Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Pernyataan cinta Bram


__ADS_3

"Kau tertawa!"


"Emang gak boleh ya," ucap Somsi dengan wajah cemberut.


Bram menatap kesal pada Somsi, ia berubah seketika saat Somsi menertawai ya.


Dia kenapa sih, aneh bangat.


Somsi tidak memperdulikan Bram mau gimana, ntah mau marah atau kesal padanya. Yang jelas dia tidak berbuat suatu kesalahan, hanya Bram lah yang terlalu bawa perasaan.


"Cepat naik!"


Somsi hanya menurut naik ke motor Bram. Ia bingung harus berbuat apa. Kalau memang ia melakukan kesalahan, Bram kan cukup bilang saja. Apa ruginya coba.


Bram melajukan motornya dengan cepat. Gas yang melebihi batas pemakaian. Karena melihat Bram marah tanpa sebab, Somsi hanya diam.


"Pegang yang erat. Atau kau mau terjatuh!" tegas Bram melirik dari kaca spion.


Aneh bangat ini orang. Kalau gak ikhlas bawain aku, ya turunkan saja, apa susahnya juga dengan mu. Tapi tunggu! aku tidak mau di turunkan disini. Disini sangat seram.


Somsi diam terpaku melihat dari kanan dan juga dari kiri setiap perjalanan yang mereka jalani. Terlihat sangat sepi. Somsi mulai takut kalau terjadi sesuatu padanya.


Bagaimana kalau Bram melakukan sesuatu untukku. Oh Tuhan tolonglah aku.


"Kau memikirkan apa!" ucap Bram.


Somsi terkejut dengan sifat Bram berubah dalam sekejap. Terlihat dingin dari sorot tatapan ya tajam terlihat jelas dari kaca spion saat Somsi diam-diam meliriknya.


Kok ucapannya berubah seperti mau memakan mangsanya.


"Tidak ada," ucap Somsi yang mulai takut pada Bram.


Bram hanya diam fokus meluruskan pandangan pada tiap jalan yang akan di lalui.


Sedangkan Somsi sendiri diam terpaku dan memaki Bram dalam hatinya.


Dasar buaya darat. Suka berubah. Eh, buaya darat gak, bukan. Dasar bunglon gak tau diri.


Sibuk dengan segala makian ya pada Bram, sampai ia tidak tau kalau mereka sudah sampai.


"Turun!" ucap Bram singkat.


Dengan cepat Somsi menjawab sambil menjulurkan lidahnya. "Iya! tunggu sebentar, kok kau jadi tukang maksa sih. Bwee..."


Ha ha ha ha ha ha ... dasar betina. Emang enak aku cuekin.


Bram tersenyum licik melihat Somsi yang dari tadi memasang wajah cemberut. Dari tadi Somsi menjawab Bram bergetar. Terasa bagi Bram tangan Somsi terasa dingin dan bergetar ketika ia merem motornya tiba-tiba.


Pada saat itu Somsi langsung memegang tanganya.


Somsi berjalan cepat dan ingin meninggalkan Bram seorang diri. Dan ia kembali lagi saat ia melihat banyak sekali orang di sana. Ya tempat itu sangat ramai. Pantai Kutai. Tempat dimana sepasang kekasih berpadu kasih di sana.


"Bram cepat..... aku malu," rengek Somsi.


Ha? malu... ha ha ha ha ha ha..... sejak kapan wanita seperti mu punya rasa malu.


Bram langsung bicara ketus menjawab Somsi. "Ikuti aku!"


Somsi pun mengekor dari belakang, mengikuti Bram dari belakang menuju tempat yang akan mereka singgahi.


Kemana Bram akan membawa aku?

__ADS_1


Seketika Bram berhenti di pondok termewah yang ada di sana. Banyak sekali pondok yang mereka lewati, lebih murah dan pengeluaran tidak terlalu banyak. Tapi Bram malah memilih tempat yang mahal itu.


Somsi menatap pondok itu. Dihiasi sangat indah, sehingga orang yang menatapnya terkesan dengan hiasan pondok itu. Maka dari hiasan yang juga segala keperluan lengkap di sana tanpa harus pergi lagi untuk membeli sesuatu.


Seorang pelayan langsung datang dan bertanya apa yang akan mereka pesan.


"Mau pesan apa bang?" ucap pelayan itu sambil tersenyum. Wanita yang sangat cantik menjadi seorang pelayan.


Cantik sekali pelayan ini... kenapa ia harus menjadi pelayan. Seharusnya ia menjadi seorang model.


"Kami mau memesan bakso dan pizza. Semua makanan yang ada di sini saya pesan masing-masing 4 porsi."


4 porsi? siapa dua orang lagi....


"Bram sudah gila ya," gumam Somsi tapi suaranya terdengar juga di telinga Bram.


"Apa kau bilang?" ucap Bram mengagetkan Somsi.


"Tidak ada."


Somsi tersenyum getir pada Bram. Beberapa menit kemudian, Lian dan Siti datang menaiki motor bersama.


"Somsi....." Teriak Siti sesudah turun dari motor.


Somsi melihat ke arah suara yang memanggilnya. Dia heran mengapa Siti dan Lian bisa datang bersamaan.


"Siti.... kamu ngapain disini? bukannya kau mau daftar kuliah?" tanya Somsi yang cukup heran dengan kehadiran sahabatnya itu.


"Kami di udang Bram," jawab Siti.


Somsi melirik Bram dengan tatapan tidak suka. Setelah semua yang ia lakukan tadi, masih sempat-sempatnya ia tertawa.


Somsi memutar matanya malas. "Dasar pria aneh."


Bram tertawa melihat tingkah Somsi yang berubah-ubah. Kadang sok feminim, kadang sok tomboy dan kadang sok manja deh.


