Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Cinta Masa Lalu (2)


__ADS_3

Somsi dari tadi berada di dalam kelas. Menunggu semua siswa-siswi berdatangan.


Dia sebentar membaca novel yang berjudul Ketentuan Nasib. Sangat menyenangkan baginya untuk membaca novel tersebut.


Dalam novel itu banyak sekali pelajaran yang bisa di ambil. Mulai dari seorang yang dulunya tidak punya apa-apa dan menjadi orang yang berguna untuk siapa pun.


Dalam novel Ketentuan Nasib adalah salah satu penyemangat bagi Somsi. Setiap ia merasa sedih, merasa kekurangan, ia langsung membacanya. Dan tidak menunjukkan kesedihannya kepada siapa pun.


Novel ini sangat menarik. Semua rasa pahit yang pernah aku rasakan sampai saat ini, hampir sama dengan cerita novel ini. Andai aku menjadi pemeran utamanya dan hidup bahagia seperti endingnya.


Penghayatan Somsi mulai ntah kemana. Karena dalam penghayatan sampai-sampai ia tidak menyadari kedatangan Surli, sahabatnya.


Ba..........!


Suara kejutan membuat Somsi berteriak.


"Aaaaaa.... burungnya ada tujuh. Mati satu tinggal dua," ucapnya latah.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha," Surli tertawa terbahak-bahak. Sampai ia terbatuk karena ulahnya sendiri.


Uhuk... uhuk...


Surli memegang dadanya karena merasa sakit di area situ saat ia batuk.


"Mampus!" ketus Somsi.


Dia sudah sangat kesal dengan sahabatnya itu. Surli telah mengganggu kenyamanan ya saat menghayal tadi.


Surli mendelik mendengarnya. " Kok mampus sih, tega deh kamu."


Surli cemberut dan pergi begitu saja meninggalkan Somsi yang marah. Ia mengira Somsi sungguhan marah padanya.


"Sur, kenapa pergi. Aku cuma bercanda kok. Jangan bawa hati," ucapnya membujuk Surli agar tidak merajuk lagi.


Surli tetap merajuk membuat Somsi harus bertindak. Somsi tiba-tiba berlari dan memeluk sahabatnya itu dari belakang. "Sur... jangan marah lah. Please! jangan marah sahabat akohh."


Dengan ucapan manja Somsi membujuk Surli. Surli masih belum bergeming dan membuat Somsi melakukan hal di luar jangkauan. Somsi memegang kedua telinganya dan jongkok di hadapan Surli.


Surli yang melihat Somsi melakukan hal bodoh itu, ia tertawa bahagia.


"Hahahahah, Somsi Somsi. Gak perlu begitu lah sayang. Aku juga cuma bercanda," ngeledek ya sambil menjulurkan lidahnya, "Bwee... kena tipu. Tau rasa kan .... bagaimana jika sedang di Rajuk oleh sahabat sendiri."


Dengan tidak membawa hati, akhirnya Somsi tertawa juga. Dia juga bahagia jika melihat sahabatnya bahagia. Mereka saling berpelukan.


Jam 08:05


Suara bel untuk masuk pun berbunyi. Karena hujan semalam, lapangan jadi becek. Jadi, tidak mungkin mereka berbaris ke lapangan. Bisa-bisa sepatu mereka bisa basah dan bau.

__ADS_1


Somsi dan Surli selalu sebangku. Mereka tidak pernah berpisah meski pun penaikan kelas. Saat masuk sekolah hari pertama, mereka sama-sama datang ke sekolah dan memilih bangku paling depan. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka.


Begitu lah persahabatan itu. Selalu ada di saat suka dan duka. Mereka tidak pernah mencela satu sama lain. Hingga di kemudian hari. Saat-saat persahabatan mereka mulai di titik kehancuran. Somsi dan Surli tidak lagi saling menyapa satu sama lain.


Cerita pun berlanjut.


"Dino, kau mau kemana?" tanya Somsi pada Dino.


Dino mau pergi ke suatu tempat. Pada hal mereka masih sekolah.


"Aku mau ijin pulang," ucap Dino.


Somsi mendelik dan mengeryitkan dahinya. "Apa?" kembali ia meneruskan ucapnya, "Kau mau pergi ijin pulang. Kamu kenapa Dino. Ada apa dengan mu. Apa kamu sakit."


Dengan perasaan khawatir ia menjamah kening Dino. Tidak terjadi sesuatu. Lalu Dino mau kemana Somsi tidak tau.


Dino mau kemana ya? kenapa buru-buru pulang. Apa ia ada masalah? kalau memang ia punya masalah, kenapa ia tidak mau berbagi kisahnya denganku. Dia anggap aku apa selama ini.


Dino pergi meninggalkannya. Somsi tidak mau melarang. Itu hak dia jadi Somsi tidak perlu terlalu mengekang. Tidak mungkin ia berasa seperti seorang istri kepada Dino. Itu sudah terlalu berlebihan.


Di tengah Dino pergi ijin pulang beberapa menit yang lalu. Somsi melihat Lili juga ikut pulang. Wanita itu tersenyum licik kepada Somsi. Ntah apa yang sedang ia pikirkan, sehingga ia bisa tersenyum seperti ada tujuan busuk.


Kenapa ia tersenyum padaku? ya aku tau dia cantik. Tapi tak harus seperti itu juga. Aku juga sebenarnya cantik. Kami cuma kalah pada bagian kulit saja. Ia memiliki kulit putih yang mulus. Sedangkan aku sawo matang. Eh jangan salah! banyak juga kok yang suka sama warna kulit aku ini.


