Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Apakah ini cinta?


__ADS_3

Merah Putih Restaurant, Bali.


Mereka akhirnya sampai juga disana. Merah Putih Restaurant, Bali. Ini adalah Restaurant terkenal yang ada di Indonesia, berada tepatnya di Bali.


Terkenalnya Restaurant tersebut dikarenakan masakannya ala-ala khas Indonesia. Karena Indonesia kaya akan makanan laut. Jenis makanannya juga beragam, tidak hanya seafood saja makanan cepat saji juga banyak disana. Selain makanannya yang enak-lezat, pemandangan disana juga sangat disenangi setiap pengunjungnya.


Bram, Lian dan juga Siti sudah duduk di kursi masing-masing. Hanya Somsi yang masih terperangah kagum dengan keindahan Restaurant tersebut. Ini pertama kalinya ia menginjakan kakinya disitu apalagi keindahan yang cukup menawan pada penglihatannya saat ini.


Sangat indah dan mengagumkan.


"Mau berapa lama kau masih berdiri disana yank...?" pekik Bram. Ia tampak gelisah sedari tadi Somsi tidak mau mendekat untuk duduk disampingnya. "Som...." teriak Bram lagi. Betapa malunya ia terhadap pengunjung lainnya yang sedang memperhatikannya yang tidak memiliki kekasih yang duduk disampingnya.


Ih rewel banget sih.


Gerutu Somsi dalam hatinya. Dia sendiri sudah tidak tahan ingin berfoto di tempat itu. Tapi ia sadar, ia tidak punya Hp. Ia pun duduk disamping Bram. Bram tersenyum melihat Somsi yang patuh itu. "Nah gitu dong."


"Lian, kamu ngapain?" ucap Siti yang sedikit mengejutkan Lian yang sedang sibuk memerhatikan hpnya.


"Nggak ngapa-ngapain."


Lian meletakkan hpnya dan mereka semua mulai melahap makanan yang sudah disajikan dari tadi oleh pelayan itu. Karena menunggu Lian mereka menjadi menunggu lama.


***


Panggilan Somsi untuk bekerja di Malaysia sudah keluar. Ka borusaragih sudah menelepon Siti yang dari tadi di luar jangkauan. Ia mencoba sekali lagi tetap saja lalu ia pun menghubungi Uba.


"Halo Uba, kamu dimana sekarang?" ucap Ka borusaragih cepat-cepat karena tau jaringan akhir-akhir ini lelet.


Uba menjawab dari seberang telpon, "Halo kak, ha... ha-lo ha...lo kak."


"Halo dek, halo... tidak ada suaranya dek?"

__ADS_1


Tutttt...


Tiba-tiba saja sambungan telepon terputus. Sial sekali rasanya padahal berita yang ingin disampaikannya sangat penting.


Ka borusaragih mencoba sekali lagi tetap saja tidak bisa.


Bram mengajak Somsi ke Bioskop. Disana mereka memesan Pop corn seperti biasa sepasang kekasih yang baru seumur jagung.


"Kamu mau apa?" tanya Bram dengan wajah datar. Dia berusaha menutupi perasaannya yang sedari tadi mengganggunya. Perasaan yang berbeda yang tidak tau darimana datangnya. Saat ia menatap Somsi hatinya terasa tenang dan bahagia bila sudah berada dekatnya.


"Som, bagaimana kalau kita mengulangi hari yang kemarin?" ucap Bram menggoda Somsi.


Somsi mulai hilang konsentrasi. Jantungnya berdegup kencang. Wajahnya berubah menjadi semu merah. "Som kenapa wajahmu jadi merah begitu?" tanya Bram lagi. Bram dengan sengaja menggoda Somsi. Dilihatnya Somsi sudah berkeringat dingin.


"A... kamu salah lihat mungkin Bram. Buktinya aku bersikap biasa saja dari tadi," jawab Somsi dengan membela dirinya. Ia tidak mungkin mengatakan langsung bahwa ia malu atas sikap Bram padanya yang ada lama-lama Bram akan terus menggodanya. Jadi biasa saja. Tetap bersikap biasa saja.


"Som, kamu tidak pesan minuman?" tanya Siti. Siti melihat Somsi yang mulai salah tingkah berdekatan dengan Bram.


