Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Bab 9


__ADS_3

Somsi sudah sampai ke rumahnya. Dia langsung memasuki rumah. Gara-gara ulah Bram dia jadi terlambat sedikit untuk jam memasak.


Dari tadi dia sudah mengatur jam nya dengan sebaik mungkin. Somsi berkutat dengan bahan-bahan masakan. Dia tampak fokus dengan setiap pekerjaan yang dia lakukan.


Tidak lama semua pekerjaan nya sudah selesai. Orang tuanya juga sudah sampai. Yang dia heran kan adek nya tidak bersama dengan kedua orang tuanya itu. Dia tidak berani bertanya. Dia harus memastikan lebih dulu. Dia pergi melihat gorengan yang dia sisakan tadi untuk dibawa oleh adik nya kesawah. Gorengan itu masih ada ditempat biasa Somsi menyimpan.


"Ma.... dimana Friska?" tanya Somsi.


"Gak tahu nak dimana. Mama saja heran. Baru kali ini Friska tidak mau datang ke sawah," jelas bu Wati.


Somsi juga merasa heran. Dia tidak tahu kemana adek nya itu. Dia menjadi khawatir dengan keadaan adek nya itu. Dipikiran nya selalu muncul pikiran kalau adek nya di ganggu oleh orang-orang berandalan.


"Pa... gimana ini. Friska dimana pa?" tanya Somsi sudah merasa ketakutan.


"Papa juga tidak tahu nak," ucap pak Nius.


Dia takut adek kesayangan nya terjadi sesuatu yang menimpa nya.


Terlihat sekali dari wajah Somsi. Rasa takut nya sangat memuncak. Karena ketakutan nya itu. Dia lalu pergi mencari adek nya kemana pun sampai dia menemukan adek nya itu.


"Pa,ma. Somsi pergi dulu mencari Friska. Aku khawatir terjadi sesuatu pada nya," ucap Somsi.


Orang tuanya langsung menganguk iya. Mereka juga khawatir dengan keadaan putri nya. Tetapi tidak dengan Somsi.


"Kemana kamu dek?" tanya Somsi dalam hati nya. Dia sendiri tidak tahu kemana yang akan menjadi tujuan nya. Teman-teman Friska saja dia tidak tahu. Friska memang sekolah di kota. Sekolah Somsi dan Friska memang beda jauh.


Somsi sendiri sekolah di smp dan sma di area desa itu juga. Bahkan SD juga dia sekolah disana. Hanya di SD lah mereka sekolah di tempat yang sama.


Somsi pergi ke rumah Siti. Dia tidak tahu kemana mencari adek nya lagi. Hanya satu orang yang bisa membantu nya. Yaitu Siti teman nya itu.


Sesampainya di rumah Siti dia langsung mengetok pintu. Tidak ada sahutan kembali dia mengetok nya lagi. Siti pun datang dan membuka pintu.


"Ada apa Som... kenapa wajah mu terlihat panik?" tanya Siti merasa bingung.


"Begini Sit... adek aku sampai saat ini belum pulang ke rumah. Kamu bisa bantu aku gak," ucap Somsi.


"Kemana kita harus mencari nya Som?" tanya Siti tanda dia sudah setuju mau menolong Somsi.

__ADS_1


"Kita datang ke sekolah nya saja," ucap Somsi.


Siti menganguk. "Oke, ayo kita pergi mencari Friska."


Mereka akhirnya pergi mencari Friska. Tidak lupa Friska mengeluarkan kereta nya itu. Kereta itu adalah kereta dari hadiah ulang tahun nya dari papa tercinta nya.


Siti mulai menghidupkan mesin. Somsi yang masih pemula naik kereta memegang pundak Siti dari belakang dengan sangat kuat. Somsi takut kalau sampai dirinya terjatuh.


Melihat apa yang dilakukan oleh sahabat nya itu, Siti tersenyum heran. Dalam pikiran nya baru ini dia menemukan sahabat yang dibawah rata-rata. Siti juga bukan orang yang pemilih teman.


