Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Akan Menunggu Cintamu


__ADS_3

Sore hari, tepat jam 06.00 mereka akhirnya pulang, kembali ke taman, tempat dimana Dryver menunggu kedatangan mereka. Dengan rasa canggung yang ada di hati masing-masing. Rasa canggung di mana seorang Bram di tolak cintanya dan rasa canggung buat Somsi karena sudah menolak Bram mentah-mentah.


Bram.... maafkan aku.


Dari balik kaca spion dalam keadaan gelap, menyosori setiap perjalanan yang mereka lalui, Somsi melirik Bram yang terdiam membisu. Tak sedikit pun ia berkata seperti biasanya tadi.


Mungkin remuk jantung yang telah ia rasakan saat Somsi menolaknya, selalu terngiang di kepalanya. Bukan soal rasa malu di depan orang banyak, tapi karena rasa cinta yang tulus, ia berikan kepada Somsi begitu saja di tolak mentah-mentah tanpa berpikir dua kali.


Som.... apa yang membuatmu selalu menolak aku. Apakah selama ini engkau tidak pernah memperhatikan aku atau tidak pernah kah aku mengisi seluk beluk hati mu? Apa iya kau tidak pernah memiliki rasa untukku? Aku tidak akan menyerah, aku akan tetap berjuang, berjuang sampai aku mendapatkan cinta dari mu.


Bram melirik Somsi dari kaca spion yang diam membisu yang sibuk melihat setiap perjalanan yang sudah di lalui. Hatinya saat ini terpukul.


Somsi yang menyadari Bram selalu meliriknya melepas tanganya dari pinggang Bram. Tiba-tiba Bram menghentikan motornya karena seekor kucing lewat.


Kenapa berhenti?


Somsi yang tidak tau mengapa Bram menghentikan motornya, mulai membuka mulutnya dari kebisuan itu.


"Bram... kenapa berhenti," lirih Somsi yang masih segan untuk bicara.


"Seekor kucing tadi lewat," jawab Bram secepat kilat.


Tatapan dingin sudah mulai terasa bagi Somsi. Saat Bram turun dari motor diikuti Somsi juga turun dari motor Bram. Tatapan itu tidak selembut dulu lagi. Bram perlahan berubah dan tidak mau bicara banyak seperti biasanya.


Karena merasa ada yang berbeda dari sikap Bram padanya, membuat Somsi tidak punya rencana lain lagi.


Somsi memeluk Bram yang seketika ingin pergi. "Bram... aku mohon bersabarlah. Aku masih punya tanggung jawab untuk aku bahagiakan. Kumohon jangan bersikap cuek seperti ini."


Somsi terus memeluk tubuh Bram dari belakang, sekali ia mengusap lembut punggung Bram dari belakang tanpa ada penolakan dari Bram. Air matanya mulai jatuh ke pipinya. Karena Somsi memeluk Bram dengan menyandarkan kepalanya, terasa setiap tetesan air matanya jatuh di rasakan oleh Bram sendiri.


Bram melepas tangan Somsi yang melingkar tubuhnya. Ia menghadap pada seorang yang telah menolaknya itu. Menatap setiap inci pada wajah Somsi. Lalu Bram mengecup lembut kening Somsi.


Cupp.....


Bram mengecup Somsi saat melihat air mata itu terjatuh. Ia tidak bisa membuat lebih, karena Somsi bukan siapa-siapa ya.


Kembali memeluk Somsi dan mengusap lembut punggung Somsi dari belakang.


"Som... aku mengerti, aku mengerti dengan alasan yang kau berikan. Aku tidak memaksamu untuk mencintaiku, aku akan menunggu sampai kau benar-benar mencintaiku," jelas Bram sembari air matanya jatuh tidak bisa di hentikan lalu ia ingin pergi, tapi Somsi menarik tanganya. Membuatnya harus berhenti dan mendengar setiap kata yang terucap dari mulut Somsi.

__ADS_1


"Sampai kapan Bram? sampai kapan? kumohon berhenti, berhenti mengejar aku. Aku tidak pantas untuk mu. Di luar sana masih banyak wanita yang menginginkan cinta mu Bram. Tolong jangan buat aku merasa bersalah sekali Bram, hiks... hikss...."


Deraian air mata terus mengalir. Sungguh ia tidak menyangka kalau jalan cerita dari hidupnya harus melewati hal-hal seperti itu.


Cinta yang tulus telah menghampiri dirinya, tapi dalam sekejap ia menolak cinta yang tulus itu.


Sungguh itu tidak pernah Somsi inginkan, tapi apa boleh buat, tujuannya tetap tujuan tidak boleh ada yang mengganggu gugat termasuk cintanya Bram.