Bagus Siti, ini adalah cara yang bagus untuk menghindarinya saat ini. Hatiku saat berdekatan dengannya menjadi kacau parau. Jika aku lebih dekat lagi, lama-lama aku bisa gila nanti.


Masih sibuk memikirkan bagaimana perasaannya yang seakan mau meledak membuat Siti pun berteriak. "Somsi......."


Telinga Somsi berdenging mendengar teriakan sahabatnya itu. Sahabat gila. Ia pengen menyemprot mulut Siti dengan sembaran kata pedas, namun ia mengingat apa yang dilakukan Siti saat ini sangat membantunya. "Kalau tidak karena kau sedikit pintar sudah kubuat wajahmu itu bagaikan teplok ayam di atas panci." lirih Somsi.


"Bram, Lian tunggu sebentar ya, kami mau ke kamar mandi dulu," pamit Siti kepada mereka berdua yang tengah asik main game.


"Oke." Sahut Bram dan Lian barengan.


Ih, mereka pada ngapain sih? serius amat!


Untungnya Siti tidak melempar mereka dengan sepatunya, kalau tidak mereka akan bisa selamat dari serangan Siti. Karena geram Siti mengembuskan napasnya perlahan. Ia tidak mau meledak begitu saja karena ulah pacarnya sendiri dan juga pacar sahabatnya itu. Baru ini mereka nge-date bersama.

__ADS_1


Selama ini Somsi asik dengan dunianya sendiri semenjak Dino mencampakannya bagaikan sampah.


"Som, kamu tadi grogi ya dekat dengan Bram?" tanya Siti seperti wartawan yang sudah siap menanyakan beribu pertanyaan.


"Tidak." Jawab Somsi datar. Apakah ia harus jujur pada sahabatnya itu. Dia sendiri meragukan sahabatnya yang berdiri dihadapannya saat ini. "Ah, serius Som, kamu tidak merasa hatimu seperti mau meledak gitu?" tanya Siti antusias.


Ya tepat sekali seperti yang kamu bilang sahabatku yang rewel. Apakah aku harus memberitahu dirimu bagaimana tadi aku sangat kesulitan bernapas jika berdekatan dengan Bram?


Sibuk dengan pikiran yang melayangkan seribu lamunan, sehingga tidak menyadari Siti yang dari tadi berusaha memanggilnya.


"Som, Som, oh Som........" pekik Siti.


"Iya Sit, aku merasakan hatiku berbeda saat ini," paparnya lebih berani. Kali ini ia tidak mau menyembunyikan rahasia lagi kepada sahabatnya itu. Jika Siti seperti dugaanya seperti yang lainnya, tidak mungkin persahabatan mereka sampai saat ini baik-baik saja.


"Ciaelah Som, kamu jatuh cinta sama Bram ya....." ucap Siti mengeledek Somsi, sekarang wajah Somsi bersemu merah kembali seperti saat Somsi duduk disamping Bram.


"Ah, tidak, biasa saja." Kemudian Somsi meraih tangan Siti lalu mengaitkan jari kelingking mereka. "Kamu tidak akan beritahukan Bram kan soal ini? Aku mohon Siti, jangan beritahukan dia. Aku takut dia kecewa padaku." pinta Somsi. Wajahnya berubah seketika. Nampak kesedihan diwajahnya. Air matanya menetes. Sepertinya ia mengingat kenangan bersama mantanya dulu.


"Iya Som, kau tidak perlu khawatir. Aku pasti bisa menjaga rahasia ini, percayalah padaku."


Lama sudah mereka disana, akhirnya mereka kembali duduk disamping prianya masing-masing. Bram dan Lian sudah bosan main game sehingga mereka menunggu Somsi dan Siti dan ternyata mereka kembali memainkan gamenya. Mereka lebih membosankan jika menunggu kedatangan pacar mereka itu.


"Lama banget kalian!" cetus Bram. Ia melihat Somsi yang datang dengan wajah menunduk. Ada apa dengannya?


"Bram, sudah jam berapa ini?" tanya Somsi sambil melahap suapan terakhirnya.


Bram merogoh celananya lalu mengeluarkan hpnya. Sangat canggih. Hp keluaran terbaru. Samsung galaxy A71. "Sudah jam tengah sembilan sayang," balasnya cepat.


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen ya. Bye bye.

__ADS_1


__ADS_2