"Oh ayolah, mau sampai kapan kami harus menonton kalian bertengkar?" ucap Siti dengan sedikit tertawa.


"Hmm..." jawab Somsi.


"Kenapa kau sangat cuek sekali pada sahabat mu sendiri, uda nampak ya... kalau kau itu sebenarnya bukan wanita baik-baik, tapi sebenarnya kau adalah wanita sombong."


Bram mengeluarkan senjata akhirnya untuk membuat Somsi kikuk tidak bisa menjawab.


Apa iya aku sombong. Dari mana ya coba?


Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore, mereka pun makan dengan lahap. Siti menceritakan mulai awal ia pacaran dengan Lian.


"Owh ternyata kalian baru jadian?" tanya Somsi.


"Iya Som."


Somsi tersenyum smirk. "Wah kalau gitu Lian harus traktir aku nih...."


"Traktir apaan?" ucap Bram menatap kesal.


"Ya traktir makanlah masa traktir kamu. Emang kamu bisa diapain? ha ha ha," jawab Somsi sambil tertawa.


"Wah kamu sudah berani menertawai aku, awas kau ya," ancam Bram sambil tersenyum licik.


Somsi heran dengan sikap Bram. Dari tadi matanya menandakan kalau ia sedang merencanakan sesuatu. Tapi apa?

__ADS_1


"Som... kau kapan sih punya pacar?" tanya Siti.


Sontak membuat Somsi kaget. "Ehem, kenapa kau bertanya itu Sit?"


"Yah aku pengen kita double date lah. Apa Bram tidak mau menembak mu? is... Bram bukan pria sejati ya wkwkwkw," ngeledek Siti melihat ke arah Bram.


"Hei... berhenti mengejek aku. Ada saatnya aku akan menembak Somsi lagi tanpa ada penolakan dari Somsi."


Dengan bangganya Bram mengatakan hal itu. Seperti pria yang memiliki kekuatan sendirinya meski ditolak berkali-kali tetap bangkit untuk mencoba berusaha menggapainya lagi.


Setengah jam kemudian, tiba-tiba musik dinyalakan dan semua yang ada disana sangat senang. Ada yang mulai menari kesana-sini, berdansa pada lawan jenisnya, dan ada yang bernyanyi dengan suara merdu. Alunan musik yang meriah dan enak di dengar.


Suara orang yang bernyanyi itu membangkitkan gairah Somsi yang selama ini ia pendam dan ditutupi kini terungkap.


Segera Somsi mengambil mikrofon dan bernyanyi dengan suara merdu. Orang-orang yang mendengar suara Somsi tatkala takjub seorang diri membayangkan kalau dirinyalah yang sedang bernyanyi.


Somsi menyanyikan sebuah lagu yang Baru saja terkenal di kalangan masyarakat.


Selesai Somsi bernyanyi semua orang bertepuk tangan dengan sangat meriah, mengagumi suara Somsi yang sangat merdu. Terlebih Bram ia sangat menyukai suara Somsi. Dan ia tidak mau melewatkan kesempatan yang ada, ia segera menghampiri Somsi.


Dengan keberanian apa yang telah ia kumpulkan saat ini. Ia segera menembak Somsi di tengah orang banyak itu. Mengungkapkan perasaan yang selama ini ingin ia nyatakan pada Somsi.


Bram dalam posisi berlutut dan meraih tangan Somsi.


Apa yang sedang di lakukan Bram. Tolong hentikan Bram aku malu.


Jantung Somsi berdegup kencang, ia malu dengan apa yang sudah di lakukan Bram.


"Som, Setiap kali aku bersamamu, aku tidak bisa menghindarinya. Satu-satunya alasan adalah aku senang bersamamu sepanjang hari dan membuat segalanya seperti duniaku saja. Apakah kamu mau menjadi pengisi duniaku sebagai kekasih hatiku?" ucap Bram dengan kata yang sangat romantis.


Sontak membuat jantung Somsi ingin copot saat itu tapi tidak di perlihatkan oleh Somsi.


Terima......... terima... terima......


Teriak semua orang yang menyaksikan Bram mengungkapkan perasaan ya kepada Somsi.


"Som...... terima saja," teriak Siti, sahabat Somsi.


"Iya Som...... terima saja cintanya Bram. Bram orangnya baik dan tulus, aku jamin kamu pasti bahagia." seru Lian lagi.


"Bram aku padamu......" teriak Lian lebih keras.


"Maaf Bram, aku tidak bisa menerima cintamu," jawab Somsi lalu menjauh dari Bram.


"Tapi kenapa Som?" tanya Bram. Hatinya sekarang terasa sakit ketika Somsi masih menolaknya.


"Aku punya alasannya Bram."


"Apa Som, apa?" air mata Bram sudah menetes di pipinya. Tapi ia tidak menyerah dan berkata, "Som... aku akan siap menunggu sampai kau bisa menerima cinta ku nanti."


Somsi yang mendengar Bram yang masih belum menyerah, membuat hatinya terasa sakit dan perih. Sebenarnya ia mau menerima cintanya Bram, tapi ia takut masa lalu terulang kembali dan harapannya untuk membahagiakan ayah, ibu, dan juga adeknya akan sirna. Ia takut gara-gara pacaran ia jadi lupa dengan tujuannya yang selama ini ia perjuangkan.


Tiba-tiba Somsi kepikiran dengan dagangan yang sudah ia lupakan. "Dagangan ku Bram, ini sudah gelap dan Dryver pasti sudah lama menunggu, ayo kita pulang kembali ke taman."


Sore hari, tepat jam 06.00 mereka akhirnya pulang, kembali ke taman, tempat dimana Dryver menunggu kedatangan mereka.


Bersambung..............


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya 😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2