
Tinggal 5 menit lagi lomba akan dihentikan. Seseorang dengan nomor urutan 18 masih tergesa-gesa memohon pada Somsi agar diberikan kaldu ayam sebagai racikan terakhirnya.
Pissshh
Dia menggunakan mulutnya untuk memanggil Somsi. Beruntung Somsi bisa mendengar dan memperhatikan orang yang telah memanggilnya itu.
Dengan bahasa tubuh, wanita itu menggerakkan tangannya dan menunjuk sesuatu pada bahan-bahan masakan Somsi.
Dengan sigap Somsi mengambil apa yang diinginkan wanita itu. Lalu menyerahkannya dengan cepat dan tidak diketahui juru bicara atau pun juri yang sedang duduk menilai sambil menulis.
Karena waktu telah habis. Juru bicara menyuruh seluruh peserta untuk berhenti.
Pitttttttttttt
Suara tiupan dari mulut juru bicara pun berbunyi. Semua berhenti dan tidak ada lagi yang bergerak.
"Semua berhenti!" ucapnya kuat. Meski ia memakai microffon tetap saja ia harus mengeluarkan suaranya lebih keras lagi.
Semua peserta berhenti dan saling memandang satu sama lain. Menyaksikan satu-satu lawan mainnya. Ada yang kelelahan karena terburu-buru, ada yang kehausan dan ada yang marah karena kehabisan waktu.
"Somsi ..... semangat sayang," ucap Bram. Semua orang melongo heran menatap Bram yang begitu pedenya bicara hal bucin apalagi ia bicara di depan ibunya Somsi.
"Aduh Bram selalu buat aku malu aja." Lirih Somsi.
Dia menepuk jidatnya lalu menunduk malu. Entah setan apalagi yang membuat Bram senekat itu.
Dryver mengeraskan suaranya dengan tatapan sengit pada Bram. "Abang nggak tau malu ya?"
Kata-kata itu memang simpel tapi bagi Bram itu sangat menusuk. Bagaimana bisa seorang anak kecil berani mengatakan hal itu padanya. Apakah ia tidak di hargai sebagai seorang yang sudah dewasa?
"Kau ya.... nggak pernah diam, selalu nyambung saat aku bicara. Ya suka-suka abang mau bicara apa terserah abang, kok yang jadi sewot kamu sih dek? nggak seru ahk," ucap Bram cengar-cengir.
Dryver dari tadi memajukan bibirnya sambil menggerakkannya saat Bram bicara. Sepertinya ia tidak suka kalau Bram mengatakan sesuatu.
Dryver memang sangat menghormati Bram, tetapi karena sikap Bram yang akhir-akhir ini suka bicara nggak jelas membuat telinga Dryver ingin lepas dari pemiliknya.
Bu Wati melotot melihat Bram yang dari tadi asbun, asal bunyi. "Hei nak! mulut itu di jaga. Sebagai laki-laki pasti lebih tinggi derajatnya dari pada perempuan. Lah kok kau banyak embel-embel sih? emang kau seorang banci?"
Kata-kata pedas itu langsung saja keluar dari mulut bu Wati. Sedari tadi ia memperhatikan tingkah Bram sudah melewati batasannya.
Itu tidak bisa ia biarkan, mungkin saja lain hari Bram akan mengulanginya lagi kalau ia tidak menyemprot Bram dengan kata pedasnya hari ini.
Kok calon mama mertua kejam amat sih ngomongnya. Ahh aku anggap aja seperti kacang telur garuda. Kacang..... kacang.... telur... telur.... kacang telur garuda, Wkwkkw.
Bu Wati semakin bertambah marah melihat Bram dari tadi senyum-senyum nggak jelas. Isi pikirannya apa sih? Hingga membuatnya masih tersenyum meski sudah diomelin.
__ADS_1
"Mama mertua, upps," Bram menutup mulutnya cepat. Dia sendiri suka keceplosan mengatakan sesuatu, "Maaf ma, eh tante. Bram nggak akan ulangi lagi. Bram akan diam."
Selesai ia mengucapkan kalimatnya langsung ia melirik ke kanan dan ke kiri agar matanya tidak tertuju pada manik bola mata bu Wati.
"Kamu aneh kali ya," ucap bu Wati marah.
Bram yang mendengar bu Wati sedang emosi malah terkekeh begitu saja.
Lalu ia pergi sedikit menghindar dari bu Wati.
Ia tak ingin selalu mendengar segala ocehan bu Wati yang merusak pendengarannya.
Segeralah ia menghampiri lapangan lebih dekat lagi karena tidak mau berurusan dengan bu Wati.
"Oke aku akan menjauh."
Kebiasaannya dalam mematuhi orang tua memang sangat ia ingat selalu. Tak sedikit pun ia melupakan ajaran dari orang tuanya. Dari pada membuat kesalahan dengan terus mendekat di dekat bu Wati, itu sama saja menggali lobang kubur.
Bram terus memperhatikan Somsi. Hatinya selalu mengatakan kalau ia harus mendukung Somsi. Bram meninggalkan jam kantornya hanya demi memberikan sebuah dukungan bagi Somsi.
Rasa cintanya pada Somsi semakin dalam dan semakin bertambah. Ia tidak bisa lagi menyeimbangkan yang mana rasa cinta dan yang mana rasa hanya untuk memiliki saja.
Kalau rasa dibarengi cinta sudah jelas akan memilikinya selamanya, tetapi jika rasa hanya memiliki saja itu pun bisa berakhir.
