
Rahma menatap ke arah Devia yang setia menerbitkan senyuman lebar di wajahnya sedangkan Elsa masih betah tertawa terbahak bahak sehingga membuat Rahma di selimuti dan di hinggapi rasa ketakutan yang sangat menghinggapi perasaan Rahma.
Rahma berpikir bahwa Elsa dan Devia kompak mendadak gila dadakan karena Elsa yang sejak tadi sibuk dan asyik tertawa terbahak bahak sedangkan Devia yang tanpa bosan tiba tiba menerbitkan senyuman lebar di wajahnya.
"Gue jadi takut kalau Elsa dan Devia kompak mengalami gangguan jiwa bahasa gaulnya itu Elsa dan Devia gila, soalnya Elsa sibuk dan asyik tertawa terbahak bahak sejak tadi belum berhenti, sedangkan Devia ngga ada angin, ngga ada hujan, ngga ada pelawak yang ngelawak, ngga ada badut yang lewat malah kenapa tiba tiba Devia menerbitkan senyuman lebar di wajahnya sampai sekarang masih tersenyum lebar ngga berhenti henti" batin Rahma sambil tak bosan bosannya menatap ke arah Devia dan Elsa secara bergiliran.
Elsa masih sibuk tertawa terbahak bahak entah mengapa Elsa belum bisa menghentikan tawanya, membuat Elsa sampai sekarang belum menghentikan tawanya, bahkan tanpa dosa dan tanpa ragu malah Elsa menambahkan volume tawanya yang sejak tadi di ciptakan.
''Haha haha gue kenapa sampai sekarang belum bisa menghentikan tawanya gue sejak tadi, ini semua gara gara Devia dan Rahma yang membuat gue ngga bisa menghentikan tawanya gue jadi gue dari tadi masih sibuk tertawa terbahak bahak sampai sekarang bikin gue ngakak banget tuh Devia sama Rahma, kalau bukan di kantin kampus pasti tertawa terbahak bahak sambil tiduran" batin Elsa sambil masih tetap tertawa terbahak bahak sampai sekarang Elsa belum bisa menghentikan tawanya.
__ADS_1
Devia masih menerbitkan senyum lebar di wajahnya entah memgapa Devia belum bisa melunturkan senyuman lebar di wajah cantiknya, entah apa yang ada di otaknya hanya Devia yang tahu karena semut dan tikus juga tidak tahu apa yah di pikirkan oleh Devia, yang penting Devia tak melunturkan senyuman yang dia miliki.
"Gue tahu caranya supaya gue bisa kabur dari kantin kampus lebih tepatnya supaya gue bisa kabur dari Rahma dan Elsa tanpa gue ketahuan oleh Rahma dan Elsa, lebih baik gue jalankan misi sekarang juga supaya gue bisa kabur secepatnya dari sini soalnya gue takut melihat Elsa yang dari tadi belum berhenti tertawa terbahak bahak, jangan jangan Elsa itu gila, gue ngga mau wajah mulusnya gue di cakar oleh Elsa karena katanya kalau orang gila itu identik dengan memakan makanan di tempat sampah, sama menjambak dan mencakar wajahnya orang, tapi kalau gue kabur dari sini yang masih ada di sini pasti Elsa dan Rahma doang, gue jadi penasaran apa yang akan Elsa lakukan kepada Rahma, gue jadi ngakak kalau Elsa menjambak rambutnya Rahma pasti Rahma bakalan membalas ikut ikutan menjambak rambutnya Elsa soalnya Rahma itu ngga pernah mengalah dia orangnya ngeyel banget deh gue heran sama Rahma, kira kira Rahma bakalan dapat apa dari Elsa apa cakaran di wajahnya Elsa atau malah jambakan di rambutnya Rahma" batin Devia sambil menyembunyikan tawa yang sejak tadi di sembunyikan sehingga kini Devia cuma mengeluarkan senyum sangat lebar di wajahnya sambil menatap ke arah Rahma dan Elsa secara bergantian.
Rahma bingung sendiri memikirkan nasibnya sendiri kini Rahma sedang bingung memikirkan cara supaya Elsa dan Devia tersadar dari lamunannya, koq lamunannya sih maksudnya Devia dan Elsa cepat tersadar dari tawanya dan senyumnya.
Kini Rahma menatap ke arah Elsa dan Devia secara bergantian namun hasilnya masih sama Elsa masih sibuk dan asyik tertawa terbahak bahak sedangkan Devia masih sibuk dan asyik menerbitkan senyuman lebar di wajahnya.
"Gue heran sebenarnya apa yang di pikirkan oleh Devia dan Elsa kenapa mereka berdua kompak banget masang ekspresi bahagia satu tertawa terbahak bahak yang satunya lagi tersenyum lebar sebenarnya kenapa mereka berdua ekspresi wajahnya bisa kayak gitu apa karena Devia dan Elsa itu kompak punya hutang banyak makanya ekspresi wajahnya mereka berdua kayak gitu" batin Rahma sambil menatap ke arah Elsa dan Devia secara bergiliran dan bergantian satu persatu.
__ADS_1
Rahma memutar dan memaksa otaknya untuk berpikir dan mencari cara supaya Devia dan Elsa kompak bisa mendengar suara merdunya Rahma, itu menurut Rahma katanya suara Rahma merdu entah apa kata orang lain apakah bisa di bilang suaranya Rahma merdu atau tidak.
"Gue harus cari cara supaya Devia dan Elsa kompak mendengar suaranya merdu mereka berdua, gue harus paksa otaknya gue supaya bisa menemukan ide briliant supaya Elsa dan Devia serentak mendengar suara merdu miliknya aku, gue harus paksa otaknya gue supaya memikirkan cara supaya Elsa dan Devia dengar omongan gue" batin Rahma sambil memikirkan cara supaya bisa membuat Elsa dan Devia serentak mendengar omongan Rahma.
Rahma yang telah berpikir selama beberapa puluh jam kelamaan dong maksudnya setelah Rahma berpikir selama beberapa puluh menit kini Rahma baru menyadari lebih tepatnya Rahma baru menyadari bagaimana cara membangunkan Elsa dan Devia apabila masih mengantuk koq jadi bahas mengantuk maksudnya setelah Elsa dan Devia dari tadi sibuk dengan dunianya mereka berdua lebih tepatnya Elsa dan Devia sibuk tertawa terbahak bahak dan tersenyum lebar
Rahma mengumbar senyum lebar di wajahnya saat dirinya menemukan harta karun maksudnya saat Rahma menemukan ide briliant yang terpancar dari otaknya entah ide briliant apa yang di keluarkan oleh otaknya hanya Rahma yang tahu jawabannya.
"Gue tahu cara supaya Devia dan Elsa kompak mendengar omongan dan suara merdunya gue, pokoknya gue harus sadarkan Elsa dan Devia secara bersamaan supaya gue bisa mengomeli Devia dan Elsa lebih lama lagi sebaiknya gue harus jalankan misinya gue kalau gue mau membangunkan koq kayak lagi tidur ada kata membangunkan lebih tepatnya gue mau menyadarkan lamunan Devia dan Elsa secepatnya supaya Elsa dan Devia bisa lebih lama mendengar suara merdunya gue" batin Rahma sambil mengeluarkan senyum licik
__ADS_1