
Devia mendelik ke arah Rahma karena Devia tak terima di katakan mesum, padahal Devia membahas berlubang dan terong itu mengikuti arus pembicaraan Rahma yang membahas tentang berlubang dan terong.
Rahma juga membalas dengan menatap Devia nyalang, seakan akan Rahma siap menerkam Devia, sungguh Rahma kesal dan emosi sejak tadi dengan kelakuan Devia.
Elsa masih sibuk memijit pelipisnya, Elsa merasa malu sekali dengan perdebatan yang sejak tadi di keluarkan oleh Devia dan Rahma.
Bahkan kini Elsa semakin menanggung malu, gara gara Devia yang berbicara dengan sangat keras tentang berlubang dan terong, perkataan Devia mampu membuat atensi semua orang yang ada di kantin kampus menatap ke arah mereka bertiga.
Kalau Elsa punya kantong ajaibnya Doraemon pasti dia akan meminta supaya Elsa bisa menghilang dari kantin tersebut, namun sayangnya Elsa tak punya kantong ajaibnya Doraemon.
"Rahma yang harusnya marah itu gue ke lo, karena otaknya gue ternoda jadi mesum juga gara gara lo" teriak Devia dengan sangat keras dan sangat kencang, suara teriakan Devia sangat menggelegar di kantin kampus tersebut.
Rahma langsung menatap nyalang ke arah Devia, sungguh Rahma tak terima kalau Rahma menodai otaknya Devia, dalam hatinya Rahma berpikir kalau Rahma juga tidak melemparkan tepung terigu, pasir, dan jenis lain yang menyebabkan otak Devia kotor dan ternoda.
"Devia yang harusnya marah itu gue bukan lo, karena lo bahas lubang kepunyaaan bawahnya milik wanita dan terong kepunyaaan bawahnya milik pria, mesum banget lo otak gue yang masih polos jadi ternoda gara gara kata kata lo, beruntung di sini umurnya semua di atas 17+++ kalau ada yang di bawah 17 di jamin lo bakal menerima amukan dari orang tua anak tersebut, justru lo yang mengajari mesum ke semua orang, jangan nuduh gue sembarangan karena gue sama sekali ngga mengajari lo mesum" teriak Rahma tak kalah keras dan tak kalah kencang dari teriakan Devia.
Devia langsung mengeluarkan tanduk di kepala yang sangat panjang, sungguh Devia tak habis pikir kalau Devia masih di tuduh mesum oleh Rahma, padahal menurut Devia otaknya Devia mesum gara gara perkataan Rahma tentang berlubang dan terong.
__ADS_1
"Rahma gue yang harusnya marah gara gara lo mengajari gue mesum, kan yang mulai bahas berlubang dan terong lo duluan jadi gue teruskan saja kata kata lo, gue ngga nyangka otaknya lo lebih mesum dari gue sampai bahas berlubang dan terong duluan, gue yakin maksudnya kata kata lo berlubang itu pasti kepunyaan bawah milik wanita terong kepunyaaan bawah milik pria, justru otaknya gue yang masih polos ternoda gara gara lo, di sini itu tempat kuliah jadi sudah pasti umur mereka di atas 17+++ kalau di bawah umur 17 tahun berarti masih TK atau SD, gue jamin lo yang akan mendapat amukan gara gara lo yang bahas berlubang dan terong duluan bahkan lo mengajari mesum ke semua orang gara gara kata kata lo, kata berlubang dan terong itu kata mesum" jelas Devia panjang kali lebar melebihi panjangnya rel kereta api.
Rahma membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga, sungguh Rahma tak menyangka kalau pikiran dan otaknya Devia mesum gara gara perkataan Rahma tadi.
Elsa semakin geram dan tersulut emosi akibat pertengkaran Devia dan Rahma yang tak henti hentinya, bahkan kini malah pertengkaran keduanya mengarah ke hal hal mesum.
Hal itu tentu saja membuat Elsa semakin malu akibat perbuatan Devia dan Rahma, kini Elsa menatap nyalang ke arah Rahma dan Devia secara bergantian.
Kini tangannya Elsa langsung mencubit pinggang Devia, dan tangan yang satunya Elsa gunakan untuk mencubit pinggang Rahma, membuat Devia dan Rahma yang mendapat cubitan tersebut berteriak sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya.
"Aaaaaaaaaahhhhhhhhh" teriak Devia dan Rahma secara bersamaan dengan teriakan sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya.
Sungguh emosi Elsa semakin menumpuk akibat ulah dari Devia dan Rahma, kini Elsa menetralkan detak jantungnya yang tadi lari maraton akibat mendengar suara teriakan Devia dan Rahma.
"Rahma lo ngapain mencubit pinggang gue, kita berdua dari tadi debat mulut tapi jangan sampai main kekerasan juga" bentak Devia sambil menatap tajam ke arah Rahma.
Rahma ikut membalas tatapan Devia dengan tatapan yang tak kalah tajam, sungguh Rahma juga kesal dan emosi gara gara Devia, bahkan Rahma menduga kalau yang mencubit pinggangnya adalah Devia.
"Devia lo ngga usah akting dan lo ngga usah drama deh, sudah jelas jelas kalau lo yang mencubit pinggangnya gue, pakai lempar kesalahan ke gue dan menuduh gue mencubit pinggang lo, jelas jelas gue dari tadi ngga mencubit pinggang lo" Rahma juga ikutan membentak Devia, sementara Devia mendengus sebal mendengar perkataan Rahma.
Tetap saja Devia berpikir kalau Rahma yang mencubit pinggangnya, sehingga kini Devia sama sekali tak percaya dengan jawaban dari Rahma.
__ADS_1
Elsa yang detak jantungnya sudah kembali normal menjadi bernafas lega, lalu Elsa menatap ke arah Devia dan Rahma secara bergantian.
Karena kedua telinganya Elsa yang di tutup oleh tangannya, membuat Elsa tak mendengar pembicaraan dari Devia dan Rahma, namun Elsa bisa melihat kalau Devia dan Rahma sedang mengerakkan bibir tanda sedang berbicara.
Elsa menjauhkan kedua tangannya dari kedua telinganya, sekarang kedua telinganya Elsa terpasang dan berusaha mendengar obrolan dari Devia dan Rahma.
Tak membutuhkan waktu lama kini Elsa tahu apa yang sedang di bicarakan oleh Devia dan Rahma, lebih tepatnya Elsa tahu apa yang sedang menjadi perdebatan Devia dan Rahma saat ini.
Sungguh Elsa sangat frustasi menghadapi kedua sahabatnya, kini Elsa akan berkata yang sejujur jujurnya tentang siapa yang tadi mencubit Devia dan Rahma, hal itu Elsa lakukan supaya Devia dan Rahma berhenti untuk bertengkar.
"Devia Rahma yang tadi mencubit lo berdua itu tangannya gue, jadi kalian berdua ngga usah saling menuduh satu sama lain, kalian berdua jangan bertengkar gara gara cubitan di pinggang kalian berdua" jelas Elsa dengan nada tinggi, itu bertujuan supaya Devia dan Rahma mendengar suaranya.
Cara itu memang berhasil dan kini tatapan Devia dan Rahma mengarah kepada Elsa, hal itu membuat sudut bibir Elsa terangkat memancarkan senyum tipis di wajahnya.
"Elsa diam lo jangan ikut campur" sahut Devia dan Rahma secara bersamaan dengan nada penuh penekanan, sedangkan Elsa di buat membelalakkan kedua matanya sangat lebar mendengar jawaban kompak Devia dan Rahma.
__ADS_1