
Somsi menjauh, menghempas kasar tangan bu Wati. "Iya ma! iya. Aku memang ingin bersenang-senang disana. Aku sudah bosan hidup dengan kalian. Iya ma. Apa yang sudah mama katakan itu. Semua benar."
Ntah keberanian apa yang sudah terlintas dalam pikirannya sehingga berani melawan bu Wati. Baru kali ini Somsi melawan ibunya sendiri.
Deg........
Jantung bu Wati berdegup kencang. Air matanya jatuh. Bu Wati terduduk jongkok. Mengusap air matanya perlahan dan menatap ke arah Somsi. "Kalau memang seperti itu nak keinginanmu. Maka pergilah! ibu tidak akan melarangmu."
Bu Wati berteriak histeris menangis meratapi nasibnya yang malang. Ternyata putrinya sendiri sudah tak ingin tinggal bersama mereka lagi.
Melihat keadaan bu Wati yang terlihat menyedihkan itu, mendekati ibunya dan memeluknya.
"Ma... maafkan aku. Maaf karena aku tidak memberitahumu. Ma... aku tidak pernah berpikir untuk melupakan kalian. Aku hanya ingin bekerja disana untuk mengubah kehidupan kita yang pahit ini," jelas Somsi. Lalu menghapus air mata bu Wati, "Ma... jangan pernah berpikir aneh-aneh padaku, hiks hiks."
"Siapa yang sudah mengusulkan itu padamu nak? Jangan bilang kalau itu usul dari ayahmu."
Somsi menganguk. Ya memang benar itu adalah usul dari ayahnya sendiri, pak Nius.
Emosi bu Wati kembali memuncak. Kenapa suaminya diam tak memberitahu kalau putri mereka ingin bekerja di Malaysia. Bu Wati ingin bangkit berdiri tapi ditahan oleh Somsi. "Sudah ma. Jangan diperpanjang lagi. Mungkin papa punya alasan mengapa tidak memberitahu mama."
Friska yang dari tadi diam membisu meneteskan air matanya. Air mata itu mengalir deras di pelupuk matanya. Matanya sembab dan kepalanya terasa pusing. Tiba-tiba ia jatuh pingsan.
"Friska......" Somsi berteriak. Ia langsung menghampiri adeknya yang jatuh pingsan.
"Friska bangun dek. Bangun. Kenapa kau jatuh pingsan seperti ini. Bangun dek, hiks hiks... hiks..."
Hal yang tidak ia pikirkan sama sekali membuat jantungnya semakin berdegup kencang.
"Friska.... bangun nak. Bangun!"
Bu Wati langsung memeluk putri bungsunya itu. Mengapa Friska sampai jatuh pingsan. Apakah Friska sedih dengan kepergian kakaknya itu? Apakah ia tidak bisa jauh dari kakaknya itu?
Seorang adek yang terlalu dimanja dan di sayang, mungkin sulit menerima kalau dirinya harus jauh dari orang yang mau berkorban nyawa untuknya.
Selama ini yang selalu ada untuknya adalah kakaknya. Somsi tidak pernah membiarkannya untuk melakukan pekerjaan yang berat. Somsi juga yang selalu membuatkan bontotnya ke sekolah. Lalu kemana ia akan pergi kalau orang yang selalu ada untuk pergi jauh darinya.
Somsi pergi ke dapur. Ia mengambil air. Lalu ia memercik air itu ke wajah Friska. Dan akhirnya Friska bangun. Friska langsung memeluk kakaknya erat. "Kak... hiks hiks... hiks... kenapa kakak harus bekerja ke Malaysia. Disini juga banyak pekerjaan kak. Batalkan semua itu kak, hiks.. hikss... hiks."
__ADS_1
"Dek...."
Menghapus air mata Friska yang jatuh menetes, "Kakak tidak bisa membatalkan ya. Semua sudah kakak bayar lunas. Nama kakak sudah tertera disana. Mulai sekarang kamu harus belajar mandiri tanpa kakak lagi. Ya dek...."
Friska menggeleng. "Nggak kak... nggak, aku nggak bisa hidup tanpa kakak. Hiks... hiks... aku nggak bisa kak. Tolong batalkan saja itu."
Tangan ya melingkar erat melingkari tubuh Somsi. Ia sungguh tidak mau merelakan kepergian Somsi.
"Dek dengarkan kakak. Kalau kakak bekerja disana sudah pasti keinginanmu untuk mengejar cita-cita mu akan tercapai dek."
"Kamu nggak usah takut. Masih ada disini papa dan mama yang selalu ada untukmu. Jangan merasa sendirian ya dek."
Somsi berusaha membujuk adeknya agar Friska mau mengijinkannya untuk pergi. Bu Wati yang melihat semuanya merasa sedih sekali. Anak sulung yang mereka besarkan kini menjadi tulang punggung bagi keluarga mereka yang sesungguhnya. Jika tidak ada Somsi mungkin saja mereka tidak dapat makan. Apa lagi melihat keadaan pak Nius yang menyedihkan itu.
