Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Penjelasan


__ADS_3

Somsi tidak berani menghadapkan tubuhnya pada bu Wati. Ia menjauhkan wajahnya hingga membelakangi bu Wati. Matanya tertutup rapat. Dalam hatinya yang paling dalam mungkin inu adalah akhir dari segalanya.


Ya akhir dari segalanya, dimana Bram akan diusir oleh ibunya nanti dan tidak mengijinkannya untuk pergi.


Bagaimana mungkin bu Wati mau merelakan putrinya begitu saja pada pria yang sama sekali tidak dipercayanya. Mungkin Bram baik di hati semua orang, tapi tidak di hatinya bu Wati.


Somsi pasrah dan mulai memberanikan diri untuk bicara. Ia membalikkan lagi tubuhnya dan menghadap pada bu Wati lalu ia mengangguk. "Iya ma."


"Apa?"


Bu Wati marah setelah mendengar ucapan putrinya itu. Memang benar yang dipikirkannya. Kalau Bram telah memaksa putrinya untuk pacaran dengannya. Bagaimana mungkin tipe anaknya seperti Bram.


Bram yang melihat tatapan tajam yang melebar ingin keluar dari pemiliknya mulai merasa takut.


"Ti-tidak Tante. Aku tidak memaksa Somsi, sayang tolong jelaskan yang sebenarnya," ucap Bram.


"I-iya ma," ucap Somsi lagi.


Jelas saja bu Wati semakin marah. Apa lagi tepat di hadapannya berdiri seorang pria yang telah berani memaksa putrinya untuk pacaran dengan ya.


"Kau pergi dari sini, cepat!" hardik bu Wati.


Lah kenapa jadi begini? Apa yang telah aku katakan?


Somsi bingung mengapa justru ibunya malah membentak kasar Bram.


"Sayang.... kenapa dengan dirimu. Tolong jelaskan pada Tante ini, kalau aku tidak memaksamu sayang. Jangan diam saja. Tolong jelaskan yang sebenarnya sayang," bujuk Bram.


Somsi mulai menganalisa kata yang baru saja diucapkannya. Lalu ia menepuk jidatnya. Oh astaga, aku mengatakan iya. Jelas dong mama marah, hu.... ini memang salah mama. Gara-gara mama aku jadi GALFOK. Gagal fokus deh.


"Ma... somsi salah ucap....." Menyatukan tangan ya tanda ia memohon maaf, "Maaf ma...."


"Yang mana ini benar.... tadi kamu katakan kalau pria hidung belang ini memaksamu pacaran. Dan sekarang tidak .... mana yang jelas!" ucap bu Wati meninggikan suaranya.


Jantung Somsi kembali berdegup kencang setelah mendengar ibunya lagi bicara dengan suara keras. Membentak dirinya justru seperti penekanan berat untuknya.


"Ntah, ntah mana pun yang jelas .... tadi katakan iya dan sekarang tidak. Mama jangan percaya deh," sambung Friska sambil tersenyum licik.

__ADS_1


Ciahhh, rencanaku berjalan lancar. Wkwkwk rasain kakak. Emang enak dimarahi mama.... bwee kakak dimarahi mama hahahahha.


"Hahahah."


Sedangkan Somsi masih bingung menyusun kalimat mana yang akan ia katakan duluan. Mengatakan bahwa Bram tidak memaksanya. Atau memaksanya Bram tidak. Ia jadi bingung dengan kalimatnya sendiri.


Kenapa aku jadi linglung seperti ini.


Somsi mulai ingat kalau ia tidak minum dari tadi. Konsennya akan hilang kalau ia tidak minum banyak. Apa lagi jangka waktunya minum terlalu lama. Bisa-bisa ia tidak konsen selamanya dong.


Lalu ia pergi ke dapur sebentar untuk minum sebanyaknya. Ia kembali cepat dengan berlari dan berhenti tepat di hadapan ibunya.


"Begini ma.... Bram tidak memaksaku pacaran. Akulah yang sudah menerima cintanya dan mau pacaran dengannya ma," jelas Somsi sambil tersenyum lebar.


Hatinya sekarang sudah tenang setelah ia minum.


Jantung Somsi kembali berdegup kencang setelah mendengar ibunya lagi bicara dengan suara keras. Membentak dirinya justru seperti penekanan berat untuknya.


"Ntah, ntah mana pun yang jelas .... tadi katakan iya dan sekarang tidak. Mama jangan percaya deh," sambung Friska sambil tersenyum licik.


