Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Hari Pertama Bekerja


__ADS_3

Somsi sudah siap untuk pergi bekerja, dengan penampilan layaknya seorang pekerja. Baju kemeja putih dan rok sepan dia pakaikan, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi. Baju dan rok itu sangat ketat, sehingga tubuhnya tidak terbiasa dengan itu.


Terlihat lah bentuk lekuk tubuh Somsi yang begitu aduhai. Siapapun yang melihatnya akan terpesona dengan kecantikannya.


"Kamu sudah siap, Som?" tanya Uba yang juga memakaikan pakaian yang sama. Bedanya rok Uba agak longgar, itu dikarenakan tubuhnya yang kecil.


"Iya aku sudah siap, Uba... ayok kita bekerja," ajak Somsi. Mereka keluar dari asrama yang disediakan oleh perusahaan itu untuk mereka tinggali.


Mereka akan menunggu bus yang akan membawakan mereka ke tempat bekerja.


Semua menyaksikan kecantikan Somsi yang begitu memikat. Dia merias wajahnya dengan sangat bagus. Lengkap dengan eyeshadow dan blush on yang rata. Terlihat sempurna melekat di wajah Somsi.


Bus yang ingin membawa mereka pun datang. Somsi dan juga Uba cepat-cepat untuk masuk ke dalam. Melihat mereka yang terburu-buru, membuat salah satu penumpang bus itu merasa risih.


Dia duduk di belakang supir. "Tidak perlu takut untuk tidak berkongsi tempat duduk, semuanya berbajet," ucapnya dengan khas bahasa Melayu.


Somsi dan Uba kebingungan dengan bahasanya itu. Baru ini mendengarkan langsung bahasa Melayu. Mereka biasanya mendengar bahasa Melayu di tv dengan film yang disiarkan adalah Upin dan Ipin.


"Som... dia wanita itu bilang apa?" bisik Uba kepada Somsi dengan wajah polosnya.


Somsi menggeleng, "Nggak tau Uba, aku juga tidak tau."


Wanita itu terus menatap ke arah mereka. Somsi terlihat gusar karena dalam bus itu sangat panas. Dia pun menyuruh supir itu untuk menghidupkan AC. "Pak... tolong nyalain AC nya, disini terasa panas."


Somsi membuat berkas yang di tangannya menjadi kipas, sementara supir itu tetap fokus menyetir dan tidak merespon yang Somsi bilang. "Pak... kalau AC nya ada, ngapain tidak di hidupkan... percuma kan AC nya itu dibuat."


Tetap supir itu tidak menjawab. Somsi merasa kesal karena tidak diacuhkan sama sekali oleh sang supir.


Dasar budeg nih orang, budeg!


Somsi memaki supir itu habis-habisan dalam hatinya. Dia sudah tidak tahan dengan gerah panas yang terasa sudah membakar tubuhnya.


"Uba?" lirih Somsi.


" Iya, Som, ada apa?" tanya Uba langsung dengan memposisikan tubuh mereka lebih dekat lagi, supaya orang yang di sampingnya itu tidak mendengar bisikan mereka berdua.


"Kenapa Supirnya itu tidak menyahut? Apakah supir itu tuli?" terka, Somsi.

__ADS_1


"Aku juga tidak tau, Som... kenapa dia tidak mau menyahut. Apa jangan-jangan dia benar-benar tuli ya." cetus, Uba.


"Iya, mungkin saja, Som... hahaha."


Uba tertawa terbahak-bahak, membuat semuanya terperanjat kaget, apalagi dengan wanita yang di sampingnya.


Uba menyatukan tangannya meminta maaf karena sudah mengganggu suasana hati mereka.


Wanita yang duduk di depan Somsi, terus tertawa dengan apa yang mereka bisikkan tadi.


Dia sepertinya paham apa yang Somsi dan Uba ucapkan.


"Som... wanita yang di depanmu itu ketawa," jelas Somsi saat Somsi sendiri terpana dengan pria tampan yang ada di mobil mewah di belakang bus mereka.


"Tampan sekali pria itu..." gumam Somsi, sambil tersenyum menatap wajah pria itu dari jauh.


"Som..."


"Som..."


"Som..."


Semua yang ada di bus berteriak saat mobil pria itu lewat.


"Wah... ganteng sekali dia..." ucap seorang wanita yang duduk di pojok.


