
Devia merasa bangga kepada dirinya sendiri, karena semua orang yang tadi menatapnya, sekarang sudah tak menatapnya lagi.
Rahma dan Elsa kompak mendelik ke arah Devia, sungguh Rahma dan Elsa itu sangat malu mendengar Devia yang tadi berteriak kepada orang orang yang menatap ke arah Devia dan teman temannya.
Devia menerbitkan senyum lebar di wajahnya, dan senyuman lebar itu tak pernah luntur sejak tadi, namun tiba tiba Devia melunturkan senyum lebar yang terpatri di wajahnya.
"Devia lo bukan hebat sampai semua orang yang menatap lo kabur dan ngga melihat lo lagi tapi itu karena suara lo yang menyebabkan mereka semua kabur, apalagi mendengar suara lo yang seperti kaleng rombeng" ketus Rahma dengan nada mengejek, sementara Devia langsung melunturkan senyum lebar di wajahnya, kini Devia menatap ke arah Rahma dengan tatapan nyalang, sedangkan Elsa memijat pelipisnya sendiri.
Sungguh Elsa yang mendengar pertengkaran di antara kedua sahabatnya membuat Elsa pusing ratusan milyar keliling, ingin sekali Elsa menghilang dari tempat itu saat ini juga, namun sepertinya Elsa tak mungkin bisa melakukannya.
Devia tak henti hentinya menatap ke arah Rahma dengan tatapan nyalang, namun Rahma tak menyadari tatapan nyalang yang di keluarkan oleh Devia.
Rahma sibuk memijat pelipisnya sendiri gara gara pusing karena ulah Devia, sedangkan hal serupa juga di lakukan oleh Elsa, sementara Devia tak pernah melunturkan tatapan nyalangnya ke Rahma.
Devia yang geram dan emosi gara gara perlakuan dan kata kata Rahma, membuat Devia mengeluarkan suara teriakan yang menggema seisi kantin.
"Rahma suara gue itu merdu banget, dan gue yakin semua orang yang menatap gue kabur gara gara suara merdu gue, dan asal lo tahu kalau suara gue itu ngga seperti kaleng rombeng" teriak Devia dengan sangat keras dan sangat kencang, bahkan tatapan menusuk juga di layangkan untuk Rahma.
Rahma dan Devia kompak menatap ke arah sekeliling mereka, ternyata semua orang yang ada di kantin kini menatap ke arah Devia di sertai bumbu bisik bisik.
Hal itu tentu saja membuat Elsa dan Rahma serentak merasa malu, sehingga kini Elsa dan Rahma kompak mendelik ke arah Devia.
__ADS_1
Devia masih belum menyadari tatapan dari banyak orang yang ada di kantin, mungkin karena fokusnya Devia sejak tadi itu hanya menatap nyalang ke arah Rahma.
"Devia lo bisa ngga kecilkan suara lo, gara gara teriakan lo bikin semua orang yang ada di sini menatap ke arah kita bertiga" teriak Rahma tanpa sadar malah suara teriakannya melebihi kerasnya teriakan Devia.
Elsa yang mendengar suara teriakan Rahma membuat Elsa terlonjak kaget, bahkan Elsa sampai bergeser dari tempat dirinya berdiri.
Devia sebenarnya masih kesal dan emosi kepada Rahma, namun karena rasa kepo dan penasaran Devia itu tingkat dewa membuat Devia menatap ke arah semua orang yang ada di kantin satu persatu.
Betapa kagetnya Devia begitu melihat orang satu persatu yang ada di kantin, karena semua pasang mata yang ada di kantin itu semua menatap ke arah Devia, bahkan mungkin kalau ada semut yang lewat juga pasti akan menatap ke arah Devia.
Sungguh Devia yang merasa emosi kini semakin bertambah emosinya, ketika melihat tatapan dari semua orang yang ada di tempat tersebut.
"Semua orang" perkataan lebih tepatnya teriakan Devia belum selesai sudah di hentikan oleh Rahma.
"Devia lo aneh banget deh, pakai manggil semua orang segala, jangan bikin malu dong tanpa lo panggil juga mereka semua sudah menatap lo" ketus Rahma dengan tatapan yang menusuk ke arah Devia, sementara Devia membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga.
Sungguh Devia tak menyangka akka mendengar perkataan yang pedas dari Rahma, sementara Elsa menggaruk garuk punggungnya yang tak terasa gatal sama sekali.
Devia kini melototkan kedua matanya ke arah Rahma, kini Devia tak terima dengan semua kata kata yang keluar dari mulutnya Rahma, ingin sekali Devia menyumpal mulutnya Rahma dengan cabai namun sayangnya di sekitar Devia tak ada cabai.
__ADS_1
"Rahma lo yang aneh, gue panggil semua orang tadi supaya semua orang yang ada di kantin ini mendengar suara merdu gue, semua orang menatap gue karena mereka semua iri dengan kecantikan yang gue miliki" jawab Devia tak kalah ketus dari Rahma.
Sedangkan Rahma memutar bola matanya malas mendengar jawaban Devia yang begitu percaya diri mengaku kalau Devia itu cantik.
Sementara Elsa menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sungguh Elsa merasa sangat malu, gara gara kelakuan kedua sahabatnya yaitu Rahma dan Devia.
"Devia lo yang aneh pakai bicara semua orang segala, suara lo itu persis kayak kaleng rombeng ngga merdu sama sekali, Devia semua orang menatap lo itu bukan karena mereka semua iri dengan kecantikan lo, tapi mereka semua mendengar suara teriakan lo makanya mereka semua menatap lo, dalam hati mereka pasti kesal sama lo" sahut Rahma dengan nada setengah berteriak tak lupa melototkan kedua matanya ke arah Devia.
Devia menatap nyalang ke arah Rahma setelah Rahma berbicara seperti itu, sungguh Devia kesal dan tersulut emosi mendengar ocehan Rahma.
Elsa menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sungguh Elsa merasa malu sekali menghadapi pertengkaran dan perdebatan Rahma dan Devia.
Elsa tak sanggup kalau harus mengeluarkan wajahnya, sehingga Elsa menutupi wajahnya dari banyak orang, ingin sekali Elsa menghilang dari tempat itu, namun Elsa tak punya jurus menghilang.
"Astaga gue malu banget sama kelakuan dari Rahma dan Devia, mereka berdua itu hobi banget bikin gaduh, bikin emosi saja kelakukan mereka berdua, gue jadi pengin menghilang dari tempat ini, tapi gue ngga punya jurus menghilang, gue juga ngga punya kantong ajaibnya Doraemon yang bisa melakukan hal apapun, pokoknya gue harus bisa bikin Rahma dan Devia pergi dari sini, soalnya di sini cuma bakalan jadi bahan tontonan, yang tidak mendapatkan bayaran sepeserpen, mending jadi bintang film jadi bahan tontonan banyak orang tapi menghasilkan uang bahasa gaulnya itu mendapatkan bayaran dari banyak orang" batin Elsa masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Elsa memikirkan cara supaya mereka bertiga pergi dari kantin, sementara Rahma dan Devia kompak saling tatap dengan tatapan saling membunuh satu sama lain.
Devia sangat emosi dan kesal gara gara kelakuan Rahma, hal serupa juga di rasakan oleh Devia kepada Rahma.
__ADS_1