
Semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing. Somsi kembali ke dapur untuk memasak.
Dia berkutat dengan bahan masakan yang ada. Kali ini dia memasak dengan wajah ceria. Mungkin sebagian dari hutang mereka sudah tidak mereka permasalahkan lagi. Ya meski kenyataannya mereka memang tidak punya utang. Tetap saja kan harus di bayar kalau saja tidak ketahuan.
Somsi melihat Friska yang duduk di lantai, dari tadi ia sudah siap mandi.
"Dek, kamu uda siap mandi?" tanya Somsi.
"Iya kak."
Dengan perasaan enggan atau takut, Friska menjawab kakaknya dengan kepala menunduk.
Apa ia takut aku suruh ya?
Somsi bergumam melihat Friska yang sudah fokus mengeluarkan alat tulisnya untuk belajar.
"Dek, bukannya nanti malam kamu belajar?" tanya Somsi lagi dengan mata melotot. Dia sedikit heran dengan tingkah adeknya.
"Eh, eh i-iya kak. Tapi tugas aku banyak, takut tidak terkejar," ucap Friska terbata.
"Owh gitu ya dek."
Somsi kembali fokus pada masakannya. Ia tidak ingin terjadi suatu kesalahan saat ia memasak.
Selesai memasak, tidak lupa ia mengumpulkan barang-barang yang sudah siap pakai untuk ia cuci nanti.
Saat ia ingin ke kamar. Dia menyempatkan untuk melihat kalender.
Tanggal 15 agustus.
Somsi dengan semangat dengan tanggal itu. Tinggal menunggu dua hari lagi 17 agustus akan tiba. Hari kemerdekaan untuk Indonesia pun tiba.
Di hari itu ia akan berjuang untuk mendapatkan juara terbaik. Kemarin ia menyempatkan untuk mendaftar ikut dalam lomba itu. Dia perlu optimis untuk mencapai semuanya.
Somsi keluar kamar dan melewati kamar orang tuanya. Somsi merasakan sesuatu yang harus di tuntaskan hari itu juga. Dia pun memasuki kamar orang tuanya. Di sana masih terbaring ayahnya. Sampai sekarang pak Nius belum sadar diri.
Papa cepat sembuh.
"Papa.... yang kuat. Aku tau papa itu kuat, cepat sembuh ya pa,"lirih Somsi.
Somsi menangis. Dia sedih sampai saat ini ayahnya belum sadar juga.
Air mata yang sempat kering sekarang keluar juga. Somsi menghapus air matanya. Dia tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Dalam dirinya hanya satu kata yang bisa membuatnya untuk bangkit lagi. Yaitu mujizat.
Dengan segala mujizat Tuhan, semua akan indah pada waktunya.
__ADS_1
Somsi menjunjung ke kepalanya, semua piring-piring kotor untuk ia bawa ke sungai. Hanya piring kotor saja, sedangkan kain sudah ia cuci dari tadi.
Somsi sampai ke sungai. Ia menurunkan piring-piring itu ke bawah. Di sana ia mencuci piring dengan santai. Semua pekerjaannya sudah siap, jadi ia tidak usah buru-buru.
"Dek... hati-hati," teriak Somsi.
Adek yang berumur 5 tahun sedang melompat ke sungai. Dengan cepat adek itu terjun ke sungai. Sudah 2 menit tidak muncul di atas air.
Dimana adek itu? apa dia tenggelam?
Pikirnya.
Somsi sudah mulai ketakutan. Dia takut sekali kalau adek itu benar-benar tenggelam.
Dia menunggu waktu yang tepat. Siapa tau adek itu masih berenang di bawah air sungai. Tapi tetap saja nihil. Tidak ada yang muncul di atas air.
Dengan perasaan takut, Somsi terperanjat dari tempatnya untuk menolong adek itu.
Dia terjun ke bawah untuk mencari adek itu. Dia cari sampai ke dasar sungai belum ada terlihat tubuh adek yang ia cari.
Somsi terus mencari dan tetap mencari sampai apa yang ia cari dapat di temukan.
"Dek.... dek.... dimana kau? Dek...," Somsi terus berteriak memanggil adek itu. Baju yang ia pakai sudah basah kuyup. Rambutnya juga sudah basah karena terendam air.
Somsi masih saja mencarinya. Hingga seorang ibu separuh baya pun datang. "Dek.. cari apa?"
