
"Pak... dengarkan kami dong," ucap Somsi dengan nada memohon.
"Dengar apa... dengar kedondong," ngeledek satpam.
Satpam itu terus mengelak pembelaan Somsi dan Siti. Dia tidak mau mendengar pembelaan mereka. Somsi dan Siti hanya pasrah dengan keadaan.
Mereka dibawa ke kantor polisi. Dengan memakai mobil satpam itu. Kereta Siti dia parkir kan di sekolah itu. Sedangkan kunci nya dia bawa. Kalau dia meletakkan kunci nya di kereta bisa-bisa kereta nya hilang dicuri orang. Meski sekolah itu memiliki pagar dan sudah dikunci oleh satpam tetap saja Siti tidak mau membiarkan kunci nya di kereta itu.
Hanya orang bodoh yang mau meletakkan kunci nya di kereta.
Satpam, Somsi dan Siti sudah berada sekitar tempat polisi. Sebentar lagi mereka akan sampai.
Tut.... tele.... ko.... mu... ni... kasi....
Suara bunyi ponsel Siti. Somsi heran dengan suara bunyi ponsel Siti begitu juga dengan satpam itu.
"Halo nak... dimana kamu?" ~ tanya ayah Siti dari seberang telpon.
"Ini pak... lagi mencari adek nya Somsi. Adek nya dari tadi belum pulang," ~ ucap Siti berbohong kalau mereka sedang dibawa ke kantor polisi.
"Kalian pulang saja. Ini orang tua Somsi sudah memberitahu papa kalau Friska sudah pulang," ~ ucap ayah nya.
Siti melongo heran. ~ " Ha."
"Kamu kenapa?" ~ tanya pak Nius.
"Gak papa kok pa..." ~ jawab Siti.
Ayah nya Siti memutus sambungan dari seberang telpon. Mereka sangat terkejut saat mendengar Friska sudah di rumah.
Dengan memasang raut wajah takut. "Som... gimana ini. Adek kamu sudah di rumah kalian. Sedangkan kita masih berurusan dengan polisi nanti."
"Kamu tenang saja Sit... gak usah takut. Kita tida berbuat salah kok," ucap Somsi menenangkan Siti.
Mereka sampai juga di kantor polisi. Mereka masuk ke ruangan sesi tanya polisi. Ruang interogasi polisi.
"Pak polisi saya membawa dua wanita ini karena sudah berani masuk ke dalam sekolah dengan sangat lancang," ucap satpam.
"Apakah itu betul nak?" tanya pak Polisi.
__ADS_1
"Pak .... sebelum saya bicara, saya minta ijin dulu pak," jawab Friska.
Satpam itu marah. "Tidak pak... tidak usah dengarkan dua wanita ini."
"Maaf pak... kami sebagai polisi harus bersikap adil. Kami tidak ingin salah dalam mengambil sikap. Kami juga harus mendengarkan pengakuan dari pihak lain. Kami tidak sepihak saja pak," tutur pak polisi.
Satpam itu merasa kesal dan tidak berkutik lagi. Somsi mulai berbicara dan mengatakan maksud dari kedatangan mereka di sekolah itu.
"Pak... kami datang ke sekolah itu ingin mencari adek saya pak. Saya hanya khawatir dengan adek saya sampai sore belum pulang juga. Adek saya adalah siswa dari sekolah itu. Kamu tadi masuk karena berpikir sekolah itu masih buka. Dan bapak ini tidak ada di pagar. Setelah kami masuk, para guru-guru sudah tidak ada. Kami hendak pergi. Tetapi sebelum pergi kami melihat bapak ini dan bapak ini tertidur pulas. Kami membangunkan bapak ini tapi tidak bangun-bangun juga pak. Hingga pada akhirnya kami berteriak kepada bapak itu. Bapak itu langsung bangun. Tanpa mendengarkan penjelasan kami, bapak ini langsung membawa kami kesini pak. Begitu pak," tutur Somsi dengan sangat jelas dan secara fakta.
"Iya pak... pak satpam ini tidak mau mendengar pembelaan kami pak," kata Siti melanjutkan.
