
Somsi menyerahkan hp Bram setelah Siti mematikan sambungan dari balik telpon.
"Bram ini."
Dengan perasaan yang di buat-buat Somsi tersenyum getir pada Bram. Ia tidak mau menunjukkan kesedihannya tentang bagaimana ia akan mencari uang untuk uang masuk kerjanya.
Uang yang ia kumpul saja belum ada sejuta. Apa lagi mau membayar uang masuknya.
Untung Siti sahabatnya mau menolongnya dengan membantu setengah dari jumlah uang yang di butuhkan.
Berharap pada lomba yang akan ia ikuti, belum tentu juga menang. Jadi, ia menyimpan semua rasa sedihnya hanya seorang diri.
"Som... kenapa wajahmu cemberut? emang apa yang baru di katakan Siti padamu?" tanya Bram yang heran melihat wajah Somsi seperti tidak menyakinkan kalau ia sedang baik-baik saja.
"Tidak apa-apa kok Bram. Aku hanya sedikit lelah," jawab Somsi berbohong.
Bagaimana mungkin ia terus menceritakan pada Bram semua masalahnya. Cukup ia menceritakan ya pada saat mereka berada di sungai. Di situ Somsi memang tidak bisa menahan kesedihannya. Tapi untuk kali ini, ia harus memendamnya sendiri tanpa ada yang tau.
"Som... aku tau kau berbohong," ucap Bram.
Bram berusaha mencari tau kenapa Somsi berubah cemberut. Ia mengeryitkan dahinya. Bram memperhatikan Somsi dari atas sampai bawah. Tapi nihil kecurigaan ya belum bisa terbongkar.
Ia kembali menatap manik mata Somsi yang bulat hitam. Mata mereka bertemu sebentar lalu berpaling sendiri karena merasa gugup.
Somsi kenapa ya? apa dia sedang ada masalah. Wajahnya dari tadi cemberut. Pada hal ia tadi bahagia, tapi sekarang mengapa berubah? apa yang sedang terjadi padanya sampai aku tak tau.
Bram bergeser lebih mendekat lagi pada Somsi. Ia meraih tangan Somsi dan meletakkan ya di pangkuannya. Mengusap lembut tangan Somsi. Bram melakukan semuanya seperti mereka sudah pacaran saja. Ntah kenapa Somsi menerima setiap sentuhan Bram padanya.
Kok aku menerima semua sentuhan Bram padaku? andai aku memang pacaran betul dengan mu Bram.
Somsi menghayal. Dia menghayal saat Bram dan dirinya telah pacaran. Mereka sangat bahagia dalam hayalan ya itu.
Bram dan Dryver heran melihat Somsi yang menutup mata. Tiba-tiba ia menyandarkan kepalanya pada bahu Bram.
Bram senang saat Somsi bersandar padanya. Ia ingin Somsi selamanya berada di bahunya itu. Ia begitu senang sekali sampai ia juga ikut menghayal.
Tiba-tiba Dryver membuyarkan Somsi dan Bram yang tengah menghayal.
"Kak Somsi dan Bram kok merem begitu hahaha," ucap Dryver cekikikan.
Somsi yang sudah sadar saling berjauhan satu sama lain.
"Bram? apa aku tadi bersandar di bahuku?" tanya Somsi menahan malu. Dari mimik wajahnya sudah menunjukkan rasa malu yang sebenarnya.
Bram tersenyum malu. Ia juga malu karena ia juga hanyut dalam hayalan. "Iya Som."
__ADS_1
Somsi langsung membuang muka. Dia tidak mengira ia akan bertingkah sekonyol itu atau bisa di bilang menghayal terlalu aneh.
Aneh yang ada di pikiran Somsi. Bisa-bisanya ia menghayal terlalu berlebihan. Apa lagi hayalan ya mengenai Bram.
"Kau malu Som?" tanya Bram.
Pertanyaan itu sungguh membuat Somsi tak biasa menjawab. Ya jelas saja ia malu, karena ia telah berani bersandar pada orang yang belum pacarnya.
"Eh hmm iya Bram. Aku malu," ucap Somsi jujur.
Astaga.... ngomong apa aku barusan. Mengapa aku terlalu jujur sih. Gimana kalau Bram nanti salah prasangka lagi. Gimana kalau ia nanti mengulang untuk menembak ku lagi. Lalu apa yang harus aku jawab.
Somsi menepuk jidatnya sendiri. Merutuki kebodohannya sendiri. Mengapa bisa ia terlalu jujur atas sesuatu. Selagi itu tidak berbuat jahat lalu untuk apa terlalu jujur dalam bicara.
