
"Bram, kemana kita akan pergi?" tanya Somsi yang mulai ketakutan dari tadi. Kecepatan motor itu diatas rata-rata, membuat hatinya nggak menentu. "Bagaimana ini?"
Seperti orang yang tidak mau mendengar atau bahkan tidak acuh sama sekali, Bram masih fokus lurus ke depan.
"Kamu kenapa Bram?" ucap Somsi lagi. Setelah beberapa menit mereka diam satu sama lain.
"Kita akan pergi ke suatu tempat yang belum pernah kau datangi," jawab Bram.
Mereka berhenti di sebuah rumah. Rumah yang kumuh, itulah yang mereka singgahi sekarang.
Ntah apa yang sedang dilakukan Bram, Dia mengangkat sebuah batu besar dari tempatnya semula, lalu memindahkannya ke tempat yang lain.
Somsi merinding ketakutan dengan sikap pria itu, perlahan air matanya menetes. Mengapa Bram bisa senekat itu membawa dirinya jauh dari rumahnya.
"Bram apa kita nggak pulang saja? Disini sangat gelap sekali."
Mereka memasuki rumah yang kumuh itu. Sangat mengerikan.
"Pegang tanganku."
Mereka tetap memasuki rumah itu. Banyak sekali kamar yang belum dipakai dan terlihat kotor serta catnya saja sudah terlihat pudar sebagian.
Karena Somsi jalannya lambat, membuat pria itu meraih tangannya dan membawanya masuk ke dalam kamar itu. Kamar yang bersih.
Berbeda dengan kamar yang lain. Ini seperti seseorang yang sering mengunjungi kamar ini.
Bugggh...
Bram menghempaskan tubuh Somsi ke dalam ranjang dengan kasar. Dia tersenyum licik.
"Kamu siapa?" tanya Somsi masih melakukan perlawanan kepada Bram. Dia sangat ketakutan. Jantungnya berdegup kencang.
Bagaimana bisa dia terperangkap dengan pria itu.
Plaak...!
Pria itu menampar Somsi. "Apa kamu berfikir kamu bisa dimiliki orang lain selain diriku, ha?! hardiknya. Pria itu sangat marah. Dia bahkan mengisyaratkan dari tatapan matanya yang tajam, seperti mau menghabisi wanita yang di depannya itu.
"Kamu kenapa Bram?" tanya Somsi sesenggukan. Air matanya mengalir kian deras. Tiada menyangka, nasibnya bakal menjadi seperti itu. Mau meminta tolong pun rasanya mustahil. Rumah itu jauh dari pemukiman warga.
__ADS_1
"Kenapa? kau takut?" ucap Bram padanya.
"Tolong pulangkan aku Bram?" pintanya.
Somsi berteriak lebih kuat lagi. Berharap seseorang menolongnya. Tangannya gemetar. Mulutnya pucat. Penglihatannya sekarang mulai kabur. "Bram lepaskan aku." ucapnya lalu pingsang.
"Ha! lemah sekali wanita ini."
Pria itu pergi ke sebelah kamar. Disana ia mengeluarkan sesuatu dari lemari. Sebuah pisau tajam sedang ia asah kan biar lebih tajam lagi.
Lalu ia masuk lagi ke kamar yang tadi. Menyalakan lampu yang tadinya ia matikan sebelum meninggalkan kamar itu. "Kamu akan mati."
Pria itu tertawa mengerikan. Dia mulai mendekati Somsi. Mengarahkan pisaunya ke wajah Somsi. "Apa aku akan melukai bagian sini? hahah." Dia tertawa lagi. "Bagaimana aku mencicipi tubuhmu yang seksi ini dulu?"
Dia bertanya kepada Somsi yang belum sadar itu. "Jawab cepat!" suaranya sangat besar. Namun Somsi belum bangun juga dari pingsannya.
Pria itu mulai mengerayangi tubuh Somsi. Dia melahap habis bibirnya. Mulai menelusuri bagian bra-nya. Memaksa membuka baju Somsi yang masih dalam keadaan tidak sadar itu. Belum sempat ia membuka, sebuah tangan menahan tangan itu. "Jangan!" perintah Somsi.
Wajahnya kini lebam. Akibat tamparan dari pria itu. "Aku mohon jangan lakukan itu!"
Pria itu tetap melaksanakan tabiat buruknya itu.
