Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Detik-Detik Lomba Memasak


__ADS_3

Setelah pemanggilan suara terakhir untuk Somsi. Dengan perasaan takut dan wajah pucat ia memasuki lapangan dan singgah di tempat ia akan memasak.


Ya Tuhan.... jantungku berdegup kencang, tanganku bergetar, tubuhku lemas. Bagaimana aku akan mengikutinya jika aku saja tidak bisa berdiri. Tolong beri aku kekuatan ya Tuhan.


Semua orang bertepuk tangan saat Somsi masuk ke lapangan. Banyak orang yang sudah mengenal Somsi. Mungkin karena selama ini ia sering berdagang.


Semangat...............!


Semua orang yang mengenal Somsi memberi support padanya.


Peserta nomor 19 merasa iri pada Somsi. Saat ia masuk ke lapangan tadi, hanya sedikit yang memberikan suport padanya.


Gaya ya sok. Hu... belum tentu ia bisa melawan bakat memasak ku yang luar biasa ini.


Bibirnya ia majukan dan menatap tajam pada Somsi. Ada perasaan tidak suka yang timbul dalam hatinya ketika ia bertatapan tidak sengaja dengan Somsi.


Saat Somsi menyadari ada seseorang yang dari tadi menatap tajam padanya semakin membuatnya lebih bersemangat lagi. Rasa takut itu berubah menjadi rasa perjuangan yang harus ia tunjukkan baik pada wanita yang menatap sinis atau pun pada warga yang sudah mendukungnya.


Hanya satu orang yang tidak suka padanya tidak akan membuat hatinya berhenti untuk lebih keras lagi dalam berusaha tanpa adanya rasa takut. Mungkin bagi wanita itu, dirinya tidak pantas untuk menang. Tetapi seorang Somsi jika sudah bersungguh-sungguh apa pun yang di anggap hal yang mustahil akan bisa ia lalui. Bukan bertindak seolah sombong, tapi memang begitulah karakteristik yang terlihat darinya selama ini.


Segala tantangan ia hadapi tanpa rasa takut. Somsi sudah siap sedia saat juru bicara mulai membuka mulut. Tahap pertama ia lakukan adalah menatap sengit mulut juru bicara itu. Ia tidak ingin satu kata pun yang hilang setelah keluarnya kata-kata dari mulut juru bicara itu.


"Semua dengan posisi diam, tangan tegap, dan membusungkan dada. Tatapan tertuju pada mulut saya. Jika saya bilang mulai, semua cepat bertindak. Apakah semua peserta mengerti?"


"Mengerti pak...." Serentak seluruh peserta menjawab. Dengan penuh perhatian yang khusus hanya untuk bersiap, maka mereka tidak lagi lihat ke kanan dan ke kiri. Pusat perhatian mereka hanyalah mulut dari juru bicara itu, seperti yang mereka dengar dan mereka laksanakan.


"Oke saya akan mengatakan kata demi kata hingga pada akhirnya-" Juru bicara itu selalu bicara panjang kali lebar. Sehingga mereka bosan mendengarnya bicara. Ada yang mengantuk dan ada yang melihat ke Kiri dan ke kanan. Sungguh membuat mereka hilang tujuan. Tujuan dimana tadinya mereka harus fokus memperhatikan mulut dari juru bicaranya dan ternyata karena perasaan bosan mampu membuat mereka hilang kesadarannya sendiri.


Tetapi berbeda dengan Somsi. Telinganya tetap mendengar tajam perkataan dari juru bicara itu. Tidak sekali pun ia merasa lengah. Titik perjuangan ya masih panjang. Jadi, ia tidak pantas seperti yang lain.


"Lomba di........... mulai."

__ADS_1


Somsi dengan sigap memainkan tangannya untuk memulai segala pekerjaan ya. Semua yang ia lakukan tidak gegabah seperti yang lain.


Yang lainnya karena merasa terburu-buru takut tertinggal dengan cepat melakukan sesuatu sampai berjatuhan di sana-sini. Dari tadi mereka asik bengong saat juru bicara sudah mengatakan lomba dimulai.


Ya, sungguh mengejutkan juga kan? Orang yang dari tadi tidak fokus tiba-tiba saja mendengar lomba akan dimulai. Logika saja pasti semua jantung mereka berdegup kencang dan tangan bergetar sehingga apa pun yang mereka pegang tidak ada yang beres.