Dia suka berteman dengan orang-orang mulai dari yang tertinggi sampai ke yang lebih rendah. Karena bagi nya dia hanya lah manusia biasa yang terlahir dari keluarga kaya.


Siti melajukan kereta nya secepat mungkin agar mereka tidak terlalu lama sampai di sekolah nya Friska.


Kalau naik angkot yang lambat, cukup satu jam kesana. Sedangkan kalau naik angkot yang cepat butuh waktu setengah jam.


Siti melajukan sangat kencang. Dia terus mempercepat gas kereta nya itu.


Somsi yang merasa sangat takut lebih memegang Siti dengan sangat kuat. Tadi dia hanya memegang Siti dengan satu tangan hingga menjadi dua tangan.


Mereka akhirnya sampai di sekolah Friska. Somsi langsung turun lalu berlalu meninggalkan Siti. Siti akan menyusul nya dari belakang. Somsi yang merasa bingung dengan area sekolah itu. Sekolah nya Friska sangat luas.


Siti langsung mengajak keruang guru. Dia takut membawa keruang kepala sekolah karena itu adalah tingkatan paling tinggi. Mereka tidak mungkin langsung pergi keruang kepala sekolah sedangkan yang dibawah kepala sekolah masih ada.


Tok... tok... tok....


Somsi mengetok pintu. Ternyata tidak ada orang. Mungkin semua guru sudah pulang. Lalu Siti membawa Somsi keruang kepala sekolah. Itu lah nanti yang menentukan apakah sekolah masih buka sampai saat ini.


Tetapi masih saja sama dengan ruang guru. Kosong tidak ada orang di dalam nya.


Somsi dan Siti pun ingin segera pulang. Mereka takut nanti dikira pencuri di sekolah itu. Apa lagi mereka bukan orang yang pernah menginjakkan kaki di sekolah itu.


Lalu Siti melihat seorang satpam yang tertidur pulas. Mereka langsung datang menghampiri nya.


Dengan keadaan tampak segan. Somsi berani membangunkan satpam itu.


"Pak.... ," ucap Somsi.

__ADS_1


Tidak ada sahutan kembali Somsi mengucapkan kata yang sama.


"Pak...," ucap Somsi lagi.


Satpam itu tetap tidak bisa bangun.


"Sit... gimana ini?" tanya Somsi pada Siti bingung.


"Bangunkan sekali lagi Sit... kalau dia tidak bangun juga. Maka kita harus persiapkan diri untuk membangunkan dengan suara keras," jelas Siti.


Kok gak bangun-bangun sih.


"Pak....," Kali ini Somsi membangunkan satpam itu dengan menggoyangkan tubuhnya pelan.


Tetap saja tidak ada hasil. Lalu Siti yang bertindak sikap. Dia menggoyang tubuh satpam dengan kuat. Dia juga mengeluarkan suara nya sangat keras.


"Pak........ bangun..............................," teriak Siti.


Satpam itu akhirnya bangun.


"Apa-apaan kalian... berani sekali membangunkan saya ha.... Kalian siapa? ha... yang saya perhatikan dari penampilan kalian, Kalian bukan siswa dari sekolah ini. Jadi siapa kalian! Apa maksud dari tujuan kalian. Biar saya tahu lebih jelas maksud kedatangan kalian. Kalian akan saya bawa kekantor polisi," hardik satpam.


Somsi dan Siti merasa takut dibawa kekantor polisi. Atas dasar kesalahan apa yang mereka perbuat harus masuk ke kantor polisi.


Dasar tuli...


"Pak... maaf kan kami. Kami han-" suara Siti terputus saat satpam itu memotong perkataan Siti.


"Saya tidak mau tahu. Kalian harus jelaskan dikantor polisi nanti," ucap satpam itu.


"Tapi pak... bapak harus dengarkan kami lebih dulu lah... jangan ambil tindak sepihak pak," kata Siti dengan sangat marah.


"Tindak sepihak apa... kamu pikir ini debat pengacara. Hahahhahaha," Satpam itu tertawa sinis.


Bersambung.........


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen.


__ADS_2