Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Nge-date


__ADS_3

Dengan keberanian yang sudah ia kumpulkan terlebih karena ia sudah minum banyak, Somsi memberanikan diri untuk menatap tatapan tajam ibunya. "Tidak bu. Bukan seperti itu. Somsi sudah menyukai Bram sejak Somsi pertama kali bertemu dengannya," jelas Somsi dengan iming-iming senyum di wajahnya.


Berharap kalau ibunya akan percaya dengan semua ucapannya.


Bram sedikit tercengang mendengar ucapan Somsi, "Apa? A-apa kamu serius Som?," ucap Bram dengan mata melotot. Hatinya merasakan ketenangan setelah mendengar kalau Somsi menyukainya sejak mereka bertemu. Siapa lagi yang tidak senang dikagumi oleh wanita beberapa tahun yang lalu. Bram meneguk ludahnya.


Eggh


"Jadi, kenapa selama ini kau selalu saja menolakku Som? Berulang kali aku selalu di tolak olehmu. Sakit Som... sakit jika ditolak mentah-mentah seperti makanan yang tidak enak dibuang begitu saja, meski dipaksa masuk tetap tidak mau masuk."


"Dan sebenarnya aku tidak seperti makanan itu. Kau sendiri mengatakan kalau kau menyukaiku sejak lama, apa aku tidak berharga di matamu Som?" keluh Bram ingin menitikkan air mata.


Kenapa Bram jadi terbawa perasaan.... kan aku hanya membuat alasan supaya mama tidak marah lagi.


Senyum terpaksa ia sunggingkan sambil menganggukkan kepalanya. Ia menoleh menatap lekat wajah Bram yang sudah tersenyum senang. Somsi merasa bersalah pada Bram yang masih saja berharap pada cintanya. Dari mulutnya yang tercengang sampai melukiskan senyum di bibirnya.


"Iya sayang...."


Tidak sengaja Somsi mengucapkan kata itu dari mulutnya. Membangkitkan perasaan Bram menjadi lebih semangat lagi.


Astaga.... ini mulut kenapa ceroboh sekali dalam bicara. Lama-kelamaan aku semakin memberi harapan palsu pada Bram.


Friska melongo heran, "Sayang? Baru tadi jadian uda manggil sayang-sayangan, hu.....dasar bucin." Omel Friska kepada kakaknya itu. Dibenaknya penuh dengan tanda tanya menatap kesal dengan semua tingkah kakaknya.


Somsi pura-pura menutup mulutnya, " Upps, keceplosan dek..... mungkin karena rasa sayang yang mulai tumbuh nih pada abang iparmu, hahah."


Bu Wati diam tak bersuara. Pria yang tidak disukainya justru dia adalah pria yang disukai oleh putrinya sendiri. Selama ini bu Wati tidak tau kalau Somsi memang menyukai Bram.


Padahal mimpinya adalah ingin mencari suami yang kaya raya yang memiliki perusahaan sendiri. Yang terkenal hingga ke pelosok dunia. Yang bisa membawa Somsi keliling dunia.


Bukannya bu Wati matre, hanya saja ia tidak ingin kalau sampai kedua putrinya mengalami hal yang sama seperti yang mereka rasakan saat ini.


Ia tidak ingin kedua putrinya mengikuti jejaknya. Dengan menikahi pria yang tidak punya apa-apa seperti pak Nius. Bukan menyesalinya. Bu Wati hanya menginginkan yang terbaik untuk kedua putrinya.


Asal-usul Bram. Bram adalah anak orang kaya di desanya. Jika dikategorikan orang yang paling terkaya di desa itu, orang tua Bram termasuk salah satunya.


Tetapi bukan dari Perusahaan terkenal.


Mungkin saja sekali datangnya sebuah masalah ekonomi, Perusahaan itu bangkrut dengan cepat.


