
Pemilik sawah sangat senang dengan hasil kerjanya Somsi. Berkat dari kecepatan ya dalam menanam membuat sawah yang tadi luas sebelum di tanam sudah hampir selesai.
Somsi memang tidak pernah memikirkan rasa lelah dirinya. Baginya jika dia sedang bekerja dengan menerima gaji. Harus lah dia bekerja dengan sungguh-sungguh.
Ibu-ibu sejak tadi fokus menanam. Mereka tidak lagi berbicara satu sama lain. Mungkin karena kecapean kali ya.
Somsi sendiri sudah sangat lelah sekali. Ingin rasanya dia kembali duduk. Tetapi tanggung jawab memang harus tanggung jawab.
Somsi selalu pertama mencapai garis pembatas. Sedangkan yang lain masih di atas pembatas yang membatasi petak sawah.
Keringat Somsi bercucuran jatuh sampai ke mulut nya. Rasa asin yang terasa dari jatuh nya keringat itu.
Sungguh Somsi tidak kuat lagi. Tetapi dia tidak mau menyerah. Demi harapan dan cita-cita nya semua harus dia lakukan.
Dia mungkin saja mengeluh tapi untuk apa. Malahan tidak ada yang berubah.
...****************...
Jam sudah menunjukan jam 12 siang. Semua pekerja kembali naik untuk istirahat.
"Nak... kamu hanya setengah hari ya?" tanya ibu yang memakai bedak dingin.
Somsi menjawab dengan senyum tipis. " Iya bu."
Setelah ini besok kamu kemana nak?" tanya ibu itu lagi.
Dia ingin sekali Somsi ikut bekerja di sawah nya itu.
"Gak kemana-mana bu," jawab Somsi.
"Ke sawah ibu kamu mau nak. Kalau bisa kamu satu hari," ucap ibu itu.
"Aku mau saja bu... tapi hanya setengah hari. Kalau siang nya aku masih punya pekerjaan lain bu," tutur Somsi.
"Owh, gak papa lah nak. Yang penting kamu ikut," ibu itu tersenyum ramah. Dia sangat suka kepada Somsi. Dia ingin sekali Somsi sebagai menantunya.
Somsi menganguk iya. Sebelum pulang dia menerima gaji nya lalu permisi pulang.
"Nak... hati-hati ya!" seru ibu pakai topi.
"Oh, ya bu. Aku boleh meminjam parang ibu gak? soalnya aku mau ambil kayu bakar. Kayu bakar kami sudah habis," jelas Somsi.
Ibu pakai topi menyerahkan parang itu. " Ini nak... ambil saja. Kalau kamu perlu sesuatu tidak usah sungkan-sungkan. Kita ada saat kamu butuh bantuan."
Wah baik sekali ibu ini, ini patut di contoh.
__ADS_1
Somsi pergi ke gunung dekat sawah. Di perjalanan dia terjatuh dan kakinya teriris kayu yang berduri hingga berdarah. Dia tidak menghiraukanya dia tetap fokus dalam pekerjaan nya itu.
Dia mencari kayu bakar kesana-kemari sampai kayu bakar nya terkumpul banyak. Setelah terkumpul banyak. Dia mulai mengikat kayu bakar itu. Dia membuat kayu bakar dua ikat kayu bakar dengan lingkaran ikat yang besar.
Somsi sendiri bingung bagaimana dia akan mengangkat nya nanti. Sebelum pergi dia mengembalikan parang itu dulu. Lalu dia membawa satu ikat kayu bakar ke rumah nya.
Sangat berat terasa kayu bakar itu. Masih syukur bisa dia angkat ke kepala nya.
"Wah... kuat juga kamu," puji Bram.
Bram heran melihat Somsi membawa kayu bakar dalam lingkaran ikat yang besar.
"Kamu datang lagi gak?" tanya Bram tidak mendapat balasan.
Bram mengerti dalam posisi itu pasti sangat sulit untuk berbicara. Bram menunggu Somsi di tempat itu. Dia tahu selama ini kalau Somsi tidak pernah membawa kayu bakar satu ikat. Pasti dua ikat atau lebih.
Beberapa menit kemudian Somsi datang lagi untuk menjemput kayu bakar berikutnya.