Jadi , cinta yang sesungguhnya adalah di saat orang yang kamu cinta menerima segala kekurangan yang ada pada dirimu, mampu bertahan di kala susah atau senang dan tidak membandingkan mu dengan yang lainnya.
Bram sudah tidak dapat mengerti akan perasaannya pada Somsi. Apakah itu yang namanya cinta sejati ia tidak tau. Selama ini ia tetap bertahan meski sudah di tolak berkali-kali.
"Hei....." Siti membuat Bram kaget.
"Bukannya kamu bilang kamu mau pergi je swalayan?" tanya Bram sedikit aneh.
Iya, Sit tadi mengatakan kalau ia mau pergi ke swalayan saat Bram mengajaknya untuk menonton lomba memasak itu.
Rasanya sangat menyedihkan sekali jika seorang membohongi kita dengan alasan yang menyakinkan. Padahal tadi Siti sudah mengucapkan sumpah kalau ia tidak akan datang untuk menonton. Nyatanya, ia malah datang dan bahkan sedang mengagetkan Bram.
Siti tertawa girang melihat mimik wajah Bram. "Ha ha ha ha ha, kamu mau saja aku bohongi. Yah gak mungkinlah Bram aku tidak menonton sahabat aku sendiri. Sahabat macam apa aku ini."
Bram hanya mendengar omongan Siti masuk kanan keluar kiri. Dia sudah tak ingin lagi berurusan dengan Siti sama seperti bu Wati.
Hu sial... semua wanita membuatku kesal.
Bram membuang muka ketika Siti menatapnya.
Sedangkan Siti masih sibuk berusaha untuk membujuk Bram supaya tidak marah lagi dengannya
__ADS_1
"Bram ... maaf ya. Kalau kau bawa hati atas sikap aku ini," lirih Siti masih terdengar jelas di telinga Bram. Ia sedikit merasa bersalah, "Bram kalau kau diam seperti ini nggak enak tau. Aku memang mau pergi ke swalayan tadi. Tapi Lian malah mengajak aku kesini, ya aku tidak bisa menolak Bram."
Dari penjelasan Siti cukup membuat Bram percaya. Apalagi terlihat dari sorot mata Siti yang sendu. Tiba-tiba Lian datang menghampiri mereka. "Hei .... kalian kenapa? dari tadi aku lihat dari kejauhan serius amat. Apa ada masalah?" tanya Lian dengan mengedipkan matanya. Sembari memeluk Bram. Hal pertama yang mereka lakukan saat bertemu saling memeluk satu sama lain. Itu menjadi sudah kebiasaan bagi mereka. Tanda persahabatan yang kuat dan tidak boleh ada orang yang memecahkan persahabatan mereka meski itu adalah pacar mereka sendiri.
"Nggak ada bro," ucap Bram sambil tersenyum.
Di tengah mereka sedang berbincang, juru bicara mulai berbicara. Semua juri sudah memberikan penilaian masing-masing.
Juru bicara pun mulai membuka mulutnya kata demi kata yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi.
"Juara harapan kedua jatuh ke tangan....."
Jantung Somsi sudah berdegup sangat kencang. Rasa penasaran di campur takut ia optimalkan agar lebih baik.
"Jatuh kepada nomor urut ...... 10."
Semua orang bertepuk tangan dengan sangat meriah. Bahkan saat nomor urut 10 maju, suara teriakan yang begitu keras mengisi seluruh desa itu.
Lalu juri membaca juara harapan satu dan seterusnya.
Tibalah juri membacakan dengan suara nyaring siapa yang akan menjadi pemenang pertama dari lomba memasak itu.
"Juara pertama jatuh ke tangan..... dengan nomor urut 2."
Semua orang kagum dan berteriak sekuatnya. Sedangkan Somsi menangis setelah mendengar kata yang keluar dari mulut juru bicara itu. Lalu nomor urut 2 maju dengan bangganya untuk mengambil hadiah.
Juru bicara melihat lagi kertas yang sudah ia bacakan, apakah itu benar atau tidak. Karena semua juri merasa kalau yang di ucapkan juru bicara itu salah setelah melihat nomor urut 2 maju.
"Para hadirin yang terhormat, saya harap tenang. Saya minta maaf, sebenarnya juara pertama jatuh ke tangan dengan nomor urut 20. Dengan masakan mie gomak yang rasanya sangat luar biasa dan berbeda dari yang lain. Kepada nomor urut 20 harap segera hadir ke lapangan ini."
Sontak membuat Somsi melompat bahagia dan langsung masuk kelapangan. Rasa sedihnya kini berubah menjadi rasa bahagia yang luar biasa untuknya.
Mantap.... huuuu, mantap.
Semua orang bertepuk tangan dengan meriah sambil memuji-muji Somsi karna rasa kagum.
Somsi masuk ke lapangan lalu berjabat tangan dengan juri-juri sambil memberikan hadiah sebesar 10 juta kepadanya. Setelah ia mengambil hadiahnya langsung pergi meninggalkan lapangan. Ia berlari dengan perasaan bahagia menemui ibu dan juga adeknya tercinta.
Dia sangat bahagia, benar-benar bahagia. Ternyata dari usahanya selama ini tidak mengecewakannya.
Dari kemenangan Somsi memasak mie gomak membuat orang-orang sekitarnya memberi sebuah gelar khusus bagi Somsi. Yaitu Somsi pemasak mie gomak yang handal.
Bersambung......................
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya๐๐๐๐