Itulah yang menjadi sebuah kekhawatiran dan permasalahan bu Wati mengapa ia tidak merestui hubungan Somsi dengan Bram. Ditambah pertama ia bertemu dengan Bram, ia sudah tidak menyukainya sama sekali. Kalau saja Bram berhasil mengambil hatinya bu Wati, tentu saja bu Wati merestuinya kalau langgeng sampai ke jenjang pernikahan.


"Hmm, kalau itu memang keputusanmu nak.... mama tidak akan melarang kalian pacaran. Silahkan pergi, tetapi ingat! tidak ada yang namanya kiss-kissan atau hubungan fisik sekalipun. Kalian paham?" tanya bu Wati seperti perintah dari seorang Ratu yang harus dilaksankan dan dipatuhi dengan baik.


Deggh


Somsi kaget ketika mendengar ibunya membahas soal kiss. Padahal baru saja sore tadi ia melakukannya dengan Bram.


Somsi menatap Bram yang tersenyum senang. Bukannya merasa takut eh malah dianya tersenyum menatapnya seperti tidak melakukan sesuatu.


"Berarti....."


Bram dengan wajah tersenyum senang menyimpulkan semua ucapan bu Wati. "Tante izinkan kami kan untuk pergi?"

__ADS_1


Bu Wati tidak berkutik sedikit pun. Kemudian Bram mengumpulkan sendiri kalau bu Wati masih marah padanya. Hanya masalah sepele sampai bu Wati tidak mau memaafkan Bram.


Dari tadi hanya menatap intens mulut Bram yang sedang banyak bicara. Lalu ia menjawab ketus dan tidak peduli bagaimana perasaan Bram menanggapinya.


"Hmmm."


"Horee.... ternyata calon mama mertuaku ini baik juga ya," puji Bram kepada bu Wati yang masih terdiam.


"Ayo Som."


Bram menarik tangan Somsi. Mereka meninggalkan bu Wati dan juga Friska.


Friska memajukan bibirnya. Ia tidak suka mengapa ibunya mau mengijinkan Somsi pergi bersama Bram.


"Mama... larang mereka.... jangan biarkan pergi deh ma. Nanti kita tidak tau apa yang sedang mereka lakukan nanti," jelas Friska memperingatkan ibunya agar bu Wati tidak mengijinkan Bram membawa pergi Somsi.


Bram datang menjemput Somsi tidak naik motor melainkan mobil mewah yang baru saja dipakai.


Somsi menatap Bram yang tersenyum senang. Bukannya merasa takut eh malah dianya tersenyum menatapnya seperti tidak melakukan sesuatu.


"Berarti....."


Bram dengan wajah tersenyum senang menyimpulkan semua ucapan bu Wati. "Tante izinkan kami kan untuk pergi?"


Bu Wati tidak berkutik sedikit pun. Kemudian Bram mengumpulkan sendiri kalau bu Wati masih marah padanya. Hanya masalah sepele sampai bu Wati tidak mau memaafkan Bram.


Dari tadi hanya menatap intens mulut Bram yang sedang banyak bicara. Lalu ia menjawab ketus dan tidak peduli bagaimana perasaan Bram menanggapinya.


"Hmmm."


"Horee.... ternyata calon mama mertuaku ini baik juga ya," puji Bram kepada bu Wati yang masih terdiam.


"Ayo Som."


Bram menarik tangan Somsi. Mereka meninggalkan bu Wati dan juga Friska.


Friska memajukan bibirnya. Ia tidak suka mengapa ibunya mau mengijinkan Somsi pergi bersama Bram.


"Mama... larang mereka.... jangan biarkan pergi deh ma. Nanti kita tidak tau apa yang sedang mereka lakukan nanti," jelas Friska memperingatkan ibunya agar bu Wati tidak mengijinkan Bram membawa pergi Somsi.


Bram datang menjemput Somsi tidak naik motor melainkan mobil mewah yang baru saja dipakai.


Somsi terpana melihat mobil mewah tersebut.


Apa kami akan pergi dengan naik mobil ini ya?


Somsi bergumam dalam hatinya. Ia mengagumi mobil yang baru saja dilihatnya. Sungguh mewah.