Somsi melakukan perlawanan tapi pria itu jauh lebih kuat darinya. Dia sudah tidak tahan. Hatinya hancur. Bagaikan teriris pisau. Seseorang tengah melecehkannya. Bagaimana nanti kalau pria ini mengambil keperawanannya. Harta yang ia jaga nantinya untuk suaminya tapi malah direnggut oleh pria itu. Dia menggapai pisau yang diletakkan pria tadi saat pria itu masih bermain ke bukit kembarnya itu.
Saat ingin menusuk pria itu, tiba-tiba tangannya dihentikan.
"Kamu pikir bisa melakukan itu?" Dia tersenyum licik. Bernafsu lebih hebat.
Usai menjilat bagian atas Somsi, perlahan wajahnya turun ke bagian perutnya. Tangannya masih meraba bagian bukit kembar itu, sedangkan mulutnya menjilati bagian pusarnya. "Uh..."
Pria itu melenguh kenikmatan. Dia menjilati tubuhnya Somsi dengan buas. Seakan ingin memasukkan miliknya ke milik Somsi. Melakukan penyatuan layaknya suami-istri.
"Uh..." Bram melenguh kenikmatan lagi. Belum puas dengan bukit kembarnya, ia kembali mengarahkan mulutnya. Menghisap dengan buas. Sangat nikmat.
Sedangkan Somsi sendiri hanya bisa menangis. Tidak bisa melakukan perlawanan' karena pria itu menindihnya kuat. Pria yang mirip dengan Bram.
Dia kembali ke bibir Somsi, lama ia bermain disana. Sangat puas. Bibir yang seksi dan menggoda. Dia menggigit bibir itu saat mengetahui pemiliknya hanya diam saja.
Somsi menutup matanya saat merasakan bibirnya digigit.
__ADS_1
Bibir Somsi berdarah. Perih yang ia rasakan saat ini. Kapan ia dapat perlindungan. Sudah tidak tahan dengan apa yang sudah pria itu lakukan padanya. Dan akhirnya dia pingsan lagi.
***
Bram kepikiran dengan Somsi. Berulang kali ia menelepon Siti tetap saja belum diangkat. "Kemana Siti saat ini?" gumamnya. Dia keluar rumah lalu menaiki motor Kawasaki dengan cepat ia menyalakan gasnya lalu pergi.
Sesampainya disana, ia bertanya pada warga. Karena tadi ia mengetok rumah Somsi dan tidak ada yang menyahut. Dia bertanya ke warga sekitar dan mengatakan kalau seseorang telah membawanya pergi. Dia mirip sekali dengan Bram.
Bram cepat menelepon polisi dan memberitahukan kepada polisi tempat yang akan ditujunya itu.
Dia melajukan gasnya kuat. Tempat itu sangat jauh dari pemukiman. Bram takut terjadi sesuatu pada Somsi.
Tiba-tiba ia menghentikan motornya karena seekor kucing berwarna hitam barusan lewat. Hatinya sekarang berkemucak tidak karuan.
Lama sudah ia membawakan motornya, akhirnya ia sampai. Dia mendobrak pintu dengan paksa. Seseorang telah menutupnya dari dalam.
Apa yang sudah dilakukan pria itu padanya? semoga aku menolongnya tepat waktu.
Barrr....
Pintu itu akhirnya terbuka. Bram berlari cepat-cepat, ia tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Kamar itu telah ia temukan.
Bugggh...
Pintu itu terbuka dengan sekali dobrak. Segera mendorong pria itu yang sedang menindih Somsi. Dilihatnya Somsi sangat menyedihkan.
Dia melayangkan tinjunya tepat dipelipis matanya. "Kenapa kau mengganggu dia?" ucap Bram penuh kemarahan. Dia hancur saat melihat orang yang dicintainya dalam keadaan menyedihkan seperti itu.
Pria itu tertawa. "Sangat menggelikan jika kau tetap seperti ini. Pura-pura tidak tau." Pria itu menatap tajam Bram. Seakan ada dendam masa lalu yang membuat hatinya melakukan itu. Dia sangat benci Bram. Itulah yang ada dipikiran pria itu. "Hentikan! atau aku akan..."
"Atau aku apa Bram? Atau aku apa ha?!"
Pria itu sangat emosi.
Bugggh...
Bram melayangkan tinjunya sampai pria itu tidak mampu lagi untuk melawan. Tanpa sepengetahuan Bram pria itu mengambil pisau tajam yang ada di meja ingin menusuk Bram dari belakang tapi ternyata, polisi pun akhirnya datang.
Tbc.
__ADS_1
Dukung Author dengan vote like dan komen. Bye bye.