Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Bab 6


__ADS_3

Melihat Somsi yang berlalu meninggalkannya. Bram sedikit terkejut dengan sikap Somsi. Dulu waktu kecil, Somsi tidak pernah malu padanya dan juga tidak pernah meninggalkannya ditengah jalan seperti itu.


Mereka selalu bermain bersama, bercerita bersama, bahkan mandi sungai barengan.Tapi kali ini beda. Somsi tidak seperti dulu lagi. Dia juga tidak lagi bermain bersama Somsi kalau bukan dirinya yang datang dan mengusili nya.


Kamu tidak seperti dulu lagi.


Lalu Bram mengingat apa yang telah dia lakukan barusan. Dia mengingat saat menyuruh orang-orang untuk membeli jualan Somsi. Dia senang bisa selalu menolong Somsi.


Dari dulu sampai sekarang memang dia tidak pernah tidak menolong Somsi selagi dia masih bisa.


Karena merasa kasihan pada Somsi yang dari tadi jualan nya tidak laku. Bram memang anak orang kaya. Di desa itu memang keluarga Bram terlihat kaya. Lain dengan hal nya di kota.


Begitu saja wajahnya terlihat cantik. Apa lagi kalau dia senyum. Bisa-bisa terbang nih jantung aku.


Bram juga memakan bakwan sisa jualan Somsi yang telah diterimanya sebagai tanda terimakasih.


Dia begitu terkejut dengan rasa bakwan itu. Rasanya memang beda dari jualan-jualan orang yang pernah dia rasakan. Dia semakin percaya kalau dia memang tak salah memilih Somsi sebagai pujaan hatinya.


Somsi yang berlalu meninggalkan Bram tadi telah sampai dirumahnya. Dia meletakkan Keranjang bakwan nya yang sudah habis. Hanya minyak dari bakwan itulah yang masih ada. Begitu lah. Memang setiap orang siapa pun dia pasti kalau gorengan nya habis hanya meninggalkan minyak dari gorengan itu.


Somsi pergi kedapur untuk memasak. Dia ingin saat orang tuanya pulang makanan sudah siap disantap. Sebelum memulai kegiatan memasak dia melihat isi drum. Drum memang terisi banyak air.


Somsi berkutat dengan bahan-bahan masakan. Dia tampak fokus dengan setiap pekerjaan yang dia lakukan. Somsi juga membuatkan kentang goreng spesial untuk orang tuanya dan juga adek nya karena jualan satu hari ini memang sangat spesial baginya.


Dia begitu senang dengan hasil jualan nya tadi. Semua jualannya habis terbeli padahal dia baru pertama kali jualan.


Tidak lama lagi pekerjaan Somsi dalam hal memasak sudah hampir selesai. Pekerjaan selanjutnya yang akan dia lakukan tinggal mencuci kain dan menunggu orang tua dan juga adek nya dari sawah.


Saat memasukkan air panas ke dalam termos. Air panas itu mengenai tangan Somsi. Terasa sangat sakit dan perih yang dirasakan oleh Somsi saat itu. Tapi dia tidak mengeluh. Dia membiarkan tangan nya seperti itu.


Kegiatan memasak nya sudah selesai dan kini dia kembali fokus pada kegiatan mencuci baju.


Rasa sakit dan perih pada tangan Somsi masih terasa. Dia ingin sekali menangis tapi dia menahannya.


Dia selalu mensupport dirinya sendiri untuk tidak mengeluh. Lalu untuk apa selama prinsip yang telah dia buat untuk tidak mengeluh selama ini.


Apakah hanya gara-gara hal kecil saja akan merusak prinsip yang telah dia tetapkan. Somsi memang mempunyai prinsip dalam dirinya kalau dirinya tidak boleh mengeluh atas apapun yang telah terjadi.


Semua pekerjaan sudah dia kerjakan. Dia hanya perlu menunggu orang tua dan adek nya pulang dari sawah. Adek nya pada saat pulang sekolah langsung pergi kesawah untuk membantu orang tua mereka. Meski adek nya terbilang sangat lambat dalam melakukan sesuatu tapi dia tidak berhenti sebelum pekerjaan nya selesai.