Ciahhh, rencanaku berjalan lancar. Wkwkwk rasain kakak. Emang enak dimarahi mama.... bwee kakak dimarahi mama hahahahha.


"Hahahah."


Sedangkan Somsi masih bingung menyusun kalimat mana yang akan ia katakan duluan. Mengatakan bahwa Bram tidak memaksanya. Atau memaksanya Bram tidak. Ia jadi bingung dengan kalimatnya sendiri.


Kenapa aku jadi linglung seperti ini.


Somsi mulai ingat kalau ia tidak minum dari tadi. Konsennya akan hilang kalau ia tidak minum banyak. Apa lagi jangka waktunya minum terlalu lama. Bisa-bisa ia tidak konsen selamanya dong.


Lalu ia pergi ke dapur sebentar untuk minum sebanyaknya. Ia kembali cepat dengan berlari dan berhenti tepat di hadapan ibunya.


"Begini ma.... Bram tidak memaksaku pacaran. Akulah yang sudah menerima cintanya dan mau pacaran dengannya ma," jelas Somsi sambil tersenyum lebar.


Hatinya sekarang sudah tenang setelah ia minum.


"Tidak, tidak ibu tidak percaya."

__ADS_1


Bu Wati menatap tajam Bram, seolah bu Wati ingin menerkamnya langsung. Ia selalu curiga pada Bram. Kemungkinan Bra telah menghipnotis putrinya atau memberinya sebuah ancaman sehingga Somsi mau menerima Bram sebagai kekasihnya.


"Apa pria ini telah melakukan sesuatu padamu?" tanya bu Wati dengan intens. Tidak peduli bagaimana perasaan Somsi saat itu. Yang terpenting adalah keselamatan putrinya dari buaya darat seperti Bram.


Dengan keberanian yang sudah ia kumpulkan terlebih karena ia sudah minum banyak, Somsi memberanikan diri untuk menatap tatapan tajam ibunya. "Tidak bu. Bukan seperti itu. Somsi sudah menyukai Bram sejak Somsi pertama kali bertemu dengannya," jelas Somsi dengan iming-iming senyum di wajahnya.


Berharap kalau ibunya akan percaya dengan semua ucapannya.


Bram sedikit tercengang mendengar ucapan Somsi, "Apa? A-apa kamu serius Som?," ucap Bram dengan mata melotot. Hatinya merasakan ketenangan setelah mendengar kalau Somsi menyukainya sejak mereka bertemu. Siapa lagi yang tidak senang dikagumi oleh wanita beberapa tahun yang lalu. Bram meneguk ludahnya.


Eggh


"Jadi, kenapa selama ini kau selalu saja menolakku Som? Berulang kali aku selalu di tolak olehmu. Sakit Som... sakit jika ditolak mentah-mentah seperti makanan yang tidak enak dibuang begitu saja, meski dipaksa masuk tetap tidak mau masuk."


"Dan sebenarnya aku tidak seperti makanan itu. Kau sendiri mengatakan kalau kau menyukaiku sejak lama, apa aku tidak berharga di matamu Som?" keluh Bram ingin menitikkan air mata.


Kenapa Bram jadi terbawa perasaan.... kan aku hanya membuat alasan supaya tidak marah lagi.


Senyum terpaksa ia sunggingkan sambil menganggukkan kepalanya. Ia menoleh menatap lekat wajah Bram yang sudah tersenyum senang. Somsi merasa bersalah pada Bram yang masih saja berharap pada cintanya. Dari mulutnya yang tercengang sampai melukiskan senyum di bibirnya.


"Iya sayang...."


Tidak sengaja Somsi mengucapkan kata itu dari mulutnya. Membangkitkan perasaan Bram menjadi lebih semangat lagi.


Astaga.... ini mulut kenapa ceroboh sekali dalam bicara. Lama-kelamaan aku semakin memberi harapan palsu pada Bram.


Friska melongo heran, "Sayang? Baru tadi jadian uda manggil sayang-sayangan, hu.....dasar bucin." Omel Friska kepada kakaknya itu. Dibenaknya penuh dengan tanda tanya menatap kesal dengan semua tingkah kakaknya.


Somsi pura-pura menutup mulutnya, " Upps, keceplosan dek..... mungkin karena rasa sayang yang mulai tumbuh nih pada abang iparmu, hahah."


Bersambung..........................


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate (5) dan favorit sebanyaknya.


😍😍😍😍😍😍😍😍😍🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩

__ADS_1


__ADS_2