
Hanya mati lampu sebentar sudah beli dua bungkus lilin. Sayang sekali uang nya itu.
Somsi menyusuri jalan menuju rumah nya. Tinggal tiga langkah kaki nya untuk sampai di rumah.
"Ma.... bukain pintu nya," ucap Somsi dari luar.
Dari dalam tidak ada yang mendengar Somsi.
"Kenapa sih mama tidak membuka pintu dan dimana mereka kenapa mereka tidak menyahut," kesal Somsi.
"Ma... siapapun yang berada didalam tolong bukain pintu," ucap Somsi lagi.
Bu Wati membuka pintu. "Iya nak, Maaf lama."
Somsi memasuki rumah. Dia langsung menyalakan lilin.
"Banyak sekali nak, lilin yang kamu beli itu. Darimana uang mu sebanyak itu?" tanya bu Wati heran.
"Owh ini ma.... dari teman aku. Tadi lilin di warung pada habis. Dia memberiku lilin ini karena merasa kasihan padaku ma," ucap Somsi.
Dia sendiri tidak tahu apakah maksud dari semua yang dilakukan Bram padanya. Bram selalu ada menolong dirinya saat dia memang membutuhkan pertolongan nya.
"Owh begitu," ucap bu Wati menganguk mengerti.
Somsi kembali duduk untuk mendengarkan cerita ayah nya yang tidak sempat didengarnya.
"Pa... lanjut pa," ucap Somsi.
"Wah papa sudah selesai cerita nak... lain kali ya kamu dengar papa cerita," ucap pak Nius.
Somsi merasa kesal sekali. Sayang sekali dirinya tidak mendengar cerita ayah nya itu. Saat ayah nya bercerita dia tidak pernah bosan untuk mendengarnya.
"Ya sudah. Kita semua kembali tidur ya... papa dan mama sudah mengantuk," ucap pak Nius lalu pergi meninggalkan kedua putrinya yang disusul ibu nya dari belakang.
"Iya pa...," ucap Somsi dan Friska bersamaan.
"Kak... kakak sudah pernah pacaran?" tanya Friska.
Somsi terlonjak kaget. "Wah.... Pertanyaan apa itu dek."
Somsi terkejut dengan perkataan adek nya barusan. Dia saja sampai saat ini tidak punya pacar. Meski banyak yang menyukai nya tapi dia selalu saja menolak. Karena Somsi belum siap untuk pacaran.
Baginya pacaran dalam dirinya hanya sekali dalam seumur hidupnya. Dimana pacar nya sendiri yang akan menjadi suami nya suatu hari nanti.
"Ha ha ha ha ha.... kakak sampai sekarang jomblo," ucap Friska tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Memang nya kenapa kalau kakak jomblo. Untuk apa pacaran kalau terus disakitin. Jomblo itu enak dek. Tidak ada yang menganggu. Kita pun jauh dari lingkungan liar dek," jelas Somsi.
"Kan kalau pacaran kak.. bisa saling support gitu. Tidak kesepian. Kalau kita lagi butuh kasih sayang tinggal pigi sama pacar," ucap Friska.
Somsi tertegun dengan perkataan adek nya itu. Dia sendiri tidak pernah kepikiran untuk hal yang dikatakan oleh Friska adek nya tersayang itu.
"Kakak masih belum siap dek. Kakak masih punya tanggung jawab. Kakak harus banggakan orang tua kita dan memenuhi kebutuhan kamu dek. Kalau kakak pacaran bisa-bisa harapan kakak sirna dek," jelas Somsi.
Friska pun mengangguk mengerti. Dia senang mempunyai seorang kakak yang peduli padanya. Banyak sekali kakak dari teman-temannya selalu mementingkan dirinya sendiri. Tetapi beda dengan Somsi yang selalu mempunyai keinginan untuk membahagiakan nya.
Dia sendiri masih merasa ragu apakah kakak nya akan berhasil membahagiakan mereka. Sampai saat ini kakak nya itu belum punya pekerjaan.
Ditengah keasikan mereka bercerita, lampu pun kembali hidup. Somsi mematikan lilin lalu mereka kembali kekamar tidur.
Friska sudah tidur duluan, sedangkan Somsi masih sibuk menghitung hasil dari jualannya tadi sore.
"Lima puluh ribu, syukurlah.... ini bisa aku tabung. Aku perlu mengumpulkan uang sebanyak lima juta lagi," lirih Somsi.
Dia mengambil celengan ayam nya dan kembali mengisi hasil jualan nya itu. Besok dia akan jualan lagi.