"Owh begitu ya nak... mungkin kamu terkena ilusi. Tidak ada kok ibu lihat anak kecil di sini. Kalau memang ada, dia pasti terambang-ambang di sungai ini," ucap ibu separuh baya itu.
"Apa iya bu... saya kena ilusi?"
" Iya dek. Kamu silahkan naik, ibu akan ceritakan."
Somsi naik ke atas. Perlahan air sungai itu menetes ke bawah hingga meninggalkan hanya baju basah saja. Semua bajunya telah basah. Apa lagi pakaian dalamnya.
Somsi melanjutkan untuk mencuci piring. Ibu itu sudah duduk di batu dekat Somsi.
Ia memperhatikan Somsi yang mulai fokus menyabuni piringnya.
Wanita paroh baya itu juga mulai mandi.
"Dek... dulu di sungai ini pernah tercebur anak yang berumur 5 tahun. Tepat seperti yang kamu perkirakan tadi dek," tutur ibu itu.
"Lah kok bisa Bu?" tanya Somsi heran. Dia ingin tau pasti kejelasan yang di ceritakan oleh ibu paroh baya itu.
"Iya nak, begitulah. Dulu adek ini pengen mandi di sungai ini. Badannya saja yang kecil tapi pemikirannya agak lancar."
__ADS_1
Ibu itu menjelaskan bagaimana adek tersebut bisa tercebur ke sungai dan segera mengakhiri ceritanya karena sebentar lagi akan gelap.
"Adek itu pengen mandi. Dia selalu memperhatikan orang-orang dewasa saat mandi. Ibunya melarangnya untuk mandi karena ia masih kecil. Tanpa sepengetahuan ibunya, ia sudah tercebur di sungai ini. Sampai 3 hari baru lah mayat nya di temukan."
Benar-benar ibu itu menceritakan semuanya tanpa ada cerita yang kurang. Mendengar penjelasan ibu itu, Somsi jadi mulai ketakutan untuk pergi mandi ke sungai.
"Nak ... cepatan... ini sudah mau gelap. Ce-cepatan ya nak," gelagap ibu itu.
"Iya bu," ucap Somsi cepat. Ia menggunakan seluruh tenaganya. Tanganya ia cepat kan dalam membasuh piring yang sudah ia sabun tadi.
"Owh ya, nama ibu siapa? biar Somsi bisa kenal sama ibu. Siapa tau aku kesasar. Aku bisa mengatakan nama ibu nanti. Dan mereka menunjukkan rumah ibu langsung," ucap Somsi sambil menuangkan air yang sudah ia ambil ke tubuhnya yang halus dan mungil itu. Dia mulai menyabuni tubuhnya dengan sabun mandi Lifeboy.
"Nama ibu, ibu Lisa nak," ucapnya singkat.
Somsi mengangguk mengerti. "Owh bu Lisa."
Somsi akhirnya siap mandi. Dia kembali menjunjung piring yang sudah bersih ke atas kepalanya. Bu Lisa berjalan lebih dulu. Sedangkan Somsi mengikuti dari belakang.
Somsi mulai mencari Bram. Tumbenan Bram tidak datang ke sungai untuk mengganggunya.
Bram kok tidak ada yaa...
Somsi melajukan jalannya dengan cepat. Dia tidak ingin tertinggal oleh ibu Lisa.
"Bu.... kenapa ibu jalannya cepat sekali?" tanya Somsi yang mulai kelelahan karena mengejar ibu Lisa yang berjalan dua kali jalan dari kaki Somsi.
"Hehehehe.... maaf nak, ibu terbiasa," ucapnya menyunggingkan senyum tipis.
"Iya bu... gpp. Heran aja bu akunya. Jalan ibu dua kali jalan dari kaki aku," ucap Somsi sambil memegang junjungannya erat.
"Ehem."
Hanya ehem saja ibu ini menjawab ku. Huuu kesal...
Somsi merasa sedikit kesal. Tapi apa boleh buat ia juga tidak mau tertinggal sendirian di sungai. Apa lagi setelah mendengar cerita bu Lisa. Siapa lagi orang yang tidak akan takut setelah mendengar cerita mengerikan itu.
Sesampainya di rumah ia mengetuk pintu belakang agar segera di buka dari dalam. Bu Wati lah yang membukakan pintu.
"Friska, mama... siapa pun yang di dalam tolong bukain pintunya," teriak Somsi dari luar.
"Iya nak, bentar."
Bersambung...........
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya.😊