
Devia menatap ke arah Elsa dan Rahma secara bergantian, tak terasa senyum licik muncul di wajah Devia, entah apa yang Devia pikirkan sehingga membuat Devia tersenyum licik.
Devia kini akan berakting di depan Elsa dan Rahma, lebih tepatnya Devia akan berakting di depan semua pengunjung kantin, entah Devia akan berakting apa hanya Devia yang tahu.
Devia sudah menyiapkan kata kata drama buat Elsa dan Rahma, apalagi Devia masih melihat Rahma dan Elsa kompak masih menutup telinga mereka berdua dengan tangannya, sehingga akan memudahkan drama yang di buat oleh Devia.
Karena Devia sudah tidak sabar untuk main drama, membuat Devia menarik nafas panjang, berdehem sebentar untuk menetralkan wajah, setelah itu Devia menatap ke arah Elsa dan Rahma lalu berkata.
"Elsa Rahma kenapa kalian berdua diam saja, padahal gue sudah teriak sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya, tapi kenapa kalian berdua masih diam saja, oh gue tahu jangan jangan kalian berdua terserang penyakit budeg dan tuli dadakan" teriak Devia dengan sangat keras dan sangat kencang, tak lupa matanya Devia menatap tajam ke arah Elsa dan Rahma secara bergantian.
__ADS_1
Elsa dan Rahma yang masih serentak menutup telinga mereka berdua tak mendengar suara teriakan Devia, walaupun Devia sudah mengeluarkan suara teriakan sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya, namun hasilnya tetap saja Elsa dan Rahma tak mendengar suara teriakan tersebut.
Semua pengunjung kantin di kampus langsung menoleh ke arah Devia, karena Devia itu berteriak dengan sangat keras dan sangat kencang, makanya membuat atensi semua orang menatap ke arah Devia.
Devia tak menghiraukan tatapan semua mata di kantin kampus, Devia cuek dengan semua tatapan itu, karena Devia berpikir pasti mereka semua akan menuduh Elsa dan Rahma tuli dan budeg makanya membuat Devia sampai berteriak keras dan kencang seperti itu.
Setelah Devia menunggu selama beberapa puluh jam, kelamaan dong maksudnya setelah Devia menunggu selama beberapa menit, tapi Elsa dan Rahma tak juga menjawab perkataan Devia, membuat Devia menerbitkan senyuman licik di wajahnya.
"Rahma sama Elsa masih ngga jawab omongan gue, lebih baik gue buat drama supaya semua orang di kantin ini menuduh kalau Rahma dan Elsa itu tuli dan budeg makanya ngga dengar suara gue dan ngga jawab omongan gue" batin Devia sambil mengeluarkan senyum licik di wajahnya.
"Elsa Rahma kalian berdua ngga dengar suara teriakan gue, padahal gue sudah teriak sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya, jangan jangan kalian berdua terkena serangan penyakit tuli dan budeg dadakan, soalnya kalau kalian berdua ngga budeg dan ngga tuli pasti dengar suara teriakan gue yang sangat merdu" teriak Devia dengan sangat keras dan sangat kencang, sementara Elsa dan Rahma kompak tidak mendengar suara teriakan dari Devia.
__ADS_1
Karena kedua tangannya Elsa dan kedua tangannya Rahma sibuk menutup kedua telinganya mereka berdua, membuat mereka berdua tetap tidak mendengar suara teriakan Devia yang hampir saja merobohkan dunia seisinya.
Semua pengunjung kantin di kampus setelah mendengar teriakan Devia, mereka semua berbisik bisik entah apa yang mereka semua bisikkan, hanya mereka yang tahu, karena Devia tidak tahu apa yang para pengunjung kantin omongin.
"Drama gue sudah gue mulai, gue yakin semua pengunjung kantin di kampus ini, pasti akan mengira kalau Elsa dan Rahma yang budeg dan tuli, makanya ngga dengar suara teriakan gue yang sangat melengking, tapi kenapa Elsa dan Rahma masih diam saja, ngga jawab omongan gue, apa jangan jangan Elsa dan Rahma malah terkena serangan budeg dan tuli mendadak, gimana dong ini, apa gue tunggu saja selama beberapa menit, kalau mereka berdua ngga jawab berarti Elsa dan Rahma terkena penyakit tuli dan budeg" batin Devia sambil menatap ke arah Elsa dan Rahma secara bergantian.
Setelah beberapa jam Devia menunggu, kelamaan dong maksudnya setelah beberapa menit Devia menunggu ternyata masih tak mendapat jawaban dari Elsa dan Rahma, hal itu membuat kepanikan tersendiri bagi Devia, pasalnya Devia menduga kalau Elsa dan Rahma benar benar terkena penyakit tuli dan budeg.
"Gue sudah menunggu selama beberapa menit, tapi kenapa Elsa dan Rahma ngga jawab pertanyaan gue, lebih tepatnya Rahma dan Elsa ngga jawab teriakan gue, apa jangan jangan mereka berdua memang benar benar terkena penyakit tuli dan budeg beneran, terus gimana cara gue ngajak ngobrol mereka supaya ke kelas, gue juga ngga mau di sini terus menerus, apalagi dengan keadaan Rahma dan Elsa yang malah budeg dan tuli, tapi gimana caranya gue mengajak mereka berdua ke kelas kuliahan, mereka berdua saja ngga dengar omongan maksudnya mereka berdua saja tak mendengar teriakan gue, pokoknya gue harus cari akal supaya gue, Elsa, dan Rahma bisa pergi dari kantin ini" batin Devia sambil memaksa otaknya untuk berpikir, sungguh Devia bingung mencari akal supaya Rahma dan Elsa mendengar suara dari Devia.
Detik dan detik berlalu, menit dan menit berlalu, setelah otaknya Devia di ajak berpikir ternyata otaknya Devia sudah menemukan ide briliant supaya Rahma dan Elsa bisa di ajak bicara, dan mendengar semua omongan Devia, sehingga kini Devia mengumbar senyum lebar di wajahnya.
__ADS_1
Devia sudah menemukan cara supaya Rahma dan Elsa mendengar omongan dia, entah mengapa Devia sangat bahagia karena memiliki otak yang cerdas dan cermat, kenapa jadi kayak lomba cerdas cermat, maksudnya Devia sangat bahagia memiliki otak yang cerdas dan pintar.
"Gue sepertinya punya ide supaya Elsa dan Devia mendengar suara gue, tapi gue yakin kalau gue cuma bertindak dengan mulut doang berupa teriakan doang, gue jamin pasti Elsa dan Rahma tetap ngga dengar suara teriakan gue, walau gue sudah berteriak dengan sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya, tapi gue yakin tetap Elsa dan Rahma ngga dengar omongan gue, lebih baik gue main tangan saja, istilah gaulnya gue harus gunakan tangan gue buat menjambak rambut mereka berdua, atau gue gunakan tangan gue buat menampar pipi mereka berdua, atau gue juga bisa gunakan tangan gue buat menjewer mereka berdua, karena gue yakin cuma dengan cara itu Elsa dan Rahma mendengar suara gue dan suara teriakan gue, pokoknya gue harus jalankan misi gue sekarang juga" batin Devia sambil tersenyum licik menatap ke arah Elsa dan Rahma secara bergantian.