Gerutu Somsi panjang kali lebar. Sampai ia tidak menyadari kalau bayangan Lili sudah tidak terlihat lagi.


"Surli," ucap Somsi tiba-tiba.


"Aaaa," Surli berteriak. Ia melihat orang yang membuatnya kaget, " Somsi... kau? kenapa kau ngagetin aku."


Terasa beda bagi Somsi dengan sikap sahabatnya itu.


Kenapa Surli tidak tersenyum. Berbeda sekali.


"Maaf Surli," lirihnya lalu pergi meninggalkan Surli. Dia pergi ke bangkunya. Dia sangat sedih dengan sikap sahabatnya. Surli tidak menunjukkan rasa persahabatan pada Somsi. Kalau memang iya, ia pasti menahan Somsi dan memeluknya.


Karena merasa pusing sekali. Dia tidur sebentar. Karena jam hari ini jam kosong. Guru selanjutnya tidak datang. Membuat semua siswa-siswi lebih leluasa ke sana-kemari.


Beberapa menit kemudian jam pulang akhirnya berbunyi. Semua siswa-siswi bersorak gembira. Begitu juga Somsi dan datang ke bangku Surli. Ia ingin berbagi bahagia pada Surli. Tetapi Surli tidak meresponnya sama sekali.


Surli kenapa ya?


Tanpa pikir panjang, Somsi pulang dan tidak bersama dengan Surli. Surli sudah pulang lebih dulu. Dia di jemput oleh ayahnya dengan kereta.


Sedangkan dirinya harus jalan kaki pulang ke rumah.


Bagaimana pun sikap Surli padanya, ia tidak mengambil hati. Ia berdoa semoga sahabatnya bisa berubah lagi seperti dulu.

__ADS_1


...****************...


Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Persahabatan Somsi dan Surli mulai renggang.


Dia tidak pernah bersama dengan sahabatnya itu lagi. Surli mulai berteman akrab dengan Lili.


Melihat itu, Somsi sedih. Ia selalu bertanya pada hatinya. Mengapa ia bisa kehilangan sahabat yang sangat ia sayangi seperti saudaranya sendiri.


Sama halnya dengan Dina, mereka bernasib sama. Lili juga mencampakkan Dina dan tidak pernah lagi memperdulikan kehadiran Dina dalam gengnya.


Dina datang mendekat kepada Somsi. Dina mulai membiasakan diri berteman dekat dengan Somsi. Begitu juga dengan Somsi. Ya meski pun Dina tidak datang untuk berteman dengannya. Dia masih memiliki teman-teman yang lain. Berbeda dengan Dina, selama ini Dina bersikap sesuka hati kepada siapa pun. Itu karna pengaruh dari gengnya Lili.


Karena pertemanan yang cukup dekat. Dina memberitahu semua rahasia Lili dan juga Surli, sahabat Somsi.


Somsi sangat sedih mendengar penuturan Dina. Apa lagi mengenai sahabat yang sangat ia percaya dulu. Sahabat yang ia jaga, ternyata bisa menusuknya dari belakang.


Karena perasaan marah, Somsi menemui Surli. Somsi langsung menampar Surli sangat keras. Pipi Surli terlihat memerah. Panas yang di rasakan oleh Surli saat Somsi menamparnya.


"Apa-apaan kau Som! kenapa kau menamparku?" ucapnya pura-pura lugu. Dia memegang pipinya yang panas akibat tamparan itu.


"Kau? kau mau tau apa kesalahan kau apa?" ucapnya keras.


Somsi menunjuk Surli. "Kau! kau telah bermain api denganku. Kalau kau suka sama Dino ya cukup bilang. Jangan seperti ini Sur!" hardiknya. Emosinya tidak bisa ia kontrolkan lagi. Semua siswa-siswi datang menghampiri mereka. Hari ini Somsi sebagai figuran yang bisa di tonton oleh siapa pun.


Dino dan Lili tiba-tiba datang dengan saling bergandengan tangan. Melihat Somsi ada di sana, Dino melepaskan gandengan tanganya dari tangan Lili.


Somsi merasa jantungnya seperti di sayat pisau. Sakit yang ia rasakan saat ini. Sakit tapi tak berdarah. Sahabat dan juga kekasihnya sendiri telah berkhianat pada dirinya. Orang yang sangat ia percaya telah mengkhianati dirinya.


Somsi menangis menghampiri Dino. Dia memukul-mukul dada Dino dengan tanganya.


"Kau jahat... kau jahat... kau sangat jahat," ucapnya sesenggukan. Tangisannya mengalir deras.


"Som, maafkan aku. Aku khilaf," ucap Dino.


Dino ingin menghapus air mata Somsi tapi di hentikan oleh Somsi. "Berhenti! kau tidak berhak lagi menyentuh ku."


Somsi pergi ke perpustakaan dalam keadaan menangis. Dia ingin menumpahkan semua rasa sedihnya di sana.


Lili sangat senang melihat Somsi menangis. Memang benar, dengan kecantikan yang ia miliki. Ia bisa melakukan segalanya sesuai rencananya.


Flashback off๐Ÿต๏ธ๐Ÿต๏ธ๐Ÿต๏ธ๐Ÿต๏ธ๐Ÿต๏ธ


Bersambung........


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2