"B-Bram.... apakah kita akan naik mobil ini?" tanya Somsi melotot sambil menunjukkan jari telunjuknya ke mobil mewah itu.


"Hmm, kamu suka Som?"


Hal apa sih yang tidak indah saat kamu dijemput dengan mobil mewah?

__ADS_1


Pertanyaan apa itu Bram.... jelaslah aku menyukainya.


Somsi hanya menggelengkan kepalanya. Ia memang sangat menyukai mobil mewah tersebut. Baru ini ia dijemput oleh pacar dengan mobil.


Tentu saja ini sangat dikagumi olehnya. Bagaimanapun Somsi sangat beruntung telah menerima cintanya Bram. Yang ia khawatirkan adalah apakah perasaan ya ini sudah mantap hanya pada Bram. Apakah Bram akan selalu setia padanya nanti dan tidak menduakannya.


Hal yang begitu menyakitkan jika hal itu terulang lagi. Seperti masa lalu yang sudah mengkhianatinya.


Kick.... kick......


Suara dari klakson mobil itu berbunyi. Somsi terkejut sambil memegang jantungnya. Berharap tidak copot.


Somsi bertambah kaget saat kepala Lian keluar tiba-tiba dari jendela kaca mobil itu. Lian keluar tergesa-gesa mengeluarkan kepalanya karena dari tadi ia berjuang keras hanya untuk mengeluarkan kepalanya saja.


Jendela kaca mobil itu sudah dipencet tapi masih saja sulit membukanya. Ya terpaksa Lian mengeluarkan kepalanya meski mengalami kesulitan. Habis Somsi dan Bram jalannya lambat.


"Ayo cepat! Santai sekali kalian. Ini sudah malam. Kapan lagi kita bersenang-senang kalau kalian jalannya lambat seperti kura-kura saja," teriak Lian. Mulutnya tidak berhenti mengomeli Bram dan Somsi.


Mendengar Lian tidak mau berhenti mengomel, Siti pun mengambil tissue dan langsung menyumbat mulut Lian. Ya tentu saja mulut itu kesulitan bicara.


"Iya nih.... kalian lama banget, bosan tau nunggunya," seru Siti kesal.


Siti mulai bicara saat Bram dan Somsi sudah masuk ke dalam mobil.


Lian berpindah duduk ke depan. Sedangkan Somsi duduk bersama Siti.


Jadi, pria duduk di depan dan para wanita duduk di belakang.


"Siti...." Somsi terkejut melihatnya, "Kau ikut juga?" tanya Somsi sambil tersenyum lebar.


Siti mengangguk manja. "Iya beb..... aku tidak mau melewatkan kesempatan ini."


Somsi bingung dengan ucapan Siti, sambil mengerutkan dahi ia pun bertanya maksud perkataan Siti. "Kesempatan apa Sit?"


"Ada deh... rahasia."


Somsi senang sekali melihat sahabatnya Siti juga ikut. Padahal tadi dirinya sudah berpikir aneh-aneh tentang Bram. Takut kalau sampai Bram melakukan sesuatu padanya.


Somsi penasaran dengan ucapan Siti padanya. Ia ingin sekali Siti memberitahu apa maksud perkataan Siti padanya. Tetapi Siti tidak mau membuka mulutnya. Sepertinya Siti mengunci rapat-rapat.


Somsi menatap Bram lewat kaca spion. Bram senyum-senyum sendiri. Sedangkan Lian terus memegang hpnya. Sesekali saat Somsi melihat Lian sudah mengirimkan pesan. Tiba-tiba saja hp Siti berbunyi.


Apa sih yang mereka rencanakan?


Somsi menaikkan alis kirinya. Tidak suka dengan pacar barunya dan juga sahabatnya. Apa lagi Siti sahabatnya. Sebenarnya Siti sahabatnya atau bukan. Somsi merasa kesal sekali. Ada apa ya?


Bersambung............................


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate(5) dan favorit sebanyaknya.


😊😊😊😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2