Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Bertemu Lagi


__ADS_3

Dulu, ketika kutatap kedua bola matamu, aku seperti merasakan ketulusan yang terpancar dari hatimu, apakah gerangan yang membuat diriku seperti ini, terasa berbeda dari sebelumnya, cinta membuatku resah dan gelisah menatap masa depan penuh ceria, akankah semuanya indah pada waktunya. Biarlah semua ku simpan dalam bejana hatiku. Wahai kau cinta yang hanya datang dan pergi @BukuHarianSomsi.


"Bram ku harap kau tidak membenciku, sebab aku tak pernah berniat untuk menyakiti hatimu."


Kata-kata yang keluar dari mulutnya dan tatapan yang sendu dari matanya membuatnya seperti orang yang tengah seperti orang bersalah.


Bukan maksud dirinya untuk mengatakan hal yang tidak sewajarnya ia katakan kepada Bram, tetapi emosi yang melunjak dalam hatinya tak bisa ia tahankan. Seperti apa perasaan Bram saat ini, ia hanya bisa berharap semoga Bram tidak benar-benar membencinya.


Somsi melanjutkan pekerjaannya, tinggal berapa pohon lagi semua akan siap. Setelah itu ia akan pulang. Sangat lelah yang ia rasakan dan ia tahankan begitu saja tanpa keluhan keluar dari mulutnya.


Somsi mendesah kelelahan. "Akhirnya siap juga. Sekarang aku bisa pergi. Aku ingin ke pasar. Semua persediaan makanan telah habis. Jadi aku harus pergi sekarang. Kebetulan masih ada waktu."


Somsi berlari sekuat mungkin, ia tidak memikirkan dirinya yang kini sudah dewasa. Ia tidak memperdulikannya sama sekali.


Dengan wajah ceria ia bertemu sosok yang dikenalnya, lalu menyapanya. "Nenek......" teriaknya saat melihat nenek tua yang pernah memberikan sebuah doa padanya.


Lalu sang nenek menoleh dan menyahut padanya. "Eh ia cucuku." Ucap sang nenek tua itu pada Somsi sambil tersenyum. Dari perawakannya nenek tua itu sangat kelelahan membawa kayu bakar nya.


Ya itu memang pekerjaan sang nenek. Dengan mengumpulkan kayu bakar untuk bisa ia jual dan menjadi salah satu cara bertahan hidup. Dengan bayaran kayu bakar tersebut, ia bisa membeli beras perlahan tanpa harus mengutang lagi.


"Nek... biar aku yang membawanya," ucap Somsi menawarkan bantuan.


Nenek tua itu menolak. "Tidak cucuku, nenek tau kamu juga pasti kelelahan."


"Tidak nenek. Somsi masih kuat kok. Lihat saja nek tangan aku ini.... kuatkan?" ucap Somsi sambil mengayunkan tangannya.


Tidak ada pilihan lagi selalu mau menerima bantuan Somsi, si nenek pun menyerahkan kayu bakat itu pada Somsi.


Dengan mendekatkan kepala mereka, perlahan menggeser kayu bakar itu berpindah ke kepala Somsi.


Somsi membawa dengan berjalan pelan sembari menunggu sang nenek yang berjalan lambat. Kasihan sekali nenek ini. Kemana semua keluarganya. Kenapa ia tinggal sendirian?


Banyak sekali pertanyaan yang ingin Somsi tanyakan. Lalu ia membuka mulutnya untuk bicara memecahkan kekosongan diantara mereka berdua. "Nek? apa nenek hanya tinggal sendirian di rumah ini?" tanya Somsi sambil menunjuk sebuah pondok kecil. Mereka sudah sampai. Somsi menurunkan kayu bakar itu dari kepalanya dibantu sang nenek juga.


"Iya cucuku." Nenek itu menjawab lalu pergi masuk meninggalkan Somsi yang tengah berdiam diri sedang memikirkan sesuatu.


Ha? sendiri? lalu kemana anak dan cucu Nenek ini?


Somsi melangkahkan kakinya cepat saat menyadari kalau dirinya sedang tertinggal di luar.


"Jadi nek, nenek tidak memiliki keluarga, anak atau cucu Nenek?" tanya Somsi dengan iming-iming wajah serius.


"Tidak nak.... mereka meninggalkan Nenek sendirian disini, hiks... hiks..."

__ADS_1


Somsi kaget mendengarnya. Hatinya kasihan melihat keadaan sang nenek tersebut. "Mengapa begitu Nek?" tanya Somsi secara detail ia ingin tau kenapa sang nenek bisa ditinggalkan sendirian di pondok kecil ini.


"Anak nenek membuang nenek disini. Mereka tidak mau merawat nenek, karena nenek ini sudah tua. Mereka tidak mau kalau mereka kesusahan karena nenek tinggal di rumah mereka."


Penjelasan yang sangat menyakitkan buat Somsi sesudah mendengarnya. Terasa dari sorot mata sang Nenek yang sembab akibat dari menangis.


"Nek.... maaf sudah membuat Nenek jadi menangis." Somsi mengusap air mata sang Nenek dengan lembut. Wajah yang sudah keriput dan tangan yang mulai bergetar dengan sendirinya. Masih berjuang untuk melawan hidup. Nenek ini sangat beruntung sekali bisa melewati semuanya dengan baik.


Kalau saja sang Nenek ini tidak bisa mencari kayu bakar, lalu dari mana ia akan mendapatkan upah untuk biaya kelangsungan hidupnya? Meski upahnya dari penjualan kayu bakar sedikit, tetap Nenek itu syukuri apa adanya.