Meski ia juga merasakan hal berbeda pada dirinya saat Bram ada di dekatnya, tapi ia berusaha menolak gejolak rasa yang ada di hatinya. Berusaha menutupi tanpa di ketahui oleh siapa pun.


"Baik lah Som... aku akan setia menunggu cinta mu, sampai suatu saat kau tidak akan berpaling lagi dariku."


Setelah mengucapkan kata itu, Bram kembali ke motornya diikuti oleh Somsi dari belakang.


Ia melajukan gas motornya dengan kecepatan berbeda. Membuat Somsi di setiap perjalanan memeluk erat tubuh Bram. Wangi tubuhnya tercium di hidung Somsi. Sangat harum dan sangat hangat.


Beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di taman. Menyaksikan Dryver tertidur pulas.


Hei......!


Bram membangunkan Dryver yang masih terlelap menutup matanya. Tapi mata itu tak kunjung terbuka.


"Dek... dek.... bangun! ini sudah pagi lohh," ucap Bram menggoyangkan tubuh Dryver. Belum juga bangun, "Dryver......"


"Ah abang kok lama kali pulang, aku sudah capek menunggu bang," ucap Dryver kesal.


"He he he he he ... maaf dek sudah membuat kamu menunggu lama. Tadi kami ada urusan mendadak," jelas Bram banyak alasan.


"Owh begitu...." sahut Dryver cepat.


Setelah itu Bram mengangkat semua barang Somsi dan mulai mengantar satu-satu barang itu kerumah Somsi.


Tidak cukup lama Bram kembali dan mulai mengantar Somsi ke rumahnya. Karena Somsi tidak gemuk, jadi Dryver bisa ikut bersama mereka.


Hanya 20 menit, Bram menghentikan motornya tepat di depan rumah Somsi. Sebelum Somsi pergi, Bram mencium kening Somsi dan tersenyum.


Dengan perasaan gugup perlahan Somsi meninggalkan Bram. Tangan yang bergetar melambai sebelum ia pergi.


Somsi mengetuk rumahnya dan berharap dari dalam cepat membuka pintu.

__ADS_1


Tok... tok... tok....


Suara ketukan pintu dari luar.


"Ma... buka pintunya, dek......." teriak Somsi dari luar.


Bu Wati yang mendengar Somsi sudah pulang segera menghampiri pintu untuk membukanya cepat. "Iya nak.... bentar."


Bu Wati pun membuka pintu dan menatap Somsi tajam. "Kenapa baru pulang! kamu keluyuran ya."


Somsi yang tidak berani menatap mata ibunya berusaha meloloskan diri untuk kabur, tapi di hentikan ibunya lagi.


"Jangan pergi!" ucap bu Wati marah.


Ya, bu Wati marah karena Somsi pulang sampai gelap seperti itu. Ibu mana yang tidak marah saat mengetahui anaknya tidak pulang ke rumah tanpa di ketahui siapa pun. Apa lagi kalau anaknya seorang wanita. Ntah apa yang akan di katakan semua orang mengenai dirinya.


"Apa lagi sih ma."


Wajah ibunya yang biasanya terlihat ramah sekarang berubah seperti singa yang mengaung ingin menerkam mangsanya.


"Kenapa bisa pulang sampai segelap ini?" tanya bu Wati.


Somsi tersenyum getir, tanganya bergetar. Alasan apa yang pantas ia berikan agar ibunya bisa percaya. "Aku tadi mencari kerja tambahan ma."


Mendengar Somsi mengatakan kalau dirinya mencari kerja tambahan, membuat hati bu Wati terpukul. Seharusnya mereka yang menafkahi kebutuhan Somsi dan Friska, tapi malah terbalik, Somsi yang menjadi tulang punggung bagi mereka.


Dengan cepat bu Wati membiarkan Somsi pergi. Somsi sudah lelah, dari tadi ia bekerja. Sebagai ibu yang baik, ia juga tidak boleh melarang apa lagi memarahinya tanpa sebab.


Somsi berhak menentukan hidupnya tanpa harus ada orang lain mengekang dirinya.


"Makasih ma."


Somsi tersenyum tipis. Ia sedih karena ia telah berbohong pada ibunya. Tapi bagaimana lagi, ia terpaksa melakukan ya untuk menghindar dari kemarahan ibunya.


Somsi pergi ke dapur, ternyata semua pekerjaan yang biasa ia lakukan sudah siap.


Sekarang ia hanya mandi lalu makan.


Bersambung................

__ADS_1


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyak ya😳😳🙏🙏


__ADS_2