
Devia dan Elsa kompak masih menatap tajam ke arah Rahma, sungguh mereka berdua sangat kesal dan sangat emosi dengan kelakuan Rahma yang mendadak menjewer telinga Devia dan Elsa.
Perbuatan Rahma itu akan membuat Devia dan Elsa merasakan sakit di telinganya, bukan hanya itu saja namun Devia dan Elsa juga sangat malu, karena kini mereka berdua menjadi bahan tontonan semua orang yang ada di kantin.
Banyak sekali orang lalu lalang di kantin, ada yang tersenyum tipis, ada yang tersenyum lebar, ada yang bisik bisik supaya tidak di dengar semut, ada yang tertawa dengan tatapan mereka semua yang serentak ke arah Devia dan Elsa.
Elsa yang sadar dirinya di tatap oleh banyak pasang mata di kantin kampus, membuat Elsa sangat malu sekali, dan kini Elsa sangat emosi kepada Rahma, yang menyebabkan semua orang yang ada di kantin kampus menatap ke arahnya.
Elsa menutup kedua wajahnya dengan kedua tangannya, ingin sekali Elsa hilang dari kantin tersebut, namun sayangnya Elsa tak bisa menghilang dari kantin, Devia yang tahu kalau dirinya di tatap oleh banyak pasang mata membuat Devia geram dan tersulut emosi, sehingga Devia menatap tajam ke arah orang yang berlalu lalang di kantin satu persatu.
"Kalian semua ngapain natap gue kayak gitu, gue tahu kalau gue cantik dan mempesona, tapi ngga usah kebanyakan menatap gue nanti yang ada kalian akan semakin jatuh cinta sama gue" ucap Devia dengan suara keras dan lantang, sementara Rahma dan Elsa kompak mendelik ke arah Devia, sedangkan semua orang yang ada di kantin kampus langsung memalingkan tatapan mereka semua dari Devia.
Elsa dan Rahma heran melihat dan mendengar Devia yang sangat percaya diri tingkat dewa, sungguh Elsa dan Rahma ingin sekali menjambak rambutnya Devia, namun Elsa dan Rahma takut nanti mereka bertiga akan menjadi pusat perhatian orang orang di kantin lagi seperti barusan.
"Devia lo punya kaca di rumah kan jadi" perkataan Rahma belum selesai sudah buru buru di potong oleh Devia.
__ADS_1
"Rahma lo pikun atau amnesia ?" bukannya menjawab Devia malah melontarkan pertanyaan kepada Rahma.
Rahma membelalakkan kedua matanya dengan sangat lebar dengan mulut menganga, sungguh Rahma tak menyangka kalau Devia akan bertanya hal ambigu seperti itu.
Elsa melirik ke arah Rahma dengan ekor matanya, sebenarnya Elsa juga penasaran dengan jawaban apa yang akan di keluarkan oleh mulutnya Rahma, sehingga Elsa melirik ke Elsa lewat ekor matanya.
Setelah Rahma berhasil menormalkan rasa keterkejutannya, kini Rahma melototkan kedua matanya ke arah Devia, sementara Devia mengangkat satu alisnya ke atas, Devia bingung sendiri karena mendadak Rahma melototkan kedua matanya ke arah Devia.
"Devia lo jangan sembarangan menuduh, gue itu masih waras, gue ngga pikun dan ngga amnesia, kenapa lo memfitnah gue kayak gitu" teriak Rahma dengan sangat keras dan sangat kencang, sungguh Rahma emosi sekali sampai di ubun ubun, Rahma tak habis pikir kenapa Devia bisa menuduh Rahma itu pikun dan amnesia.
Devia tersenyum kecut setelah mendengar jawaban yang terlontar dari mulutnya Rahma, sungguh Devia sangat yakin kalau Rahma itu pikun atau terkena amnesia.
Elsa yang melihat raut wajah Rahma yang tak bersahabat, membuat Elsa harus menengahi perdebatan kedua sahabatnya, sungguh Elsa heran dengan kedua sahabatnya yang hobi sekali berantem, apalagi di tempat umum, itu akan memicu atensi semua orang kepadanya dan kepada dua sahabatnya.
"Devia Rahma please kalian berdua jangan berantem di sini, ingat ini itu tempat umum, memang kalian berdua ngga malu berantem kayak gitu di depan umum, kalian berdua kayak anak kecil yang rebutan main" bentak Elsa dengan tatapan nyalang ke arah Devia dan Rahma secara bergantian.
Sementara Rahma yang hendak menjawab omongan Devia, bahkan Rahma sudah membuka mulutnya untuk menjawab semua omongan Devia, namun Rahma harus menelan kembali semua kata katanya, setelah Rahma mendengar suara yang familiar yaitu suara Elsa.
__ADS_1
Rahma buru buru menutup mulutnya, setelah Rahma mendengar bentakan dari Elsa, sementara Devia memegang dadanya dengan kedua tangannya, sungguh rebus kaget karena untuk pertama kalinya Elsa mengeluarkan bentakan seperti tadi.
"Elsa lo tadi dengar sendiri kan, Rahma yang tadi memancing gue marah dan emosi di tempat umum" jelas Devia menyalahkan Rahma yang menyebabkan dirinya berantem dengan Rahma di depan umum.
Kedua matanya Rahma langsung terbelalak lebar dengan mulut yang menganga, sungguh Rahma heran dan syok mendengar jawaban Devia yang tanpa dosa.
"Devia lo apa apaan sih, gue ngga memancing lo marah dan emosi di depan umum, mending gue mancing ikan dapat ikan dan bisa buat lauk apalagi rasanya ikan sangat enak dan lezat" sahut Rahma dengan tatapan mengejek ke arah Devia, sementara Devia menatap nyalang ke arah Rahma, sedangkan Elsa menatap ke arah Rahma dan Devia satu persatu lalu Elsa berkata.
"Devia Rahma stop ngga usah berantem lagi, kalian berdua cukup diam saja, malu tahu ngga di tatap banyak orang kayak gini" teriak Elsa berusaha melerai perdebatan dan pertengkaran yang terjadi antara Rahma dan Devia.
Rahma dan Devia kompak menatap ke arah mata Rahma yang menatap ke orang orang yang sedang menatap ke arah mereka bertiga.
Bukannya diam dan berhenti bertengkar Devia malah semakin kesal dengan tatapan orang orang di sekiranya.
''Kalian ngapain masih menatap gue, jangan tatap gue terlalu lama nanti kalian semua akan terpesona dan akan semakin jatuh cinta dengan wajah gue yang cantik jelita'' bentak Devia dengan suara yang sangat keras dan sangat kencang.
Devia menatap nyalang ke arah orang orang yang sedang menatap ke arahnya, mendapat tatapan menusuk dan membunuh yang di layangkan Devia, bahkan mendapat bentakan juga dari Devia, membuat orang orang yang sedang menatap ke arah Devia buru buru memalingkan wajahnya dari Devia.
Elsa dan Rahma serentak memijat pelipisnya masing masing, sungguh Elsa dan Rahma merasa malu dengan kelakuan Devia, yang tiba tiba mendadak orang seperti tadi.
__ADS_1
Devia menerbitkan senyuman lebar di wajah cantiknya, setelah melihat kalau semua orang yang tadi menatapnya, kini sudah tak menatapnya lagi.
"Elsa Rahma gue hebat bisa bikin semua orang takut sama gue, buktinya mereka semua kabur setelah mendengar suara gue yang merdu" kata Devia penuh percaya diri, sementara Rahma dan Elsa kompak mendelik ke arah Devia.