Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Bi Surti yang lucu


__ADS_3

Somsi pun menyalami tangan ibunya Bram sambil memperkenalkan dirinya.


"Nama saya Somsi Tan, saya tinggal di kampung sebelah," ucap Somsi sopan sambil tersenyum tulus.


"Owh kampung sebelah. Perkenalkan juga, nama ibu adalah Tere. Panggil aja tante Tere."


Somsi menganguk. Setelah mereka perkenalan, bu Tere mengajak untuk duduk.


Dengan senang hati, Somsi menurut duduk bersama Bram dan juga bu Tere.


Ayahnya Bram tidak ada di sana. Mungkin sedang bekerja.


Ibu Bram orang uang sangat ramah, jadi Somsi dianggap sebagai tamu yang paling istimewa.


"Nak... sudah berapa tahun kalian pacaran?" tanya bu Tere.


Hal itu justru membuat Somsi kikuk mau menjawab apa.


Apa? pacaran? sejak kapan aku dan Bram pacaran. Ditembak aja belum pernah. Ya pernah sih.... tapi itu kan aku belum katakan apa-apa pada Bram. Hu, ada yang tidak beres ini.


"Ta-tante, aku dengan Bram be-"


Bram tiba-tiba memotong kalimat Somsi. "Berdua sudah lima tahun ma pacaran."


Sontak membuat Somsi tercengang akan perkataan Bram.


5 tahun? astaga... kapan Bram? kita aja belum jadian.


Semakin membuat Somsi merasa heran akan penjelasan Bram mengenai hubungan mereka pada bu Tere.


Bu Tere tersenyum manis pada Somsi. "Wah, sudah lama ya nak. Ternyata kamu lah yang sudah mengambil hati Bram. Selama ini Tante belum tau kalau kalian pacaran."


Memang benar, Bram yang terlihat cuek kalau ada teman-temannya sedang membahas pacar mereka sendiri di depan Bram. Apa lagi kalau bu Tere menyuruh Bram untuk pacaran, Bram langsung mengeryitkan dahi dan menjauhi bu Tere kalau sedang membahas Bram untuk pacaran.


"Baru ini tante melihat pacar anak tante. Dari sekian banyak wanita yang tante pilihkan untuk Bram, sedikit pun Bram tidak meliriknya. Dan sekarang yang di depan tante adalah kamu Som. Kamu sangat cantik. Pilihan Bram memang tidak salah."


Bu Tere terus memuji Somsi. Sedangkan Somsi sendiri bingung. Dia sendiri tidak tau kalau Bram sudah menganggapnya sebagai pacar.


Aduh, gimana ini..... Bram kok katakan aku pada ibunya sebagai pacar. Lalu aku akan jawab apa?


Somsi tidak tau mau jawab apa lagi. Dirinya sekarang dilema. Bukan dilema karena sebuah rasa, tapi dilema karena kebingungan yang datang padanya seketika.


Bram dari tadi memperhatikan Somsi. Dia tertawa kecil dalam hatinya. Ia melihat wajah yang tadinya biasa saja, berubah menjadi cemberut.


Ha ha ha ha ha ha..... lihat wajahnya sangat lucu.

__ADS_1


"Sayang.... kenapa kau cemberut?" tanya Bram.


Sayang?


Dengan mata melotot Somsi menjawab. "Sayang? si-siapa sayang-"


Bram dengan sigap menutup mulut Somsi. Membuat Somsi tidak bisa bicara lagi.


"Sayang kok banyak bicara," ucap Bram melepas tanganya dari mulut Somsi, sambil mengelus rambut Somsi manja.


Apa ini... Bram berhenti bercanda!


Somsi ingin segera menghempas tangan Bram dari rambutnya. Tapi apa yang harus dilakukannya, Bram seketika mendekatkan tubuhnya kepada Somsi. Dan membuat satu tanganya pada pinggang Somsi. Sebagai ancaman buat Somsi kalau ia bicara lagi, Bram akan mencubitnya.


Somsi menatap Bram dengan sayu mata yang lembut tapi dibalas oleh Bram dengan tatapan yang tajam. Sebagai kode untuk tidak banyak bicara lagi.


Bram... apa-apaan ini. Kenapa ia berbohong pada ibunya, kalau kami sedang pacaran. Apa yang sudah direncanakan oleh Bram?


Banyak sekali pertanyaan yang ingin dipertanyakan oleh Somsi pada Bram. Mengenai kebohongan Bram pada ibunya dan apa tujuannya.


Somsi ingin jujur pada ibunya Bram tapi Bram tidak membiarkannya.