"Apakah yang mereka katakan itu betul pak?" tanya polisi dengan wajah tajam. Polisi itu sudah sangat ingin menerkam orang yang dia tanya itu. Bisa-bisa nya dia berurusan dengan pengaduan yang tidak benar.
"Ma-maaf pak. Yang dikatakan wanita itu memang benar," ucap satpam itu terbata-bata.
"Bapak tidak perlu minta maaf pada Saya. Bapak minta maaf saja kepada mereka. Karena bapak lah yang membawa mereka hingga sampai kesini," jelas pak polisi.
"Ba-baik pak," ucap polisi itu.
"Tapi sebelum bapak pergi. Bapak harus membayar denda atas pengaduan tidak jelas," ucap pak polisi.
"Tapi apa pak... bapak mau saya gantikan sebagai orang tahanan di sini," kecam pak polisi.
"Tidak pak... eh baik pak... saya akan membayar nya," ucap satpam itu takut.
"Oke. Bapak akan saya kasih ke bagian pengurus keuangan. Dan jangan lupa bapak juga harus mengantarkan mereka pulang," ucap pak polisi.
Somsi dan Siti menahan tawa. Mereka tidak mengira bahwa hukuman si satpam yang telah menahan mereka menjadi seberat itu.
Satpam itu pergi ke ruang pengurus keuangan.
Agak lama satpam itu keluar. Somsi dan Siti sudah menunggu bapak itu dari luar.
"Kok lama kali sih Som...," ucap Siti.
"Iya kan... kita tunggu saja Sit... mungkin sebentar lagi," jawab Somsi.
Satpam itu akhirnya keluar juga. Kemudian membawa Somsi dan Siti pulang bersamaan. Satpam itu hanya mengantarkan mereka sampai di sekolah lalu pulang dengan memakai kereta Siti.
__ADS_1
Sebelum pulang mereka berteriak. "Dasar satpam tuli hahahahaha."
Satpam yang mendengar mereka berbicara marah. Tapi apalah daya nya. Memang dia lah yang salah.
Butuh setengah jam lagi baru mereka sampai. Karena di tengah jalan ban kereta Siti kempes. Mereka perlu ke bengkel untuk memperbaiki nya. Hari sudah sangat gelap. Siti menyalakan lampu kereta nya.
"Som... sampai gelap begini ya... hahahah ini semua salah si satpam tuli itu," ucap Siti tertawa.
"Iya tuh... huu dasar satpam tukang tidur," ucap Somsi.
"ha ha ha ha ha"
Somsi dan Siti tertawa terbahak-bahak karena satpam itu.
Tanpa mereka sadari, mereka sudah sampai di rumah Siti. Tetapi Siti mengantar Somsi dulu. Dia tidak mungkin membiarkan Somsi jalan kaki apa lagi sudah hari sudah sangat gelap sekali.
Somsi sampai di rumah nya. Dia belum masuk ke rumah sebelum Siti pergi. Setelah Siti pergi baru lah dia masuk ke dalam rumah.
Dia mengetok pintu dan memanggil dari luar. Dan yang membuka pintu adalah adek yang dia cari dari tadi.
Somsi langsung masuk ke dalam tanpa menghiraukan adek nya. Dia sedikit marah dengan adek nya itu.
"Kak... maaf kan aku. Kami tadi kerja kelompok," ucap Friska menunduk.
"Dek... kalau kamu kerja kelompok. Mengapa tidak mengatakan kepada kami semalam?" tanya Somsi lembut. Dia tidak mau menunjukkan amarah nya kepada adek nya itu. Meski dia sangat marah saat itu, dia tetap memaafkan kesalahan adek nya.
"Maaf kak," lirih Friska.
"Iya dek... lain kali adek harus katakan kepada kami. Ingat dek... kita tidak punya apa-apa. Kita sangat sulit mencari mu karena tidak ada yang bisa di pakai. Kita tidak mempunyai hp, mobil atau bahkan kereta seperti orang-orang punya," jelas Somsi.
"Iya kak... Friska janji," ucap Friska.
Somsi lalu pergi mandi. Sedangkan Friska menyiapkan makan malam. Dari tadi mereka menunggu kepulangan Somsi.
Bersambung.......
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen.
__ADS_1