
Sekarang Devia dan Rahma sudah tidak di ruangan kelas mereka saat ini Rahma dan Devia tetap masih bergandengan tangan melangkah tanpa tujuan karena mereka berdua di hukum oleh dosen Baska untuk tidak mengikuti mata kuliahnya sampai selesai saat mereka berdua sedang berjalan dengan perasaan yang campur aduk seperti adonan semen terbesit ide brilian dari Devia kemana kaki mereka akan melangkah sambil menunggu mata kuliah dosen Baska selesai kalau mereka berdua gunakan untuk ke cafe pasti akan memakan banyak waktu kalau di gunakan ke supermarket pasti ujung ujungnya mereka bakalan mendapatkan belanjaan banyak maksudnya mereka beudw akan banyak belanja kalau di gunakan ke wahana permainan nanti di kira anak kecil
"Rahma dari pada kita berdua jalan jalan ngga jelas kayak begini dan belum tahu mau kemana mending ke kantin kampus" ajak Devia memecahkan keheningan sambil menghentikan langkahnya dan tatapan matanya tertuju ke Rahma
"Terserah lo" jawab Rahma ketus ikut menghentikan langkah kakinya tanpa menatap ke arah Devia
"Rahma lo masih marah sama gue ? atau lo lagi kena sariawan makanya jawabannya singkat banget" tanya Devia sambil tangannya memegang pipi Rahma namun dengan cepat Rahma menangkis tangan Devia
"Menurut lo ? gue ngga lagi sariawan kalau lagi sariawan bakal ngga jawab singkat tapi cuma mengangguk doang sebagai respon jawaban" ketus Rahma melototkan kedua matanya ke Devia sementara Devia hanya menundukkan kepalanya merasa bersalah gara gara dirinya mengajak Rahma gosip lebih tepatnya mengobrol dengan Rahma malah dapat hukuman dari dosen yang sedang mengajar mata kuliah mereka
"Maaf Rahma gara gara gue lo jadi dapat hukuman kayak gini" ucap Devia tulus sambil memasang wajah memelas membuat hati Rahma tersentuh dan terenyuh namun dirinya masih dengan mode merajuk walaupun dirinya ingin sekali langsung memeluk pintu maksudnya memeluk Devia namun dirinya menahan itu semua
__ADS_1
"Devia ngga usah bahas itu lagi karena gue lagi malas membahas itu" jawab Rahma ketus tangannya langsung melepaskan tangannya Devia yang masih sibuk bertengger di tangannya lalu tanpa di suruh Rahma langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Devia membuat Devia tercengang namun sedetik kemudian tersadar melihat Rahma pergi meninggalkan dirinya tanpa di minta dirinya langsung mengikuti langkah kaki Rahma dari belakang
"Rahma maafin gue" ucap Devia yang berada di belakang Rahma mengikuti jejak kaki Rahma yang ada di depannya
"Devia gue sudah maafin lo tapi dengan satu syarat" pinta Rahma tanpa di komando menghentikan langkah kakinya membuat Devia juga mengerem kakinya supaya ikut berhenti perkataan Rahma membuat Devia mengerutkan keningnya bingung
"Memangnya syaratnya apa Rahma ?" tanya Devia di liputi rasa penasaran dan di selimuti rasa banyak tanda tanya di otak cerdasnya sementara Rahma tersenyum menyeringai
"Iya Rahma gue traktir lo makan dan minum sekarang" jawab Devia masih dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya sementara Rahma ikut menaburkan senyuman lebar di wajahnya
"Makasih Devia" jawab Rahma dengan raut wajah bahagia lalu memeluk Devia membuat Devia ikut membalas pelukan Rahma
__ADS_1
"Sama sama Rahma" sahut Devia setelah mereka berdua berpelukan selama empat puluh lima hari kelamaan waktunya lebih tepatnya mereka berdua berpelukan selama beberapa detik mereka berdua saling melepaskan pelukannya lalu kaki Devia berjalan ke arah kantin kampus membuat kaki Rahma mengekori langkah Devia
Pram berniat membersihkan diri lalu dirinya membawa baju ganti celana ganti dan handuk yang tadi sudah di cari oleh Pram dan di siapkan oleh Pram lalu Pram melangkah menuju ke kamar mandi dengan langkah biasa saja
"Gue pengin menikah tapi belum nemu yang cocok tapi gue heran sama Safa sudah sering gue tolak tapi dia tetap mengejar ngejar gue keras kepala banget apa perlu kepalanya di lembekin supaya Safa ngga keras kepala lagi gue akui Safa juga wanita yang sempurna karena Safa memang cantik dan pintar Safa juga mandiri bukan fiesta malah jadi bahas nama bank dan orang tua Safa juga kaya raya tapi dia bukan selera gue" monolog Pram sambil melangkah menuju kamar mandi dengan barang barang yang masih menempel di tangannya
Berlian sekarang tengah sibuk menyapu di ruang makan setelah beberapa menit menyapu dan lantainya di ruang makan sudah bersih dari kotoran debu yang mencium aroma lantai Berlian berniat mengepel lantai ruang makan lalu Berlian melangkah menuju ke dapur untuk mengambil peralatan mengepel yaitu alat pel dan ember yang di isi air yang akan di gunakan untuk mengepel lantai ruang makan sebelum ke dapur Berlian sudah melepaskan sapu yang ada di genggaman tangannya
"Aku heran sama Devia kenapa dirinya belum mau menikah saat aku dan suami aku jodohkan dengan laki laki entah itu anak rekan bisnis suami aku atau anaknya Daru teman aku jawaban Devia pasti sama belum ada yang cocok padahal aku dan suami aku sudah pengin cepat punya menantu dan cucu dari rahim Devia" batin Berlian sambil tetap melanjutkan langkahnya menuju ke dapur untuk mengambil alat pel dan ember yang di isi oleh air yang akan di gunakan untuk mengepel ruang makan
Odin sedang berada di perusahaan miliknya dan dia baru saja selesai meeting dengan client lalu Odin melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerja setelah kakinya berada di depan ruang kerja miliknya tangan Odin dengan sigap langsung membuka pintu ruang kerjanya tanpa ragu Odin masuk ke dalam ruangan kerja miliknya lalu Odin juga menutup pintu ruangan kerja miliknya mungkin supaya gajah tidak bisa masuk lebih tepatnya semut tidak berjejer di ruangan kereta api lalu Odin melangkahkan kakinya menuju kursi kebesaran miliknya
__ADS_1
"Ternyata Rahma wanita yang gue cari selama ini gue jadi ngga sabar ingin ketemu dia dan menjadikan Rahma istri gue dan apalagi Rahma cinta pertama gue karena ciwm dia orang yang bisa bikin hati gue mencair dan meleleh gue jadian sama pacar gue yang pengin cepat menikah sangat dengan Rahma status Rahma walaupun gue tahu kalau dia masih kuliah tapi gue merasa nyaman sama Rahma dan dia nyaman Rahma walaupun Rahma saling kenal dan saling dekat bahkan kita berdua pacaran berkat kenal lewat sosial media alias dunia maya tapi gue seriia dan pengin menikahi Rahma secepatnya seumpama Rahma belum siap karena dia masih kuliah gue akan bujuk supaya Rahma mau menikah dengan gue dalam waktu dekat" monolog Odin sambil dirinya tetap melangkah menuju ke kursi kebesaran miliknya