...****************...


Sudah menunjukkan jam 06:00 sore. Orang tua Somsi dan juga adek nya akhirnya pulang.


"Ma,pa... Somsi telah menyiapkan air hangat untuk kalian," ucap Somsi.


"Iya nak. Makasih ya... sudah membuatkan mama dan papa air hangat," ucap Bu Wati.


Somsi memang sudah menyiapkan air hangat dari tadi. Dia tidak tahu air itu masih hangat atau tidak. Air itu dia buat saat semua pekerjaan nya telah siap.


"Dek... kamu gak mandi?" tanya Somsi.


Dia melihat adek nya tertidur saat pulang tadi. Kebiasaan adek nya memang seperti itu. Setiap merasa lelah dia memilih untuk tidur.


"Dek... kamu gak mandi?" tanya Somsi lagi. Dari tadi tidak ada sahutan dari adek nya itu.

__ADS_1


Hu... pasti dia sedang tertidur.


Lalu dia mulai berpikir akan apa yang dia lakukan untuk membangun kan adek nya itu. Dia pergi kedapur untuk mengambil satu sendok garam dan bulu ayam.


Dia datang menghampiri Friska. Somsi memasukkan garam empat biji kedalam mulut Friska yang terlihat mulut nya sedang terbuka. Kebiasaan Friska tidak menutup mulut saat tidur.


Garam yang bisa dibeli oleh keluarga Somsi adalah garam kasar. Sedangkan garam halus sudah terbilang sangat mahal dari garam kasar.


Tidak juga bereaksi lalu Somsi memasukkan bulu ayam kedalam telinga Friska. Friska hanya bergerak saja dan masih tertidur. Rencana terakhir adalah memasukkan bulu ayam kedalam hidung adek nya. Kalau dia masih gagal berarti adek nya adalah seorang alien.


Somsi mulai memasukkan bulu ayam kedalam hidung Friska.


Achew....


Friska menutup mulutnya saat bersin. Terasa gatal pada hidungnya itu.


Kakak.....................................................


Friska terbangun dan berteriak histeris.


Somsi yang melihat tingkah adek nya tertawa terbahak-bahak. Rencana nya sudah berhasil.


"Kakak kenapa gang-" Suara Friska berhenti saat merasakan sesuatu dalam mulutnya.


Bwek...........


Suara orang memuntahkan sesuatu.


"Asin kali....." Friska berteriak lalu pergi kedapur untuk mencuci mulutnya. Sudah berapa kali dia mencuci mulutnya tetap saja rasa itu masih ada.


"Friska.... kamu kenapa?" tanya bu Wati.


"Iya nak. Kamu kenapa? kok ribut sekali. Pakai berteriak lagi. Nanti dikira tetangga terjadi apa-apa pada kita," ucap pak Nius.


"Ini ma,pa. Kakak mengganggu aku saat tidur. Dia memasukkan garam ke mulutku dan menggelitik aku dengan bulu ayam ma,pa.... kasih kakak hukuman deh," adu Friska.


Bu Wati dan pak Nius tertawa bersamaan. Mereka sendiri setuju dengan apa yang dilakukan Somsi.


" Hahahahahahah...... Salah Friska sendiri dong nak... kenapa kebiasaan tidur," ucap bu Wati tertawa mengeledek putrinya itu dengan diikuti pak Nius. Mereka tertawa bersamaan dari dalam kamar mandi.


"Ahk.... mama dan papa malah menertawakan Friska. Hikss... Hiksss....," Friska pura-pura menangis.


"Jangan percaya deh ma,pa... Friska hanya pura-pura menangis. bee!" Somsi mengeluarkan lidahnya untuk mengejek adek nya itu.


"Mama.... papa..... lihat kakak. Dia selalu mengganggu Friska.... hukum kakak ma,pa... ya ma... pa.... hukum kakak dia sudah mengganggu Friska dari tadi," rengek Friska.


Tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi Friska pun merasa kesal dengan mama dan papa nya itu.


Bu Wati dan pak Nius sudah siap mandi. Mereka keluar dan berlalu pergi kedalam kamar.


Sedangkan Friska masih duduk dilantai dapur diam mematung.


"Dek....kamu gak mandi? sudah bau gini gak mau mandi," ucap Somsi.


"Gak," kesal Friska.

__ADS_1


"Yaudah deh... kakak minta maaf," Somsi akhirnya meminta maaf pada adek nya. Kalau dia gak minta maaf, bisa- bisa adek nya gak mau mandi. Kan yang rugi nanti dirinya karena mereka tidur bersamaan dan mencium aroma busuk dari Friska.


Friska tersenyum. "Oke... kan gitu bagus. Hahahhahahah."


Friska sangat senang melihat kakak nya minta maaf. Dari dulu sampai sekarang kakaknya masih belum berubah. Selalu meminta maaf duluan meski hal itu terlihat sepele.


Somsi sendiri telah menyiapkan makan malam didepan. Dia meletakkan makanan diatas lantai beralaskan tikar.


Mereka semua sudah siap ingin menyantap makanan tapi karena Friska belum keluar dari kamar memakai baju. Terpaksa mereka menunggu lagi meski perut sudah berbunyi.


Friska akhirnya keluar dan datang menghampiri untuk makan. Mereka semua sudah siap untuk berdoa. Kali ini Friska yang memimpin doa.


Selesai makan, Setelah Somsi dan Friska mengembalikan piring-piring kotor kedapur. Seperti biasa mereka pasti bercerita. Yang bercerita kali ini adalah pak Nius. Ditengah keasikan bercerita, tiba-tiba lampu mati.


"Pa,ma... gelap... Friska takut," ucap Friska. Memang Friska sangat takut dalam kegelapan.


"Nak.... pergi beli lilin ke warung," ucap pak Nius menyuruh Somsi.


"Baik pak," Somsi berlalu meninggalkan mereka dan pergi ke warung.


Di warung itu nampak seseorang yang ketika melihatnya Somsi ingin segera menghindarinya.


"Heii kamu mau kemana?" tanya pria itu saat melihat Somsi ingin pergi.


"Gak kemana-mana," ketus Somsi.


Bram tersenyum. "Kok kita selalu bertemu ya... atau jangan-jangan kita jodoh kali ya," gombal Bram.


Cie ........


Ucap salah satu pria yang sedang membawa lilin yang sudah dibelinya.


"Kalian memang cocok," ucap pria itu. Lian namanya. Teman akrab Bram.


"Apaan sih... gak jelas," ketus Somsi lalu pergi meninggalkan dua pria itu.


"Pak... dua biji lilin nya pak..." Lirih Somsi dengan menyunggingkan senyum.


"Maaf nak. Sudah habis lilin nya," ucap penjual warung. Somsi bingung mau gimana lagi. Kalau dia pergi ke warung lain, warung itu sangat jauh. Kalau dalam keadaan terang dia akan pergi. Tetapi ini sudah malam dan sangat gelap. Dia takut seseorang mengganggunya ditengah jalan nanti.


"Habis ya... sudah ini ambil lah," ucap Bram menyodorkan lilin ditangan nya. Bram membeli dua bungkus lilin. Dia ingin berbagi satu bungkus pada Somsi karena kasihan atau apalah itu.


"Terima saja.... gak usah malu-malu," ucap Lian.


Somsi menerima lilin itu. "Ya sudah deh... makasih nya."


Somsi meninggalkan dua pria itu. Bram sangat senang sekali Somsi mau menerimanya. Dia selalu memperhatikan Somsi yang semakin jauh dari pandangan.


"Cie........ ada yang lagi jatuh cinta ni....," teriak Lian.


Bram terkejut dengan suara Lian. Ingin segera dia menjahit mulut teman nya itu.


Bersambung.......


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen.

__ADS_1


__ADS_2