"Ha ha ha ha ha."
Bram tertawa terbahak-bahak. Ia senang sekali saat mendengar Somsi yang terlalu jujur untuk mengatakan kalau ia malu padanya.
"Gak usah malu ya Som," sambungnya lagi. Pada hal ia sendiri pun tadi malu pada Somsi.
Somsi menganguk.
Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Itu sebagai cara untuknya agar tidak terlalu gugup kepada Bram.
Karena Somsi merasa malu padanya, Bram tersenyum licik. Saat itu ia melupakan kalau ia sudah berjanji untuk tidak menggoda Somsi lagi.
Bram membawa Somsi ke rumahnya. Dengan perasaan gugup Somsi menerima setiap apa pun yang di lakukan Bram padanya. Ingin melepas dari Bram tapi tidak bisa. Sebab Bram memegang tangan Somsi erat.
Bram membawa Somsi masuk ke rumah. Suasana hatinya sudah berdegup kencang. Baru ini seorang pria membawa dirinya ke rumahnya.
Saat memasuki pagar rumah Bram terdapat beberapa satpam. Mereka menunduk hormat saat Bram masuk.
Wahh.. rumah Bram besar sekali.
Kekaguman Somsi yang tidak bisa ia pendam lagi.
Lalu ia berhenti saat ingin memasuki pintu rumah Bram. "B-bram aku ti-tidak bisa masuk begitu saja."
Somsi terbata dalam berucap. Sedangkan Bram tidak memperdulikan bagaimana perasaan Somsi saat ini. Hari ini ia begitu senang untuk membawa Somsi ke suatu tempat.
Somsi mulai melangkahkan kakinya saat masuk ke rumah Bram. Dengan melewati pintu rumah yang dihiasi dengan sangat mewah.
Somsi lebih heran dan kagum lagi saat sudah memasuki rumah Bram. Rumah itu sangat indah dan bersih. Begitu besar untuk di tempati. Seperti istana seorang pangeran.
Wow.... besar kali rumah ini. Lihat yang ada di sana. Lukisannya sangat cantik. Wah itu lagi ada akuarium ya juga. Ikannya juga gemuk dan sangat cantik dengan warna-warna indah.
__ADS_1
Somsi pergi ke sana pergi ke sini memperhatikan seluruh hiasan yang ada di rumah Bram.
Tiba-tiba ibunya Bram datang menghampiri mereka.
"Bram... siapa dia? apa dia kekasih mu nak?" tanya wanita paruh baya itu lembut, Bu Tere namanya.
Dengan bangganya Bram mengucap. "Iya ma. Dia pacarku, cantik kan ma?" ucap Bram tanpa rasa malu.
"Iya nak dia sangat cantik," puji mamanya.
Somsi yang tidak tau dia menjadi bahan perbincangan, mulai mencari dimana keberadaan Bram. Ia mencari di setiap sudut ruangan rumah Bram. Tapi nihil ia tidak menemukan Bram.
Lalu Bram datang dari belakang Somsi, mendorong pelan tubuh Somsi dari belakang.
Ba.........!
Bram membuat Somsi kaget. Dia tertawa terbahak-bahak melihat mimik wajah Somsi yang terkejut seketika.
"Kau Bram... suka sekali mengagetkan ku," ucap Somsi. Jantungnya berdegup kencang menandakan kalau ia benar-benar terkejut.
"Ha ha ha ha ha... kau sih Som. Dari tadi kesana kemari. Kau tidak mengucap salam dulu pada calon mertua mu?" ucap Bram.
Somsi mendelik mendengar ucapan Bram.
Apa? Bram kok bilang ibunya calon mertuaku.
"Kenapa melotot ku. Apa yang salah dengan ku," ucap Bram seperti tidak tau apa-apa.
Somsi mulai kehabisan kata. Apa lagi ia sangat syok mendengar Bram mengatakan kalau ibunya adalah mertua Somsi.
Somsi pun menyalam tangan ibunya Bram sambil memperkenalkan dirinya.
"Nama saya Somsi Tan, saya tinggal di kampung sebelah," ucap Somsi sopan sambil tersenyum tulus.
"Owh kampung sebelah. Perkenalkan juga, nama ibu adalah Tere. Panggil aja tante Tere."
Somsi menganguk. Setelah mereka perkenalan, bu Tere mengajak untuk duduk.
Dengan senang hati, Somsi menurut duduk bersama Bram dan juga bu Tere.
Ayahnya Bram tidak ada di sana. Mungkin sedang bekerja.
Bersambung........................
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya 😊🙏🙏