
Setelah istirahat selama 20 menit. Semua pekerja kembali menanam padi. Somsi dari tadi sangat terhibur karena teman satu kerjanya di sawah itu sangat ramah dan baik. Meski sudah ibu-ibu tetap saja mereka sangat gaul.
"Ayo turun........ semangat,semangat..... hahahahha .... kita harus semangat....," teriak ibu yang memakai topi.
"Iya nih... aku juga sudah cukup istirahat tadi," ucap ibu yang memakai bedak dingin.
"Ayo..........." ucap salah satu ibu yang bekerja disebelah pemilik sawah tempat kerja Somsi.
"Nak... kalau kamu sukses nanti, jangan lupakan ibu nya," ucap ibu yang memakai topi.
"Kami juga nak, masa kamu saja," ucap ibu memakai bedak dingin diikuti ketiga ibu-ibu bersamaan.
"Hei... eits... kok kalian saja ni.... siapa dulu yang bawa Somsi bekerja. Kan aku..... gak mungkin kalian. Yang harus di ingat itu cuma aku. Enak saja kalian mau di ingat anak ini. Tetap hanya aku," celoteh pemilik sawah.
Hu...........!
Serempak ibu-ibu menyoraki pemilik sawah itu. Setelah selesai bercanda ria. Semua kembali fokus menanam padi.
Jam sudah menunjukkan jam 12 siang. Friska sudah bisa pulang, sedangkan ibu-ibu itu istirahat. Mereka masih tetap bekerja. Karena mereka gajian satu hari.
"Ibu-ibu sekalian... aku pulang duluan ya," ucap Somsi hendak melangkah kan kaki nya. Tetapi pemilik sawah itu menghentikan kakinya.
"Eh nak, jangan pergi dulu. Kan kamu belum menerima gaji kamu," ucap ibu pemilik sawah.
"Eh iya bu.... aku kira ibu akan kasih pas sudah pulang. Eh maksud aku nanti sore," jawab Somsi.
Ibu itu tersenyum. "Hehehhehe gak kok nak. Kamu menerima gaji kamu sekaran."
"Makasih ya bu...," ucap Somsi lalu pergi meninggalkan mereka.
"Nak... jangan lupa, sama ibu besok," teriak ibu memakai topi.
Somsi membalas ibu yang memakai topi. "Iya Bu."
Somsi sudah sampai di rumah. Dia sudah mengeluarkan segala peralatan dan bahan-bahan yang akan dia pakai. Somsi berkutat dengan bahan-bahan masakan. Dia tampak fokus dengan setiap pekerjaan yang dia lakukan.
Dia mulai menggoreng bakwan lebih dulu. Barulah dia akan berpikir lagi untuk memasak apa. Somsi melihat persediaan kayu bakar sudah tidak ada lagi. Besok dia akan mengambil kayu bakar sebentar. Dia akan memakai waktu nya besok sebaik mungkin.
Semua bakwan sudah selesai. Semua jumlah nya 75 biji. 65 biji yang akan dia jual dan 10 biji ditinggalkan di rumah. Kalau Friska sudah pulang dia bisa membawa bakwan yang dia sisakan tadi.
Dia berpikir lagi apa yang akan dia masak. Dia melihat kentang masih ada. Lalu muncul ide dipikiran nya. Dia memasak perkedel.
Dia memasak dengan penuh cinta. Perkedel yang dari tadi dia goreng terkumpul sudah.
__ADS_1
Hanya ada 30 biji. Lalu dia menyisakan 5 biji untuk dibawa ke sawah dan dimakan oleh orang tuanya dan juga adek nya.
Dia sudah siap. Dia sudah membedakan sisi tempat bakwan dan perkedel didalam keranjang.
Dia masih menunggu adek nya. Tetapi sampai sekarang dia masih tidak melihat kemunculan adek nya dari pintu.
Oalah... kok adek aku belum pulang sih.
Kalau dia menunggu adek nya dia akan terlambat. Akhirnya dia pergi meninggalkan rumah dan beranjak pergi.
Bakwan..... Bakwan.....
Suara Somsi dikeluarkan dengan sekeras mungkin agar semua pelanggan datang.
Perkedel.... perkedel.......
Kembali Somsi menyebutkan dagangan nya yang lain.
Mendengar perkedel semua orang yang berada di warung.
"Dek... perkedel nya 5 nya," ucap salah satu pria sambil menyodorkan uangnya.
Somsi mengambil uang si pria itu sambil tersenyum. "Baik bang, terimakasih."
"Dek abang juga ya....," ucap pria yang sedang bermain catur.
"Berapa bang?" tanya Somsi sambil menunjuk kan wajah ramah nya.
"Saya 10 dek. Sekalian abang kasih sama teman abang ini. Teman lawan main catur abang ini," ucap nya.
Somsi sangat senang perkedel nya begitu laris. Hanya saja bakwan nya belum ada yang membeli.
Tetapi dia masih tetap semangat untuk menjualnya.
"Wah... perkedel kamu enak nya dek. Ternyata gak cuma cantik, kamu juga pandai masak ya," puji pria yang bermain catur.
Wajah merona yang muncul di wajahnya Somsi. "Abang gombal deh."
"Abang serius loh," ucap pria itu.
Somsi berterima kasih kepada pria itu. Baru kali ini dia mendapat pujian langsung dari seorang pria. Biasanya orang-orang yang menyukai nya sewaktu sekolah dulu. Tidak ada yang berani memuji dirinya atau bahkan mengungkapkan perasaan nya. Karena mereka takut kalau Somsi tidak menerima nya.
Somsi memang selalu menolak banyak pria, karena dia masih fokus belajar dan mencapai cita-cita yang dia impikan menjadi seorang yang suatu hari nanti. Membahagiakan orang tuanya dan juga adek yang dikasihi nya itu.
__ADS_1
"Aku mau beli semua ini," ucap salah satu pria yang baru datang.
Somsi yang tidak tahu siapa itu, karena masih fokus dengan pria yang mengajak nya bicara tadi.
Somsi sangat terkejut mendengar bahwa semua dagangannya diborong oleh seseorang.
Somsi terlonjak kaget saat melihat siapa sebenarnya pria itu. "Kamu serius mau beli semua ini. Jangan bohong ya.... aku gak suka sama orang-orang yang suka berbohong.
"Memang nya kapan aku berbohong. Sekali aku mengatakan iya. ya harus jadi," ucap Bram.
"Wah, mau kemana kamu bawa gorengan sebanyak itu Bram?" tanya pria yang bermain catur heran.
Dia tahu kalau Bram anak orang kaya. Dia bisa membeli semua nya itu. Yang dia heran kan mau kemana membawa gorengan sebanyak itu. Memang di rumah nya Bram sedang arisan. Itulah yang muncul dipikiran pria itu.
"Aku akan bagikan kepada orang-orang yang miskin," ucap Bram.
Cih.......!
Seseorang membuang ludah nya mendengar perkataan Bram barusan. Orang yang dari dulu berandalan berubah menjadi malaikat.
"Wah kamu mau berubah demi apa coba. Ayo .... kamu pasti sedang jatuh cinta ya. Atau kamu suka sama Somsi?" ucap pria yang beli perkedel tadi.
"Ini cowok, kok jabir bangat sih," ucap Bram merasa kalau rahasia nya terbongkar.
Somsi terlonjak kaget dengan apa yang dikatakan pria itu. "Ah.. abang. Gak mungkin dia suka sama aku bang," ucap Somsi menyakinkan pria itu.
"Kamu betul. Mana mungkin aku suka sama kamu. Selera aku tinggi," ucap Bram. Bram lalu menyuruh Somsi membawa gorengan nya Somsi yang sudah dia beli. Bram ingin bersama Somsi membagikan gorengan. Kalau dirinya sendiri yang membagikan gorengan itu. Bisa-bisa dia membagikan nya kepada seluruh pengisi warung tadi.
"Mau kemana kita," ucap Somsi.
Bram melihat kearah Somsi. "Ikuti saja."
"Oke... tapi aku gak mau kita lama. Karena aku masih mau memasak," ucap Somsi mengingatkan Bram.
Tidak ada jawaban dari Bram yang membuat Somsi kesal. Hingga pada akhirnya mereka sampai pada sekelompok rumah yang pengisi nya memang orang-orang miskin.
Somsi yang melihat perubahan Bram sangat senang. Tetapi dia masih bertanya pada lubuk hati ya yang paling dalam. Apa yang menjadi penyebab Bram dengan perubahan drastis nya itu.
Bersambung.......
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen.
__ADS_1