
Somsi masuk setelah ibunya membuka pintu belakang. Tubuhnya menggigil karena hawa dingin yang menyelusup pada seluruh tubuhnya.
Dia masuk ke kamar dan segera memakai pakaiannya. Hawa dingin yang terasa sedari tadi sudah mulai menghilang. Rambut panjangnya sudah mulai kering juga. Dia menyisir pelan rambutnya itu agar tidak rontok.
Saat ia duduk, dia tidak tersadar akan sesuatu.
Pekk.....
Suara kayu yang patah. Somsi mencari ke sumber suara yang berbunyi itu. Tapi ia tidak melihat apa pun itu. Lalu ia berdiri untuk menyimpan sisirnya.
Pekk ....
Kembali suara itu berbunyi. Somsi melihat kasur yang ia duduki tadi. Kayu kasur itu sudah mulai patah. Mungkin karena kayu ya sudah sangat lama kali.
"Owh ini toh," ucap Somsi sambil mengarahkan tanganya untuk memegang kayu yang patah barusan.
Sudah tidak bisa lagi di perbaiki.
Somsi menepuk jidatnya. "Oalahh... kalau kasur ini rusak, lalu apa tempat untuk kami tidur nantinya," lirih Somsi.
Somsi tidak punya akal sama sekali. Kali ini otaknya buntu tak bisa berpikir cepat.
Friska datang memasuki kamar. Somsi pura-pura tidak melihat adeknya itu. Dia menyembunyikan kayu yang patah itu.
"Kak, kakak ngapain sih?" tanya Friska bingung saat melihat kakaknya melipat selimut yang sudah terlipat kian.
"Aaa-aaa kakak tidak apa-apa kok," ucapnya terbata.
"Ah masa sih kak. Aku gak percaya sama ka-" suara Friska terputus saat sudah merasakan tubuhnya ambruk ke lantai. Dari tadi ia ingin duduk. Sekali duduk tepat di kayu kasur yang patah itu.
"Awww..."
Friska meringis kesakitan saat bokong nya terbentur ke lantai.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha..."
Somsi tertawa terbahak-bahak melihat adeknya yang terjatuh ke lantai.
Bukannya ikut menolong malah menertawakan adeknya.
__ADS_1
"Kakak...............," teriak Friska. Suaranya yang sangat keras mengisi seluruh ruangan yang ada. Sampai ibunya di dapur harus menutup telinga.
"Maaf dek," hanya kata itu yang terucap di mulut Somsi. Dia tidak tau harus apa. Tidak salahnya juga saat kasur itu patah. Ya mungkin harusnya kasur itu sudah di buang dan tidak di pakai lagi. Tapi, karena orang tua Somsi tidak sanggup untuk mengganti. Jadi mereka harus terbiasa dengan kekurangan yang ada.
"Kakak pasti ngerjain Friska," ketus Friska sambil melipat tanganya di dada.
Somsi melongo heran. "Untuk apa dek... untuk apa kakak kurang kerjaan untuk melakukan semua itu. Lebih baik kakak duduk tenang atau tidur dari pada harus melakukan pekerjaan yang kurang kerjaan itu."
Friska berhenti bersungut-sungut pada kakaknya. Biar bagaimana pun kakaknya tidak salah dalam hal itu.
"Ya uda.... kita makan dulu," ucap Somsi tersenyum getir.
"Tunggu dulu kak.... kalau kasur ini sudah tidak bisa lagi di pakai... lalu kemana kita akan tidur kak?" tanya Friska penasaran.
Somsi menjawab santai. " Kita akan tidur di lantai ini."
Somsi berusaha lebih baik lagi. Tidak ada salahnya bagi ia kalau pun harus tidur di lantai. Dulu waktu kecil Somsi biasa tidur di lantai.
"Masa di lantai ini sih kak?" tanya nya dengan mata melotot.
"Dek... kita harus banyak-banyak beryukur. Hari ini kita masih di berikan kesempatan untuk bertahan hidup."
"Iya kak."
Tidak lama kemudian Friska keluar dari kamar saat Somsi menyuruh Friska untuk segera duduk di lantai depan. Di sana sudah ada ibunya lagi duduk. Sepertinya ia sudah menunggu dari tadi.
Somsi datang menghampirinya. "Ma... mama uda lama di sini?" tanya Somsi.
"Sudah kok."
Dengan tidak basa-basi mereka akhirnya makan. Selama pak Nius sakit, semua peraturan untuk makan tidak berjalan lancar seperti dulu lagi. Bahkan biasanya kalau siap makan mereka akan mendengarkan cerita. Tapi karna merasa tidak lengkap, mereka jadi tidak melakukannya lagi.
"Dek.... gimana sekolahmu hari ini. Kakak takut kalau biaya spp sekolah kamu nunggak. Apa semua lancar?" tanya Somsi. Sebagai seorang kakak yang pernah berpendidikan pasti tau bagaimana kondisi sekolah.
"Ah tidak kak... semua berjalan lancar. Aku mah beda kak, kan aku di biayain pemerintah. Kakak dulu kan waktu smp kenapa banyak biaya karena sekolah kakak dulu swasta kan kak?" tanya Friska memastikan.