Dia heran melihat Bram masih disitu.
Ngapain sih dia disitu?
"Kamu sudah datang ya... kamu lama sekali. Dari tadi aku menunggu kamu," ucap Bram.
Somsi tidak menghiraukanya. Dia tetap melangkah kan kaki nya berjalan menyusuri perjalanan ke tempat dia mengambil kayu bakar tadi.
Dia tidak tega melihatnya kemudian dia mengambil daun obat herbal alami yang ada di sekitarnya. Lalu menggosok daun-daun itu memakai kedua tanganya.
Dia menyuruh Somsi untuk mengehentikan langkah nya. "Berhenti sebentar!"
Somsi tidak mendengarnya tetap memilih berjalan.
"Berhenti sebentar. Kamu tuli ya," ucap nya dengan rada kesal.
Melihat Somsi tidak mau mendengar nya lalu dia marah.
Bram menarik tangan Somsi. "Kubilang berhenti ya berhenti. Kamu kenapa tidak dengar aku ha!..... sudah jagoan kah?" hardik Bram.
Somsi terlonjak kaget saat Bram menarik tangannya. "Kamu apa-apaan sih, lepaskan gak!" ucap Somsi ingin menepis tangan Bram. Tetapi tangan itu sangat kuat sekali. Dia tidak bisa melepaskan genggaman tangan Bram.
"Kenapa sih kamu gak mau mendengar perintahku... kalau kamu gak mau berhenti, aku akan cium kamu," ancam Bram.
Mendengar hal itu Somsi langsung berhenti. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada dirinya. "Oke."
Bram mengoleskan daun-daun itu ke kaki Somsi. Dia terlihat sangat hati-hati dalam melakukanya. Dia tidak ingin Somsi merasa
__ADS_1
kesakitan.
"Au.. sakit tahu," ketus Somsi saat Bram menyentuh luka kakinya.
"Kenapa kamu gak hati-hati dalam bekerja. Ceroboh sekali," celoteh Bram.
"Kamu kenapa peduli padaku. Kamu kenapa peduli padaku," gerutu Somsi.
"Lain kali, kalau bekerja itu hati-hati. Pakai mata!" seru Bram.
Eh suka-suka aku lah. Memang nya kamu siapa. Sok mengatur aku.
Bram meninggalkan Somsi sendirian. Dia pergi untuk mengambil kayu bakar Somsi. "Kamu tunggu disini. Jangan kemana-mana," perintah Bram.
Somsi menuruti perintah Bram.
Tapi dia tidak tahu kemana Bram akan pergi.
Mau kemana sih dia?
Bayangan Bram sudah tidak ada lagi. Somsi menunggu hampir satu jam tapi orang yang dia tunggu. Akhirnya dia beranjak pergi mencari Bram. Kalau dia menunggu sampai selama ini, bisa-bisa dia tidak sempat jualan nanti.
Padahal dia sudah berencana tadi ingin memasak mie gomak. Suara dari perut Somsi berbunyi. Tanda dia sudah sangat lapar.
"Aaa... kalau saja aku tidak mendengarkan nya. Pasti pekerjaanku sudah siap lalu makan," teriak Somsi.
Dia terus mencari kemana Bram pergi. Sudah sangat lama dirinya mencari pria itu sama sekali tidak ditemukan. Dia sudah sampai di tempat dia menaruh kayu bakar nya tadi. Tetapi dia tidak melihat siapapun orang disitu.
"Kemana sih dia pergi," lirih Somsi.
Sudah menunjukan jam 5 sore tapi dia tidak menemukan orang yang dia cari. Dia terus mencari dan berteriak memanggil nama Bram belum juga jumpa. Dia sudah sangat rugi dibuat oleh pria itu. Gara-gara nya Somsi tidak jualan lagi.
Dia terus memanggil dan memanggil hingga akhirnya dia mendengar suara Bram.
"Bram....!"
"Tolong! Aku tersesat......" teriak Bram.
Somsi pergi menuju ke arah suara yang dia dengar dan akhirnya dia menemukan Bram.
Somsi sangat kecewa. Hari ini dia tidak sempat memasak gorengan yang ingin di jualnya.
Bersambung.........
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate juga ya🙏