo, nah kalau lo tahu gue ngga budeg dan ngga tuli harusnya lo ngga usah berteriak teriak, siapa yang budeg dan tuli dadakan di sekitar sini koq gue cari belum ketemu sama orang yang budeg dan tuli dadakan di sekitar sini" teriak Elsa dengan suara yang sangat menggema di kantin kampus sambil matanya Elsa jelalatan mencari orang yang katanya Rahma budeg dan tuli dadakan.
"Elsa lo harusnya seneng karena dengar teriakannya gue dari pada Devia ngga dengar teriakan gue sama sekali, gue sudah bilang ke lo kalau gue teriak itu bukan ke lo tapi ke Devia, yang budeg dan tuli dadakan di sekitar sini itu Devia, tuh lo lihat saja sendiri masa gue berteriak teriak dengan sangat keras dan sangat kencang tetap Devia ngga dengar teriakan gue" teriak Rahma dengan sangat keras dan sangat kencang sambil melototkan kedua matanya ke arah Devia, sedangkan Elsa mengikuti jejak pelototan matanya Rahma dan kini Elsa menatap ke arah Devia, sementara Devia masih tak bergeming sama sekali bahkan Devia seperti patung karena tidak bergeser sedikitpun dari posisi dirinya berdiri.
"Rahma gue kesal sama lo karena gue dengar suara lo yang kayak kaleng rombeng, Devia ngga dengar pasti lagi ngelamun karena kita berdua jatuh tersungkur ke lantai, entah lo teriak ke gue atau ke Devia tapi posisi gue, lo, sama Devia satu ruangan jadi karena gue ngga budeg dan ngga tuli mendengar teriakkan lo, oh Devia bilang dong langsung ngga usah muter muter cuma bilang ada yang budeg dan tuli dadakan di sekitar sini, gue jamin Devia pasti lagi melamun kita berdua yang jatuh ke lantai" teriak Elsa dengan sangat keras dan sangat kencang melebihi toa sedangkan Rahma menganggukkan kepalanya mantap sambil tersenyum licik entah apa yang ada di otaknya Rahma sementara Devia masih diam di tempat dan masih mematung di tempat walaupun Elsa dan Rahma dari tadi saling berteriak teriak seperti supporter bola.
"Gue harus bikin Devia kaget dan mendengar suara teriakkan gue" kata Rahma sambil tersenyum menyeringai sedangkan Elsa menatap ke arah Rahma lalu berkata.
"Rahma sebaiknya lo jangan bikin Devia dengar suara teriakan lo" jawab Elsa dengan entengnya sambil menatap ke arah Rahma sementara Rahma menatap nyalang ke Elsa.
"Elsa kenapa lo larang gue supaya Devia dengar teriakannya gue, oh gue tahu pasti karena lo ngga mau dengar teriakannya gue lagi makanya lo mencegah gue buat ngga teriak" tebak Rahma sambil mendelik ke Elsa sedangkan Elsa menggelengkan kepalanya mantap.
"Rahma gue ngga masalah dengar teriakannya lo yang kayak kaleng rombeng tapi gue punya rencana buat Devia supaya dia juga ikut merasakan jatuh tersungkur ke lantai" sahut Elsa sambil mengembangkan senyuman lebar di wajahnya sementara Rahma manggut manggut tanda paham.
__ADS_1