Somsi membantu membersihkan rumah sang Nenek tersebut. Ia menyapu, mengepel dan juga memasak makanan. Somsi melihat persediaan si Nenek sudah mulai habis.


Nanti aku akan pergi ke pasar. Aku akan membeli sebagian untuk persediaan Nenek ini.


Somsi berkutat dengan bahan masakannya. Ia akan memasak makanan yang nikmat untuk sang Nenek tua itu. Setelah siap ia pun menghidangkan makanan lalu duduk bersama si Nenek. Mereka makan bersama. Wajah si Nenek lumayan berbeda setelah sang Nenek tersebut mandi.


"Cu.... apa kau sudah mendapatkan pekerjaan?" tanya Nenek itu memulai percakapan.


Somsi mengangguk. "Sudah nek... berkat doa Nenek aku diterima bekerja," jawab Somsi sambil tersenyum.


Sang Nenek tersenyum, " Dimana cucuku? dan pekerjaan apa?"


Somsi menunduk. Ia bingung mau jawab apa lagi. Pekerjaan yang ia daftarkan bukan sebenarnya dari niatnya sendiri. Tetapi karena ini demi kebahagiaan ayah, ibu dan juga adeknya, jadi ia mengubur dalam-dalam semua impiannya.


"Kenapa diam cu?" tanya sang Nenek.


Nenek itu tercengang. "Ha? kenapa harus kesitu cu... bukannya disini juga banyak pekerjaan."


"Iya nek... disini banyak pekerjaan tapi ini mungkin sudah takdir Somsi untuk bekerja disana," jelas Somsi tepat.


"Iya cu... nggak papa. Yang penting semangat. Jangan menyerah ya cucuku. Semoga kamu nanti jadi kebanggan untuk keluargamu."


Lagi-lagi Somsi mendengar doa sang Nenek yang begitu menyenangkan hatinya.


Matanya sekarang berkaca-kaca. Itu patut ia syukuri sebab doa dari yang lebih tua lebih mujarab hasilnya.


"Makasih ya Nek... atas doa Nenek itu," ucap Somsi. Lalu ia menepuk jidatnya, "Oalah.... nek... Somsi kan mau pergi ke pasar. Nek... Somsi pergi dulu ya..."


Somsi pun pamit permisi sambil menunduk mencium tangan sang Nenek. Setelah itu ia pergi.


Nenek itu sangat baik ya... sudah mau memberikan Somsi sebuah doa yang tulus.


**

__ADS_1


Somsi sampai juga akhirnya. Dia mengganti bajunya cepat. Kalau ia mandi lagi nggak sempat lagi. Mana pasar akan tutup lagi.


Pasar dari rumah Somsi ke pasar cukup jauh. Butuh angkutan umum kesana. Kalau pasar C terdekat dari rumahnya hanya Senin-kamis bukanya. Somsi pun pergi ke rumah Siti meminta bantuan untuk ditemani. Lelah rasanya berjalan dan akhirnya sampai.


Satpam di luar rumah Somsi mengatakan kalau nonanya tidak ada disana. Dengan wajah lelah dan sedikit kecewa ia pun pergi. Ia menunggu angkot datang dan akhirnya pergi.


Lama perjalanan, akhirnya Somsi sampai di pasar itu juga. Somsi turun lalu membayar ongkosnya 4 rb.


Dia mulai belanja membeli semua keperluan rumahnya dan juga persediaan sang Nenek tadi.


Ia menawar apapun dengan sangat bijak. Jika harganya terlalu mahal, maka Somsi akan menawarnya agar dikurangi lagi. Kalau tidak ia akan pergi begitu saja. Tohh ia datang sudah sangat sore. Jadi penjual pun akan merasa rugi kalau tidak menerimanya. Lumayan kan untuk ongkos barang mereka nanti pada saat pulang.


Somsi berlari cepat karena hari ini sudah terlalu sore kalau tidak angkot ke rumahnya tidak ada lagi. Tiba-tiba ia tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang pria yang bergandegan tangan dengan wanita.


Bugghhh....


Aww....


Somsi meringis kesakitan memegang lututnya yang mengeluarkan darah segar. Barang-barang yang ia pegang berjatuhan semua.


Somsi marah dan melihat orang itu dan ia tercengang hebat. Dino?


"Somsi kau disini?" ucap pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangan ya pada Somsi yang terjatuh.


Somsi tidak menerima uluran tangan pria itu malah sibuk mengumpulkan barang-barang ya yang terjatuh berantakan.


Setelah siap ia pergi begitu saja tanpa harus permisi dengan orang yang mengajaknya bicara tadi.


Kenapa sih aku bertemu dia lagi.


Gerutu Somsi kesal. Sedangkan pria itu masih terus menatapnya dari jauh. Dia tambah cantik.


"Sayang ayo...." rengek wanita yang sedang ia gandeng itu.


"Eh-eh iya sayang... ayo." ucap pria itu saat sadar dari lamunannya.


Bersambung....................................


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate (5) favorit juga ya😍😍😘😘


Author sangat berterimakasih karena sudah berkenan hadir di novel Author ini. Pasti banyak kata yang salah. Tapi Author memohon, jangan membuat kata-kata atau membuat rate kurang dari 5. Karena itu sangat menurunkan semangat Author untuk menulis novel ini.

__ADS_1


Selama Corona ini semoga dalam keadaan sehat dan dilancarkan rejeki. Tetap ikuti protokol kesehatan ya....!


Semangat..........🤝🙏💪💪💪💪💪


__ADS_2