"Ma.. kami ingin pergi kencan," ucap Bram santai.


Bu Tere pun memanggil bibi yang bekerja di rumah Bram, segera menyuruh agar di siapkan makanan dan minuman untuk mereka.


"Bi Surti... buatkan makanan untuk kami ya," teriak bu Tere.


Bi Surti menjawab dari dapur dengan suara keras. "Iya Nyonya."


Somsi, Bram dan bu Tere saling bercerita satu sama lain.


Sedangkan bi Surti sedang sibuk dengan apa yang akan dibuatnya untuk makanan yang disuruh oleh majikannya itu.


"Tadi Nyonya suruh aku apa ya," ucap bi Surti lirih.


Bi surti bingung dengan apa yang akan dia lakukan. Dia lupa kalau Nyonya tadi meminta agar segera di hidangkan makanan.


"Apa Nyonya minta kain pel ya? sepertinya iya. Karna tadi kan di meja ada air yang tumpah dibuat oleh wanita jelek itu. Eh kain pel, bukan. Kain lap. Ya kain lap. Aku akan bawa segera kain ini," lirih bi Surti yang masih sibuk berpikir.


Sambil mengambil kain lap yang sudah ia pikir itu pasti yang diminta oleh Nyonya ya.


Dia malah menjadi lebih bingung dengan apa yang akan dia lakukan. Dengan kain lap yang ada di tanganya, memandang penuh kain itu dan bertanya-tanya dalam hati.


Oh kain lap, apakah kau yang di minta oleh Nyonya tadi? Apa iya kau? Beri aku bukti kalau kau memang di minta oleh Nyonya.

__ADS_1


Bi Surti yang sibuk berpikir dan tidak mengingat kalau ia sudah terlalu lama di dapur dan tidak segera menghidangkan makanan untuk Nyonya ya.


Sedangkan di ruang makan, bu Tere terus melirik pada jam tanganya. Sekali ia menatap pada Somsi dengan menunduk merasa malu. Sebab orang yang di suruh dari tadi tak kunjung datang.


Bu Tere mengulang kembali memanggil bi Surti. " Bi.... kenapa lama sekali?" teriak bu Tere lagi dari ruang makan.


Mendengar suara bu Tere yang memanggilnya, bi Surti tergesa-gesah membawa kain lap yang sudah ia pikir kalau itulah yang di minta oleh Nyonya nya.


"Iya Nyonya bentar, saya akan datang."


Perasaan yang tergesa-gesah tadi dia optimalkan kembali. Sekarang ia berjalan dengan santai dengan membawa kain lap yang ada di tanganya.


Dia kadang senyum, kadang bernyanyi dan kadang bicara sendiri.


Sesampainya, dia langsung menyerahkan kain lap itu dengan rasa percaya diri yang telah ia kumpulkan dari tadi.


"Nyonya, ini kain lap yang Nyonya minta," ucap bi Surti sambil tersenyum lebar. Rasa percaya dirinya semakin memuncak.


Karena dari tadi bu Tere asik bicara dengan Somsi, lalu ia mengambil kain lap itu.


Bi Surti pun bahagia sekali. Ternyata benar, kalau Nyonyanya meminta kain lap itu.


Kan benar.... aku tak mungkin salah. Sudah jelas-jelas aku dengar Nyonya meminta kain lap itu.


Bi Surti dengan bangganya kembali ke dapur lalu mulai melakukan aktivitas ya lagi. Seperti biasa beres-beres rumah sampai semua siap.


Bu Tere yang tengah berhenti berbicara dengan Somsi, melihat tanganya memegang kain lap.


Sontak bu Tere berteriak histeris pada bi Surti yang sudah kembali ke dapur dari tadi. "Bi Surti...........!"


"Iya Nyoya," jawab bi Surti dari dapur dengan perasaan takut. Hatinya sekarang berdegup kencang. Ia tidak tau mengapa Nyonya ya berteriak, yang jelas perasaan ya sudah mulai takut.


"Kesini!" perintah bu Tere dengan nada marah.


Bu Tere sudah kesal sekali melihat bi Surti yang tidak menjalankan pekerjaan ya dengan baik. Dengan perasaan yang memuncak dalam hatinya, membuat seisi ruangan itu di penuhi teriakan ya.


Di sisi lain dalam posisi diam, Somsi tertawa dalam hatinya melihat apa yang sudah di lakukan oleh bi Surti.


Ha ha ha ha ha ha ha.... bi Surti sangat lucu. Siapa yang sedang meminta kain lap sih? ha ha ha ha ha ha... pantasan ibu Bram tambah awet muda.


Bersambung................


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya 😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2