Dari sd sampai smp Friska memang selalu di biayain pemerintah. Mulai waktu ia mendapat bsm (bantuan siswa miskin) sampai mulai tamat sd sebelum melamar tingkat smp ia juga mendapat dari sekolahnya kip (kartu Indonesia pintar). Jadi, Friska tidak terlalu banyak biaya untuk sekolah. Hanya saja ia perlu biaya ongkos dari rumah ke sekolah.
"Iya sih dek," ucap Somsi. Dari dulu Somsi berbeda dengan Friska. Somsi dari dulu tidak pernah mendapat bantuan pemerintah. Jadi, orang tuanya harus berjuang keras untuk mendapatkan uang lebih untuk sekolah Somsi.
__ADS_1
Ya mestinya mereka beruntung karena mereka tidak seberat dulu untuk menyekolahkan Friska.
"Itu lah kak..., kakak gak usah takut. Biaya Friska untuk sekolah tidak mahal lagi kok. Kakak tidak perlu susah payah mencari pekerjaan hanya untuk menyekolahkan Friska," jelas Friska.
Somsi hanya tersenyum getir. "Hmm."
Dalam hidup memang kita selalu merasa kalau kita tidak perlu lagi ini itu. Yang sebaliknya kita akan butuh banyak biaya dari perkiraan kita selama ini. Maka dari itu, agar tidak terjadi hal-hal yang di takuti. Kita tidak boleh berlengah-lengah dalam hidup. Untuk sekarang ya kita katakan bisa, tapi untuk besok kita tidak tau apa selanjutnya.
Usai makan, Friska dan Somsi mengumpulkan semua piring kotor. Mereka saling bekerja sama satu sama lain. Friska langsung pergi ke kamar ingin tidur. Karena tugasnya dari tadi sudah ia siapkan.
"Kak... Friska duluan tidur ya," ucap Friska.
Somsi mengangguk. "Iya dek, silahkan."
Sebelum pergi ke kamar untuk tidur. Friska terlebih dulu mampir ke kamar orang tuanya. Ibunya sudah ada di sana dari tadi. Somsi melihat ibunya yang sedang menangis meratapi suaminya yang belum sadar dari komanya.
Somsi mengelus punggung ibunya. "Ma.. mama yang sabar. Papa pasti sembuh. Sebelum kita tidur, yok doa sama ma... siapa tau terjadi suatu mujizat pada papa."
Mereka berdoa bersama. Yang memimpin doa adalah Somsi sendiri.
Ma.. aku tau papa akan sembuh. Papa akan sadar maa. Aku hanya berharap papa sadar saat Somsi mengikuti lomba. Semangat Somsi hanya ada saat papa memberi semangat pada Somsi.
Somsi bergumam dalam hatinya. Dari tadi ia sudah di tunggu oleh ibunya untuk berdoa. Karena Somsi dari tadi melamun, ibunya harus menunggu sampai Somsi sadar dari lamunannya.
Somsi mulai mengucapkan doanya. "Allah ku yang baik, Allahku yang dahsyat. Semua terjadi oleh kuasa-Mu. Engkau yang mendatangkan dan Engkau juga yang mengakhiri. Aku percaya ya Allah... kalau mujizat akan nyata. Papa ku akan sembuh. Aku tau itu ya Allah. Kau tidak akan pernah membiarkan kami larut dalam kesedihan. Engkau menguji kami tidak melampaui batas kemampuan kami-" di tengah mereka sedang berdoa, tangan pak Nius mulai bergerak. Tapi karena mereka masih berdoa mereka jadi tidak tau.
"Engkau yang maha pengasih lagi maha penyayang. Engkau adalah sumber dari segala obat yang ada. Aku mohon ya Allah Tuhan kami, sembuhkan lah papa. Terima kasih ya Allahku, amin."
Usai berdoa mereka kaget melihat pak Nius.
Pak Nius teryata dari tadi sudah sadar. Somsi yang melihat ayahnya sadar bersorak gembira. Melompat sana melompat sini. Dia juga berteriak sangat keras. Membuat para tetangga dan Friska sendiri terganggu dengan suaranya yang besar. "Horeeeee papa ku sembuh. Papa ku sadar dari komanya. Terima kasih ya Tuhan. Engkau dahsyat. Aku bangga pada-Mu, Tuhan."
Friska keluar dari kamar karena merasa terganggu. " Kakak... kok kakak ribut kali. Friska dari tadi uda tidur. Karena kakak ribut, Friska jadi terbangun," omel Friska.
Saat ia ingin mengomel lagi. Dia kaget saat melihat ayahnya sudah sadar. Friska langsung datang menghampiri ayahnya dan segera memeluk ayahnya itu. "Papa....."
Friska menangis karena terharu. Dia sudah sangat lama menantikan hal itu. Dan sekarang lah waktu yang tepat untuk ayahnya sadar dari koma.
Bersambung........
__ADS_1
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit juga ya... Ingat!!! sebanyak-banyaknya 🙏🙏😊