"Tapi bagaimana cara aku mengumpulkan uang dengan cepat ya...," batin Somsi.
Dia merasa bingung harus berbuat apa.
"Ya.... aku akan mencoba bertanya gajian disawah besok. Siapa tahu ada yang mengajak aku gajian disawah nya. Kan sekarang pada menanam padi," lirih Somsi.
Setelah memikirkan ide yang harus dia lakukan untuk besok, dia langsung tidur. Besok adalah hari perjuangan nya dalam bekerja.
...****************...
Malam sudah berganti terang. Somsi sudah siap memasak. Tanpa basa-basi lagi dia langsung pergi untuk bertanya gajian disawah siapa.
Orang tua Somsi dan Friska merasa bingung dengan apa yang dilakukan oleh Somsi.
Somsi bahkan tidak sempat untuk makan bersama.
"Bu.... apakah ibu mau menanam padi hari ini. Kalau ibu mau.... aku ikut nya bu gajian kesawah ibu. Tetapi aku hany setengah hari bu bisa. Soalnya aku masih mau jualan nanti," ucap Somsi.
"Iya nak... memang ibu masih butuh pekerja untuk bekerja menanam padi disawah ibu," ucap ibu itu.
Somsi lalu mengikuti dari belakang untuk pergi kesawah ibu itu.
Sesampainya disana, Somsi melihat lima orang pekerja seperti dirinya sudah sampai duluan. Semua tergolong ibu-ibu hanya Somsi sendiri yang masih anak gadis.
"Nak... bukan kah kamu sudah tamat sekolah?" tanya salah satu ibu yang sedang memakai kan bedak dingin purbasari ke bagian wajah nya.
__ADS_1
"Sudah bu, tapi Somsi belum punya pekerjaan bu," ucap Somsi menunduk. Dia merasa malu sekali karena sampai sekarang belum punya pekerjaan.
"Bukan nya kamu pintar nak. Kenapa masih mau bekerja seperti ini. Lamar lah nak pekerjaan kamu pasti diterima," ucap salah satu ibu yang memakai topi.
"Mungkin belum saatnya bu," ucap Somsi.
Somsi lalu mengganti bajunya dengan pakaian yang biasa dia pakai disawah.
"Pakai bedak dingin ini nak. Biar kulit kamu tidak merah nak," perintah ibu yang memakai bedak dingin tadi.
Somsi menerima bedak dingin itu sambil menyunggingkan senyum. "Iya bu... makasih."
Sudah menunjukkan jam 8 pagi mereka akhirnya turun untuk bekerja. Tidak lupa Somsi mengambil minum sebelum turun.
Mereka sudah mulai menanam padi. Somsi terlihat lincah untuk menanam padi. Dia sangat cepat bahkan lebih cepat dari kelima ibu itu.
"Wah kamu cepat sekali nak.... ibu saja tidak secepat kamu," puji pemilik sawah itu.
"Iya, sudah pintar dan pandai bekerja lalu apa lagi kekurangan nya. Kalau saja ibu punya anak laki-laki sebesar kamu. Ibu pasti menjodohkan kalian," ucap ibu yang memakai bedak dingin.
Dari kelima ibu itu selain pemilik sawah dan Somsi hanya ibu itu yang memakai bedak dingin. Sedangkan empat ibu lainnya mengatakan kalau memakai bedak itu rasanya berat. Ada yang mengatakan kalau bedak itu bau. Dan lain lagi pendapat orang-orang yang tidak suka memakai bedak itu.
"Ahk ibu... pujiannya terlalu berlebihan bu," ucap Somsi tersipu malu.
"Kan memang benar. Iyakan ibu-ibu," ucap ibu yang memakai topi.
"Iya betul," jawab serempak ibu-ibu itu.
Somsi merasa senang bercampur sedih mendengar semua ibu-ibu yang telah memujinya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi sehingga mereka memujinya terlalu berlebihan. Ya meski dia sendiri senang, tapi dia tidak mau terlalu memasukkannya dalam hati.
Jam 10 untuk makan jeddah pun tiba. Semua kembali ke tempat peristirahatan.
Pemilik sawah menyerahkan jeddah untuk dimakan semua pekerjanya.
"Nak...kalau besok kamu kemana?" tanya ibu yang memakai topi.
"Gak kemana-mana ibu. Memang nya kenapa Bu?" tanya Somsi.
"Besok ibu akan menanam padi kamu ikut ya!...," ucap ibu itu.
"Baik bu," ucap Somsi menerima tawaran ibu itu.
Bersambung........
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen.