Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Rahasia Yang Terbongkar


__ADS_3

Somsi meminta uangnya terlebih dahulu kepada Siti. Karena ia hanya membawa uang sebesar 5 juta saja. Selebihnya ia tinggalkan di rumah untuk kebutuhan mereka nanti.


Somsi dan Uba menyerahkan uang itu. Mereka berharap semua berjalan lancar dan tidak tertipu dengan Ka borusaragih ini. Siapa yang tau sifat manusia yang sebenarnya setelah mentang uang. Uang adalah segalanya. Ada yang mengatakan uang bukan segalanya. Ya bagaimanapun kita mengelak uang tetap segalanya.


Usai menyerahkan uang itu, Somsi, Siti dan Uba pamit untuk pulang ke rumahnya masing-masing.


"Kak, kami pulang dulu ya. Sudah sore ini." ucap mereka bertiga bersamaan.


Ka borusaragih menganguk. " Ya dek. Hati-hati di jalan ya."


Somsi dan Siti naik motor bersama. Sedangkan Uba masih seperti biasa masih jalan kaki.


Sebenarnya Somsi kasihan melihat Uba yang berjalan seorang diri. Padahal bulan yang lalu mereka pulang barengan. Ya mau gimana lagi. Somsi sudah terlanjur punya asisten pribadi yang setia. Eh sahabat sejati yang selalu setia padanya maksudnya.


Sesampainya di rumah. Somsi turun dari motor Siti. "Sit.... makasih ya uda mau menolong aku."


"He he he he." Siti terkekeh santai. Dia mau jawab apa lagi pada Somsi agar bisa mengerti. Dia melakukan semuanya tanpa unsur paksaan. Dia senang melakukan itu. Apa lagi hal itu ia lakukan untuk sahabatnya sendiri.


Setelah kepergian Siti, Somsi memasuki rumahnya dengan senyum yang melekat di bibirnya. Satu tugas selesai. Hanya menunggu tugas selanjutnya yang akan ia tunggu dengan setia. Tanpa adanya keluh-kesahnya.


Somsi mengetok pintu dari luar, tapi tidak ada yang membukakan pintu untuknya. Baik itu Friska atau ibunya sendiri.


Somsi melihat pintu rumah yang tidak tertutup ketika tangan ya mengetok lebih keras.


"Ternyata pintunya tidak di kunci."


Somsi melangkahkan kakinya dengan langkah gontai. Ia ingin mandi. Sudah bau asam ia rasa aroma tubuhnya sekarang ini. Tiba-tiba bu Wati menghentikannya saat langkahnya sudah mau melewati pintu kamarnya.


"Berhenti!" Kata itu langsung keluar dari mulut bu Wati. Kata yang singkat tapi seperti ada makna di balik kata tersembunyi itu.


"Kau habis kemana?" tanya bu Wati seperti menginterogasi. Raut wajah bu Wati tidak seperti biasanya. Terlihat seram.


Mama kenapa ya.. wajahnya seperti orang yang ingin menerkam mangsanya. Memang apa salahku sehingga mama menatapku seperti itu. Tidak biasanya.


"Jawab Som....." teriak bu Wati keras. Kata yang singkat dan bikin jantung Somsi ingin copot keluar lagi.


"Da-dari rumah te-teman ma," jawab Somsi terbata-bata.

__ADS_1


Somsi sudan merasa takut sekali dengan sikap ibunya hari ini. Sungguh berbeda dan aneh ia rasakan.


Mama kenapa ya?


"Kamu habis bayar uang masuk untuk bekerja di Malaysia kan?" ucap bu Wati langsung to the point.


Deg.......


Jantung Somsi berdegup kencang. Ada rasa takut yang melintas disana.


"Ke Malaysia?" ucap Friska yang terkejut mendengar ucapan bu Wati.


Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuh Somsi. Bibirnya terlihat pucat sekali. Tangannya bergetar. Ia seperti di serang begitu saja. Ia juga heran. Mengapa bu Wati dan Friska mengetahuinya sebelum ia sendiri yang mengatakan ya.


"Somsi! mama bicara sama kamu. Apa kau sudah tuli?" bentak bu Wati.


Rasa sedih yang perlahan ia hilangkan tumbuh kembali tanpa ia undang. Rasa yang pernah ia kubur yaitu rasa yang akan selalu kuat walau apa pun yang terjadi kini meleleh seperti es begitu saja.


"I-iya ada a-apa ma?" tanya Somsi ketakutan. Ntah apa yang akan terjadi selanjutnya ia tidak tau.


Dirinya hanya ingin kebahagiaan tapi mengapa air mata tiada henti mengalir dari matanya itu.


Kalau memang kita ditakdirkan untuk bahagia mengapa harus melalui masa yang sulit.


Apakah dunia adil? Apakah dunia pernah memikirkan perasaan ya? Dan bagaimana caranya untuk tidak lagi melewati masa-masa sulit itu?


Tapi itu dari dulu tidak pernah Somsi keluhkan. Hal dasar apa ia harus mengeluh. Bukankah Tuhan juga bersikap adil padanya selama ini. Kalau Tuhan tidak adil, mungkin saja ayahnya tidak panjang umur sampai saat ini.


Tetapi Tuhan maha kuasa. Tidak ada yang tau akan rencananya. Semua indah pada waktunya. Kita hanya perlu bersabar dan menguatkan iman untuk mencapai semua itu.


"Masih bertanya kenapa. Apakah kau masih pura-pura tidak tau atau mama yang akan katakan!" bentak bu Wati. Volume suaranya membesar. Lebih besar dari sebelumnya.


Bu Wati menatap tajam, "Apakah kau masih diam Somsi?"


Tiba-tiba air mata Somsi jatuh. Jatuh membasahi pipinya yang mulus. Air mata tanda kalau ia sekarang sedang tersakiti. Tersakiti karena ibunya sendiri membentaknya kuat tanpa harus tau apa kesalahannya.


Yang Somsi takutkan pada bu Wati karena pergi terlalu lama sehingga bu Wati marah padanya.

__ADS_1


Tetapi mendengar uang masuk untuk bekerja ke Malaysia sudah jelas kalau bu Wati sudah mengetahuinya.


Nasib malang apa lagi yang akan menimpanya sampai ia tidak tau lagi bagaimana menjalaninya.


"I-iya ma. Somsi habis bayar uang sebanyak 10 juta untuk uang masuk Somsi untuk bekerja ma." Terus. Terus menerus air mata itu jatuh. Mulai menjelaskan dari kata yang pertama hingga akhir. Mulutnya seperti tidak bisa bergerak. Rasanya kaku.


"Untuk apa Som? untuk apa? Apakah masih belum cukup kau bekerja disini? mengapa harus ke luar negeri. Mengapa ha!" hardik bu Wati.


"Ma... maafkan aku."


Bu Wati menggeleng kepala. Lantas ia tidak percaya mengapa putrinya bisa senekat itu untuk bekerja di Malaysia. "Kenapa harus ke Malaysia Som? Apakah kau sudah tidak tahan tinggal bersama kami? Apakah kau ingin melupakan kami sehingga kau ingin pergi kesana? jawab Som... jawab!" Bu Wati menggoyangkan tubuh Somsi yang sudah lemah itu. Tubuh yang akan jatuh jika di dorong kuat.


Somsi menjauh, menghempas kasar tangan bu Wati. "Iya ma! iya. Aku memang ingin bersenang-senang disana. Aku sudah bosan hidup dengan kalian. Iya ma. Apa yang sudah mama katakan itu. Semua benar."


Ntah keberanian apa yang sudah terlintas dalam pikirannya sehingga berani melawan bu Wati. Baru kali ini Somsi melawan ibunya sendiri.


Deg........


Jantung bu Wati berdegup kencang. Air matanya jatuh. Bu Wati terduduk jongkok. Mengusap air matanya perlahan dan menatap ke arah Somsi. "Kalau memang seperti itu nak keinginanmu. Maka pergilah! ibu tidak akan melarangmu."


Bu Wati berteriak histeris menangis meratapi nasibnya yang malang. Ternyata putrinya sendiri sudah tak ingin tinggal bersama mereka lagi.


Melihat keadaan bu Wati yang terlihat menyedihkan itu, mendekati ibunya dan memeluknya.


"Ma... maafkan aku. Maaf karena aku tidak memberitahumu. Ma... aku tidak pernah berpikir untuk melupakan kalian. Aku hanya ingin bekerja disana untuk mengubah kehidupan kita yang pahit ini," jelas Somsi. Lalu menghapus air mata bu Wati, "Ma... jangan pernah berpikir aneh-aneh padaku, hiks hiks."


"Siapa yang sudah mengusulkan itu padamu nak? Jangan bilang kalau itu usul dari ayahmu."


Somsi menganguk. Ya memang benar itu adalah usul dari ayahnya sendiri, pak Nius.


Emosi bu Wati kembali memuncak. Kenapa suaminya diam tak memberitahu kalau putri mereka ingin bekerja di Malaysia. Bu Wati ingin bangkit berdiri tapi ditahan oleh Somsi. "Sudah ma. Jangan diperpanjang lagi. Mungkin papa punya alasan mengapa tidak memberitahu mama."


Friska yang dari tadi diam membisu meneteskan air matanya. Air mata itu mengalir deras di pelupuk matanya. Matanya sembab dan kepalanya terasa pusing. Tiba-tiba ia jatuh pingsan.


Bersambung................................


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya. Kalau berkenan kasih tips yang banyak😊😊😍😍


__ADS_2