Saran pak Nius untuk menyuruh Somsi bekerja di Malaysia memang tidak ada salahnya. Ya walaupun banyak keinginan duniawi yang menggoda. Tetapi pak Nius percaya pada putrinya itu kalau Somsi tidak akan pernah melupakan mereka.
Selama ini pak Nius dan bu Wati menanamkan kebaikan buat Somsi sehingga mereka tidak perlu takut dengannya.
Friska yang daro tadi memeluk Somsi erat masih melingkarkan tangan ya dan tidak mengijinkan Somsi pergi kemana-mana.
"Kakak tidak boleh pergi. Kalau kakak aku lepas bisa-bisa kakak nanti pergi diam-diam dan tinggalkan aku disini sendirian. Nggak mau."
"Tidak kakak, jangan pergi! Apa kakak tidak sayang lagi sama aku? Apa secepat itu kakak mau meninggalkan aku?" Ntah sampai kapan air mata itu berhenti menangis. Selalu dan selalu saja menetes. Apa yang sebenarnya terjadi pada Friska. Apa begitu sayangnya ia pada Somsi hingga tidak mau merelakan nya pergi?
"Dek.... kakak sayang ...... banget sama kamu. Karna sayangnya kakak, kakak bahkan rela habiskan masa muda kakak bekerja di luar negeri sana hanya untuk membantumu. Biar kau tidak putus sekolah dek."
Somsi mengusap kepala Friska dengan lembut seperti mengusap kucing haha.
"Kamu lupa ya dengan janji kakak. Kalau kakak akan berikan kehidupan yang berbeda untukmu. Dan kakak masih ingat nih. Kamu yang melawan hanya gara-gara kita tidak punya tv. Kamu pulang dengan isakan tangis yang luar biasa. Bahkan orang-orang tidak bisa menirunya."
Somsi memperagakan Friska yang dulu pulang dari rumah tetangga marah-marah tidak jelas. Mengatakan kalau mereka sangat miskin lah. Sangat berkekurangan dan nggak punya tv lah. Dan masih banyak keluh kesah Friska yang membuat orang mendengarnya ingin menangis.
"Iyakan aku sudah minta maaf kak buat nggak ngulangin kesalahan yang sama lagi."
Rengekan manja dicampur tawa kecil yang membuat adu argumen masing-masing.
Bu Wati hanya diam menyaksikan kedua putrinya yang selalu damai dan saling mengikat satu sama lain.
__ADS_1
"Hhehehe kakak masih ingat-ingat kesalahan aku ya. Mau sampai nenek moyang kakak selalu katakan pada cucu kakak kalau kakak mempunyai adek yang nakal."
Sekarang air mata itu sepertinya berubah menjadi rengekan manja seorang anak kecil yang sesungguhnya. Mungkin iya deh. Lihat saja Friska selalu memeluk erat Somsi. Apakah seorang adek sepertinya pantas di panggil adek?
"Kak... kalau kakak pergi yang jagain Friska siapa?" tanya Friska dengan mata melotot sambil menggerak-gerakkan bibirnya. Jangan sampai monyong.
"Ya mama dan papa dek. Mereka akan selalu ada buatmu. Jangan pernah melawan ya dek... kalau kakak pergi, kakak ingin kau menjaga mereka penuh. Apa lagi papa dan mama akan bertambah tua nantinya."
Somsi menasehati Friska agar tidak melakukan kesalahan yang bisa menyakiti hati kedua orang tuanya. Itu sangat tidak berfaedah.
"Jadi gimana nih.... Friska ijinkan kakak pergi kan?" ucap Somsi sambil mengedipkan matanya.
"Ih kakak nakal."
"Gimana nih... kok ngerasa digantungi ini."
Friska menganguk. "Iya kak. Kakak pergi saja. Tapi jangan lupa harus ngirim uang banyak-banyak."
Dari tadi menangis tidak mengijinkan Somsi pergi. Dan sekarang apa itu?
Friska memang aneh ya.... tadi nggak mau eh malah minta jatah. Ampun deh Friska.
Selesai mendengar persetujuan Friska dan bu Wati. Hati Somsi kini terasa senang.
Somsi dan Friska pergi bersama ke kamar orang tuanya. Melihat ayahnya yang masih terbaring lemah.
"Papa.... aku sudah membayar uang masuk untuk bekerja di Malaysia."
"Ha? kamu serius nak?"
Pak Nius kaget mendengar penjelasan Somsi, putri sulungnya itu.
"Iya pa. Sekarang hanya menunggu kapan aku akan berangkat," jawab Somsi antusias.
Bersambung..................................
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorite sebanyaknya๐๐๐๐