Bagaimana ia bisa memainkan tangan ya dengan sangat lincah?


Sedangkan aku tanganku bergetar, memegang ini itu saja selalu berjatuhan. Aku tidak mau kalau sampai dia yang akan menang.


Bola mata dengan manik berwarna hitam menatap sinis kepada Somsi. Dia sangat tidak suka apabila Somsi yang akan menang. Walaupun nanti Somsi yang akan menang, ia akan menggunakan segala cara untuk menentangnya. Baginya tidak ada yang lebih mahir dalam memasak kecuali dirinya.


"Hu....." lirihnya. Peserta dengan nomor urut 19 selalu memperhatikan Somsi. Hatinya selalu berharap kalau Somsi akan melakukan kesalahan yang fatal, sehingga dirinyalah yang nantinya akan menang.


Somsi menyadari seseorang yang dari tadi terus memperhatikannya. Dia agak sedikit gerah jika terus ada orang yang memperhatikan dirinya. Bukan karena sombong tapi itulah nyatanya. Ia akan hilang konsentrasi hanya gara-gara orang tersebut.


Hei! kok mata anda terus ke aku? Kau tidak punya pekerjaankah? Apa iya mata itu akan terus memperhatikan aku. Kasihan loh matamu.


Tiba-tiba Somsi mengerjai wanita itu. Dia menunjuk belakang wanita itu. Sehingga wanita itu menoleh ke belakang dan menjatuhkan apa pun yang di sekelilingnya. Untung saja kompornya tidak meledak. Kalau tidak dirinya pun akan ikut meledak bersama kompor itu.


"Awww." Wanita itu meringis kesakitan ketika pisau itu menggores tangannya. Darah segar menyembur keluar. Lukanya dalam. Sehingga butuh kain atau tisue yang akan mengelap darah yang keluar tadi.


Petugas p3k pun datang untuk membawa wanita itu. Dia sangat marah. Dia semakin benci dengan Somsi.


Saat p3k itu berusaha untuk membawanya alhasil ia selalu memberontak.


"Lepaskan aku!" ucapnya keras. Dia tiada hentinya memberontak, "Jangan menyentuhku!


Tangan kotor kalian tidak pantas untuk menyentuhku."


Kata-kata kasar selalu keluar dari mulutnya. Sampai ia menaruh dendam pada Somsi. Dan akan mengingat semua yang telah Somsi lakukan padanya.

__ADS_1


Hanya gara-gara hal sepele semua menjadi dendam terkutuk baginya.


"Maaf mbak, kami harus membawa anda," tegas petugas p3k tersebut.


Sebelum mereka membawa wanita itu pergi. Wanita itu berhasil lepas dan berbalik ke belakang menatap tajam Somsi. Tatapan itu seperti mengisyaratkan akan ada terjadi sesuatu untuk Somsi di kemudian hari.


Awas kau!


Akhirnya wanita itu berhasil dibawa pergi. Sedangkan yang lain sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Tinggal 5 menit lagi lomba akan dihentikan. Seseorang dengan nomor urutan 18 masih tergesa-gesa memohon pada Somsi agar diberikan kaldu ayam sebagai racikan terakhirnya.


Pissshh


Dia menggunakan mulutnya untuk memanggil Somsi. Beruntung Somsi bisa mendengar dan memperhatikan orang yang telah memanggilnya itu.


Dengan bahasa tubuh, wanita itu menggerakkan tangannya dan menunjuk sesuatu pada bahan-bahan masakan Somsi.


Dengan sigap Somsi mengambil apa yang diinginkan wanita itu. Lalu menyerahkannya dengan cepat dan tidak diketahui juru bicara atau pun juri yang sedang duduk menilai sambil menulis.


Karena waktu telah habis. Juru bicara menyuruh seluruh peserta untuk berhenti.


Pitttttttttttt


Suara tiupan dari mulut juru bicara pun berbunyi. Semua berhenti dan tidak ada lagi yang bergerak.


"Semua berhenti!" ucapnya kuat. Meski ia memakai microffon tetap saja ia harus mengeluarkan suaranya lebih keras lagi.


Bersambung.........................


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorite sebanyaknya🥰🥰😚😚


__ADS_2