"Iya, ganteng sekali dia, aku akan memilikinya nanti," ucap wanita yang duduk di depan wanita itu. Dengan perasaan bangga dia mengeluarkan peralatan make up nya, memperhatikan wajahnya dan menambah bedak ke bagian permukaan wajahnya yang sudah mulai menghilang. Setelah di riasnya wajahnya, dia kembali memasukkan alat make up nya itu ke dalam tasnya. "Shalimah, kamu pasti bisa memilikinya. Lihat kecantikanmu, tidak ada yang bisa menyainginya," puji wanita itu kepada Shalimah.


Shalimah... nama yang bagus.


Somsi merasa kagum dengan nama wanita itu. Sangat unik dan cantik. Sama dengan pemilik nama itu, sama-sama cantik.


Karena asik dengan bercerita satu sama lain, sehingga mereka tidak menyadari kalau mereka sudah sampai.


Mereka semua turun. Somsi mengikuti arahan bos nya. Mereka di bawa lebih dulu masuk daripada yang lainnya.


Mereka di bawa sampai ke lantai berapa? Mereka harus melewati anak tangga yang lumayan jauh.

__ADS_1


Uh, capeknya... Kenapa perusahaan ini sabgat aneh? Tadi supirnya sekarang bos yang berdiri di depan saya ini. Padahal kan ada tuh Lift nya, terus kenapa kami harus naik tangga segala. Capek tau!


Somsi dan Uba berjalan tidak terlalu dekat. Ada jarak di antara mereka. Itu merupakan peraturan dari perusahaan itu untuk tidak berdekatan agar tidak terjadi kemalasan. Mereka berpikir, kalau mereka berdekatan, itu akan membuat mereka malas untuk bekerja. Mereka akan asik bicara dan lupa akan pekerjanya.


Setelah tangga terakhir, akhirnya mereka sampai.


Mereka tepat berdiri di depan pintu. Sebelum menyuruh masuk, mereka harus menjaga image mereka. Karena dalam interview nanti tidak boleh ada yang terlihat lemah. Jika ada, mereka akan segera di pecat. Meskipun mereka masih pemula bekerja. Maka dari itu, berhati-hatilah!


"Setelah kalian masuk, kalian akan ada interview dengan CEO perusahaan ini. Jadi kalian harus berhati-hati! Jika kalian lalai akan peringatan saya ini, siap-siap kalian akan di pecat.


Pertama sekali yang di suruh bos nya itu adalah Uba. Uba pun masuk sambil berjalan merilekskan deru napasnya yang mulai deg-degan dengan ucapan wanita tadi.


5 menit Somsi menunggu, Uba keluar dari ruangan itu. Hanya 5 menit interview? cepat sekali.


Jantung Somsi kini berdetak kencang. Penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada Uba. Ingin dia bertanya, tapi wanita itu malah menatapnya dengan tatapan tajam.


Mengerikan sekali wajahnya...


Somsi masuk sambil menarik turunkan napasnya. Mengaturnya agar dia tidak deg-degan. Jika dia terus merasa deg-degan, itu akan mengganggunya nanti selama interview. Jadi, napasnya harus optimal.


Somsi duduk di depan pria yang duduknya tegak tak melengkung sedikitpun. Badannya yang kekar menandakan pria itu sering berolahraga. Kemejanya sangat cocok untuknya. Terlihat ganteng dan menawan. Dengan kepala tertunduk dia duduk di bangku. Kakinya dia goyang-goyang karena ketakutan. Keringatnya sudah membasahi kemeja putihnya yang polos, sehingga memperlihatkan belahan bukit kembarnya itu.


Pria itu menelan salivanya, saat melihat wanita yang baru saja duduk itu telah merebut perhatiannya sepenuhnya. Timbul hasrat ingin memilikinya seutuhnya. Dengan tubuh seperti milik Somsi itu tengah mengguyarkan pikiran pria itu, dia sedang membayangkan mereka sedang bermain di atas ranjang dengan peluh kenikmatan yang mereka rasakan.


Karen berpikir hal kotor, membuatnya lupa akan tugasnya. Dengan sigap dia memperbaiki tingkah nya itu agar klien yang di depannya ini tidak merasa takut atau berpikiran aneh padanya.


Pria itu berdehem, "Ehem..."


Sontak Somsi merasa kaget.


"Apa seperti itu sikapmu menatap bos mu?"


Suaranya seperti ledakan bom bagi Somsi karena dari tadi Somsi sudah sangat deg-degan, merasa jantungnya mau copot karena kepikiran terus bagaimana nanti nasibnya kalau dirinya melakukan kesalahan.


Tbc.


Dukung Author dengan vote, like, komen.

__ADS_1


Bye bye...


__ADS_2